7 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

Hartanto by Hartanto
August 7, 2026
in Ulas Rupa
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

Seni Instalasi karya Ni Nyoman Sani | Foto: Istimewa

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists (IWA) #4. Bertajuk On the Map: Art, Science, Technology & Culture, pameran ini digelar di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Peserta pameran, antara lain: Bibiana Lee, Dyantini Adeline, Kana Fuddy Prakoso, Tara Kasenda, VeDhanito (Jakarta); Endang Lestari, Irene Agrivina, dan Nona Yoani Shara (Yogyakarta); Ni Nyoman Sani, Citra Sasmita & Cinta Bumi Artisan, serta Ines Katamso (Bali); dan Rani Jambak (Lasi).

Dihadirkan pula karya perempuan veteran yang telah almarhum. Mereka adalah Sri Astari Rasjid, Lucia Hartini, Hildawati Soemantri, Marida Nasution, dan Umi Dachlan.

Pameran dikuratori oleh Carla Bianpoen, Vidhyasuri Utami, dan Bagus Purwoadi. Pada teks kuratorial yang bertajuk On the Map – Towards New Futures dapat dibaca sebagai “pernyataan reflektif”.

Hal itu menegaskan posisi seni perempuan dalam lanskap seni rupa Indonesia sekaligus membuka jalan bagi wacana global tentang “kesetaraan”.

Jadi, IWA juga memandang bahwa gagasan tentang “kesetaraan gender” merupakan sebuah “kesadaran” dan “gerakan” berskala global.

Sejak awal, Carla menempatkan proyek Indonesian Women Artists (IWA) sebagai koreksi atas sejarah seni yang “bias gender”, sebuah “intervensi” terhadap “narasi dominan” yang selama puluhan tahun “meminggirkan” perempuan dari pusat penulisan.

Dengan mengingat kembali program IWA terdahulu, The Curtain Opens (2007), ia menegaskan bahwa “kuratorial” bukan sekadar “arsip”, melainkan “gerakan sosial-budaya” yang melibatkan “tubuh”, “memori”, dan “ruang” sebagai “medan epistemologi” baru.

Carla mengutip teori Henri Lefebvre bahwa “ruang” bukanlah “wadah netral”, melainkan hasil “produksi sosial” yang sarat “relasi kuasa”.

On the Map menghidupkan gagasan tersebut dengan menempatkan “tubuh”, “alam”, dan “warisan budaya” sebagai “ruang pengetahuan” yang diproduksi melalui “pengalaman perempuan”.

Tubuh menjadi “lokus epistemologi”, alam hadir sebagai “subjek pengetahuan”, dan warisan budaya menjadi “navigasi sejarah”.

Dengan demikian, pameran ini membongkar “ruang dominan” yang ditulis oleh “narasi maskulin” dan menggantinya dengan ruang yang “berlapis”, “cair”, dan “partisipatif”.

Ruang dalam pameran ini bukan sekadar “geografi”, melainkan “proses sosial” yang terus “dinegosiasikan”.

Michel Foucault menyebut “heterotopia” sebagai ruang lain, ruang yang menampung sekaligus menantang “tatanan dominan”.

Mengacu pada pemikiran Michel Foucault, On the Map memang dapat diidentikkan dengan “heterotopia feminis”, sebuah ruang “kuratorial” yang menampung “fragmen tubuh”, “alam”, dan “budaya”, tetapi sekaligus menantang “narasi tunggal” sejarah seni Indonesia.

Karya-karya yang ditampilkan bukanlah “representasi statis”, melainkan ruang-ruang “alternatif”: “lorong ingatan”, “arsip tubuh”, “ritual tanah”, dan navigasi “samudra perempuan”.

Mereka adalah “heterotopia” karena menghadirkan kemungkinan lain, ruang yang tidak tunduk pada “kategori tegas”, melainkan menegaskan “keterhubungan” dan “keberlimpahan”.

Carla juga mengacu pada Donna Haraway dengan konsep “situated knowledge”, pengetahuan yang berangkat dari tubuh, pengalaman, dan konteks. Pernyataan kuratorial ini menolak klaim “universal maskulin” dan justru menegaskan bahwa pengetahuan perempuan adalah “partikular” sekaligus “kolektif”.

