7 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

Angga Wijaya by Angga Wijaya
July 19, 2026
in Ulas Rupa
Membaca Alam yang Tersimpan dalam Serat —Menafsir “Barik” Karya Dr. Sn. Inty Nahari

ADA kecenderungan menarik dalam perkembangan seni kriya beberapa tahun terakhir. Para perupa tidak lagi hanya berbicara tentang keterampilan mengolah bahan, tetapi juga berusaha mengembalikan perhatian kita kepada asal-usul material itu sendiri. Bahan tidak lagi diperlakukan sekadar sebagai medium untuk melahirkan bentuk, melainkan sebagai pembawa ingatan, pengetahuan, bahkan cara pandang terhadap kehidupan.

Pembacaan seperti itulah yang muncul ketika membaca karya Barik ciptaan Dr. Sn. Inty Nahari, S.Pd., M.Ds., dosen Magister Terapan Industri Kreatif Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya.

Karya yang dipamerkan dalam pameran kriya internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, menghadirkan tenun kluwung berbahan serat daun nanas dari kawasan Gunung Kelud. Namun, yang ditawarkan Barik sesungguhnya jauh melampaui persoalan teknik menenun atau eksplorasi material. Karya ini mengajak kita membaca hubungan yang nyaris terlupakan, yakni hubungan manusia dengan alam yang melahirkannya.

Di tengah dunia yang semakin mengagungkan teknologi dan produksi massal, kita terbiasa melihat material sebagai sesuatu yang harus tunduk kepada kehendak manusia. Kayu dipotong agar lurus. Batu dipahat hingga sesuai rancangan. Kain diproduksi agar seluruh permukaannya sama. Standar industri membentuk cara kita memandang keindahan, bahwa semakin seragam, semakin dianggap sempurna.

Pameran kriya internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud

Barik memilih jalan yang berbeda. Alih-alih menghapus karakter alami serat daun nanas, Inty Nahari justru mempertahankannya. Perbedaan warna, garis-garis kecokelatan, ketebalan serat, hingga tekstur yang muncul selama proses pengolahan menjadi bagian dari bahasa visual karya. Tidak ada usaha menyembunyikan ketidakteraturan. Yang terjadi justru sebaliknya; ketidakteraturan dirayakan sebagai identitas material.

Pilihan artistik ini terasa sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kritik yang cukup tajam terhadap cara pandang modern. Kita hidup dalam budaya yang selalu ingin menyempurnakan segala sesuatu. Sesuatu yang retak dianggap rusak, yang berbeda dipandang cacat, dan yang tidak sesuai standar, segera disingkirkan.

Padahal alam tidak pernah bekerja dengan logika seperti itu. Tidak ada dua helai daun yang benar-benar sama. Juga, tidak ada dua batang pohon yang tumbuh dengan bentuk identik. Bahkan, bebatuan di dasar sungai pun memiliki permukaan yang berbeda-beda. Alam selalu menghadirkan variasi, dan justru di sanalah letak keindahannya. Barik mengajak kita kembali belajar dari cara alam bekerja.

Sebagai penulis dan jurnalis yang pernah mengenyam studi Antropologi Budaya, saya selalu percaya bahwa benda tidak pernah benar-benar diam. Setiap benda membawa sejarahnya sendiri. Sebilah keris memuat pengetahuan metalurgi, kepercayaan, sekaligus perjalanan sebuah kebudayaan. Gerabah menyimpan cerita tentang tanah, api, dan masyarakat yang menggunakannya. Demikian pula serat daun nanas dalam karya ini.

Ia tidak hanya berasal dari tanaman, ia juga membawa jejak hujan, cahaya matahari, tanah vulkanik Kelud, musim yang berganti, tangan petani yang memanen, hingga tangan perupa yang mengolahnya menjadi tenunan. Serat itu adalah arsip ekologis yang masih hidup. Ia menyimpan perjalanan panjang sebelum akhirnya hadir sebagai karya seni.

Oleh Inty Nahari, dijelaskan bahwa setiap perubahan warna pada serat merupakan bagian dari proses alam yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan manusia. Perbedaan itu bukan kekurangan, melainkan identitas yang perlu dipertahankan. Pandangan tersebut menjadikan material bukan sekadar objek yang dibentuk, tetapi mitra yang ikut menentukan arah penciptaan. Saya kira, di sinilah letak kekuatan Barik. Karya ini tidak berbicara tentang alam sebagai pemandangan yang indah, melainkan berbicara tentang alam sebagai subjek yang mempunyai suaranya sendiri.

