15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 15, 2026
in Esai
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ilustrasi tatkala.co | Rusdy

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan

Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun tidak menerima murid baru hingga kini hanya memiliki empat siswa menyisakan ironi yang patut direnungkan. Di satu sisi, ruang-ruang kelas berdiri sunyi. Meja dan kursi tersusun rapi tanpa riuh tawa anak-anak. Di sisi lain, pemerintah sedang menggencarkan pembangunan Sekolah Rakyat sebagai ikhtiar menghadirkan pendidikan gratis dan berkualitas bagi keluarga miskin dan miskin ekstrem. Dua kenyataan ini tampak berjalan sendiri-sendiri, padahal sebenarnya dapat dipertemukan dalam sebuah solusi yang lebih bijaksana.

Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi siapa pun. Setiap kebijakan publik lahir dari niat baik dan pertimbangan yang tidak sederhana. Yang ingin diajukan di sini hanyalah sebuah gagasan: mungkinkah sekolah-sekolah negeri yang kekurangan murid dipetakan dan direvitalisasi menjadi Sekolah Rakyat? Bukankah lahan sudah tersedia, gedung telah berdiri, sebagian fasilitas sudah ada, sehingga negara dapat lebih fokus meningkatkan kualitas pendidikan daripada sekadar membangun fisik baru?

Pertanyaan ini bukan semata soal efisiensi anggaran. Lebih dari itu, ia menyangkut cara kita memandang pendidikan. Apakah pendidikan hanya identik dengan pembangunan gedung, ataukah yang jauh lebih penting adalah membangun manusia?

Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang paling banyak membangun sekolah baru, melainkan bangsa yang paling bijaksana memanfaatkan seluruh sumber dayanya demi masa depan generasi berikutnya.

Menghidupkan Kembali Aset Pendidikan Bangsa

Setiap gedung sekolah dibangun dengan uang rakyat. Karena itu, ketika sebuah sekolah kehilangan murid, sesungguhnya yang kehilangan bukan hanya sekolah tersebut, melainkan seluruh masyarakat. Bangunan yang dulu penuh semangat belajar perlahan berubah menjadi ruang yang sunyi.

Dalam dunia perencanaan pembangunan dikenal konsep adaptive reuse, yaitu menghidupkan kembali aset yang sudah ada dengan fungsi yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman. Prinsip ini banyak diterapkan di berbagai negara karena terbukti lebih hemat, lebih berkelanjutan, dan lebih ramah lingkungan dibanding membangun dari awal.

Mengapa pendekatan serupa tidak diterapkan dalam dunia pendidikan? Sekolah-sekolah yang mengalami penurunan jumlah murid dapat dipetakan secara objektif. Bila lokasinya strategis dan bangunannya masih layak, sekolah tersebut dapat di-upgrade menjadi Sekolah Rakyat dengan fasilitas yang disesuaikan dengan standar yang dibutuhkan.

Dengan demikian, anggaran negara yang semula dialokasikan untuk pembangunan gedung baru dapat dialihkan kepada hal-hal yang jauh lebih mendasar, seperti peningkatan kompetensi guru, laboratorium modern, perpustakaan digital, asrama bila diperlukan, layanan kesehatan, makan bergizi, hingga penguatan pendidikan karakter.

Efisiensi bukan berarti mengurangi kualitas. Sebaliknya, efisiensi adalah menggunakan setiap rupiah uang rakyat secara bertanggung jawab agar manfaatnya dirasakan oleh lebih banyak anak bangsa.

Di Era Digital, Informasi Berlimpah, Kesadaran Justru Menjadi Langka

Abad ke-21 membawa perubahan yang luar biasa. Internet telah menghapus batas ruang dan waktu. Kini hampir seluruh pengetahuan dunia dapat diakses melalui telepon genggam. Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin mempercepat proses belajar. Apa yang dahulu memerlukan waktu berhari-hari untuk dicari di perpustakaan, kini dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik.

Artinya, tantangan pendidikan bukan lagi transformasi informasi. Informasi sudah tersedia di mana-mana. Yang justru menjadi tantangan terbesar adalah transformasi kesadaran.

AI mampu menjawab pertanyaan. Mesin mampu mengolah data. Buku mampu menyampaikan ilmu pengetahuan. Namun tidak satu pun mampu menanamkan kebijaksanaan, empati, kasih sayang, atau integritas. Semua itu hanya dapat tumbuh melalui perjumpaan antarmanusia.

