SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya akan berziarah ke Makam Ki Hadjar Dewantara, apalagi mengunjungi Candi Prambanan. Acara berziarah ke Makam Ki Hadjar Dewantara itu terjadi secara mendadak setelah saya menghirup udara pagi di Titik Nol Yogyakarta dan Jalan Malioboro yang legendaris. Walaupun semalam sebelumnya sempat menikmati aneka musik di seputar Malioboro, pagi itu terasa memanggil saya untuk menikmati auranya. Pagi yang cerah dan rada menyengat itu kontras dengan malam yang dingin, dengan lampu-lampu terang bersinar.
Berziarah ke Makam Ki Hadjar Dewantara, selain untuk sungkem kepada tokoh pejuang bangsa menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, juga selaras dengan tugas saya sebagai guru sekaligus kepala sekolah yang mendampingi Pemilihan Duta SMA Tingkat Nasional. Para duta ini diproyeksikan menjadi bagian dari generasi emas pada 2045. Untuk mewujudkan generasi emas, mau tidak mau kita harus melongok ke Tamansiswa dengan Ki Hadjar Dewantara sebagai arsiteknya.
Berziarah ke makam tokoh pendidikan bangsa menjelang HUT RI ke-81 adalah cara untuk mengingat dan mengenang semangat juangnya. Ia boleh mati secara fisik, tetapi api semangatnya tetap menyala di hati para murid bangsa. Lebih-lebih bagi para Duta SMA dari seluruh Indonesia yang berkumpul di Yogyakarta. Bila mereka sempat menikmati Malioboro dan berziarah ke Makam Ki Hadjar Dewantara di luar agenda resmi, itu adalah bonus plus. Pertama, menemui Sang Pendidik jiwa bangsa dan bersenang-senang di sepanjang Malioboro. Keduanya menghubungkan Duta SMA dengan jalan pendidikan yang berkebudayaan dalam menyiapkan Indonesia Emas 2045.

Dengan bantuan Google Maps, ditemukan jarak antara Makam Ki Hadjar Dewantara dan Candi Prambanan sekitar 16 km, dengan prakiraan waktu tempuh 30 menit. Saya tiba di loket karcis Candi Prambanan menjelang pukul 10.00 WIB, sedangkan boarding pesawat pukul 13.40 WIB. Harga karcis masuk kawasan dengan objek Candi Prambanan saja Rp50.000,00 untuk dewasa. Saya berkomitmen paling lambat pukul 11.00 WIB sudah meninggalkan Candi Prambanan menuju Bandara YIA Kulon Progo.
Sebelum memasuki pelataran candi, aura Kemerdekaan Republik Indonesia tampak nyata. Sejumlah spanduk perayaan 81 Tahun RI terpasang di berbagai sudut. Menjelang siang, sejumlah panggung juga disiapkan. Petugas pemasang tenda tampak sibuk. Sesekali mereka beristirahat sambil minum di tengah terik matahari. Itu pula sebabnya penyewaan payung laris manis, dibanderol dengan harga Rp10.000,00 per payung. Payung dikembalikan ketika keluar dari area Candi Prambanan.
Pagi itu, bertepatan dengan Buda Umanis Tambir yang berbarengan dengan Tilem Sasih Karo (12 Agustus 2026), setelah tiba di Candi Prambanan saya baru ngeh. Buda Umanis Tambir nemu gelang Tilem Karo. Di sana, dua pemangku memuja dengan genta persis di sebelah kiri pintu masuk Candi Siwa. Saya tidak tahu apakah karena Tilem mereka melakukan ritual pemujaan atau karena penganugerahan Duta SMA dipusatkan di Pelataran Candi Prambanan.