Dengan menampilkan karya lintas generasi, dari perupa muda hingga yang telah wafat, Carla membangun arsip yang bukan “linear”, melainkan “rhizomatik”.

Peta yang ditawarkan bukan “garis lurus”, melainkan “jaringan” yang saling berlapis, sebuah “epistemologi feminis” yang menolak “dikotomi modernis”.

Di sisi lain, Carla juga menandaskan perlunya Biennale Perempuan di Indonesia. Jika biennale selama ini berorientasi pada “wilayah”, Carla menawarkan “biennale berbasis isu”, khususnya “kesetaraan gender”.

Dengan demikian, menurut saya, kuratorial Carla dan teman-teman menjadi “praksis advokasi”, melantangkan “suara perempuan” dalam “lanskap seni global”. On the Map bukan sekadar pameran, melainkan “pernyataan”, produk pemikiran, dan “ruang baru”.

Produk pemikiran itu menegaskan bahwa rumah “epistemologi perempuan” adalah ruang yang cair, “heterotopia” yang menantang “dominasi”, dan “produksi sosial” yang “terus diperbarui”.

Dengan mengaitkan Lefebvre, Foucault, dan Haraway, Carla Bianpoen dan rekan-rekan tampil sebagai “kurator-manifestan”. Ia tidak hanya “mengarsipkan” seni perempuan, tetapi juga membangun ruang “epistemologi baru”.

Menurut saya, On the Map adalah peta yang tidak selesai, sebuah “heterotopia feminis” yang terus berkembang, dan panggilan menuju “Biennale Perempuan” sebagai “ruang global” bagi “suara” yang lama “disenyapkan”.

***

Pada tulisan ini, saya tertarik “menekuni” karya instalasi Ni Nyoman Sani yang berjudul Home (Rumah). Menyimak teks dialog, muncul pertanyaan dari Sani, “Apakah rumah itu sebuah tempat? Apakah ia tetap dan statis? Atau sebuah proses di dalam tubuh sendiri?”

Karya Home berangkat dari pertanyaan tentang rumah bukan sebagai bangunan, tetapi sebagai rasa. Sani menggunakan “material” yang sifatnya sebagai “wadah”, sesuatu yang “menyimpan”, seperti “tubuh” yang mengendapkan “pengalaman”.

Bentuknya yang memanjang dapat dibayangkan seperti “ruang”, “lorong”, “napas”, sesuatu yang terus “mengalir”. Cahaya dalam karya ini menunjukkan bahwa “rumah” tidak selalu “terlihat”, tetapi bisa “dirasakan”.

Menurut Sani, karya tersebut tidak dianggap sebagai bentuk yang “selesai”, tetapi pengalaman “ruang”. Ketika “audiens” bergerak di sekitar karya, tubuh dan karya memunculkan “kesadaran” tentang “ruang” yang “aman”.

Sani tampaknya mulai mengembangkan karya yang tidak lagi “berfokus” pada “objek” semata, tetapi dalam “praktik seni instalasi” yang bersifat “partisipatif”. Karya tidak dianggap sebagai “benda mati”, melainkan sebagai “situasi” yang terus hidup melalui “interaksi audiens”.

Yang menarik adalah pendapat Sani bahwa karya “tak bergender”. “Sebenarnya, pendapat saya, kehadiran karya saya merupakan keutuhan ‘daya cipta’ seorang dalam ‘curiosity’-nya dan kegelisahan yang tiada batas, karena karya ‘tiada bergender’,” ungkap Sani.

Rumah dalam interpretasi Sani tidak dipahami sebagai bangunan fisik yang statis, melainkan sebagai proses yang berlangsung di dalam “tubuh” dan “ingatan”.

Sani seakan menolak definisi rumah sebagai “tempat tetap” dan justru menekankan sifatnya yang “cair”, “berubah”, dan “berlapis”.

Ia menandaskan bahwa “Rumah” menjadi wadah “pengalaman”, “lorong napas”, “cahaya” yang tidak selalu “terlihat”, tetapi dapat “dirasakan”.

Dengan demikian, rumah adalah “metafora” bagi tubuh yang menyimpan “memori”, rasa aman, kestabilan, sekaligus ketidakstabilan.

