13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

Chusmeru by Chusmeru
July 10, 2026
in Esai
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Chusmeru

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi salah satu alternatif berwisata. Sayangnya, tidak semua desa wisata bertahan lama, banyak yang hidup segan mati tak mau.

Desa wisata yang berhasil memang mampu menopang perekonomian desa. Sebut saja Desa Wisata Ponggok, Kabupaten Klaten Jawa Tengah. Dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki, Desa Wisata Ponggok mampu meraup pendapatan sekitar 14 miliar rupiah per tahun. Begitu pula Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali. sepanjang tahun 2023, desa wisata ini mampu menghasilkan 20 miliar rupiah hanya dari tiket masuk saja (desawisata.co.id, 13/5/2023).

Selebihnya, banyak cerita pilu dari desa wisata. Pendapatan asli daerah (PAD) dari desa wisata tak sampai 500 juta rupiah per tahun. Viral di awal, lalu mati di kemudian hari. Beberapa penyakit kronis sering diidap desa wisata hingga berujung kematian.

Keinginan untuk mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya menjadi salah satu penyakit kronis pengelola desa wisata. Akibatnya, desa wisata melakukan bunuh diri ekologi. Saat libur panjang banyak pengunjung ke desa wisata. Jalan macet, sampah menumpuk, dan toilet mampet. Pendapatan meningkat, tetapi udara kotor dan air keruh.

Penyakit yang kerap diderita desa wisata adalah masyarakatnya yang hanya menjadi penonton. Homestay, resto, jeep dikuasai investor dari luar desa. Warga lokal hanya jadi tukang parkir dan penjual cilok. Desa wisata go international, tetapi warga desanya masih banyak yang miskin. Kafe-kafe estetik milik investor, warga asli jualan jagung bakar.

Konflik lahan pada pengelolaan desa wisata juga dapat mengakibatkan penyakit kronis yang menghancurkan desa itu sendiri. Tanah produktif dijual untuk dibuat vila dan kafe. Dalihnya demi pariwisata. Sawah terasering jadi resort. Petani terpaksa jadi office boy di hotel. Ribuan hektare sawah hilang demi pariwisata, dan ketahanan pangan tinggal cerita.

Sumber daya manusia (SDM) di desa wisata masih banyak yang memprihatinkan. Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) diisi oleh orang-orang tua yang kurang melek digital. Padahal wisatawan generasi Z maunya mencari informasi tentang desa wisata di TikTok, membayar tiket masuk pakai QRIS, dan ingin respons cepat dari admin IG desa wisata. Kementrian Pariwisata (Kemenpar) memang telah melatih puluhan ribu SDM desa wisata; namun hanya sedikit yang bena-benar aktif secara digital.

Homogenisasi desa wisata menjadi salah satu penyakit kronis. Melihat satu desa wisata di tempat lain viral karena memiliki wahana, desa wisata lain copy paste membuat wahana sejenis. Terjadilah desa wisata yang homogen. Hal ini membuat wisatawan menjadi bosan mengunjungi desa wisata. Semestinya setiap desa wisata memiliki keunikan ( unique value).

Viral Lalu Mati

Tidak sedikit desa wisata di Indonesia yang viral ketika netizen demam TikTok. Namun gejala itu hanya berlangsung sebentar. Tiga bulan viral dan ramai, enam bulan kemudian sepi, dan tahun berikutnya sepi seperti kampung hantu, lantas mati tak ada pengunjung.

Dampak desa yang mati setelah viral tentu cukup serius. Okupansi homestay menurun, seiring menurunnya jumlah wisatawan. Pendapatan asli desa juga melorot. Padahal dana desa sudah digunakan untuk membuat spot swafoto, ayunan, dan cat warna-warni di desa wisata. Terjadi kesalahan sistemik dalam pengelolaan desa wisata.

Terdapat konflik konsepsional dalam pengembangan beberapa desa wisata. Pembangunan desa wisata yang berkelanjutkan bertarung dengan konsep viralitas desa wisata lewat TikTok dan Instagram. Media menjadi pemenang, sementara desa wisata jadi pecundang. Setelah viral banyak desa wisata yang rusak dan ditinggal pengunjungnya.

Pola kematian desa wisata hampir sama di banyak tempat. Bulan pertama hingga ketiga banyak mengundang pengunjung yang FOMO. Ribuan wisatawan datang ke desa wisata, uang mengalir ke desa, dan warga euforia. Bulan keempat dan keenam  fasilitas rusak karena overload. Sampah menumpuk. Parkir kacau dan review jelek mulai muncul. Bulan ketujuh hingga kedua belas algoritma TikTok pindah ke desa lain. Turis turun drastis. Perawatan mandek karena anggaran habis. Tahun kedua desa wisata menjadi “bekas tempat viral”.

