MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru beroperasi hampir sebulan, Warung Babi Guling Dek Prama, ratusan warga duduk berhadap-hadapan. Perhatian warga tertuju pada seorang lelaki yang berbicara dari tengah-tengah mereka.
I Ketut Karben Wardana, atau akrab disapa Tut Karben, malam itu datang bersama timnya untuk memperkenalkan diri sebagai bakal calon Perbekel Guwang. Ia memaparkan visi dan misi sekaligus menyampaikan sejumlah gagasan yang ingin dibawa jika kelak mendapat kepercayaan memimpin Desa Guwang. Warga dari Banjar Danginjalan dan sejumlah banjar di sekitarnya hadir menyimak.
Suasananya bukan sekadar pertemuan untuk mendengar paparan. Warga dari berbagai usia, mulai remaja hingga lansia, turut hadir. Mereka menyimak, memberikan masukan, dan menyampaikan usul kepada Tut Karben. Ada harapan agar siapa pun yang terpilih nanti mampu membawa perubahan dan kemajuan bagi desa.

Guwang sendiri tengah memasuki masa transisi kepemimpinan. Pada 20 September 2026, warga akan memilih Perbekel baru. Dalam sistem pemerintahan desa, perbekel memiliki kedudukan, tugas, dan wewenang seperti kepala desa di daerah lain, termasuk memimpin penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat.
Seperti lazimnya menjelang pemilihan, para calon mulai menemui masyarakat dan memperkenalkan gagasan masing-masing. Pada akhirnya, warga akan menilai calon pemimpin dari berbagai hal, termasuk sepak terjang, empati, integritas, serta kemampuan menjadi pengayom masyarakat.
Bagi Tut Karben, perjumpaan dengan warga bukan hal baru. Sebelum maju sebagai bakal calon perbekel, ia merupakan mantan Bendesa Adat Guwang. Dalam posisi tersebut, ia telah terlibat dalam sejumlah persoalan dan pengembangan potensi desa.


Pada 2021, misalnya, ia turut memperjuangkan aset dan lahan fasilitas umum milik Desa Adat Guwang, seperti area sekolah, pasar, dan kantor desa, dalam sengketa hukum di Pengadilan Negeri Gianyar. Ia juga terlibat dalam pengembangan potensi lokal, termasuk objek wisata geologi dan petualangan Hidden Canyon Beji Guwang serta pementasan seni Barong and Keris Dance.
Sejak 2017, Tut Karben juga memprakarsai pengelolaan sumber mata air suci atau beji di desa adat. Pengelolaan itu dilakukan bersama pemerintah agar sumber air tersebut dapat dikelola secara higienis dan memberi manfaat bagi kesejahteraan krama desa melalui produk Toya Beji. Di bidang ekonomi, ia turut mendukung pendirian unit usaha ekonomi desa adat, seperti Tenten Mart yang kini menjadi Guwang Mart, melalui konsep Baga Usaha Padruenan Desa Adat (BUPDA).
Namun, pengalaman tersebut tidak membuat Tut Karben menganggap kemenangan sebagai sesuatu yang pasti. Ia menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan dan pilihan masyarakat.
“Semua bisa saja terjadi. Semua tergantung restu dari Tuhan. Kalau memang saya diberikan kepercayaan sepenuhnya oleh Tuhan dan masyarakat, saya akan siap melakoninya dengan tulus,” katanya.

Di hadapan warga, ia menegaskan alasan utama dirinya maju. Bukan sekadar mengejar jabatan, melainkan keinginan untuk mengabdi kepada desa dan masyarakat.
“Tujuan saya mencalonkan diri memang atas dasar ingin mengabdi untuk desa dan masyarakat. Selagi saya diberikan kesehatan, saya akan melayani desa semaksimal saya,” ujar Tut Karben.
Salah satu program kerja yang ia tawarkan adalah LaporKel/HaloKel. Melalui program tersebut, warga dapat menghubunginya selama 24 jam untuk menyampaikan persoalan atau urusan yang membutuhkan perhatian.
“Warga boleh menghubungi saya selama 24 jam. Akan saya layani. Bila perlu, saya langsung yang menindaklanjuti urusan apa pun itu,” katanya lantang, disambut sorakan warga.
Paparan Tut Karben kemudian bergerak dari satu bidang ke bidang lain. Ia menyampaikan gagasan mengenai kesehatan, pendidikan, pertanian, pariwisata, dan berbagai bidang lainnya. Warga menyimak dengan saksama, sembari memberikan masukan dan usul.

Di tengah pertemuan itu, Tut Karben juga menempatkan perjuangannya bukan sebagai perjuangan seorang diri. Ia mengajak warga untuk bergerak bersama. “Yang jelas, saya siap berjuang demi Desa Guwang. Tetapi, dengan bantuan dari seluruh warga, bersama-sama kita capai tujuan menjadikan Guwang desa yang unggul.”
“Dulu, ketika awal-awal saya memprakarsai berbagai program dan gerakan, masih banyak isu simpang siur yang beredar. Tapi saya jadikan itu sebagai vitamin. Sekarang terbukti, apa yang kita konsistenkan, niscaya akan ada masanya berjaya,” pungkasnya.
Meski membawa rekam jejak dan gagasannya sendiri, Tut Karben tidak merasa berada di atas calon lain. Menurutnya, setiap calon memiliki pemikiran yang sama, yakni keinginan untuk memajukan Desa Guwang. Siapa pun yang nantinya mendapat kepercayaan masyarakat, ia meyakini tujuan akhirnya tetap sama: membangun desa.
Karena itu, ia menyatakan siap mendukung langkah tersebut sepenuhnya.
Bagi Tut Karben, Guwang telah menjadi desa yang maju, visioner, dan terbuka. Nilai itulah yang ingin ia jaga sekaligus tingkatkan. Kini, tinggal waktu yang akan menentukan ke mana arah pilihan warga. Pada 20 September 2026 mendatang, masyarakat Guwang akan menentukan siapa pemimpin mereka. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole































