15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 15, 2026
in Esai
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

“Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa ini terus-menerus dikejutkan oleh terbongkarnya berbagai kasus mega korupsi. Nilainya bukan lagi miliaran, bahkan bukan sekadar ratusan miliar, melainkan triliunan rupiah. Di balik angka-angka yang fantastis itu tersimpan ironi yang menyakitkan: mereka yang diberi amanah justru menjadi pihak yang mengkhianati kepercayaan rakyat.

Fenomena ini mengundang pertanyaan yang lebih mendasar. Mengapa seseorang yang telah memiliki jabatan tinggi, kekayaan berlimpah, dan kehormatan sosial masih terdorong melakukan korupsi? Mengapa rasa cukup begitu sulit ditemukan? Dan mengapa, di saat satu kasus belum selesai diusut, kasus lain kembali bermunculan?

Di tengah derasnya pengungkapan berbagai perkara besar, muncul pula sebuah pertanyaan reflektif: apakah alam sedang bersih-bersih?

Pertanyaan itu bukan untuk mengajak kita berpikir di luar akal sehat, melainkan mengajak merenungkan bahwa setiap penyimpangan pada akhirnya akan menghadapi konsekuensinya. Ada saat ketika kebohongan tidak lagi mampu menutupi kebenaran. Ada masa ketika yang selama ini tersembunyi mulai tersingkap satu demi satu.

Negeri yang Terlalu Lama Menoleransi Kebusukan

Harus diakui dengan jujur, praktik korupsi di negeri ini telah berlangsung terlalu lama dan terlalu dalam. Ia bukan lagi sekadar pelanggaran hukum yang dilakukan oleh segelintir orang, melainkan telah menjelma menjadi penyakit sosial yang menggerogoti hampir seluruh sendi kehidupan berbangsa.

Korupsi merampas hak rakyat memperoleh pendidikan yang layak, pelayanan kesehatan yang memadai, infrastruktur yang berkualitas, serta kesempatan hidup yang lebih baik. Setiap rupiah yang dikorupsi sesungguhnya adalah hak masyarakat yang dirampas secara sistematis.

Karena itu, setiap langkah penegakan hukum patut diapresiasi. Tidak ada negara yang dapat berdiri kokoh apabila hukum hanya berani menyentuh mereka yang lemah, tetapi gentar menghadapi mereka yang memiliki kekuasaan.

Perkembangan terkini mengenai penggeledahan rumah pejabat di lingkungan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus menunjukkan bahwa penegakan hukum mulai memasuki wilayah yang selama ini dianggap sulit disentuh. Apa pun hasil akhirnya nanti, masyarakat tentu berharap proses tersebut berlangsung profesional, transparan, berdasarkan alat bukti, serta bebas dari kepentingan politik maupun tekanan kelompok tertentu.

Namun penindakan hanyalah satu sisi dari perjuangan panjang melawan korupsi. Menghukum pelaku memang penting, tetapi menghentikan lahirnya pelaku baru jauh lebih penting.

Keserakahan: Musuh yang Bersemayam dalam Diri

Jika ditelusuri hingga ke akar terdalam, persoalan terbesar bukanlah kekuasaan itu sendiri. Kekuasaan hanyalah alat. Yang menentukan adalah siapa yang memegang alat tersebut dan bagaimana kualitas kesadarannya. Akar persoalan sesungguhnya adalah keserakahan.

Keserakahan adalah penyakit batin yang tidak pernah mengenal kata cukup. Ia membuat seseorang selalu merasa kurang, meskipun telah memiliki segalanya. Rumah sudah megah, kendaraan sudah mewah, rekening terus bertambah, tetapi keinginan menguasai harta tidak pernah berhenti.

Dalam ajaran Sanatana Dharma, keadaan ini dikenal sebagai lobha, yaitu ketamakan, salah satu musuh utama manusia. Bersama nafsu yang tak terkendali, kemarahan, dan ego, lobha menutupi kejernihan hati sehingga manusia kehilangan kemampuan viveka, membedakan mana yang tepat dan mana yang tidak tepat.

Ironisnya, keserakahan justru tumbuh ketika seseorang telah memiliki banyak. Jarang kita menemukan orang miskin melakukan korupsi triliunan rupiah. Yang sering terjadi justru mereka yang telah menikmati berbagai kemewahan masih terus menumpuk kekayaan dengan menghalalkan segala cara.

Inilah paradoks kehidupan modern. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar rasa takut kehilangan. Ketakutan itu kemudian melahirkan keinginan memiliki lebih banyak lagi. Lingkaran itu terus berputar tanpa pernah mencapai titik puas.

Apakah Alam Sedang Bersih-Bersih?

Dalam kehidupan terdapat hukum sebab-akibat yang bekerja melampaui pengawasan manusia. Dalam tradisi Sanatana Dharma dikenal sebagai hukum karma. Setiap tindakan akan menghasilkan akibat yang sepadan, cepat ataupun lambat. Siapa menabur, dia akan menuai.

Karena itu, terbongkarnya berbagai kasus besar dapat dipandang sebagai bagian dari proses koreksi. Kebusukan yang lama disembunyikan akhirnya muncul ke permukaan. Yang selama ini tampak kokoh ternyata rapuh. Yang selama ini dipuja ternyata menyimpan cacat tersembunyi.

Namun kita tidak boleh berhenti pada euforia penangkapan. Bersih-bersih yang sesungguhnya bukan hanya menangkap pelaku, melainkan membersihkan sistem, memperkuat pengawasan, memperbaiki tata kelola, serta membangun budaya integritas.

Kalau akar persoalan tidak disentuh, sejarah akan terus berulang. Satu pelaku dipenjara, pelaku lain akan lahir menggantikannya. Karena itu, pertanyaan “apakah alam sedang bersih-bersih?” semestinya berubah menjadi pertanyaan yang lebih pribadi: apakah kita juga sedang membersihkan diri? Sebab perubahan sosial selalu berawal dari perubahan individu.

Revolusi Kesadaran: Jalan Keluar yang Terlupakan

Selama ini kita terlalu banyak berbicara mengenai reformasi hukum, reformasi birokrasi, reformasi politik, dan reformasi ekonomi. Semua itu penting. Namun ada satu reformasi yang sering terlupakan, yaitu reformasi kesadaran.

David R. Hawkins menjelaskan bahwa perilaku manusia sangat ditentukan oleh tingkat kesadarannya. Ketika seseorang hidup dalam dominasi rasa takut, ego, dan keserakahan, keputusan-keputusan yang diambil pun cenderung merugikan orang lain. Sebaliknya, ketika kesadaran meningkat menuju integritas, kasih sayang, dan kebijaksanaan, kekuasaan berubah menjadi sarana pelayanan.

Pemikiran ini sejalan dengan ajaran spiritual Nusantara yang selalu menempatkan pengendalian diri sebagai kemenangan tertinggi. Menaklukkan orang lain mungkin membutuhkan kekuatan, tetapi menaklukkan diri sendiri membutuhkan kebijaksanaan. Korupsi pada akhirnya bukan hanya persoalan hukum. Ia adalah krisis karakter dan krisis kesadaran.

Karena itu pendidikan antikorupsi tidak cukup diajarkan melalui mata pelajaran di sekolah. Ia harus dimulai dari keluarga, diteladankan oleh para pemimpin, diperkuat oleh lembaga pendidikan, dan menjadi budaya dalam setiap institusi.

Anak-anak perlu belajar bahwa kejujuran lebih berharga daripada kekayaan. Bahwa jabatan adalah amanah, bukan kesempatan memperkaya diri. Bahwa kesuksesan bukan diukur dari banyaknya harta yang dikumpulkan, melainkan dari manfaat yang diberikan kepada sesama.

Kekuasaan sebagai Jalan Pengabdian

Pada akhirnya, kekuasaan bukanlah musuh. Kekuasaan dapat melahirkan kemajuan apabila berada di tangan orang-orang yang mampu mengendalikan dirinya. Sebaliknya, kekuasaan dapat menjadi bencana apabila berada di tangan mereka yang diperbudak oleh keserakahan.

Barangkali memang benar bahwa bangsa ini sedang memasuki fase pembersihan. Satu demi satu kasus besar mulai terungkap. Semoga proses ini tidak berhenti sebagai tontonan publik atau sekadar pergantian pemain, tetapi menjadi momentum membangun tata kelola yang lebih bersih dan berkeadilan.

Namun revolusi terbesar sesungguhnya tidak terjadi di ruang penyidikan, bukan pula di ruang sidang. Revolusi terbesar terjadi ketika manusia berani berdamai dengan dirinya sendiri dan belajar mengatakan satu kata yang sederhana, tetapi sangat sulit dipraktikkan: cukup.

Sebab selama manusia tidak pernah merasa cukup, sebanyak apa pun kekayaan yang dimiliki tidak akan mampu mengisi kekosongan batinnya. Sebaliknya, ketika seseorang telah menemukan rasa cukup, ia tidak lagi diperbudak oleh harta maupun jabatan.

Di situlah makna terdalam dari perjuangan melawan korupsi. Bukan sekadar memenjarakan pelaku, melainkan membebaskan manusia dari penjara keserakahannya sendiri.

Mungkin alam memang sedang bersih-bersih. Tetapi pembersihan itu baru akan membawa perubahan sejati apabila setiap kita bersedia ikut membersihkan hati. Sebab dari hati yang bersih lahirlah pikiran yang jernih. Dari pikiran yang jernih lahirlah tindakan yang benar. Dan dari tindakan yang benar akan lahir pemimpin-pemimpin yang menjadikan kekuasaan sebagai jalan pengabdian, bukan sebagai alat untuk memuaskan keserakahan.

Ketika itulah ungkapan Lord Acton memperoleh makna yang lebih utuh. Kekuasaan memang cenderung menggoda manusia untuk menyimpang. Namun kekuasaan tidak harus berakhir dengan korupsi. Di tangan manusia yang memiliki integritas dan kesadaran, kekuasaan justru menjadi sarana menghadirkan keadilan, menyejahterakan rakyat, dan meninggalkan warisan yang akan dikenang jauh melampaui usia jabatannya.[T]

Tags: alam semestaAnti Korupsi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails
Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co