Awalnya, saya tidak ingin naik ke Candi Siwa dengan mempertimbangkan waktu menuju bandara yang cukup lama, lagi pula jaraknya jauh. Arif Prabowo yang mengantar saya nyeletuk, “Rasanya wajib naik, deh, menurut perasaan saya,” katanya. Saya pun bergegas naik ke candi menemui Hyang Ibu Siwa yang seperti bertapa di dalam kegelapan. Posisinya berdiri tegak. Langsing. Seorang pemandu wisata memberikan penjelasan kepada wisatawan asing sambil menghidupkan lampu senter sehingga tampak relief lukisan di dalam tembok candi yang sangat indah dan penuh makna filosofis. Saya berimajinasi, bagaimana tingkat konsentrasi undagi yang mengerjakannya dalam kegelapan. Lagi pula, jika memperhatikan catatan sejarah, candi ini berdiri sekitar abad ke-9, tepatnya pada tahun 850 Masehi, pada zaman Raja Rakai Pikatan, raja Kerajaan Medang atau Mataram Kuno dari Wangsa Sanjaya. Sebuah karya arsitektur yang nyaris sempurna ketika teknologi belum secanggih kini.
Tidak berlebihan bila Malam Penganugerahan Duta SMA V Tahun 2026 dipusatkan di Pelataran Candi Prambanan, di ruang terbuka budaya tanpa sekat. Tampaknya, kesibukan pemasangan tenda dan panggung sejak pagi hingga menjelang sore juga dalam rangka menyiapkan karpet merah bagi para Duta SMA dari seluruh provinsi di Indonesia. Malam itu dikukuhkan 76 Duta SMA dari seluruh Indonesia yang mewakili 38 provinsi dengan mempertimbangkan kesetaraan gender. Mereka akan menjadi pelantang sebaya untuk memperkuat budaya bangsa. Pendekatan budaya dalam pendidikan tampaknya menjadi pilihan yang disadari, mengingat Indonesia beragam dalam banyak hal. Karena itu, pendekatan desa, kala, patra, sesuai dengan kearifan lokal Bali, layak dipertimbangkan.



Candi Prambanan adalah simbol toleransi tempo doeloe, ketika agama Hindu dan Buda hidup berdampingan dengan ikon Candi Borobudur. Jarak kedua candi sekitar 40 km. Masa pembangunannya pun berdekatan dari segi waktu. Borobudur berdiri pada zaman Syailendra sekitar tahun 780–840 Masehi. Raja Syailendra dan Rakai Pikatan telah memberikan fondasi untuk memuliakan perbedaan sebagai inspirasi membangun toleransi. Sejak dulu, “Rukun Sama Teman” sudah diajarkan dan kini kita mesti merawatnya, tidak cukup hanya dengan menyanyikan lagunya setiap pagi di sekolah. Lebih penting adalah tindakan nyata sehingga harmonisasi antarmanusia terbangun dan dihayati. Perbedaan dirawat untuk saling menguatkan. Tidak ada yang menutup warung makan karena makanan yang dijual adalah babi guling, misalnya. Apa salahnya babi guling? Bukankah itu makanan terenak sedunia versi guyonan Romo dengan Gus Dur yang membuat tawa berderai?
Berpacu dengan waktu sambil melihat jam di layar handphone, pukul 11.00 WIB saya bergegas meninggalkan area Candi Prambanan setelah berkeliling di sejumlah candi, walaupun tidak semua candi saya masuki karena keterbatasan waktu. Sebagaimana objek wisata pada umumnya, pengunjung disapa oleh pedagang di pintu masuk. Begitu pun ketika keluar dari kawasan wisata, saya melewati deretan pedagang kuliner, cendera mata, serta pakaian dengan aneka warna dan ukuran.


Dari Google Maps terbaca, jarak dari Candi Prambanan ke Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, sekitar 63 km dengan waktu tempuh 1,5 jam. Oleh karena hari sudah siang dan lapar mulai terasa, saya mesti makan siang di perjalanan yang memakan waktu sekitar 30 menit. Saya percayakan kepada Arif Prabowo, sopir sekaligus pemandu, untuk mencari tempat makan asalkan ada ikannya. Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB, saya belum sampai di bandara. Diuntit rasa gelisah di mobil yang saya tumpangi, saya tergesa-gesa mengambil tas dan dompet untuk membayar sopir.
Akhirnya, pukul 13.10 WIB saya sampai di bandara dengan napas terengah-engah. Syukurlah, penumpang di Bandara YIA Kulon Progo tidak seramai Bandara Ngurah Rai, Denpasar, sehingga check-in tidak perlu menunggu lama. Di ruang tunggu, petugas memanggil penumpang untuk masuk ke pesawat. Tenggorokan terasa kering, padahal sebelumnya sempat minum air mineral yang terbawa di tas. Sungguh perjalanan yang menyenangkan, menenangkan, dan menegangkan menjadi satu. Apakah karena saya dari Taman Makam Widjaya Brata langsung ke Candi Prambanan tanpa masuk paon (area dapur) terlebih dahulu sebagaimana orang Bali pada umumnya? Entahlah! Yogyakarta istimewa, penuh kejutan.[T]
Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Jaswanto




























![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)
