“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.”
Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng. Sesaat, percakapan tentang puisi tidak lagi terdengar sebagai pembahasan sastra yang berjarak. Ia berubah menjadi refleksi tentang pengalaman manusia—bagaimana sebuah luka yang lahir dari ruang pribadi menjelma menjadi pengalaman kolektif.
Pertanyaan itulah yang menjadi benang merah diskusi. Kapan sebuah puisi bertransformasi dari sekadar alat penyembuhan luka menjadi karya yang membangun kesadaran kolektif bagi pembacanya? Willy Fahmi Agiska, Yahya Umar, dan Hamzah Muhammad mengurai pertanyaan tersebut dari sudut pandang masing-masing dalam diskusi panel “Puisi, Manifestasi Diri, dan Kejujuran Nurani” yang dipandu Puja Savitri pada rangkaian Singaraja Literary Festival 2026.

Bagi Willy Fahmi Agiska, hampir semua penyair pada dasarnya membicarakan dirinya sendiri. Namun, hal itu bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan. Justru dari titik itulah sebuah puisi memulai perjalanannya.
Menurutnya, yang sering disebut sebagai narsisme dalam puisi bukanlah ketika penyair berbicara tentang dirinya, melainkan bagaimana pengalaman pribadi itu mampu menjalin komunikasi ke banyak arah. Di situlah puisi berbeda dengan bentuk komunikasi lain. Bahasa dalam puisi bekerja melalui simbol-simbol yang membuka kemungkinan makna, bukan menutupnya.
Willy menjelaskan bahwa puisi memiliki beragam cara menyampaikan pengalaman. Ada puisi yang figuratif atau metaforikal, ada pula yang lugas. Namun, kelugasan bukan berarti menghilangkan ruang tafsir. Puisi yang lugas sekalipun tetap memberi kesempatan kepada pembaca untuk menafsirkan pengalaman hidupnya sendiri ke dalam teks.
“Puisi menjadi ruang yang aman untuk berbahasa. Penyair menyampaikan sesuatu, tetapi pembaca tidak diwajibkan memahami dengan cara yang sama. Setiap orang dapat merespons melalui pengalaman masing-masing,” kata Willy.
“Puisi bisa memantik kesadaran kalau kita bukanlah pusat dunia,” ucapnya.

Kesadaran itulah yang membuat puisi melampaui kepentingan pribadi. Menurut Willy, puisi memiliki ruang simbolik yang mampu menautkan pengalaman-pengalaman kompleks antarmanusia. Detail peristiwanya mungkin berbeda, tetapi perasaan yang dibangkitkan dapat sama. Di sanalah pembaca menemukan dirinya dalam pengalaman orang lain.
Pandangan itu kemudian dipertegas oleh Yahya Umar. Menurutnya, setiap kali penyair menyuarakan lukanya, sesungguhnya ia sedang menyuarakan luka manusia. Pengalaman personal tidak otomatis menjadi sempit hanya karena berasal dari individu. Sebaliknya, ketika pengalaman itu menemukan kesamaan dengan kehidupan orang lain, puisi telah berubah menjadi kesadaran kolektif.
Dengan kata lain, yang membuat sebuah puisi hidup bukan semata kualitas bahasanya, melainkan kemampuannya membangun resonansi. Ketika pembaca merasa pernah mengalami kesedihan, kehilangan, atau kegelisahan yang sama, batas antara penyair dan pembaca perlahan memudar. Yang tersisa adalah pengalaman manusia yang dibagikan bersama.
Perspektif lain disampaikan Hamzah Muhammad yang melihat perkembangan puisi dari sudut zaman digital. Menurutnya, puisi selalu berada dalam posisi untuk terus mengekspansi dirinya semaksimal mungkin, terlebih pada era teknologi yang membuat setiap orang dapat menyampaikan pemikiran dengan sangat mudah.

Media sosial menghadirkan ruang baru bagi setiap individu untuk menampilkan dirinya. Personalitas menjadi semakin masif. Orang dapat membangun citra, menunjukkan keseharian, bahkan membentuk identitas hanya melalui layar ponsel.
Di tengah situasi tersebut, Hamzah melihat tantangan baru bagi puisi. Persoalannya bukan lagi apakah puisi bersifat personal atau tidak, melainkan bagaimana keakuan yang begitu kuat itu mampu diolah menjadi pengalaman yang juga dapat dirasakan orang lain.
“Tantangannya, bagaimana semua personalitas atau keakuan itu juga tercermin dalam karya puisi agar puisi itu bisa jamak dialami oleh orang lain,” jelasnya.
Bagi Hamzah, perkembangan teknologi juga telah mengubah cara generasi muda berkenalan dengan sastra. Hari ini, banyak pembaca menggunakan Wattpad dan berbagai platform digital lainnya. Bentuk bacaan berubah, begitu pula kebiasaan membaca.
Karena itu, ia menolak anggapan bahwa karya-karya di platform digital bukan bagian dari sastra.

“Generasi hari ini bacanya di Wattpad dan platform lain, lalu ketika ada yang mengecap itu bukan sastra, itu sih jahat banget,” ujarnya.
Menurutnya, boleh jadi justru bentuk-bentuk bacaan itulah yang dibutuhkan generasi sekarang karena perkembangan industri bergerak ke arah tersebut. Yang menjadi pertanyaan bukan lagi apakah platform itu layak disebut sastra, melainkan sejauh mana sastra Indonesia mampu mengakomodasi perubahan cara membaca masyarakat hari ini.
Diskusi di Kawasan Museum Buleleng itu akhirnya tidak menawarkan satu definisi tentang puisi. Tidak ada kesimpulan bahwa puisi harus metaforis, harus lugas, atau harus berbicara tentang isu sosial. Sebaliknya, ketiga narasumber memperlihatkan bahwa puisi selalu bergerak mengikuti manusia yang menciptakan dan membacanya.
Puisi boleh lahir dari pengalaman yang sangat pribadi. Ia boleh berangkat dari luka, kegelisahan, atau kegembiraan seorang penyair. Namun, ia menemukan makna yang lebih besar ketika pengalaman itu tidak lagi berhenti pada diri penulisnya.
Barangkali di situlah jawaban atas pertanyaan yang mengawali diskusi hari itu. Sebuah puisi berhenti menjadi sekadar catatan pribadi ketika pembaca menemukan dirinya di dalamnya.[T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto































