7 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

Hartanto by Hartanto
August 7, 2026
in Ulas Rupa
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

Seni Instalasi karya Ni Nyoman Sani | Foto: Istimewa

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists (IWA) #4. Bertajuk On the Map: Art, Science, Technology & Culture, pameran ini digelar di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Peserta pameran, antara lain: Bibiana Lee, Dyantini Adeline, Kana Fuddy Prakoso, Tara Kasenda, VeDhanito (Jakarta); Endang Lestari, Irene Agrivina, dan Nona Yoani Shara (Yogyakarta); Ni Nyoman Sani, Citra Sasmita & Cinta Bumi Artisan, serta Ines Katamso (Bali); dan Rani Jambak (Lasi).

Dihadirkan pula karya perempuan veteran yang telah almarhum. Mereka adalah Sri Astari Rasjid, Lucia Hartini, Hildawati Soemantri, Marida Nasution, dan Umi Dachlan.

Pameran dikuratori oleh Carla Bianpoen, Vidhyasuri Utami, dan Bagus Purwoadi. Pada teks kuratorial yang bertajuk On the Map – Towards New Futures dapat dibaca sebagai “pernyataan reflektif”.

Hal itu menegaskan posisi seni perempuan dalam lanskap seni rupa Indonesia sekaligus membuka jalan bagi wacana global tentang “kesetaraan”.

Jadi, IWA juga memandang bahwa gagasan tentang “kesetaraan gender” merupakan sebuah “kesadaran” dan “gerakan” berskala global.

Sejak awal, Carla menempatkan proyek Indonesian Women Artists (IWA) sebagai koreksi atas sejarah seni yang “bias gender”, sebuah “intervensi” terhadap “narasi dominan” yang selama puluhan tahun “meminggirkan” perempuan dari pusat penulisan.

Dengan mengingat kembali program IWA terdahulu, The Curtain Opens (2007), ia menegaskan bahwa “kuratorial” bukan sekadar “arsip”, melainkan “gerakan sosial-budaya” yang melibatkan “tubuh”, “memori”, dan “ruang” sebagai “medan epistemologi” baru.

Carla mengutip teori Henri Lefebvre bahwa “ruang” bukanlah “wadah netral”, melainkan hasil “produksi sosial” yang sarat “relasi kuasa”.

On the Map menghidupkan gagasan tersebut dengan menempatkan “tubuh”, “alam”, dan “warisan budaya” sebagai “ruang pengetahuan” yang diproduksi melalui “pengalaman perempuan”.

Tubuh menjadi “lokus epistemologi”, alam hadir sebagai “subjek pengetahuan”, dan warisan budaya menjadi “navigasi sejarah”.

Dengan demikian, pameran ini membongkar “ruang dominan” yang ditulis oleh “narasi maskulin” dan menggantinya dengan ruang yang “berlapis”, “cair”, dan “partisipatif”.

Ruang dalam pameran ini bukan sekadar “geografi”, melainkan “proses sosial” yang terus “dinegosiasikan”.

Michel Foucault menyebut “heterotopia” sebagai ruang lain, ruang yang menampung sekaligus menantang “tatanan dominan”.

Mengacu pada pemikiran Michel Foucault, On the Map memang dapat diidentikkan dengan “heterotopia feminis”, sebuah ruang “kuratorial” yang menampung “fragmen tubuh”, “alam”, dan “budaya”, tetapi sekaligus menantang “narasi tunggal” sejarah seni Indonesia.

Karya-karya yang ditampilkan bukanlah “representasi statis”, melainkan ruang-ruang “alternatif”: “lorong ingatan”, “arsip tubuh”, “ritual tanah”, dan navigasi “samudra perempuan”.

Mereka adalah “heterotopia” karena menghadirkan kemungkinan lain, ruang yang tidak tunduk pada “kategori tegas”, melainkan menegaskan “keterhubungan” dan “keberlimpahan”.

