DENPASAR | TATKALA.CO — Tim Penelitian Fundamental menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Formulasi Konsep Drama Tari Berbahasa Inggris Berbasis Kearifan Lokal dalam Konteks Pendidikan Karakter dan Pariwisata Budaya”, di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Selasa 28 Juli 2026. Penelitian ini diketuai oleh Prof. Dr. Ni Ketut Dewi Yulianti, S.S., M.Hum., M.Sn. bersama tim peneliti yang terdiri atas Ni Nyoman Kasih, SST., M.Sn., I Wayan Sutirtha, S.Sn., M.Sn., Dr. I.B.G. Surya P., M.Sn., Ni Made Wangi Pandandari, Ni Putu Nessa Shivana Pradnyani, I Kadek Artawan, dan I Made Agus Indra Putra.
Ketua peneliti Prof Dewi dalam laporannya menegaskan bahwa kegiatan FGD menjadi wadah untuk memperoleh masukan akademis sekaligus memperkuat formulasi penelitian yang mengangkat kekayaan budaya Bali sebagai fondasi pengembangan drama tari berbahasa Inggris yang mendukung pendidikan karakter dan pariwisata budaya.
FGD dihadiri oleh sejumlah akademisi, praktisi, serta tokoh masyarakat, di antaranya Prof. Dr. I Wayan P. Windia, S.H., M.Si., Dewa Made Tirta, S.Pd., M.Pd., I Nyoman Wija Widastra, I Wayan Sumeken (Perbekel Nagasepaha), I Made Suwinda, S.Pd. (Bandesa Desa Adat Munggu), I Made Sugianto (Perbekel Desa Kukuh), Gusti Ngurah Agung Surya Putra, S.E. (Prajuru Pura Samuan Tiga), serta I Ketut Suryartika (Pj. Perbekel Desa Paksebali), Ida Bagus Sugianto, S.S., (Penglingsir Griya Megati Jembrana), A.A. Raka Suastika (Bandesa Desa Adat Kusamba), dan I Ketut S. Sumardika (Bandesa Desa Adat Ked).
Dalam sambutannya, Kepala LPPM, Dr. I Ketut Garwa, menyampaikan rasa bangga karena penelitian ini mampu menghadirkan para bandesa adat dan perwakilan desa dari delapan kabupaten di Bali.
Menurutnya, keterlibatan para pemangku kepentingan tersebut menunjukkan bahwa penelitian ini memiliki relevansi yang kuat dengan masyarakat dan menjadi langkah strategis dalam menggali serta mendokumentasikan kearifan lokal Bali. Ia juga mengungkapkan bahwa penelitian mengenai drama tari berbahasa Inggris masih sangat jarang dilakukan.
Keunikan tema tersebut tentu menjadi salah satu alasan penelitian ini memperoleh pendanaan penelitian fundamental dari Kementrian Pendidikan Tinggi, Sain, dan Teknologi. Oleh karena itu, beliau berharap FGD ini mampu menghasilkan berbagai masukan yang konstruktif untuk semakin menyempurnakan arah penelitian.

Pada sesi diskusi, Narasumber utama, Prof. Dr. I Wayan P. Windia, S.H., M.Si. menyampaikan apresiasi kepada Ketua LPPM atas dukungannya terhadap penelitian fundamental ini. Beliau mengingatkan bahwa tujuan penelitian ilmiah adalah menemukan hal-hal yang belum diketahui sekaligus menjelaskan fenomena yang telah diketahui melalui pendekatan ilmiah yang tepat.
Oleh karena itu, dalam penyusunan laporan penelitian perlu diperjelas posisi penelitian, apakah bersifat eksploratoris maupun eksplanatoris, sehingga arah pembahasannya menjadi lebih sistematis. Masukan lainnya adalah perlunya memperkuat kajian mengenai unsur-unsur kebudayaan yang harus dilestarikan dan dikembangkan, serta menyusun tabel yang memuat seluruh objek kearifan lokal lengkap dengan judul dan lokasi penelitian. Hal tersebut dinilai akan mempermudah pembacaan hasil penelitian sekaligus memperjelas hubungan antara objek penelitian dengan tujuan pengembangan pendidikan karakter dan pariwisata budaya.
Dalam sesi pembahasan mengenai pendidikan karakter, narasumber utama kedua, Dewa Made Tirta, S.Pd., M.Pd. menekankan pentingnya mengintegrasikan konsep Moral Knowing, Moral Feeling, dan Moral Action dalam formulasi drama tari berbahasa Inggris.
Menurutnya, pendidikan karakter merupakan cara modern untuk menanamkan nilai-nilai tradisi dan kearifan lokal kepada generasi muda sehingga nilai budaya tetap hidup dan relevan dengan perkembangan zaman. Hasil penelitian hendaknya dikaitkan dengan lima nilai utama pendidikan karakter, yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri dan kreatif, serta bernalar kritis.
Narasumber utama ketiga, I Nyoman Wija Widastra dalam sesi pembahasan tentang seni pertunjukan, menekankan pentingnya bahasa Inggris dalam seni pertunjukan. Pengalamannya tampil di berbagai belahan dunia membuatnya yakin bahwa karya drama tari berbahasa Inggris akan menjadi karya yang sangat menarik untuk mempromosikan budaya Bali di tingkat internasional.

Para narasumber lain yang berasal dari berbagai desa turut memberikan pemaparan berdasarkan potensi kearifan lokal di wilayah masing-masing. Perwakilan dari Desa Paksebali mengangkat tentang tradisi Dewa Masraman, Bandesa Adat Kusamba mengenai tradisi Nyepi Segara yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak tahun 2014.
Perbekel Nagasepaha memaparkan tentang lukisan wayang kaca dan medungdung, Bandesa Desa Adat Munggu memaparkan tentang tradisi mekotek, Perbekel Desa Kukuh memaparkan tentang tradisi potong babi di palinggih bale panjang, Prajuru Pura Samuan Tiga memaparkan tentang Tradisi siat sampian, Penglingsir Griya Megati Jembrana memaparkan tentang kekerabatan griya Megati dengan umat muslim, dan Bandesa Desa Adat Ked memaparkan tentang pura Lebatu yang merupakan tempat persinggahan spiritual Rsi Markandya.
FGD berlangsung secara interaktif dengan diskusi yang mendalam antara akademisi, pemerintah desa, desa adat, dan para pemangku kepentingan. Berbagai saran yang disampaikan akan menjadi bahan penyempurnaan penelitian, khususnya dalam merumuskan konsep drama tari berbahasa Inggris yang berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal Bali. [T]






























