15 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
in Panggung
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

Penampilan Genjek Pondok Pekak menjadi pembuka Ubud FolkFest 2026 di Biji World, Ubud, 14 Agustus 2026 | Foto: Istimewa

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki berbusana sederhana yang mengenakan udeng merah, saput poleng, kain berwarna gelap, dan bertelanjang dada, mereka duduk bersila. Pemain perempuan berkebaya nuansa hitam duduk bersimpuh di sebuah kalangan sejuk yang dikelilingi kolam.

Tubuh mereka bergerak mengikuti irama. Suara-suara vokal pun bermunculan, menirukan bunyi berbagai instrumen gamelan Bali, seperti kendang, cengceng, reong hingga kenyur (sir). Suara suling mengalir sebagai pemanis sekaligus pelengkap melodi, dan tentu memperindah jalinan suara yang lahir dari mulut para peniru bunyi gamelan tersebut.

Itulah penampilan Genjek Pondok Pekak menjadi pembuka Ubud FolkFest 2026 di Biji World, Ubud, 14 Agustus 2026. Sebanyak tujuh pemain genjek laki-laki, lima pemain genjek perempuan, dan lima pemain gamelan laki-laki terlibat dalam pertunjukan tersebut. Para pemain tidak hanya mengandalkan musikalitas, tetapi juga spontanitas. Candaan, pesan sosial, bahkan kritik disampaikan secara cair dan jenaka. Pada bagian pengecet, seorang pemain perempuan mengajak pengunjung untuk ikut menari dan bernyanyi. Batas antara penampil dan penonton pun seketika mencair.

Memasuki tahun kelima penyelenggaraannya, Ubud FolkFest kembali berlangsung pada 14–15 Agustus 2026 di Biji World, Ubud. Festival ini mempertemukan musik, seni, budaya, komunitas, dan berbagai bentuk kreativitas dalam ruang yang terbuka dan inklusif.

Selama dua hari, tiga panggung musik, galeri seni, pertunjukan budaya, lokakarya seni, aktivitas anak, art market, record store hingga drum circle hadir dalam satu ekosistem. Sejumlah musisi dari Bali, berbagai daerah di Indonesia, hingga mancanegara turut mengisi panggung, antara lain Navicula, Iksan Skuter, Ary Juliyant, Anda Perdana, Catur Hari Wijaya & The Sound Nomads, Supa Kalulu, Managona dari Taiwan, SUNZ dari New Zealand, Tanya George dari Australia, Orasare, Abink Ferry, WLBY, Tarawangsa, Nata Swara, Neo Nolin, Celticroom Bali, Aji Sang Aji, Kerta Art dan Pondok Pekak.

Namun, musik bukan satu-satunya denyut festival. Seni rupa menjadi bagian penting melalui pameran yang menghadirkan karya Made Bayak, Daniel Kho, Linkan Palenewen, Putu Eni, Dedi Junaedi, Bandrek, Chay, I.B. Rekha, Ayu Sri Rejeki, Sofiya Shukhova dan Arina Proboningtyas.
Di antara pertunjukan musik dan pameran seni, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai aktivitas, seperti tari tradisional, Kamasan Art, art stamping, kids art zone, live drawing model, social canvas, tie dye, flow art, breakdance, manual brew, drum circle, art market dan record store.

Penampilan Genjek Pondok Pekak menjadi pembuka Ubud FolkFest 2026 di Biji World, Ubud, 14 Agustus 2026 | Foto: Istimewa

Kehadiran program-program tersebut memperlihatkan upaya Ubud FolkFest untuk menempatkan pengunjung bukan sekadar sebagai penonton. Mereka diberi ruang untuk belajar, mencoba, mencipta, bereksperimen dan berinteraksi.

Seni sebagai Pengalaman

Gagasan tersebut diperkuat melalui program Fast Forward Ubud yang mengusung tema Short Stories. Big Ideas. Get Inspired. Enam pembicara dari berbagai latar belakang berbagi cerita, pengalaman dan gagasan secara singkat, antara lain Sandrina Malakiano, Rudolf Dethu, James Sukadana, Shinta Retnani, Gede Robi Navicula dan Mark Feldman.

Program ini menjadi ruang kecil untuk mempertemukan pengalaman personal dengan gagasan yang lebih luas. Seni, pada akhirnya, tidak berhenti pada karya yang dipamerkan atau pertunjukan yang disaksikan, tetapi juga pada cerita dan pemikiran yang menyertainya.

Sarah Hadi, salah seorang pendiri Ubud FolkFest mengungkapkan, gagasan tersebut berangkat dari kegelisahan melihat sisi kreatif Ubud yang dirasakannya mulai kurang terlihat dibandingkan masa sebelumnya. Selama beberapa hari festival, menurutnya, Ubud FolkFest berusaha menciptakan sebuah dunia kecil—sebuah mikrokosmos dari sisi kreatif Ubud yang dihimpun dalam satu tempat.

Ia masih mengingat penyelenggaraan pertama ketika seorang seniman melukis di tengah area Biji World, sementara musisi tampil di panggung dan seniman lain membuat sketsa arang secara langsung di galeri. “Orang-orang bertemu di sini dan menjalin persahabatan; sebagian dari kami bahkan mendapatkan sahabat seumur hidup melalui festival ini. Itu adalah hal yang sungguh istimewa,” katanya.

Bagi Sarah, keberlanjutan festival justru tidak dibangun melalui ambisi untuk tumbuh secara besar-besaran. Lokasi, sponsor dan komunitas menjadi modal penting, tetapi yang paling utama adalah bagaimana komunitas tersebut terus dirawat. Festival, menurutnya, boleh berkembang, tetapi pertumbuhan itu sebaiknya berlangsung secara organik.

Aksesibilitas juga menjadi perhatian. Ubud FolkFest berupaya menjaga harga tiket tetap terjangkau agar festival dapat dinikmati oleh berbagai kalangan, sekaligus tetap memberikan dukungan kepada seniman dan musisi yang terlibat. “Bagi kami, pada akhirnya Ubud FolkFest adalah tentang menciptakan ruang di mana seni, musik, dan manusia dapat bersatu, serta memastikan ruang tersebut tetap terbuka bagi komunitas,” jelas Sarah.

Seni yang Harus Dilakukan

Sementara Ida Bagus Oka Genijaya, salah seorang pendiri Ubud FolkFest sekaligus pemilik Biji World, persoalan seni dan budaya berada pada wilayah yang lebih mendasar. “Akar dari republik ini adalah seni dan budaya. Dalam filosofi Hindu Bali, budaya adalah ibu, sesuatu yang melahirkan. Karena itu, seni dan budaya perlu ditanam, dijaga, dan yang paling penting, dilakukan,” ujarnya.

Oka Genijaya melihat ada kecenderungan nilai seni dan budaya semakin sering berhenti sebagai wacana. Seni dan budaya kerap digunakan sebagai filosofi untuk kepentingan pariwisata, tetapi belum tentu hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari. Ia teringat pesan ayahnya, yang mengatakan Jangan berfilosofi dengan saya. Filosofi itu seperti selimut. Untuk apa memakai selimut ketika cuaca sedang panas?”
Pesan tersebut menjadi semacam pegangan baginya. Seni dan budaya, kata Oka, tidak cukup hanya dibicarakan. Keduanya harus ditanam dan dilakukan.

Penampilan Genjek Pondok Pekak menjadi pembuka Ubud FolkFest 2026 di Biji World, Ubud, 14 Agustus 2026 | Foto: Istimewa

Karena itu, perjumpaannya dengan para pelaku seni, seperti seniman suara, tari, rupa dan berbagai bentuk kesenian lainnya, menjadi sesuatu yang penting. Mereka bukan sekadar pengisi acara, tetapi bagian dari kehidupan masyarakat. Desa Mas, tempat Biji World berada, memiliki sejarah sebagai ruang tempat orang datang untuk belajar. Karakter tersebut, menurut Oka, semestinya terus dipelihara.