Carla juga mengacu pada Donna Haraway dengan konsep “situated knowledge”, pengetahuan yang berangkat dari tubuh, pengalaman, dan konteks. Pernyataan kuratorial ini menolak klaim “universal maskulin” dan justru menegaskan bahwa pengetahuan perempuan adalah “partikular” sekaligus “kolektif”.

Dengan menampilkan karya lintas generasi, dari perupa muda hingga yang telah wafat, Carla membangun arsip yang bukan “linear”, melainkan “rhizomatik”.

Peta yang ditawarkan bukan “garis lurus”, melainkan “jaringan” yang saling berlapis, sebuah “epistemologi feminis” yang menolak “dikotomi modernis”.

Di sisi lain, Carla juga menandaskan perlunya Biennale Perempuan di Indonesia. Jika biennale selama ini berorientasi pada “wilayah”, Carla menawarkan “biennale berbasis isu”, khususnya “kesetaraan gender”.

Dengan demikian, menurut saya, kuratorial Carla dan teman-teman menjadi “praksis advokasi”, melantangkan “suara perempuan” dalam “lanskap seni global”. On the Map bukan sekadar pameran, melainkan “pernyataan”, produk pemikiran, dan “ruang baru”.

Produk pemikiran itu menegaskan bahwa rumah “epistemologi perempuan” adalah ruang yang cair, “heterotopia” yang menantang “dominasi”, dan “produksi sosial” yang “terus diperbarui”.

Dengan mengaitkan Lefebvre, Foucault, dan Haraway, Carla Bianpoen dan rekan-rekan tampil sebagai “kurator-manifestan”. Ia tidak hanya “mengarsipkan” seni perempuan, tetapi juga membangun ruang “epistemologi baru”.

Menurut saya, On the Map adalah peta yang tidak selesai, sebuah “heterotopia feminis” yang terus berkembang, dan panggilan menuju “Biennale Perempuan” sebagai “ruang global” bagi “suara” yang lama “disenyapkan”.

***

Pada tulisan ini, saya tertarik “menekuni” karya instalasi Ni Nyoman Sani yang berjudul Home (Rumah). Menyimak teks dialog, muncul pertanyaan dari Sani, “Apakah rumah itu sebuah tempat? Apakah ia tetap dan statis? Atau sebuah proses di dalam tubuh sendiri?”

Karya Home berangkat dari pertanyaan tentang rumah bukan sebagai bangunan, tetapi sebagai rasa. Sani menggunakan “material” yang sifatnya sebagai “wadah”, sesuatu yang “menyimpan”, seperti “tubuh” yang mengendapkan “pengalaman”.

Bentuknya yang memanjang dapat dibayangkan seperti “ruang”, “lorong”, “napas”, sesuatu yang terus “mengalir”. Cahaya dalam karya ini menunjukkan bahwa “rumah” tidak selalu “terlihat”, tetapi bisa “dirasakan”.

Menurut Sani, karya tersebut tidak dianggap sebagai bentuk yang “selesai”, tetapi pengalaman “ruang”. Ketika “audiens” bergerak di sekitar karya, tubuh dan karya memunculkan “kesadaran” tentang “ruang” yang “aman”.

Sani tampaknya mulai mengembangkan karya yang tidak lagi “berfokus” pada “objek” semata, tetapi dalam “praktik seni instalasi” yang bersifat “partisipatif”. Karya tidak dianggap sebagai “benda mati”, melainkan sebagai “situasi” yang terus hidup melalui “interaksi audiens”.

Yang menarik adalah pendapat Sani bahwa karya “tak bergender”. “Sebenarnya, pendapat saya, kehadiran karya saya merupakan keutuhan ‘daya cipta’ seorang dalam ‘curiosity’-nya dan kegelisahan yang tiada batas, karena karya ‘tiada bergender’,” ungkap Sani.

Rumah dalam interpretasi Sani tidak dipahami sebagai bangunan fisik yang statis, melainkan sebagai proses yang berlangsung di dalam “tubuh” dan “ingatan”.

Sani seakan menolak definisi rumah sebagai “tempat tetap” dan justru menekankan sifatnya yang “cair”, “berubah”, dan “berlapis”.

Ia menandaskan bahwa “Rumah” menjadi wadah “pengalaman”, “lorong napas”, “cahaya” yang tidak selalu “terlihat”, tetapi dapat “dirasakan”.

Dengan demikian, rumah adalah “metafora” bagi tubuh yang menyimpan “memori”, rasa aman, kestabilan, sekaligus ketidakstabilan.

Hal itu menurut pengalaman memori Sani semenjak masih kanak-kanak. “Rumah itu” terus berubah; ia merupakan rasa nyaman yang jarang menemukan tempatnya. “Lalu saya merasakan bahwa tubuh juga merupakan rumah. Bangunan atau tempat tinggal itu juga sebuah tempat singgah, yang dinamakan Rumah,” ujar Sani.

Lalu “Rumah” itu, dalam “daya nalar” Sani, merupakan sesuatu yang cair seperti yang ia jabarkan di atas. “Secara psikologi, tubuh saya terus mengamati pengalaman berpindah tempat tinggal dan mencoba merasakan kenyamanan untuk menyebutkannya sebagai Rumah, namun rasa itu tidak pernah tetap dan diam,” tambahnya.

Masih menurut saya, karya Ni Nyoman Sani ini adalah sebuah “instalasi monumental” yang menegaskan “tubuh” sebagai “ruang”, “ingatan” sebagai “material”, dan “pengalaman” sebagai “dimensi” yang terus “berlapis”.

Analisis detail atas karya ini dapat dibaca dari beberapa aspek: “bentuk”, “material”, “ruang”, “cahaya”, serta “getaran konseptual”.

Dari segi bentuk, karya ini menghadirkan “struktur silindris” besar dengan permukaan berlapis cat “metalik” atau “tembaga”, dilengkapi pipa-pipa yang menonjol dari tubuh utama.

Bentuk “tubular” ini bukan sekadar “konstruksi” teknis, melainkan “metafora” lorong napas, “jalur energi”, atau bahkan “tubuh internal” yang “beresonansi” dengan gagasan rumah sebagai “proses”, bukan tempat “statis”.

Pipa-pipa yang menonjol dapat dibaca sebagai “saluran ingatan”, “resonator tubuh”, atau bahkan “organ-organ” yang memperlihatkan keterhubungan antara “dalam” dan “luar”.

Dengan demikian, bentuknya menolak keutuhan “geometris” yang dingin dan justru menegaskan “kerentanan” serta “keterhubungan”.

Material yang digunakan Sani, antara lain “logam”, cat “tembaga”, dan “tekstur berkarat”, menyiratkan “ambivalensi” antara kekuatan dan kerentanan.

Logam memberi kesan “industrial”, “keras”, dan “tahan lama”, tetapi lapisan “cat” yang tidak rata, “tekstur” yang berkarat, serta kilau yang berubah-ubah di bawah cahaya menegaskan sifat “rapuh”, “sementara”, dan “tidak stabil”.

Di sini, Sani menghadirkan “tubuh” sebagai “wadah” yang menyimpan “jejak waktu”, bukan sebagai “entitas” yang “utuh” dan “permanen”. Material menjadi bahasa yang mengartikulasikan “memori” dan “pengalaman”.

Tentu, ruang pamer memainkan peran penting. Karya ini ditempatkan di galeri dengan pencahayaan hangat dari atas dan bawah, menghasilkan pantulan “lingkaran” di lantai kayu.

Efek cahaya ini memperluas “tubuh karya” ke ruang sekitarnya, menciptakan “atmosfer yang imersif”. Penikmat tidak hanya melihat objek, tetapi juga mengalami ruang yang diproduksi oleh “cahaya”, “bayangan”, dan “pantulan”.

Dalam kerangka Lefebvre, “ruang” di sini adalah “produksi sosial”: ia lahir dari “interaksi material”, “cahaya”, “tubuh audiens”, dan “konteks galeri”. Karya ini tidak bisa dipisahkan dari ruangnya; ia menciptakan “heterotopia”, “ruang lain”, yang menantang “persepsi” sehari-hari.