Pameran kriya internasional Becoming: Prakriti–Pustaka–Padma di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud

Dalam banyak kebudayaan Nusantara, hubungan manusia dengan alam memang tidak pernah dipahami sebagai hubungan penguasaan. Orang Bali mengenal konsep Tri Hita Karana yang menempatkan harmoni dengan lingkungan sebagai salah satu dasar kehidupan. Di berbagai daerah lain, masyarakat adat memiliki aturan mengenai hutan, mata air, atau gunung yang tidak boleh diperlakukan sembarangan. Semua itu lahir dari kesadaran sederhana bahwa manusia tidak hidup sendirian.

Modernitas perlahan mengubah cara pandang tersebut. Hutan menjadi angka produksi, gunung menjadi cadangan tambang, sungai menjadi saluran industri, dan tanah menjadi komoditas. Dalam logika seperti itu, nilai alam ditentukan terutama oleh manfaat ekonominya. Yang tidak menghasilkan keuntungan mudah kehilangan makna. Pilihan Inty Nahari menggunakan serat daun nanas menjadi penting dibaca dalam konteks tersebut.

Selama ini, daun nanas lebih sering dipandang sebagai sisa pertanian. Setelah buah dipanen, daunnya jarang memperoleh perhatian. Melalui Barik, material yang dianggap limbah justru memperoleh kehidupan baru. Ia berubah menjadi medium estetik sekaligus medium refleksi.

Transformasi ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu berarti menemukan bahan baru. Kadang-kadang inovasi justru lahir dari kemampuan membaca kembali apa yang selama ini kita abaikan. Di tangan seniman, limbah berubah menjadi pengetahuan; yang biasa menjadi luar biasa, dan yang nyaris dibuang menjadi sesuatu yang mengundang perenungan. Di sinilah seni bekerja. Bukan semata menghasilkan benda yang indah, melainkan membuka kemungkinan baru untuk membaca dunia.

Jika diperhatikan lebih lama, kekuatan Barik tidak hanya terletak pada pilihan materialnya, tetapi juga pada cara material itu disusun menjadi bahasa visual. Di sinilah karya Inty Nahari bergerak melampaui fungsi wastra sebagai benda pakai dan memasuki wilayah seni rupa.

Permukaan tenunan itu tidak mengejar komposisi yang simetris. Garis-garis serat bergerak dengan ritme yang berubah-ubah, kadang rapat, kadang renggang, seolah mengikuti cara alam menumbuhkan daun yang tidak pernah benar-benar lurus. Warna-warna alaminya, dari krem pucat hingga cokelat yang lebih pekat, tidak membentuk gradasi yang dirancang secara matematis. Perbedaan itu lahir dari perjalanan material itu sendiri, yakni, dari cahaya matahari yang berbeda, kadar air yang berubah, proses pencucian, hingga waktu pengeringan. Yang kita lihat bukan sekadar hasil akhir, melainkan jejak dari sebuah proses panjang.

Mata tidak diarahkan untuk mencari satu pusat perhatian sebagaimana pada lukisan yang mengandalkan titik fokus. Sebaliknya, pandangan bergerak perlahan menyusuri permukaan tenunan, mengikuti irama yang dibentuk oleh tekstur. Ruang-ruang kosong yang muncul di sela-sela serat tidak terasa sebagai kekurangan komposisi. Ia justru menjadi jeda yang membuat keseluruhan karya memperoleh napas. Dalam pengertian ini, Barik lebih menyerupai lanskap yang terus berubah daripada selembar kain yang telah selesai dikerjakan.

Di titik inilah karya tersebut menemukan kualitas puitisnya. Kita tidak sedang melihat representasi Gunung Kelud atau hamparan kebun nanas. Lanskap itu tidak hadir sebagai gambar, ia hadir sebagai pengalaman material. Cahaya, hujan, tanah vulkanik, panas matahari, dan waktu seolah mengendap menjadi tekstur. Yang ditampilkan bukan bentuk alam, melainkan bekas-bekas kehidupan yang ditinggalkan alam pada setiap helai serat.