Akar masalah kematian desa wisata bermula dari kesalahan metrik, semua selalu diukur secara kuantitatif pada performa digital. Kepala desa dan dinas pariwisata di daerah bangga bila desa wisatanya viral dengan 10 juta penonton di TikTok dan IG. Padahal semestinya metrik desa wisata itu adalah length of stay, repeat visitor, dan belanja wisatawan.

 Banyak pula desa wisata yang miskin cerita. Wisatawan Gen Z yang berkunjung ke Dieng, misalnya, bukan hanya untuk berfoto. Mereka ingin mendengar cerita dari petani carica dan kentang. Wisatawan ingin mendapatkan pengalaman. Dan pengalaman itu berupa cerita tentang semua yang ada di desa wisata. Tak sedikit desa wisata yang viral tak mampu menjual pengalaman, sekadar menjual pemandangan.

Solusi

Bangga dengan jutaan pemirsa di media sosial bukanlah keberhasilan desa wisata, bila setelah viral lantas gulung tikar. Metrik desa wisata harus diubah. Indeks kinerja utama desa wisata juga harus diubah. Bukan berapa banyak jumlah pengunjung, tetapi berapa lama pengunjung tinggal di desa wisata.

Cerita sukses desa wisata mestinya bukan berapa banyak jumlah wisatawan, tetapi cerita tentang wisatawan yang menginap dua hari satu malam di desa. Cerita tentang lebih dari 70% persen wisatawan yang datang berbelanja ke warung-warung yang dimiliki warga. Dan cerita sukses tentang wisatawan yang tahun berikutnya datang lagi ke desa wisata itu.

Desa wisata akan mati bila hanya menjual ayunan, tembok warna-warni, dan spot foto. Harus dibangun pengalaman berwisata ke desa bagi pengunjung. Misalnya, wisatawan ikut menanam padi di sawah, membuat gula jawa di sentra industri kecil, atau belajar membuat batik. Ada pengalaman dan keterampilan yang dapat dibawa pulang.

Membangun narasi berupa story telling perlu dilakukan desa wisata agar dapat bertahan hidup. Mengapa sebuah curug dikeramatkan oleh masyarakat? Siapa “Mbah” atau “Eyang” yang dihormati dan disakralkan di suatu desa? Cerita semacam itu lebih membuat wisatawan terkoneksi dengan alam dan budaya, ketimbang dengan ayunan atau spot foto.

Anggaran yang dimiliki desa bukan hanya untuk pembangunan sarana fisik, tetapi juga peningkatan kapasitas SDM dan perawatan desa wisata. Jalan dan toilet memang penting; tapi lebih penting menjaga dan merawat agar jalan tidak cepat rusak dan toilet tetap bersih. Pelatihan bagi Pokdarwis terkait narasi sosial budaya dan pengelolaan media sosial bagi generasi muda desa dapat menggunakan anggaran desa.

Wajib bagi desa wisata untuk menggali “DNA” yang dimilikinya agar tidak duplikasi dengan desa wisata lain.  Apa yang hanya terdapat di satu desa wisata; apakah curug, danau, bangunan bersejarah, kesenian tradisional, ataukah kulinernya? Idealnya satu desa wisata memang memiliki satu ikon wisata.

Mengatasi bunuh diri ekologis, perlu dibuat Peraturan Desa (Perdes) yang melindungi desa dari serbuan investor nakal. Jangan sampai tanah desa dibeli investor, namun warga justru jadi kuli di desanya sendiri. Perlu diatur agar pemilik usaha di desa wisata harus ber-KTP desa itu. Investor boleh masuk, tapi menjadi partner, bukan pemilik. Sawah produktif tidak boleh berubah menjadi vila. Zona lindung tidak boleh dijadikan area glamping.

Saatnya desa wisata berhenti mengejar FYP dengan membangun komunitas yang mendukung tumbuh suburnya desa wisata. Yang membunuh desa wisata bukanlah wisatawan, tetapi cara mengelolanya. Pendapatan asli daerah naik, namun ketimpangan masih tampak. Desa wisata jalan, tapi masyarakat tetap miskin. Wisatawan membludak, namun meninggalkan jejak lingkungan yang rusak.[T]

Tags: desa wisataPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

Next Post

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

Bonangan Saluang, Barungan Gamelan Baru di Pesta Kesenian Bali 2026 yang Memperkaya Khazanah Karawitan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co