DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie dikonstruksikan sebagai perempuan yang sangat percaya diri, mandiri secara finansial, dan menampilkan hiper-femininitas yang spesifik: riasan wajah tebal yang presisi (contouring), tubuh dengan proporsi hourglass (pinggang kecil dengan pinggul dan dada yang padat), serta gaya busana yang menonjolkan lekuk tubuh.
Di permukaan, fenomena berlomba-lombanya individu untuk mencapai status baddie sering dinarasikan sebagai bentuk women empowerment sebuah perayaan atas otonomi tubuh dan kebebasan berekspresi.
Namun, jika dibedah menggunakan kacamata politik tubuh (body politics), fenomena ini memperlihatkan realitas yang lebih kompleks. Estetika baddie pada hakikatnya adalah produk dari kapitalisme neoliberal dan budaya patriarki yang bermutasi, di mana tubuh perempuan kembali didisiplinkan melalui standar yang sangat rigid, dikomodifikasi, dan diawasi melalui apa yang disebut sebagai algorithmic gaze (tatapan algoritmik).
Lebih jauh lagi, fenomena ini menandai pergeseran radikal di mana batas antara ranah privat (tubuh biologis) dan ruang publik (etalase digital) menjadi lebur. Tubuh tidak lagi sekadar entitas fisik yang dihidupi, melainkan sebuah subjek politik yang secara aktif merespons, mereproduksi, dan merepresentasikan struktur kekuasaan dominan. Bersembunyi di balik retorika “mencintai diri sendiri” (self-love), dorongan obsesif untuk menjadi baddie justru mengaburkan garis antara agensi otentik dan kepatuhan mutlak pada tuntutan industri visual kontemporer.
Tubuh yang Didisiplinkan: Dari Panopticon ke Algorithmic Gaze
Konsep politik tubuh bertumpu pada gagasan bahwa tubuh manusia bukanlah entitas biologis yang netral, melainkan sebuah kanvas di mana institusi, masyarakat, dan ideologi menorehkan kekuasaannya. Meminjam pemikiran Michel Foucault mengenai kedisiplinan tubuh (docile bodies), tubuh perempuan di era digital secara konstan diatur agar patuh pada norma tertentu.
Jika di masa lalu pendisiplinan tubuh dilakukan melalui institusi formal atau tekanan sosial secara langsung, hari ini pendisiplinan itu bekerja melalui algoritma. Individu secara sukarela mendisiplinkan tubuh mereka melalui diet ketat, olahraga spesifik, modifikasi kosmetik, hingga operasi plastic demi memenuhi metrik visibilitas di media sosial (seperti jumlah likes, followers, dan endorsement).
Algoritma media sosial pada dasarnya bukanlah entitas matematis yang netral; ia dikodekan dengan bias patriarki dan kapitalis. Algorithmic gaze bekerja dengan mekanisme penghargaan (reward) dan hukuman (punishment). Tubuh yang berhasil mereplikasi standar baddie akan diberikan kompensasi berupa viralitas dan jangkauan (reach) yang luas. Sebaliknya, tubuh yang gagal atau menolak tunduk pada estetika ini akan secara perlahan “dihukum” melalui shadowbanning atau penurunan visibilitas secara sistemik.
Kondisi ini menciptakan bentuk panoptisisme gaya baru di mana pengawasan eksternal (male gaze atau tatapan laki-laki) telah sepenuhnya diinternalisasi oleh perempuan. Karena pendisiplinan ini dibingkai sebagai upaya “merawat diri” (self-care), individu tidak merasa sedang diawasi atau ditindas. Mereka bertransformasi menjadi sipir sekaligus narapidana bagi tubuh mereka sendiri, melakukan self-policing tanpa henti demi mengamankan tempat di hierarki visual digital.
Ilusi Agensi dan Komodifikasi dalam Neoliberalisme
Budaya baddie sangat lekat dengan post-feminisme neoliberal, sebuah paham yang menggeser perjuangan struktural perempuan menjadi sekadar pilihan individual dan konsumsi. Kepercayaan diri (confidence) tidak lagi dilihat sebagai kondisi psikologis, melainkan sesuatu yang harus “ditampilkan” dan “dibeli”. Untuk menjadi seorang baddie, dibutuhkan modal kapital yang tidak sedikit: akses terhadap produk kecantikan kelas atas, pakaian desainer, filter digital, hingga intervensi medis. Di sini, politik tubuh beroperasi secara ekonomi.