 Karya “Barik” 

Cara kerja seperti ini mengingatkan saya pada pandangan antropolog Tim Ingold tentang material. Menurutnya, proses membuat bukanlah tindakan memaksakan bentuk kepada bahan, melainkan mengikuti kecenderungan yang telah dimiliki material itu sendiri. Perajin tidak sepenuhnya mengendalikan kayu, tanah, atau serat. Ia belajar memahami arah geraknya, lalu bekerja bersamanya. Pemikiran tersebut terasa menemukan pantulannya dalam Barik. Inty Nahari tidak memaksa serat daun nanas kehilangan wataknya. Ia justru memberi ruang agar karakter alami material ikut menentukan wajah karya.

Pendekatan semacam ini terasa penting pada masa ketika manusia semakin yakin mampu mengendalikan segala sesuatu. Kita membangun bendungan untuk mengatur sungai, merekayasa benih agar panen lebih cepat, dan mengubah bentang alam demi memenuhi kebutuhan industri. Berbagai kemajuan itu memang membawa manfaat, tetapi juga melahirkan ilusi bahwa manusia adalah penguasa tunggal atas bumi.

Sejarah berkali-kali membuktikan bahwa keyakinan tersebut rapuh. Letusan gunung api, banjir, kekeringan, hingga perubahan iklim mengingatkan bahwa alam selalu memiliki hukumnya sendiri. Manusia dapat mengelola sebagian proses alam, tetapi tidak pernah benar-benar menguasainya.

Kesadaran akan keterbatasan itu justru terasa hadir dalam Barik. Karya ini tidak memuja alam secara romantis, tetapi juga tidak menempatkan manusia sebagai pusat dari segala sesuatu. Yang dibangun adalah hubungan yang lebih setara, hubungan yang lahir dari penghormatan terhadap karakter material dan kesediaan untuk mendengarkan apa yang disampaikan alam.

Tema besar pameran, Becoming, menemukan gaungnya dalam proses penciptaan karya ini. Menjadi, dalam pengertian tersebut, bukanlah bergerak menuju keadaan yang sempurna, melainkan menerima bahwa kehidupan selalu berada dalam perubahan. Serat daun nanas tidak lahir sebagai karya seni. Ia tumbuh sebagai bagian dari tanaman, dipanen, dipisahkan dari daunnya, dicuci, dikeringkan, lalu ditenun. Setelah memasuki ruang pamer, ia kembali mengalami kehidupan baru melalui tatapan dan tafsir setiap pengunjung.

Dengan demikian, karya tidak pernah benar-benar selesai ketika meninggalkan studio. Ia terus hidup di dalam pengalaman orang yang membacanya. Setiap orang mungkin menemukan makna yang berbeda. Ada yang melihat kegigihan tangan perajin, ada pula yang membaca kegelisahan ekologis. Juga, ada pula yang menemukan renungan tentang waktu dan kesabaran. Seluruh kemungkinan itu membuat Barik tetap bergerak. Ia terus menjadi, sebagaimana tema pameran yang menaunginya.

Pada akhirnya, saya melihat Barik bukan sebagai karya yang menawarkan jawaban atas krisis lingkungan, melainkan sebuah undangan untuk mengubah cara memandang dunia. Perubahan besar tidak selalu lahir dari teknologi yang revolusioner atau kebijakan yang ambisius. Sering kali ia dimulai dari perubahan yang jauh lebih sederhana, yakni cara kita memperlakukan benda-benda yang selama ini dianggap biasa.

Di dalam Barik, serat daun nanas tidak lagi diposisikan sebagai sisa pertanian yang kehilangan fungsi. Ia menjadi medium yang mempertemukan tanah, tumbuhan, manusia, dan ingatan. Yang semula dipandang sebagai limbah memperoleh kehidupan baru melalui proses kreatif.

Perubahan itu bukan sekadar perubahan fungsi material, melainkan juga perubahan cara berpikir. Seni, dalam pengertian ini, tidak menciptakan alam baru. Seni mengajari manusia melihat kembali alam yang telah lama berada di hadapannya, tetapi jarang benar-benar diperhatikan.

Pembacaan seperti itu sekaligus mengembalikan martabat seni kriya. Selama bertahun-tahun, kriya sering ditempatkan sebagai wilayah keterampilan tangan, seolah-olah gagasan hanya menjadi milik seni rupa murni. Padahal, karya seperti Barik memperlihatkan bahwa kriya dapat menjadi ruang penelitian material, ruang perjumpaan antara tradisi dan inovasi, sekaligus ruang untuk merumuskan kembali hubungan manusia dengan lingkungannya.

