21 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
in Tualang
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

Makam Ki Hadjar Dewantara di kompleks Taman Wijaya Brata, yang berada di Kelurahan Tahunan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta | Foto: Dok. Penulis

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya akan berziarah ke Makam Ki Hadjar Dewantara, apalagi mengunjungi Candi Prambanan. Acara berziarah ke Makam Ki Hadjar Dewantara itu terjadi secara mendadak setelah saya menghirup udara pagi di Titik Nol Yogyakarta dan Jalan Malioboro yang legendaris. Walaupun semalam sebelumnya sempat menikmati aneka musik di seputar Malioboro, pagi itu terasa memanggil saya untuk menikmati auranya. Pagi yang cerah dan rada menyengat itu kontras dengan malam yang dingin, dengan lampu-lampu terang bersinar.

Berziarah ke Makam Ki Hadjar Dewantara, selain untuk sungkem kepada tokoh pejuang bangsa menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, juga selaras dengan tugas saya sebagai guru sekaligus kepala sekolah yang mendampingi Pemilihan Duta SMA Tingkat Nasional. Para duta ini diproyeksikan menjadi bagian dari generasi emas pada 2045. Untuk mewujudkan generasi emas, mau tidak mau kita harus melongok ke Tamansiswa dengan Ki Hadjar Dewantara sebagai arsiteknya.

Berziarah ke makam tokoh pendidikan bangsa menjelang HUT RI ke-81 adalah cara untuk mengingat dan mengenang semangat juangnya. Ia boleh mati secara fisik, tetapi api semangatnya tetap menyala di hati para murid bangsa. Lebih-lebih bagi para Duta SMA dari seluruh Indonesia yang berkumpul di Yogyakarta. Bila mereka sempat menikmati Malioboro dan berziarah ke Makam Ki Hadjar Dewantara di luar agenda resmi, itu adalah bonus plus. Pertama, menemui Sang Pendidik jiwa bangsa dan bersenang-senang di sepanjang Malioboro. Keduanya menghubungkan Duta SMA dengan jalan pendidikan yang berkebudayaan dalam menyiapkan Indonesia Emas 2045.

Pusara Ki Hadjar Dewantara di kompleks Taman Wijaya Brata, yang berada di Kelurahan Tahunan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta | Foto: Dok. Penulis

Dengan bantuan Google Maps, ditemukan jarak antara Makam Ki Hadjar Dewantara dan Candi Prambanan sekitar 16 km, dengan prakiraan waktu tempuh 30 menit. Saya tiba di loket karcis Candi Prambanan menjelang pukul 10.00 WIB, sedangkan boarding pesawat pukul 13.40 WIB. Harga karcis masuk kawasan dengan objek Candi Prambanan saja Rp50.000,00 untuk dewasa. Saya berkomitmen paling lambat pukul 11.00 WIB sudah meninggalkan Candi Prambanan menuju Bandara YIA Kulon Progo.

Sebelum memasuki pelataran candi, aura Kemerdekaan Republik Indonesia tampak nyata. Sejumlah spanduk perayaan 81 Tahun RI terpasang di berbagai sudut. Menjelang siang, sejumlah panggung juga disiapkan. Petugas pemasang tenda tampak sibuk. Sesekali mereka beristirahat sambil minum di tengah terik matahari. Itu pula sebabnya penyewaan payung laris manis, dibanderol dengan harga Rp10.000,00 per payung. Payung dikembalikan ketika keluar dari area Candi Prambanan.

Pagi itu, bertepatan dengan Buda Umanis Tambir yang berbarengan dengan Tilem Sasih Karo (12 Agustus 2026), setelah tiba di Candi Prambanan saya baru ngeh. Buda Umanis Tambir nemu gelang Tilem Karo. Di sana, dua pemangku memuja dengan genta persis di sebelah kiri pintu masuk Candi Siwa. Saya tidak tahu apakah karena Tilem mereka melakukan ritual pemujaan atau karena penganugerahan Duta SMA dipusatkan di Pelataran Candi Prambanan.

Makam Ki Hadjar Dewantara di kompleks Taman Wijaya Brata, yang berada di Kelurahan Tahunan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta | Foto: Dok. Penulis

Awalnya, saya tidak ingin naik ke Candi Siwa dengan mempertimbangkan waktu menuju bandara yang cukup lama, lagi pula jaraknya jauh. Arif Prabowo yang mengantar saya nyeletuk, “Rasanya wajib naik, deh, menurut perasaan saya,” katanya. Saya pun bergegas naik ke candi menemui Hyang Ibu Siwa yang seperti bertapa di dalam kegelapan. Posisinya berdiri tegak. Langsing. Seorang pemandu wisata memberikan penjelasan kepada wisatawan asing sambil menghidupkan lampu senter sehingga tampak relief lukisan di dalam tembok candi yang sangat indah dan penuh makna filosofis. Saya berimajinasi, bagaimana tingkat konsentrasi undagi yang mengerjakannya dalam kegelapan. Lagi pula, jika memperhatikan catatan sejarah, candi ini berdiri sekitar abad ke-9, tepatnya pada tahun 850 Masehi, pada zaman Raja Rakai Pikatan, raja Kerajaan Medang atau Mataram Kuno dari Wangsa Sanjaya. Sebuah karya arsitektur yang nyaris sempurna ketika teknologi belum secanggih kini.

