DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki hubungan erat dengan kepercayaan, adat, dan kehidupan spiritual masyarakatnya. Tari tersebut adalah Sanghyang Janger Maborbor, sebuah pertunjukan sakral yang tidak hanya menghadirkan keindahan gerak, musik, tetapi juga menjadi bagian dari praktik ritual masyarakat. Tari ini ditarikan oleh 24 orang penari diantaranya 12 orang penari perempuan (janger) dan 12 orang penari laki-laki (Kecak) diiringi dengan gamelan Gong Kebyar dengan 25 orang penabuh. Tarian ini dipentaskan setiap upacara piodalan pura-pura di Desa Metra, khususnya pada rerahinan Buda Cemeng Warigadean di Pura Puseh Ulun Suwi Desa Metra.
Awal mula munculnya Janger Maborbor di Desa Metra berkaitan dengan kisah orang tua dari Bapak I Wayan Menek, yang saat ini menjadi pemangku pura di Banjar Dinas Suka Jiwa, Desa Metra. Dahulu, orang tua beliau pernah mengalami sakit yang tidak biasa, di mana setiap kali mandi, orang tuanya menggunakan api sebagai media pembersihan. Sebagaimana yang dituturkan oleh I Wayan Menek (59 tahun) sebagai pemangku, pada wawancara pada tanggal 7 April 2026 dinyatakan bahwa:
“……………Reraman titiange dumun naenin sakit keras. Seantukan wenten pawisik ngamedalang Tari Janger Meborbor, reraman titiang seger uger. Jantos mangkin raris kramane deriki tetep nyolahang Tari Jangere puniki.”
“……………Dahulu orang tua saya pernah menderita sakit keras. Kemudian mendapat pawisik atau petunjuk spiritual untuk mementaskan Tari Janger Maborbor. Setelah tari tersebut dipentaskan, orang tua saya pun sembuh. Hingga saat ini, masyarakat di sini tetap melestarikan Tari Janger tersebut.”
Berdasarkan hasil wawancara tersebut di atas dapat diketahui bahwa Tari Sanghyang Janger Maborbor memiliki fungsi sebagai sarana penolak bala. Keberadaannya berkaitan erat dengan sistem kepercayaan masyarakat Desa Metra serta hubungan antara sekala dan niskala. Karena itu, pertunjukan ini tidak dapat dipahami hanya sebagai tontonan, atau hanyasebatas pertanyaan-pertanyaan yang dijawab dengan kata “Nak mula keto uling pidan” tetapi sebagai sebuah peristiwa budaya dan ritual yang memiliki makna, aturan, serta tahapan tertentu.

LIMA TAHAPAN MENUJU PUNCAK RITUAL
Pertunjukan Sanghyang Janger Maborbor tersusun dalam lima tahapan utama, yaitu Nedunang, Pepeson, Pejangeran, Maborbor, dan Ngaluhur. Kelima tahapan tersebut memiliki simbol dan makna spiritual yang menjadi satu kesatuan serta tidak boleh dirubah. Masyarakat memandang urutan pertunjukan tersebut sebagai pakem sakral yang diwariskan secara turun-temurun dan memiliki konsekuensi spiritual.
Pertunjukan diawali dengan Nedunang, yaitu prosesi ritual Nedunang Tapakan Ida Betara Barong Singa Mara kelanturan Ida Betara mesolah napak pertiwi. Selanjutnya tahap Pepeson, ketika penari kecak dan janger memulai pertunjukan dengan menari di dalam langse dan selanjutnya memasuki kalangan pertunjukan.

Pada tahap berikutnya adalah Pejangeran. Pada bagian ini, penari kecak dan janger menampilkan gerak tari disertai gending-gending janger serta pantun yang dinyanyikan secara berbalas-balasan.