Melalui tenun kluwung dan serat daun nanas, Inty Nahari menunjukkan bahwa pengetahuan tradisional tidak berhenti sebagai warisan masa lalu. Ia tetap hidup karena terus dibaca ulang dan dipertemukan dengan persoalan-persoalan zaman.

Di tengah industri tekstil yang mengejar keseragaman, Barik justru merayakan perbedaan. Setiap helai serat memiliki warna, tekstur, dan arah yang tidak sama. Tidak ada yang dipaksa menjadi identik. Sikap artistik itu terasa sederhana, tetapi menyimpan pelajaran yang relevan bagi kehidupan yang lebih luas. Kebudayaan pun sesungguhnya tumbuh melalui keragaman, bukan keseragaman. Identitas tidak lahir dari upaya menyeragamkan segala sesuatu, melainkan dari kemampuan merawat perbedaan.

Tema Becoming akhirnya menemukan maknanya bukan hanya pada proses penciptaan karya, tetapi juga pada pengalaman kita sebagai pembaca. Kita datang kepada sebuah karya dengan pengetahuan tertentu, lalu pulang dengan kemungkinan pemahaman yang baru. Karya seni yang baik tidak berhenti pada kekaguman visual. Ia bekerja lebih lama di dalam pikiran, mengubah cara kita melihat benda-benda yang selama ini terasa biasa.

Dr. Sn. Inty Nahari, S.Pd., M.Ds., dosen Magister Terapan Industri Kreatif Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya | Dok. Pribadi

Sesudah membaca Barik, barangkali kita tidak lagi memandang sehelai kain dengan cara yang sama. Kita mulai menyadari bahwa setiap serat menyimpan perjalanan yang jauh lebih panjang daripada yang tampak di permukaannya. Ada tanah yang pernah dibasahi hujan, ada matahari yang mengeringkannya. Ada tangan yang sabar memisahkan serat demi serat. Juga, ada pengetahuan yang diwariskan tanpa banyak kata. Semua pengalaman itu tidak hilang ketika serat berubah menjadi tenunan. Ia tetap tinggal sebagai ingatan yang melekat pada material.

Barangkali itulah yang ingin diingatkan Inty Nahari melalui karya ini. Alam tidak pernah berhenti menulis kisahnya. Setiap pohon, setiap daun, setiap serat membawa catatan mengenai waktu yang telah dilaluinya. Persoalannya bukan apakah alam masih bercerita, melainkan apakah manusia masih memiliki kesediaan untuk mendengarkannya.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, Barik justru mengajarkan nilai yang semakin langka, yakni, kesabaran. Kesabaran untuk mengamati, kesabaran untuk menghargai proses, dan kesabaran untuk menerima bahwa tidak semua keindahan lahir dari sesuatu yang sempurna. Ada kalanya keindahan tumbuh dari bekas-bekas yang ditinggalkan waktu, dari tekstur yang tidak rata, dari warna yang berubah karena perjalanan panjang bersama alam.

Pada akhirnya, mungkin Barik tidak sedang mengajarkan cara menenun. Karya ini mengajarkan cara membaca. Membaca tanah yang melekat pada serat, membaca waktu yang tinggal pada warna, dan membaca alam yang selama ini terlalu sering kita perlakukan sebagai latar belakang kehidupan. Padahal, jauh sebelum manusia menciptakan kebudayaan, alamlah yang terlebih dahulu mengajarkan bagaimana kehidupan dapat ditenun, dengan pelan, tekun, dan penuh penghormatan. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Museum ARMAMuseum Arma UbudSeni KriyaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Stres Jadi Rileks: Menjadikan Musik Sebagai Pertolongan Pertama Emosi

Next Post

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

by I Wayan Westa
October 27, 2026
0
Membaca  Ulang “Ubud is Winter”

SORE menjelang senja di Gajah Mas Gallery, Pengosekan, Ubud-Gianyar, matahari kian sorong ke batas laut. Cahaya jingga yang kerap memantul...

Read moreDetails

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails
Next Post
Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

Bangkitlah Bali: Kesadaran Selalu Dimulai dari Keberanian Mengakui Kenyataan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co