Hal itu menurut pengalaman memori Sani semenjak masih kanak-kanak. “Rumah itu” terus berubah; ia merupakan rasa nyaman yang jarang menemukan tempatnya. “Lalu saya merasakan bahwa tubuh juga merupakan rumah. Bangunan atau tempat tinggal itu juga sebuah tempat singgah, yang dinamakan Rumah,” ujar Sani.

Lalu “Rumah” itu, dalam “daya nalar” Sani, merupakan sesuatu yang cair seperti yang ia jabarkan di atas. “Secara psikologi, tubuh saya terus mengamati pengalaman berpindah tempat tinggal dan mencoba merasakan kenyamanan untuk menyebutkannya sebagai Rumah, namun rasa itu tidak pernah tetap dan diam,” tambahnya.

Masih menurut saya, karya Ni Nyoman Sani ini adalah sebuah “instalasi monumental” yang menegaskan “tubuh” sebagai “ruang”, “ingatan” sebagai “material”, dan “pengalaman” sebagai “dimensi” yang terus “berlapis”.

Analisis detail atas karya ini dapat dibaca dari beberapa aspek: “bentuk”, “material”, “ruang”, “cahaya”, serta “getaran konseptual”.

Dari segi bentuk, karya ini menghadirkan “struktur silindris” besar dengan permukaan berlapis cat “metalik” atau “tembaga”, dilengkapi pipa-pipa yang menonjol dari tubuh utama.

Bentuk “tubular” ini bukan sekadar “konstruksi” teknis, melainkan “metafora” lorong napas, “jalur energi”, atau bahkan “tubuh internal” yang “beresonansi” dengan gagasan rumah sebagai “proses”, bukan tempat “statis”.

Pipa-pipa yang menonjol dapat dibaca sebagai “saluran ingatan”, “resonator tubuh”, atau bahkan “organ-organ” yang memperlihatkan keterhubungan antara “dalam” dan “luar”.

Dengan demikian, bentuknya menolak keutuhan “geometris” yang dingin dan justru menegaskan “kerentanan” serta “keterhubungan”.

Material yang digunakan Sani, antara lain “logam”, cat “tembaga”, dan “tekstur berkarat”, menyiratkan “ambivalensi” antara kekuatan dan kerentanan.

Logam memberi kesan “industrial”, “keras”, dan “tahan lama”, tetapi lapisan “cat” yang tidak rata, “tekstur” yang berkarat, serta kilau yang berubah-ubah di bawah cahaya menegaskan sifat “rapuh”, “sementara”, dan “tidak stabil”.

Di sini, Sani menghadirkan “tubuh” sebagai “wadah” yang menyimpan “jejak waktu”, bukan sebagai “entitas” yang “utuh” dan “permanen”. Material menjadi bahasa yang mengartikulasikan “memori” dan “pengalaman”.

Tentu, ruang pamer memainkan peran penting. Karya ini ditempatkan di galeri dengan pencahayaan hangat dari atas dan bawah, menghasilkan pantulan “lingkaran” di lantai kayu.

Efek cahaya ini memperluas “tubuh karya” ke ruang sekitarnya, menciptakan “atmosfer yang imersif”. Penikmat tidak hanya melihat objek, tetapi juga mengalami ruang yang diproduksi oleh “cahaya”, “bayangan”, dan “pantulan”.

Dalam kerangka Lefebvre, “ruang” di sini adalah “produksi sosial”: ia lahir dari “interaksi material”, “cahaya”, “tubuh audiens”, dan “konteks galeri”. Karya ini tidak bisa dipisahkan dari ruangnya; ia menciptakan “heterotopia”, “ruang lain”, yang menantang “persepsi” sehari-hari.

Pipa-pipa yang menonjol dapat dibaca sebagai “saluran memori” masa kecil, seperti kisah ayah nelayan yang menopang perahu dengan can (can adalah pelampung yang berfungsi sebagai penanda visual untuk menunjukkan batas jalur air yang aman, area dangkal, atau rintangan di perairan).