DARI SEKALA MENUJU NISKALA
Keunikan Sanghyang Janger Maborbor juga terlihat dari cara masyarakat memaknai sebagai unsur pertunjukannya. Gerak, vokal, iringan, busana, properti, hingga ruang pertunjukannya tidak berdiri sendiri. Semuanya menjadi bagian dari sistem simbol yang saling berkaitan.
Vokal atau gegendingan janger pada lirik ini sebagai media komunikasi dalam prosesi ritual pemanggil roh leluhur.
Widyadara mangkin pacang temurun
Sanghyang dari saking kedewatan
Sane mangkin melingga ring janger
Janger suci saking suka jiwa
Sane mangkin pacang mesolah
Jangi janger aras sijang jangi janger
Jangi janger aras sijang jangi janger
Jangi janger aras sijang jangi janger
Jangi janger seriang ento rora roti
Dari pertunjukan yang awalnya terlihat profan kemudian berubah sakral setelah gending tersebut dinyanyikan. Beberapa penari, pemangku, dan masyarakat akan mengalami trance atau kerauhan.
KETIKA API MENJADI BAGIAN DARI RITUAL
Puncak pertunjukan berada pada pada tahap maborbor. Pada tahap ini beberapa penari mengalami kondisi trance atau kerauhan. Dalam keadaan tersebut penari melakukan interaksi dengan bara api, seperti menginjak, menendang, bahkan memasukkan serabut kelapa yang sudah terbakar ke dalam mulut. Api yang terlihat sering kali tidak dirasakan panas, bahkan oleh penari kerap dirasakan seperti air atau bahkan makanan. Sebagaimana yang dituturkan oleh Ni Luh Cipta Tasya Listyani (17 tahun), salah satu penari Janger yang menjelaskan bahwa pengalaman yang dirasakan ketika berada dalam kondisi kerauhan berbeda dengan keadaan normal. Fenomena tersebut dalam kepercayaan masyarakat Desa Metra berkaitan dengan hadirnya kekuatan niskala dalam prosesi ritual, sehingga kemampuan penari dalam berinteraksi dengan api dipandang sebagai bagian dari pengalaman spiritual yang menyertai pelaksanaan ritual maborbor.
Api menjadi salah satu unsur yang paling kuat dalam pertunjukan ini. Api terbuat dari tumpukan serabut kelapa kering yang ditempatkan di tengah kalangan. kemudian dibakar menggunakan 11 batang dupa sebagai simbol Gni dan disiram menggunakan bahan bakar agar proses pembakaran dapat dilakukan secara cepat dan maksimal. Secara simbolik, api dimaknai sebagai pelebur segala bentuk lara, loba, dan gering (segala hal negatif). Api bukan sekedar unsur visual yang menarik perhatian, tetapi menjadi makna penting dari prosesi ritual Sanghyang Janger Maborbor.

PENUTUP YANG MENGEMBALIKAN KESADARAN
Setelah melewati tahap maborbor, pertunjukan memasuki tahap ngaluhur. Pada tahap ini penari yang mengalami trance atau kerauhan akan disadarkan kembali melalui prosesi pemberian air suci atau tirtha oleh pemangku. Tahap tersebut menjadi penutup tahapan ritual sekaligus mengembalikan kondisi penari setelah mengalami pengalaman spiritual.

Sanghyang Janger Maborbor, pada akhirnya bukan sekedar pertunjukan yang memperlihatkan keberanian penari menginjak bara api. Di balik kobaran api dan kondisi kerauhan terdapat sistem budaya yang mengatur urutan ritual, peran pelaku, penggunaan ruang, bunyi, gerak, serta berbagai perlengkapan pertunjukan.
Dalam perspektif etnoestetika, keindahan Sanghyang Janger Maborbor tidak hanya dilihat dari bentuk gerak, tata rias, busana, gegendingan, serta irangan dalam pertunjukannya. Keindahan juga terletak pada kesesuaian pertunjukan dengan nilai adat, ketepatan struktur ritual, serta pengalaman spiritual yang dirasakan secara kolektif oleh masyarakat Desa Metra.
Bagi masyarakat Desa Metra, keberadaan Sanghyang Janger Maborbor merupakan bagian dari identitas budaya yang memiliki nilai sosial, spiritual, dan simbolik. Pelestarian pertunjukan ini tidak hanya bertujuan untuk mempertahankan keberlangsungannya, tetapi juga untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai keberadaan Sanghyang Janger Maborbor sebagai salah satu warisan budaya Desa Metra. Melalui penelitian dan pendokumentasian, masyarakat mengenali nama pertunjukan, memahami tahapan-tahapan dalam pelaksanaannya, serta mengetahui berbagai unsur pertunjukan yang mengandung makna simbolik. Pemahaman tersebut penting agar Sanghyang Janger Maborbor tidak hanya dikenal sebagai pertunjukan yang menampilkan atraksi maborbor atau permainan api, tetapi juga dipahami sebagai sebuah tradisi yang memiliki struktur, tahapan, fungsi, serta makna simbolik yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Desa Metra. Dengan demikian, pengetahuan mengenai Sanghyang Janger Maborbor dapat diwariskan kepada generasi berikutnya sehingga keberadaan dan makna tradisi tersebut tetap terjaga.[T]

Penulis: I Putu Gede Pradipta Utama
Editor: Adnyana Ole
Narasumber :
- I Wayan Menek (59 tahun, Pemangku)
- I Made Pasek Arjana (34 tahun, Kepala Subak)
- Ni Luh Cipta Tasya Listyani (17 tahun, Penari Janger)
- I Wayan Budaya (49 tahun, Warga Desa Metra)






