Ia juga melihat Ubud FolkFest sebagai bentuk resilience. Festival ini tidak dibangun dengan modal besar, melainkan dari kreativitas dan pertemanan. “Kami punya tim yang muda dan kecil, tetapi sangat solid. Saya rasa itulah salah satu alasan mengapa festival ini masih bisa terus berjalan. Ada kerja keras, ada pertemanan, dan ada orang-orang yang percaya pada apa yang sedang kami bangun bersama,” paparnya.

Kini Ubud FolkFest memasuki tahun kelima. Bagi Oka, angka lima memiliki makna tentang kekuatan dan fondasi. Ia berharap momentum tersebut menjadi kesempatan untuk kembali memperkuat akar festival. Festival yang sebelumnya berlangsung tiga hari kini digelar selama dua hari karena keterbatasan tim. Namun, ia berharap suatu hari nanti Ubud FolkFest dapat kembali berlangsung tiga hari ketika tim dan ekosistemnya semakin kuat.

Ada satu hal yang menurut Oka terasa seperti sebuah kebetulan sekaligus metafora: festival itu ditanam di tempat bernama Biji. “Biji berarti sesuatu yang kita tanam untuk hari esok,” lanjutnya.

Begitu pula seni dan budaya. Keduanya tidak semestinya hanya menjadi bahan pembicaraan. Ia harus ditanam hari ini agar tumbuh dan memberikan sesuatu bagi masa depan.

Folk sebagai Pesta Rakyat

Sementara itu, bagi Rizal Hadi, salah seorang pendiri Ubud FolkFest, nama festival ini memiliki makna sederhana. Diberi nama Ubud FolkFest karena folk berarti rakyat, sementara festival adalah pesta. Jadi, secara sederhana, Ubud FolkFest adalah pesta rakyat yang dibuat di Ubud.
Karena itu, festival tidak dimaksudkan untuk mewakili satu genre musik tertentu.

Folk bukan semata-mata musik folk dalam pengertian konvensional, melainkan rakyat dengan seluruh keragaman selera dan ekspresinya. Rakyat mendengarkan rock, hip-hop, jazz, musik tradisional, musik kontemporer dan berbagai genre lainnya. Semua itu dapat hadir dalam satu ruang.

Di Ubud FolkFest, musik tradisional dapat berdampingan dengan musik kontemporer. Selonding Bali dapat bertemu Tarawangsa dari Jawa Barat, sementara pendekatan tradisi lainnya hadir melalui karya Neo Nolin. Jazz fusion, musik kontemporer hingga hip-hop dari New Zealand juga menemukan tempatnya. “Keragaman tersebut justru menjadi kekuatan festival. Yang terpenting bagi kami adalah quality over quantity,” tegas Rizal.

Ia tidak ingin keberhasilan festival semata-mata diukur dari seberapa besar nama musisi yang tampil atau berapa banyak penonton yang datang. Yang lebih penting adalah kualitas karya dan pengalaman yang dibawa pulang oleh pengunjung.

Ketika seseorang meninggalkan Ubud FolkFest, diharapkan ada sesuatu yang tertinggal dalam ingatannya: musik yang bagus, karya seni yang ditemukan, pertunjukan budaya yang disaksikan, atau perjumpaan dengan orang-orang baru. “Itulah yang ingin kami bangun melalui Ubud FolkFest: bukan sekadar jumlah penonton, tetapi sebuah pengalaman yang akan terus mereka ingat,” lanjutnya.

Menjaga Ruang Kreatif Ubud

Ubud FolkFest lahir dari gagasan Rizal Hadi dan Sara Hadi, seniman, penyelenggara acara dan produser musik, bersama Ida Bagus Oka Genijaya, arsitek sekaligus seniman. Dari gagasan sederhana untuk menciptakan ruang pertemuan antara musik, seni, budaya dan manusia, festival ini tumbuh selama lima tahun.

Biji World menjadi ruang yang mempertemukan berbagai elemen tersebut. Musik, seni, kuliner, recording, komunitas kreatif dan berbagai kegiatan kolaboratif berkelindan dalam satu tempat.
Di tengah perubahan Ubud yang terus bergerak, ruang semacam ini menjadi penting. Sebab kebudayaan bukan sesuatu yang berdiri di luar kehidupan, melainkan tumbuh dari perjumpaan manusia, kreativitas, tradisi dan perubahan zaman.

Genjek Pondok Pekak yang membuka festival menjadi gambaran yang sederhana tentang hal itu. Tradisi hadir bukan sebagai artefak yang berjarak, melainkan sebagai pertunjukan yang hidup. Ia bersuara, bergerak, bercanda, mengkritik, bahkan mengajak penonton ikut bernyanyi dan menari.

Sesudahnya, musik dari berbagai genre mengambil alih panggung. Seni rupa memenuhi galeri. Anak-anak bermain dan mencipta. Komunitas bertemu. Gagasan dipertukarkan.

Di situlah Ubud FolkFest menemukan maknanya. Ia bukan sekadar festival musik, bukan pula hanya perhelatan seni dan budaya. Ia adalah sebuah ruang pertemuan—tempat berbagai bentuk ekspresi dapat hidup berdampingan. Dan seperti makna “biji” yang menjadi nama rumahnya, festival ini tampaknya memang sedang menanam sesuatu: sebuah ekosistem kreatif yang diharapkan tumbuh perlahan, berakar kuat, dan tetap memberi ruang bagi seni, budaya serta manusia untuk berkembang bersama.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Genjek Pondok PekakUbud FolkFestUbud FolkFest 2026
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
0
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

Read moreDetails

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
0
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

Read moreDetails

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
0
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

Read moreDetails

LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 11, 2026
0
LaDju Hadirkan Jazz Fusion Eksperimental di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ALIRAN Sungai Wos turut mengiringi LaDju ketika memainkan musiknya di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF), Jumat, 7...

Read moreDetails

Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

by Nyoman Budarsana
August 11, 2026
0
Tari Pangider Bhuwana: Gerak Seni yang Menjelma Bahasa dan Menjadi Jembatan bagi Teman Tuli

GERAKANNYA ritmis dan begitu indah. Ekspresinya hidup karena setiap gerakan ditarikan dengan penuh penjiwaan. Musik seolah menyatu dalam gerak, menghadirkan...

Read moreDetails

Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Rusdy Ulu
August 10, 2026
0
Ketika Jazz Terasa Begitu Dekat dan Menyihir—Malam Penutupan Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

ORANG-orang masih berdiri di depan panggung ketika Salamander Big Band memainkan bagian-bagian terakhir musik jazz-nya pada Sabtu malam, 8 Agustus...

Read moreDetails

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan
Panggung

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali
Esai

Merawat “Briuk Siu”: Menghidupkan Kembali Wajah Solidaritas Kolektif di Bali

MASYARAKAT Bali sejak lama dikenal memiliki fondasi sosial yang sangat kuat, yang hidup dan bernapas melalui nilai-nilai gotong royong tradisional....

by Nur Kamilia
August 14, 2026
AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan
Pendidikan

AWINDO Perkuat Legalitas UMKM Disabilitas, Pelatihan Dilanjutkan Pendampingan

Asosiasi Wirausaha Inklusif Indonesia (AWINDO) memperkuat dukungan bagi pelaku UMKM disabilitas melalui training legalitas usaha. Kegiatan ini menjadi bagian dari...

by Angga Wijaya
August 14, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Kecerdasan Bukan dari Sekolah, Buat Apa Bangun Sekolah?

ADA kalimat Presiden Prabowo Subianto yang menarik perhatian saya. Bukan karena saya hendak meributkan atau memperdebatkan benar-salahnya. Jauh dari soal...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 14, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Merdeka: Dari Pekik ke Pengabdian

TUJUH Belas Agustus selalu datang dengan warna merah putih, upacara, lomba, pidato, lagu-lagu perjuangan, dan pekik Merdeka! Tahun ini kita...

by Ahmad Sihabudin
August 14, 2026
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana
Ulas Rupa

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

by Hartanto
August 13, 2026
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   
Esai

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih
Ulas Musik

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

by Mahesa Putra
August 13, 2026
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’
Panggung

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
Sekali Lagi tentang Dirgahayu
Bahasa

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

by I Made Sudiana
August 13, 2026
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   
Esai

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal
Esai

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

by Agung Sudarsa
August 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co