Dengan demikian, karya ini adalah “arsip tubuh”: ia menyimpan pengalaman “personal”, sekaligus membuka ruang “dialog” bagi “audiens” untuk merasakan “keterhubungan”.

Interpretasi saya, dalam kerangka “cultural citizenship”, karya ini menegaskan hak perempuan untuk “mengartikulasikan tubuh” dan “ingatan” sebagai bagian dari “lanskap budaya”, bukan sekadar pengalaman “privat”.

Masih menurut saya, karya ini bersifat “partisipatif”. Kehadiran “audiens” menjadi bagian dari “aktivasi”, bergerak di sekitar “instalasi”, merasakan “skala”, mengalami rasa “aman” atau sebaliknya “ketidakpastian”.

Karya ini tidak selesai tanpa tubuh “audiens”. Artinya, ia menolak “logika objek seni” sebagai benda mati dan menegaskan “seni” sebagai “situasi hidup”. Ini adalah “strategi feminis” yang menekankan pengalaman “embodied”, “situated knowledge”, dan “keterhubungan sosial”.

Kesimpulan saya, karya Ni Nyoman Sani adalah “instalasi” yang kompleks, memadukan bentuk “monumental”, “material industrial”, “cahaya imersif”, dan “resonansi konseptual” tentang “rumah”, “tubuh”, dan “ingatan”.

Karya ini bukan hanya objek “estetika”, melainkan juga pernyataan “ruang” dan “pengalaman”, menegaskan bahwa “seni perempuan” juga pusat “wacana kontemporer” yang membuka jalan bagi “politik ruang” dan “kewargaan budaya” yang lebih “setara”.

Lebih lanjut, jika karya Sani kita bandingkan dengan karya Anish Kapoor, misalnya, menurut saya karya Sani yang berbentuk “silindris monumental” dengan permukaan “metalik” dan pipa-pipa menonjol memiliki kedekatan dengan cara Kapoor menghadirkan ruang sebagai pengalaman “imersif”.

Kapoor pernah menulis, “Sculpture is a way of bringing the void into visibility.” (Seni patung adalah cara untuk menghadirkan kekosongan ke dalam ranah yang dapat dilihat). Karya Sani juga menghadirkan semacam “void” atau “lorong internal”, bukan sekadar “objek”, melainkan ruang yang mengundang “audiens” untuk mengalami keterhubungan antara “tubuh” dan “ingatan”.

Bedanya, jika Kapoor sering menekankan “kekosongan metafisik”, Sani menekankan tubuh sebagai “rumah” yang “cair” dan “berlapis”.

Dari sisi “material” dan “cahaya”, karya Sani juga berparalel dengan James Turrell, yang menjadikan “cahaya” sebagai “medium” untuk membentuk “ruang perseptual”. Bisa kita padankan dengan karya Turrell yang bertajuk “Encounter”.

Pada suatu saat, Turrell pernah mengatakan, “My work is more about your seeing than it is about my seeing.” (“Karya saya lebih tentang bagaimana Anda melihat daripada bagaimana saya melihat.”)

Pencahayaan hangat yang memantulkan lingkaran di lantai galeri dalam karya Sani memperluas “tubuh karya” ke “ruang sekitarnya”, menciptakan “atmosfer yang imersif”.

Audiens tidak hanya melihat “objek”, tetapi juga mengalami “ruang” yang diproduksi oleh “cahaya”, “bayangan”, dan “pantulan”. Menurut saya, ini merupakan sebuah pengalaman “bawah sadar” Sani yang dekat dengan Turrell, tetapi tetap berakar pada “tubuh” dan “ingatan lokal”.

Pada sisi lain, saya ingin mengkaji karya Ni Nyoman Sani dengan referensi salah satu karya Christo dan Jeanne-Claude yang bertajuk “Konstruksi Drum”. Pasalnya, karya Christo ini juga memakai bahan baku drum.

Mengapa menarik? Karena bagi saya, keduanya sama-sama menekankan pengalaman “ruang”, “skala monumental”, dan “keterlibatan audiens” sebagai bagian “integral” dari karya.

Christo dikenal dengan proyek-proyek besar seperti Wrapped Reichstag (1995) atau The Gates (2005), yang membungkus atau “mengintervensi” ruang publik sehingga audiens tidak hanya melihat karya, tetapi juga “mengalami transformasi ruang” sehari-hari.

Karya Sani, dengan “struktur tubular” besar, pipa-pipa menonjol, dan pencahayaan “imersif”, menghadirkan pengalaman serupa. Ruang yang biasa, galeri atau bengkel, diubah menjadi “heterotopia”, ruang lain yang “menantang persepsi”.

Seperti Christo, Sani menolak karya sebagai “objek permanen”. Ia menekankan proses, “keterlibatan”, dan “pengalaman”. Christo pernah berkata, “Our works are temporary in order to endow them with a feeling of urgency to be seen, and the tenderness to be loved.” (Karya-karya kami bersifat sementara agar memiliki nuansa urgensi untuk dilihat, serta kelembutan untuk dicintai).

Kutipan ini dapat dikaitkan dengan karya Sani, yang juga menekankan “ketidakstabilan rumah”, “tubuh”, dan “ingatan”. Rumah bukanlah “tempat tetap”, melainkan proses yang cair dan, justru karena sifatnya yang rapuh, menghadirkan “urgensi” untuk dialami.

Namun, ada perbedaan penting. Christo acap bekerja dengan “skala urban”, membungkus “gedung”, “jembatan”, atau “lanskap”, sehingga karya menjadi “intervensi politik ruang publik”.

Sani, sebaliknya, menghadirkan “tubuh” sebagai “ruang internal”, “rumah” sebagai “lorong ingatan”, dan material industrial sebagai “metafora kerentanan”.

Jika Christo mengajak audiens untuk “melihat kota” dengan “cara baru”, Sani mengajak “audiens” untuk merasakan “tubuh” dan “ingatan” sebagai “rumah” yang terus “berubah”.

Dengan demikian, padanan Sani dengan Christo memperlihatkan bahwa keduanya berbagi semangat “monumental” dan “partisipatif”, tetapi dengan orientasi berbeda.

Christo pada ruang publik dan politik kota, Sani pada tubuh, rumah, dan memori personal. Keduanya sama-sama menegaskan bahwa seni adalah pengalaman ruang yang cair, sementara, dan harus dialami secara langsung.

Dengan memadankan karya Sani dengan Kapoor, Christo dan Jeanne-Claude, serta Turrell, kita melihat bahwa ia berada dalam percakapan “global” tentang “tubuh”, “ruang”, dan “memori”.

Namun, Sani menambahkan lapisan lokal yang khas: kisah ayah nelayan, “rumah” sebagai “lorong napas”, dan “tubuh” sebagai “arsip pengalaman”. Karya ini bukan hanya berelasi dengan getaran “seni internasional”, tetapi juga “artikulasi epistemologi feminis” Nusantara.

Tulisan yang memadukan kutipan seniman internasional ini menegaskan bahwa karya Ni Nyoman Sani adalah bagian dari “jaringan global” seni “kontemporer”, sekaligus suara lokal yang unik.

Ia memperlihatkan bahwa rumah, tubuh, dan ingatan adalah tema universal, tetapi selalu hadir dengan “nuansa partikular” yang lahir dari konteks “budaya” dan “pengalaman personal”.[T]

Penulis: Hartanto
Editor: Jaswanto

Tags: Indonesian Women ArtistsNi Nyoman Sani
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

Next Post

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Hartanto

Hartanto

Pengamat seni, tinggal di mana-mana

Related Posts

Mantra Visual Made Wiradana

by Hartanto
August 2, 2026
0
Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

Read moreDetails

SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

by Gustra Adnyana
July 31, 2026
0
SAMATRA: Membaca Isyarat-Isyarat Kecil dari Buki Gallery di Bumi Kinar Ubud

Di tepian aliran sungai Petanu, sebuah ruang seni baru tumbuh di tengah lanskap hijau Ubud. Buki Gallery di Bumi Kinar...

Read moreDetails

Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

by Angga Wijaya
July 30, 2026
0
Ketika Semut Membangun Seorang Ratu—Membaca “Memayu Hayuning Bawana: Build the Queen” karya Dyan Brew

ADA perubahan yang menarik dalam lanskap seni kriya Indonesia dalam dua dekade terakhir. Jika dahulu kriya lebih sering dipahami sebagai...