Pipa-pipa yang menonjol dapat dibaca sebagai “saluran memori” masa kecil, seperti kisah ayah nelayan yang menopang perahu dengan can (can adalah pelampung yang berfungsi sebagai penanda visual untuk menunjukkan batas jalur air yang aman, area dangkal, atau rintangan di perairan).

Dengan demikian, karya ini adalah “arsip tubuh”: ia menyimpan pengalaman “personal”, sekaligus membuka ruang “dialog” bagi “audiens” untuk merasakan “keterhubungan”.

Interpretasi saya, dalam kerangka “cultural citizenship”, karya ini menegaskan hak perempuan untuk “mengartikulasikan tubuh” dan “ingatan” sebagai bagian dari “lanskap budaya”, bukan sekadar pengalaman “privat”.

Masih menurut saya, karya ini bersifat “partisipatif”. Kehadiran “audiens” menjadi bagian dari “aktivasi”, bergerak di sekitar “instalasi”, merasakan “skala”, mengalami rasa “aman” atau sebaliknya “ketidakpastian”.

Karya ini tidak selesai tanpa tubuh “audiens”. Artinya, ia menolak “logika objek seni” sebagai benda mati dan menegaskan “seni” sebagai “situasi hidup”. Ini adalah “strategi feminis” yang menekankan pengalaman “embodied”, “situated knowledge”, dan “keterhubungan sosial”.

Kesimpulan saya, karya Ni Nyoman Sani adalah “instalasi” yang kompleks, memadukan bentuk “monumental”, “material industrial”, “cahaya imersif”, dan “resonansi konseptual” tentang “rumah”, “tubuh”, dan “ingatan”.

Karya ini bukan hanya objek “estetika”, melainkan juga pernyataan “ruang” dan “pengalaman”, menegaskan bahwa “seni perempuan” juga pusat “wacana kontemporer” yang membuka jalan bagi “politik ruang” dan “kewargaan budaya” yang lebih “setara”.

Lebih lanjut, jika karya Sani kita bandingkan dengan karya Anish Kapoor, misalnya, menurut saya karya Sani yang berbentuk “silindris monumental” dengan permukaan “metalik” dan pipa-pipa menonjol memiliki kedekatan dengan cara Kapoor menghadirkan ruang sebagai pengalaman “imersif”.

Kapoor pernah menulis, “Sculpture is a way of bringing the void into visibility.” (Seni patung adalah cara untuk menghadirkan kekosongan ke dalam ranah yang dapat dilihat). Karya Sani juga menghadirkan semacam “void” atau “lorong internal”, bukan sekadar “objek”, melainkan ruang yang mengundang “audiens” untuk mengalami keterhubungan antara “tubuh” dan “ingatan”.

Bedanya, jika Kapoor sering menekankan “kekosongan metafisik”, Sani menekankan tubuh sebagai “rumah” yang “cair” dan “berlapis”.

Dari sisi “material” dan “cahaya”, karya Sani juga berparalel dengan James Turrell, yang menjadikan “cahaya” sebagai “medium” untuk membentuk “ruang perseptual”. Bisa kita padankan dengan karya Turrell yang bertajuk “Encounter”.

Pada suatu saat, Turrell pernah mengatakan, “My work is more about your seeing than it is about my seeing.” (“Karya saya lebih tentang bagaimana Anda melihat daripada bagaimana saya melihat.”)

Pencahayaan hangat yang memantulkan lingkaran di lantai galeri dalam karya Sani memperluas “tubuh karya” ke “ruang sekitarnya”, menciptakan “atmosfer yang imersif”.

Audiens tidak hanya melihat “objek”, tetapi juga mengalami “ruang” yang diproduksi oleh “cahaya”, “bayangan”, dan “pantulan”. Menurut saya, ini merupakan sebuah pengalaman “bawah sadar” Sani yang dekat dengan Turrell, tetapi tetap berakar pada “tubuh” dan “ingatan lokal”.