Di sinilah sekolah tetap memiliki peran yang tidak tergantikan. Sekolah bukan sekadar tempat mentransfer pengetahuan, tetapi ruang di mana seorang anak belajar menjadi manusia.

Seorang murid mungkin lupa rumus matematika yang diajarkan gurunya. Ia mungkin lupa tanggal-tanggal sejarah. Tetapi ia hampir tidak pernah lupa bagaimana gurunya memperlakukan dirinya. Sikap hormat, kejujuran, kedisiplinan, kepedulian, dan kasih sayang jauh lebih membekas dibandingkan isi buku pelajaran.

Karena itu, pendidikan masa depan harus bergeser dari transfer of information menuju transformation of consciousness. Sebab informasi dapat membuat seseorang menjadi pintar, tetapi hanya kesadaran yang membuat seseorang menjadi bijaksana.

Karakter Guru Mendahului Karakter Murid

Selama ini kita sering berbicara tentang pentingnya pendidikan karakter bagi murid. Padahal ada satu pertanyaan yang lebih mendasar: siapakah yang membentuk karakter para guru?

Ki Hajar Dewantara telah memberikan jawabannya lebih dari satu abad lalu melalui semboyan yang sangat terkenal, Ing ngarso sung tulodo. Di depan memberi teladan. Kalimat sederhana ini sesungguhnya merupakan fondasi seluruh pendidikan.

Anak-anak belajar bukan hanya melalui pendengaran, tetapi terutama melalui pengamatan. Mereka meniru apa yang dilakukan orang dewasa. Karena itu, karakter murid tidak lahir pertama-tama dari kurikulum, melainkan dari karakter guru.

Guru yang disiplin akan melahirkan murid yang menghargai waktu. Guru yang jujur akan melahirkan murid yang menjunjung integritas. Guru yang rendah hati akan mengajarkan kerendahan hati tanpa perlu banyak berbicara.

Albert Bandura melalui Social Learning Theory menjelaskan bahwa manusia belajar melalui observasi terhadap model yang dianggap layak diteladani. Dengan kata lain, guru bukan hanya penyampai materi pelajaran, tetapi model kehidupan.

Inilah tantangan terbesar pendidikan Indonesia. Kita mungkin mampu membangun ribuan gedung sekolah. Kita mungkin mampu menyediakan teknologi tercanggih. Tetapi apabila para pendidik tidak terus bertumbuh sebagai pribadi yang berintegritas dan sadar akan tanggung jawab moralnya, pendidikan karakter hanya akan menjadi slogan.

Karakter tidak diwariskan melalui ceramah. Karakter ditularkan melalui kehidupan.

Pendidikan Holistik: Membangun Manusia Seutuhnya

Di sinilah saya melihat relevansi Pañcamaya Kośa, ajaran yang termuat dalam Taittirīya Upaniṣad. Pendidikan sejati tidak berhenti pada pengembangan kecerdasan intelektual. Manusia terdiri atas lima lapisan kesadaran yang saling berkaitan.

Annamaya Kośa mengingatkan pentingnya tubuh yang sehat melalui gizi yang baik dan lingkungan belajar yang layak. Prāṇamaya Kośa menekankan vitalitas, semangat hidup, dan kesehatan energi. Manomaya Kośa berkaitan dengan pikiran, emosi, dan kemampuan belajar. Vijñānamaya Kośa adalah lapisan kebijaksanaan, kemampuan membedakan yang benar dan yang keliru. Sementara Ānandamaya Kośa merupakan puncak kesadaran, ketika manusia menemukan makna hidup, kedamaian, dan kebahagiaan sejati.

Sayangnya, sistem pendidikan modern sering kali berhenti pada Manomaya Kośa, yakni penguasaan pengetahuan. Nilai ujian menjadi ukuran utama keberhasilan, sementara kebijaksanaan dan kematangan batin kurang memperoleh perhatian.

Padahal, tujuan pendidikan adalah mengantar manusia bertumbuh menuju kebijaksanaan.