Dalam logika neoliberal, individu diperlakukan sebagai homo economicus manusia ekonomi yang memandang dirinya sendiri sebagai perusahaan atau proyek investasi. Melalui estetika baddie, perempuan didorong untuk mengumpulkan “kapital seksual” (sebuah konsep dari sosiolog Catherine Hakim), di mana daya tarik fisik dan erotisme diubah menjadi aset yang dapat dimonetisasi. Agensi perempuan direduksi sekadar menjadi kebebasan untuk mengkomodifikasi diri sendiri di pasar bebas digital.
Tragisnya, narasi pemberdayaan ini mengabaikan fakta bahwa nilai dari kapital seksual tersebut sepenuhnya ditentukan oleh struktur pasar yang eksploitatif. Tubuh menjadi sebuah proyek yang tidak pernah selesai (a never-ending project), membutuhkan pemeliharaan finansial dan emosional yang terus-menerus. Pemberdayaan yang dirasakan oleh seorang baddie sering kali bersifat ilusionis dan rapuh, karena ia sangat bergantung pada validasi eksternal dan tren konsumsi yang senantiasa berubah demi meraup keuntungan bagi industri kecantikan (fast fashion dan bedak kosmetik).
Apropriasi Budaya dan Hierarki Rasial
Dimensi lain dari politik tubuh dalam fenomena baddie adalah pergeseran standar kecantikan Eurosentris menuju apropriasi rasial (blackfishing). Estetika baddie kerap kali meminjam dan mengkapitalisasi fitur fisik yang secara historis melekat pada perempuan kulit hitam atau perempuan kulit berwarna (seperti bibir tebal, kulit yang digelapkan secara artifisial, dan lekuk tubuh tertentu).
Praktik ini melahirkan apa yang bisa disebut sebagai “gentrifikasi tubuh”. Ketika fitur-fitur fisik tersebut tumbuh secara alamiah pada perempuan minoritas, mereka secara historis distigmatisasi, dihiperseksualisasi, atau dianggap menyimpang dari standar profesional.
Namun, ketika fitur yang sama “disewa” dan diapropriasi oleh perempuan kulit putih atau kelas menengah ke atas, fitur tersebut tiba-tiba dirayakan sebagai elemen eksotis yang bernilai tinggi dan trendi. Estetika ini dengan sengaja menghapus sejarah panjang trauma dan penindasan rasial demi estetika dangkal.
Hal ini membuktikan bahwa politik tubuh selalu beririsan kuat dengan politik ras dan kelas. Komodifikasi fitur rasial tertentu oleh estetika baddie menegaskan bahwa dalam kapitalisme digital, identitas minoritas dapat dipotong-potong dan dikonsumsi sepotong demi sepotong oleh kelompok dominan. Pada akhirnya, tren ini tidak meruntuhkan hierarki rasial, melainkan justru memperkuatnya dengan menentukan siapa yang memiliki “hak” istimewa untuk memakai dan menanggalkan identitas marjinal layaknya sebuah kostum.
Keluar dari Etalase Digital
Perlombaan individu untuk menjadi baddie di era digital bukanlah kemenangan mutlak atas otoritas tubuh perempuan. Sebaliknya, fenomena ini adalah manifestasi kontemporer dari politik tubuh, di mana hiper-femininitas dan objektifikasi diri (self-objectification) direngkuh di bawah jubah pemberdayaan. Tubuh tetap menjadi situs eksploitasi, namun kali ini, eksploitasi tersebut dilakukan dengan senyuman, filter kamera, dan legitimasi algoritma.
Untuk melampaui jebakan ini, diperlukan re-evaluasi kritis terhadap apa yang kita definisikan sebagai “pemberdayaan”. Pembebasan tubuh yang sejati tidak mungkin dicapai dengan sekadar meniru estetika visual yang didikte oleh algoritma dan kapitalisme rasial. Perlawanan terhadap kontrol politik tubuh hari ini menuntut kesadaran baru sebuah politik tubuh yang menolak homogenisasi visual, dan yang berani merayakan otonomi tubuh tanpa harus menjadikannya komoditas di etalase digital. [T]
Penulis: Surfian Rahmat AP
Editor: Adnyana Ole