Pada sisi lain, saya ingin mengkaji karya Ni Nyoman Sani dengan referensi salah satu karya Christo dan Jeanne-Claude yang bertajuk “Konstruksi Drum”. Pasalnya, karya Christo ini juga memakai bahan baku drum.

Mengapa menarik? Karena bagi saya, keduanya sama-sama menekankan pengalaman “ruang”, “skala monumental”, dan “keterlibatan audiens” sebagai bagian “integral” dari karya.

Christo dikenal dengan proyek-proyek besar seperti Wrapped Reichstag (1995) atau The Gates (2005), yang membungkus atau “mengintervensi” ruang publik sehingga audiens tidak hanya melihat karya, tetapi juga “mengalami transformasi ruang” sehari-hari.

Karya Sani, dengan “struktur tubular” besar, pipa-pipa menonjol, dan pencahayaan “imersif”, menghadirkan pengalaman serupa. Ruang yang biasa, galeri atau bengkel, diubah menjadi “heterotopia”, ruang lain yang “menantang persepsi”.

Seperti Christo, Sani menolak karya sebagai “objek permanen”. Ia menekankan proses, “keterlibatan”, dan “pengalaman”. Christo pernah berkata, “Our works are temporary in order to endow them with a feeling of urgency to be seen, and the tenderness to be loved.” (Karya-karya kami bersifat sementara agar memiliki nuansa urgensi untuk dilihat, serta kelembutan untuk dicintai).

Kutipan ini dapat dikaitkan dengan karya Sani, yang juga menekankan “ketidakstabilan rumah”, “tubuh”, dan “ingatan”. Rumah bukanlah “tempat tetap”, melainkan proses yang cair dan, justru karena sifatnya yang rapuh, menghadirkan “urgensi” untuk dialami.

Namun, ada perbedaan penting. Christo acap bekerja dengan “skala urban”, membungkus “gedung”, “jembatan”, atau “lanskap”, sehingga karya menjadi “intervensi politik ruang publik”.

Sani, sebaliknya, menghadirkan “tubuh” sebagai “ruang internal”, “rumah” sebagai “lorong ingatan”, dan material industrial sebagai “metafora kerentanan”.

Jika Christo mengajak audiens untuk “melihat kota” dengan “cara baru”, Sani mengajak “audiens” untuk merasakan “tubuh” dan “ingatan” sebagai “rumah” yang terus “berubah”.

Dengan demikian, padanan Sani dengan Christo memperlihatkan bahwa keduanya berbagi semangat “monumental” dan “partisipatif”, tetapi dengan orientasi berbeda.

Christo pada ruang publik dan politik kota, Sani pada tubuh, rumah, dan memori personal. Keduanya sama-sama menegaskan bahwa seni adalah pengalaman ruang yang cair, sementara, dan harus dialami secara langsung.

Dengan memadankan karya Sani dengan Kapoor, Christo dan Jeanne-Claude, serta Turrell, kita melihat bahwa ia berada dalam percakapan “global” tentang “tubuh”, “ruang”, dan “memori”.

Namun, Sani menambahkan lapisan lokal yang khas: kisah ayah nelayan, “rumah” sebagai “lorong napas”, dan “tubuh” sebagai “arsip pengalaman”. Karya ini bukan hanya berelasi dengan getaran “seni internasional”, tetapi juga “artikulasi epistemologi feminis” Nusantara.

Tulisan yang memadukan kutipan seniman internasional ini menegaskan bahwa karya Ni Nyoman Sani adalah bagian dari “jaringan global” seni “kontemporer”, sekaligus suara lokal yang unik.

Ia memperlihatkan bahwa rumah, tubuh, dan ingatan adalah tema universal, tetapi selalu hadir dengan “nuansa partikular” yang lahir dari konteks “budaya” dan “pengalaman personal”.[T]

Penulis: Hartanto
Editor: Jaswanto

Tags: Indonesian Women ArtistsNi Nyoman Sani
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

Next Post

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi
Esai

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co