Read moreDetails

Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

by Hartanto
July 30, 2026
0
Empat Jejak Abstraksi dan Figurasi Bali Kontemporer

EMPAT karya dari empat pelukis Bali kontemporer yang turut berpartisipasi dalam Jogja Annual Art ke-11, yakni I Made Ruta, Ida...

Read moreDetails

Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

by Angga Wijaya
July 28, 2026
0
Tanah yang Mengingat ——Membaca “Pataka Majapahit III” Karya Dr. Noor Sudiyati

TIDAK semua peninggalan masa lalu hadir sebagai bangunan megah atau artefak yang tersimpan di museum. Ada warisan yang jauh lebih...

Read moreDetails

Orkestra Warna Kun Adnyana

by Hartanto
July 25, 2026
0
Orkestra Warna Kun Adnyana

YOGYA Annual Art ke-11 tahun 2026 dengan tema Direction (Arah) ini, menurut saya, dibuka dengan sebuah kesadaran yang tajam: bahwa...

Read moreDetails

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

by Angga Wijaya
July 24, 2026
0
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

Read moreDetails

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

by Hartanto
July 24, 2026
0
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

Read moreDetails

Kosmologi Sulur Wayan Setem

by Hartanto
July 23, 2026
0
Kosmologi Sulur Wayan Setem

PAMERAN Yogya Annual Art #11 dengan tema Direction (Arah) sangatlah menarik. Sebab, pameran ini menghadirkan medan ‘refleksi’ yang unik, terutama...

Read moreDetails

Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

by Angga Wijaya
July 23, 2026
0
Ketika Kebaya Menjadi Cara Membaca Bali —[Membaca “Sundari Rajata” Karya Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi]

JIKA seni memiliki kemampuan mengembalikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, maka Sundari Rajata melakukannya melalui sebuah kebaya. Busana yang...

Read moreDetails
Next Post
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  
Tualang

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani
Ulas Rupa

“Rumah”, Seni Instalasi Ni Nyoman Sani

PADA 10 April hingga 30 Juni 2026 lalu digelar pameran 12 Perupa Perempuan Indonesia. Perhelatan ini diinisiasi Indonesian Women Artists...

by Hartanto
August 7, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“Gigolo Pendidikan”, Oemar Bakrie, dan Saat Kasih Sayang Guru Menjadi Barang Premium

BEBERAPA hari lalu saya iseng melontarkan istilah yang terdengar keterlaluan.  Gigodik, “Gigolo Pendidikan”. Bayangan saya sederhana. Jangan-jangan sekarang ada "profesi"...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 7, 2026
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak
Khas

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

by Jaswanto
August 7, 2026
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan
Khas

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

by tatkala
August 6, 2026
Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis
Esai

Bali, Surga dengan Kemacetan Kronis

Dampak Pembangunan Brutal dan Ugal-ugalan, Ledakan Kendaraan Tanpa Jeda, atau Buruknya Transportasi Umum? "Sanur makin macet, namun kenapa fasilitas wisata...

by Agung Sudarsa
August 6, 2026
Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi
Esai

Puisi dan Heidegger: Membebaskan Kata dari Cengkeraman Teknokrasi

COBA hentikan sejenak geseran jempol Anda di atas layar gawai. Di luar sana, dunia hari ini bergerak dalam ritme yang...

by Arief Rahzen
August 6, 2026
Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana
Esai

Menjadi Lebih “Sakti” di Luar Jembrana

KALIMAT itu masih saya ingat dengan jelas. Mendiang Bang D.S. Putra mengucapkannya suatu sore, ketika kami berbincang santai bersama beberapa...

by Angga Wijaya
August 6, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

by Chusmeru
August 6, 2026
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur
Ulas Musik

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
Sepiring Nasi, Sekeping Legitimasi
Esai

Pertemuan Rutin, Agenda Lama: Pilkada Lewat DPRD, Lagi

PERTEMUAN itu seharusnya selesai sebagai berita protokoler. Pada Senin, 3 Agustus 2026, jajaran pimpinan MPR datang ke Istana Kepresidenan. Mereka...

by Luthfi Hasanal Bolqiah
August 5, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co