KETIKA lampu panggung perlahan menyala, alunan suling tradisional Korea dengan ujung tiup pipih terdengar lirih. Di atas panggung, para penari laki-laki duduk bersila, sementara penari perempuan bersimpuh di hadapan sesajen. Sesaat setelah bunyi kentongan memecah kesunyian, para penari lain bermunculan. Sebagian mengenakan busana tari Bali, sebagian lagi berkostum tradisional Korea. Ada yang fasih berbahasa Bali, ada pula yang berseloroh dalam bahasa Korea.
Suasana itu membuka kolaborasi seni lintas negara yang mewarnai panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII, Rabu, 8 Juli 2026. Seoul Institute of the Arts, Korea Selatan, bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Bali menghadirkan dramatari I Godogan, sebuah garapan yang memadukan kekayaan seni tradisi Bali dengan budaya Korea.
Sejak awal pertunjukan, penonton disuguhi dialog dua tradisi yang saling mengisi. Dua barungan musik tampil berdampingan: gamelan Bali dan ansambel musik tradisional Korea. Ketika dimainkan bersama, nada gong kebyar berkelindan dengan irama musik Korea, melahirkan harmoni baru yang menjadi napas pertunjukan.

“Mai…, mai…, mai…!” seru para penari memanggil teman-temannya. Ucapan itu terdengar dalam pelafalan yang berbeda karena diucapkan oleh penari Bali maupun Korea Selatan. Meski mengenakan busana khas masing-masing, mereka memerankan tokoh-tokoh masyarakat desa, tempat I Godogan lahir dan tumbuh.
Perbedaan latar budaya justru melahirkan keselarasan gerak. Saat tokoh I Godogan muncul, suara suling Korea berpadu dengan gamelan Bali, menghadirkan nuansa pedesaan yang mengingatkan pada suara kodok di tengah persawahan. Penari yang memerankan I Godogan, didominasi mahasiswa Korea, menampilkan gerak yang lincah dan penuh energi. Adegan prajurit kerajaan pun menjadi menarik karena memadukan tari bebarisan Bali dengan seni bela diri dan tari perang Korea yang menggunakan dua pedang.
Penonton kemudian terpukau ketika I Godogan dipertemukan dengan Putri Daha yang diperankan penari Korea Selatan. Keduanya berdialog melalui bahasa tubuh yang luwes dan puitis. Ketika I Godogan akhirnya berubah menjadi Pangeran Jenggala, adegan romantis itu semakin menghidupkan cerita.
Salah satu bagian yang paling memikat adalah ketika puluhan penari Bali dan Korea bersama-sama membawakan Tari Kecak. Nyanyian “cak” berpadu dengan lagu tradisional Korea yang dinyanyikan dalam bahasa asalnya. Perpaduan itu menghadirkan pengalaman artistik baru tanpa menghilangkan karakter masing-masing budaya.

Tepuk tangan penonton berkali-kali menggema memenuhi Gedung Ksirarnawa. Sebelum dramatari dipentaskan, mereka lebih dahulu disuguhi konser musik Bayu Nada, kolaborasi gong kebyar Bali dengan musik tradisional Korea yang memperlihatkan bahwa perbedaan tradisi dapat melahirkan harmoni baru.
I Godogan merupakan cerita rakyat Bali yang sarat simbol dan filosofi. Kisahnya bermula dari perjalanan spiritual Pangeran Jenggala yang lahir sebagai seekor kodok dalam keluarga petani di Desa Magetan. Atas petunjuk Dewata Agung, ia menjalani proses penyucian diri hingga kembali ke wujud aslinya sebagai manusia.
Konflik memuncak ketika I Godogan menyampaikan keinginannya meminang Putri Kerajaan Daha yang diperankan penari Korea. Sang ayah memenuhi permintaan putranya dengan menghadap Raja Daha. Namun, raja murka karena merasa dihina dan memerintahkan agar ayah Godogan dibunuh.
Keajaiban kemudian terjadi. Dengan kesaktiannya, I Godogan menghidupkan kembali sang ayah, bahkan setelah tubuhnya dicincang atas perintah raja. Peristiwa itu membuat Raja Daha menyadari bahwa semua merupakan kehendak Dewata Agung. Ia pun merestui pernikahan putrinya dengan Godogan.
Restu tersebut menjadi titik penyucian terakhir yang mengembalikan Godogan ke wujud aslinya sebagai Pangeran Jenggala. Adegan penutup berlangsung meriah. Pangeran Jenggala, yang diperankan seniman ISI Bali, menikahi Putri Daha yang diperankan mahasiswa Seoul Institute of the Arts. Tari Kecak, Barong Macan Bali, hingga Lion Dance Korea berpadu menjadi perayaan yang spektakuler.
Founder Seoul Institute of the Arts, Yoo Duk Hyung atau Mr. Yoo, mengaku memiliki kedekatan emosional dengan Bali. Setelah beberapa kali berkunjung ke Pulau Dewata, ia semakin mengagumi masyarakat dan kekayaan seni budayanya.
“Saya sangat mencintai Bali, masyarakatnya, dan keseniannya. Karena itu saya ingin membangun kerja sama yang berkelanjutan antara Seoul Institute of the Arts dengan ISI Bali,” ujarnya.
Menurutnya, Tari Kecak merupakan salah satu kesenian Bali yang paling mengesankan karena mampu melibatkan banyak orang dalam satu harmoni pertunjukan.
“Dipandu Prof. Dibia, kami berlatih selama satu minggu. Saya berharap mahasiswa dari berbagai fakultas dapat ikut terlibat,” katanya.
Bagi Mr. Yoo, Kecak bukan sekadar tarian, melainkan simbol persatuan.

“Kecak menunjukkan bagaimana banyak orang dapat bersatu dalam sebuah pertunjukan. Kecak membuka ruang kolaborasi, membentuk harmoni, dan menghadirkan kedamaian. Nilai itulah yang ingin kami bawa dalam kerja sama ini,” ungkapnya.
Budayawan Prof. Dr. I Wayan Dibia menjelaskan proses kreatif kolaborasi ini telah dimulai sejak program pertukaran akademik di Korea Selatan. Selain mengajarkan Tari Kecak, tim ISI Bali juga memperkenalkan pola gerak, ritme musik, dan ekspresi tari Bali kepada mahasiswa Seoul Institute of the Arts.
“Kami mengamati bagaimana tari Korea dapat diwarnai unsur-unsur Bali. Dalam prosesnya memang terjadi berbagai penyesuaian, termasuk pada kostum yang memiliki pakem berbeda. Namun justru dari proses itulah lahir pemahaman baru,” jelasnya.
Menurut Prof. Dibia, kesenian merupakan media paling efektif untuk mempererat hubungan antarbangsa. Lakon I Godogan dipilih karena sejalan dengan tema PKB tahun ini mengenai penyucian diri.
Kolaborasi tersebut melibatkan 25 seniman Korea dan 15 mahasiswa ISI Bali. Proses kreatif dilakukan selama satu minggu di Bali dan satu minggu di Korea Selatan.
Budayawan Prof. I Made Bandem menilai kehadiran Seoul Institute of the Arts di PKB XLVIII memiliki arti historis karena mengingatkan kembali hubungan budaya yang telah terjalin antara Bali dan Pulau Jeju sejak dekade 1990-an.
“Kehadiran mereka hari ini tidak hanya memperkuat hubungan kebudayaan, tetapi juga semakin menegaskan posisi Bali sebagai ruang pertemuan budaya dunia,” tutup Prof. Bandem.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto































