9 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
in Panggung
Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

Penampilan Seoul Institute of the Arts bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Bali saat menghadirkan dramatari I Godogan | Foto: tatkala.co/Budarsana

KETIKA lampu panggung perlahan menyala, alunan suling tradisional Korea dengan ujung tiup pipih terdengar lirih. Di atas panggung, para penari laki-laki duduk bersila, sementara penari perempuan bersimpuh di hadapan sesajen. Sesaat setelah bunyi kentongan memecah kesunyian, para penari lain bermunculan. Sebagian mengenakan busana tari Bali, sebagian lagi berkostum tradisional Korea. Ada yang fasih berbahasa Bali, ada pula yang berseloroh dalam bahasa Korea.

Suasana itu membuka kolaborasi seni lintas negara yang mewarnai panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII, Rabu, 8 Juli 2026. Seoul Institute of the Arts, Korea Selatan, bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Bali menghadirkan dramatari I Godogan, sebuah garapan yang memadukan kekayaan seni tradisi Bali dengan budaya Korea.

Sejak awal pertunjukan, penonton disuguhi dialog dua tradisi yang saling mengisi. Dua barungan musik tampil berdampingan: gamelan Bali dan ansambel musik tradisional Korea. Ketika dimainkan bersama, nada gong kebyar berkelindan dengan irama musik Korea, melahirkan harmoni baru yang menjadi napas pertunjukan.

Penampilan Seoul Institute of the Arts bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Bali saat menghadirkan dramatari I Godogan | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Mai…, mai…, mai…!” seru para penari memanggil teman-temannya. Ucapan itu terdengar dalam pelafalan yang berbeda karena diucapkan oleh penari Bali maupun Korea Selatan. Meski mengenakan busana khas masing-masing, mereka memerankan tokoh-tokoh masyarakat desa, tempat I Godogan lahir dan tumbuh.

Perbedaan latar budaya justru melahirkan keselarasan gerak. Saat tokoh I Godogan muncul, suara suling Korea berpadu dengan gamelan Bali, menghadirkan nuansa pedesaan yang mengingatkan pada suara kodok di tengah persawahan. Penari yang memerankan I Godogan, didominasi mahasiswa Korea, menampilkan gerak yang lincah dan penuh energi. Adegan prajurit kerajaan pun menjadi menarik karena memadukan tari bebarisan Bali dengan seni bela diri dan tari perang Korea yang menggunakan dua pedang.

Penonton kemudian terpukau ketika I Godogan dipertemukan dengan Putri Daha yang diperankan penari Korea Selatan. Keduanya berdialog melalui bahasa tubuh yang luwes dan puitis. Ketika I Godogan akhirnya berubah menjadi Pangeran Jenggala, adegan romantis itu semakin menghidupkan cerita.

Salah satu bagian yang paling memikat adalah ketika puluhan penari Bali dan Korea bersama-sama membawakan Tari Kecak. Nyanyian “cak” berpadu dengan lagu tradisional Korea yang dinyanyikan dalam bahasa asalnya. Perpaduan itu menghadirkan pengalaman artistik baru tanpa menghilangkan karakter masing-masing budaya.

Penampilan Seoul Institute of the Arts bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Bali saat menghadirkan dramatari I Godogan | Foto: tatkala.co/Budarsana

Tepuk tangan penonton berkali-kali menggema memenuhi Gedung Ksirarnawa. Sebelum dramatari dipentaskan, mereka lebih dahulu disuguhi konser musik Bayu Nada, kolaborasi gong kebyar Bali dengan musik tradisional Korea yang memperlihatkan bahwa perbedaan tradisi dapat melahirkan harmoni baru.

I Godogan merupakan cerita rakyat Bali yang sarat simbol dan filosofi. Kisahnya bermula dari perjalanan spiritual Pangeran Jenggala yang lahir sebagai seekor kodok dalam keluarga petani di Desa Magetan. Atas petunjuk Dewata Agung, ia menjalani proses penyucian diri hingga kembali ke wujud aslinya sebagai manusia.

Konflik memuncak ketika I Godogan menyampaikan keinginannya meminang Putri Kerajaan Daha yang diperankan penari Korea. Sang ayah memenuhi permintaan putranya dengan menghadap Raja Daha. Namun, raja murka karena merasa dihina dan memerintahkan agar ayah Godogan dibunuh.

Keajaiban kemudian terjadi. Dengan kesaktiannya, I Godogan menghidupkan kembali sang ayah, bahkan setelah tubuhnya dicincang atas perintah raja. Peristiwa itu membuat Raja Daha menyadari bahwa semua merupakan kehendak Dewata Agung. Ia pun merestui pernikahan putrinya dengan Godogan.

Restu tersebut menjadi titik penyucian terakhir yang mengembalikan Godogan ke wujud aslinya sebagai Pangeran Jenggala. Adegan penutup berlangsung meriah. Pangeran Jenggala, yang diperankan seniman ISI Bali, menikahi Putri Daha yang diperankan mahasiswa Seoul Institute of the Arts. Tari Kecak, Barong Macan Bali, hingga Lion Dance Korea berpadu menjadi perayaan yang spektakuler.

Founder Seoul Institute of the Arts, Yoo Duk Hyung atau Mr. Yoo, mengaku memiliki kedekatan emosional dengan Bali. Setelah beberapa kali berkunjung ke Pulau Dewata, ia semakin mengagumi masyarakat dan kekayaan seni budayanya.

“Saya sangat mencintai Bali, masyarakatnya, dan keseniannya. Karena itu saya ingin membangun kerja sama yang berkelanjutan antara Seoul Institute of the Arts dengan ISI Bali,” ujarnya.

Menurutnya, Tari Kecak merupakan salah satu kesenian Bali yang paling mengesankan karena mampu melibatkan banyak orang dalam satu harmoni pertunjukan.

“Dipandu Prof. Dibia, kami berlatih selama satu minggu. Saya berharap mahasiswa dari berbagai fakultas dapat ikut terlibat,” katanya.

Bagi Mr. Yoo, Kecak bukan sekadar tarian, melainkan simbol persatuan.

Penampilan Seoul Institute of the Arts bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Bali saat menghadirkan dramatari I Godogan | Foto: tatkala.co/Budarsana

“Kecak menunjukkan bagaimana banyak orang dapat bersatu dalam sebuah pertunjukan. Kecak membuka ruang kolaborasi, membentuk harmoni, dan menghadirkan kedamaian. Nilai itulah yang ingin kami bawa dalam kerja sama ini,” ungkapnya.

Budayawan Prof. Dr. I Wayan Dibia menjelaskan proses kreatif kolaborasi ini telah dimulai sejak program pertukaran akademik di Korea Selatan. Selain mengajarkan Tari Kecak, tim ISI Bali juga memperkenalkan pola gerak, ritme musik, dan ekspresi tari Bali kepada mahasiswa Seoul Institute of the Arts.

“Kami mengamati bagaimana tari Korea dapat diwarnai unsur-unsur Bali. Dalam prosesnya memang terjadi berbagai penyesuaian, termasuk pada kostum yang memiliki pakem berbeda. Namun justru dari proses itulah lahir pemahaman baru,” jelasnya.

Menurut Prof. Dibia, kesenian merupakan media paling efektif untuk mempererat hubungan antarbangsa. Lakon I Godogan dipilih karena sejalan dengan tema PKB tahun ini mengenai penyucian diri.

Kolaborasi tersebut melibatkan 25 seniman Korea dan 15 mahasiswa ISI Bali. Proses kreatif dilakukan selama satu minggu di Bali dan satu minggu di Korea Selatan.

Budayawan Prof. I Made Bandem menilai kehadiran Seoul Institute of the Arts di PKB XLVIII memiliki arti historis karena mengingatkan kembali hubungan budaya yang telah terjalin antara Bali dan Pulau Jeju sejak dekade 1990-an.

“Kehadiran mereka hari ini tidak hanya memperkuat hubungan kebudayaan, tetapi juga semakin menegaskan posisi Bali sebagai ruang pertemuan budaya dunia,” tutup Prof. Bandem.[T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto

Tags: Institut Seni Indonesia (ISI) BaliKorea SelatanPesta Kesenian BaliPesta Kesenian Bali 2026Seoul Institute of the Arts
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

Next Post

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

Read moreDetails

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
0
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

Read moreDetails

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
0
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

Read moreDetails

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

by I Komang Sutirtayasa
July 2, 2026
0
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada...

Read moreDetails

Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 1, 2026
0
Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan...

Read moreDetails

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 26, 2026
0
Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026....

Read moreDetails

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
0
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

Read moreDetails

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
0
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

Read moreDetails

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
0
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

Read moreDetails

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

Read moreDetails
Next Post
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed
Khas

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Kesenian Bali dan Korea Bersua dalam Harmoni Dramatari “I Godogan” di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA lampu panggung perlahan menyala, alunan suling tradisional Korea dengan ujung tiup pipih terdengar lirih. Di atas panggung, para penari...

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas
Khas

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

by Chandra Manikan
July 9, 2026
Rumah Kata di Jalan Nangka
Persona

Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

by Angga Wijaya
July 9, 2026
Bali, Surga yang Sudah Overload
Esai

Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
Daftar Juara Wimbakara Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Diumumkan, Gianyar dan Denpasar Bersinar
Budaya

Daftar Juara Wimbakara Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Diumumkan, Gianyar dan Denpasar Bersinar

PESTA Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 resmi mengumumkan para pemenang berbagai kategori lomba. Dalam pengumuman yang disiarkan secara langsung...

by Nyoman Budarsana
July 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Bunglon di Republik Kita

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis
Ulas Rupa

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

by Angga Wijaya
July 8, 2026
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co