Pandangan ini selaras dengan Peta Kesadaran David R. Hawkins. Menurut Hawkins, kualitas hidup seseorang tidak hanya ditentukan oleh tingkat kecerdasannya, tetapi oleh tingkat kesadarannya. Kesadaran yang didominasi rasa takut, kemarahan, keserakahan, atau gengsi akan melahirkan perilaku yang destruktif. Sebaliknya, ketika seseorang bertumbuh menuju keberanian, penerimaan, kasih, dan kedamaian, ia menjadi sumber inspirasi bagi lingkungan sekitarnya.

Bila dikaitkan dengan dunia pendidikan, maka tujuan sekolah bukan sekadar mencetak siswa yang memperoleh nilai tinggi. Sekolah hendaknya menjadi ruang yang membantu peserta didik bergerak dari kesadaran yang sempit menuju kesadaran yang lebih luas; dari ego menuju empati; dari kompetisi menuju kolaborasi; dari sekadar mengejar sukses menuju kehidupan yang bermakna.

Guru yang kesadarannya berkembang akan mengangkat kesadaran muridnya. Sebaliknya, guru yang masih terjebak pada ketakutan, kemarahan, atau ego akan tanpa sadar mewariskan energi yang sama kepada peserta didik.

Karena itu, investasi terbesar dalam pendidikan bukan pertama-tama gedung, kurikulum, atau teknologi, melainkan pembangunan kualitas kesadaran para guru. Ketika guru bertumbuh, murid akan berkembang. Ketika guru menjadi teladan, karakter murid tumbuh secara alami.

Mungkin di sinilah makna terdalam Sekolah Rakyat. Ia bukan sekadar sekolah gratis bagi rakyat kecil, melainkan sekolah yang memuliakan manusia. Tempat setiap anak, tanpa memandang latar belakang ekonomi, memperoleh kesempatan mengembangkan seluruh potensinya—fisik, mental, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual.

Pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh seberapa banyak gedung sekolah yang berhasil dibangun, melainkan oleh seberapa banyak manusia berintegritas yang berhasil dilahirkan. Beton dan baja dapat membangun ruang kelas, teknologi dapat mempercepat transfer informasi, tetapi hanya manusia yang telah bertumbuh kesadarannya yang mampu membangkitkan kesadaran manusia lain.

Maka, bila Sekolah Rakyat ingin menjadi tonggak perubahan, fondasinya bukan hanya semen dan batu bata. Fondasi sejatinya adalah guru-guru yang terus membangun dirinya sendiri. Sebab pendidikan yang sesungguhnya bukanlah memindahkan informasi dari kepala guru ke kepala murid, melainkan menyalakan cahaya kesadaran dari hati seorang guru ke hati setiap peserta didiknya. Dari cahaya itulah lahir karakter, dan dari karakter itulah masa depan bangsa dibangun. [T]

Tags: Pendidikansekolahsekolah rakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

Next Post

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails
Next Post
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan ---Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih
Esai

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   
Esai

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng
Khas

Nyoman Suma Argawa, Penjaga Rupa Utara —Menelusuri Jejak Maestro yang Setia pada Karakter Buleleng

RUMAH itu kembali ramai, tetapi bukan karena bunyi pahat atau aroma cat yang biasa mengisi ruang-ruangnya. Sabtu, 11 Juli 2026...

by Komang Puja Savitri
July 15, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)
Khas

Kajian 100 Tahun Kepariwisataan Budaya Bali (1927–2027)

Tema: Menelusuri Jejak Awal Kepariwisataan Budaya Bali dalam Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Focus Group Discussion (FGD) Kajian 100 Tahun Pariwisata...

by Nyoman Mariyana
July 15, 2026
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi
Ulas Rupa

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

by Angga Wijaya
July 15, 2026
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif
Esai

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali
Panggung

Ketika Kisah CEO Menyamar ala Drama Korea Hadir dalam Lawak Bali

KISAH CEO yang menyamar lazimnya identik dengan drama Korea yang dipenuhi ketegangan, romansa, dan konflik keluarga. Namun, cerita yang akrab...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

“Unity in Harmony”Orkestra Brass Band ISI Bali dan Crescendo, Energi Baru di Festival Seni Bali Jani 2026

Gemuruh tiupan saksofon, dentuman drum, dan lengking gitar listrik memenuhi Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Senin (13/7/2026) malam. Melalui pertunjukan...

by Nyoman Budarsana
July 15, 2026
Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co