Tidak berlebihan bila Malam Penganugerahan Duta SMA V Tahun 2026 dipusatkan di Pelataran Candi Prambanan, di ruang terbuka budaya tanpa sekat. Tampaknya, kesibukan pemasangan tenda dan panggung sejak pagi hingga menjelang sore juga dalam rangka menyiapkan karpet merah bagi para Duta SMA dari seluruh provinsi di Indonesia. Malam itu dikukuhkan 76 Duta SMA dari seluruh Indonesia yang mewakili 38 provinsi dengan mempertimbangkan kesetaraan gender. Mereka akan menjadi pelantang sebaya untuk memperkuat budaya bangsa. Pendekatan budaya dalam pendidikan tampaknya menjadi pilihan yang disadari, mengingat Indonesia beragam dalam banyak hal. Karena itu, pendekatan desa, kala, patra, sesuai dengan kearifan lokal Bali, layak dipertimbangkan.

Berpose di kawasan Candi Prambanan—candi Hindu terbesar di Indonesia | Foto: Dok. Penulis

Candi Prambanan adalah simbol toleransi tempo doeloe, ketika agama Hindu dan Buda hidup berdampingan dengan ikon Candi Borobudur. Jarak kedua candi sekitar 40 km. Masa pembangunannya pun berdekatan dari segi waktu. Borobudur berdiri pada zaman Syailendra sekitar tahun 780–840 Masehi. Raja Syailendra dan Rakai Pikatan telah memberikan fondasi untuk memuliakan perbedaan sebagai inspirasi membangun toleransi. Sejak dulu, “Rukun Sama Teman” sudah diajarkan dan kini kita mesti merawatnya, tidak cukup hanya dengan menyanyikan lagunya setiap pagi di sekolah. Lebih penting adalah tindakan nyata sehingga harmonisasi antarmanusia terbangun dan dihayati. Perbedaan dirawat untuk saling menguatkan. Tidak ada yang menutup warung makan karena makanan yang dijual adalah babi guling, misalnya. Apa salahnya babi guling? Bukankah itu makanan terenak sedunia versi guyonan Romo dengan Gus Dur yang membuat tawa berderai?

Berpacu dengan waktu sambil melihat jam di layar handphone, pukul 11.00 WIB saya bergegas meninggalkan area Candi Prambanan setelah berkeliling di sejumlah candi, walaupun tidak semua candi saya masuki karena keterbatasan waktu. Sebagaimana objek wisata pada umumnya, pengunjung disapa oleh pedagang di pintu masuk. Begitu pun ketika keluar dari kawasan wisata, saya melewati deretan pedagang kuliner, cendera mata, serta pakaian dengan aneka warna dan ukuran.

Berpose di kawasan Candi Prambanan—candi Hindu terbesar di Indonesia | Foto: Dok. Penulis

Dari Google Maps terbaca, jarak dari Candi Prambanan ke Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, sekitar 63 km dengan waktu tempuh 1,5 jam. Oleh karena hari sudah siang dan lapar mulai terasa, saya mesti makan siang di perjalanan yang memakan waktu sekitar 30 menit. Saya percayakan kepada Arif Prabowo, sopir sekaligus pemandu, untuk mencari tempat makan asalkan ada ikannya. Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB, saya belum sampai di bandara. Diuntit rasa gelisah di mobil yang saya tumpangi, saya tergesa-gesa mengambil tas dan dompet untuk membayar sopir.

Akhirnya, pukul 13.10 WIB saya sampai di bandara dengan napas terengah-engah. Syukurlah, penumpang di Bandara YIA Kulon Progo tidak seramai Bandara Ngurah Rai, Denpasar, sehingga check-in tidak perlu menunggu lama. Di ruang tunggu, petugas memanggil penumpang untuk masuk ke pesawat. Tenggorokan terasa kering, padahal sebelumnya sempat minum air mineral yang terbawa di tas. Sungguh perjalanan yang menyenangkan, menenangkan, dan menegangkan menjadi satu. Apakah karena saya dari Taman Makam Widjaya Brata langsung ke Candi Prambanan tanpa masuk paon (area dapur) terlebih dahulu sebagaimana orang Bali pada umumnya? Entahlah! Yogyakarta istimewa, penuh kejutan.[T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Jaswanto

Tags: Candi PrambananKi Hadjar Dewantara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
Lampu Merah dan Mental Menerabas
Esai

Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

by Angga Wijaya
August 20, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Ajian Jaran Goyang

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

by Chusmeru
August 20, 2026
Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia
Budaya

Syal Endek Tunjung Ungu untuk Bupati Nyoman Sutjidra di Panggung Bulfest 2026: Dekranasda Buleleng Dorong Wastra Lokal Mendunia

BULELENG | TATKALA – Bupati Buleleng Nyoman Sutjidra tampak tersenyum bahagia ketika Ny. Wardhany Sutjidra—yang tak lain adalah istrinya—mengalungkan syal...

by tatkala
August 19, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

by Andre Syahreza
August 19, 2026
Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa
Buku Tatkala

Penjaga Rupa Utara, Jejak Perjalanan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa

Judul: PENJAGA RUPA UTAR, Jejak Warisan Seni: Biografi Perjalanan Hidup dan Karya I Nyoman Suma Argawa Penerbit: PT Tatkala Sekala...

by Buku Tatkala
August 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co