BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal. Didominasi anak-anak muda, mereka sigap menyediakan tempat pemilahan sampah, mengedukasi pengunjung, hingga mengolah sisa makanan. Aksi nyata itu tidak hanya mendukung kelancaran festival, tetapi juga menciptakan suasana yang lebih nyaman, bersih, dan menyenangkan bagi para pengunjung.
Mereka adalah Tim Volunteer Waste Management dari AVIRAMA Foundation (Yayasan Avirama Literasi Berkelanjutan) bersama Komunitas Talk Sustainable. Selama tiga hari penyelenggaraan SLF, 3–5 Juli 2026, mereka mengemban tanggung jawab penuh menjaga kebersihan seluruh area festival yang dipusatkan di Gedung Sasana Budaya, Kabupaten Buleleng. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dari festival sastra yang menjembatani warisan naskah lama dengan gagasan-gagasan baru.
“Secara keseluruhan, tim volunteer kami berjumlah 20 orang. Kami membagi jadwal kerja menjadi dua shift per hari, yaitu shift pagi dan sore. Setiap shift terdiri dari 7 sampai 10 orang yang selalu bergerak mengejar sampah,” ujar Direktur AVIRAMA Foundation sekaligus Koordinator Tim Waste Management SLF 2026, Gede Herry Arum Wijaya, S.T., M.Eng., Minggu, 5 Juli 2026.

AVIRAMA Foundation bersama Komunitas Talk Sustainable merupakan gerakan anak muda yang berfokus pada edukasi literasi hidup berkelanjutan. Yayasan yang berkantor di Jalan Gunung Batur Gang IV Nomor 18, Kelurahan Paket Agung, Buleleng, ini secara konsisten berkolaborasi dalam penyelenggaraan festival tersebut.
Menurut Gede Herry, timnya menempatkan sejumlah tempat sampah yang telah diberi label sesuai kategori. Mulai dari ember untuk sisa makanan, keranjang kampil untuk sampah organik kering, wadah sampah daur ulang, hingga tempat sampah residu. Setiap wadah juga dilengkapi informasi mengenai jenis sampah sebagai sarana edukasi bagi masyarakat.
Tempat-tempat sampah itu ditempatkan di titik-titik strategis yang ramai dikunjungi, seperti area stan kuliner, lokasi utama pementasan, ruang diskusi panel, hingga area pameran buku.
“Tim kami berfokus pada edukasi dan pengawasan proses pemilahan sampah yang dilakukan oleh pengunjung SLF. Setiap satu jam sekali, kami bergerak memobilisasi tim untuk mengedukasi pengunjung secara langsung sembari membawa papan media edukasi,” ungkapnya.

Selain memberikan edukasi, para volunteer juga melakukan pengawasan di titik-titik tempat sampah pada jam-jam yang paling padat, seperti waktu makan siang atau setelah pertunjukan seni usai. Langkah ini dilakukan untuk memastikan pengunjung memilah sampah sesuai kategorinya.
Apabila wadah penampung telah penuh, petugas segera menggantinya dengan kampil kosong agar sampah tidak menumpuk di area festival.
“Sampah yang telah dikumpulkan kemudian kami timbang di stan AVIRAMA sebagai data informasi jumlah sampah yang berhasil terkelola,” imbuh Gede Herry.
Ia menjelaskan, sisa makanan dari festival sebagian dimanfaatkan sebagai pakan maggot dalam program pemberdayaan ekonomi sirkular AVIRAMA Foundation bersama Kelompok Perempuan Kelurahan Paket Agung. Sebagian lainnya dicampur dengan sampah organik kering sebagai bahan demonstrasi pembuatan kompos di stan AVIRAMA.
Sementara itu, sampah organik lainnya dikirim ke TPS 3R Desa Adat Buleleng sesuai jadwal pengangkutan sampah terpilah yang diberlakukan Pemerintah Kabupaten Buleleng. Sampah residu juga dibawa ke TPS 3R mengikuti ketentuan jadwal ganjil-genap yang berlaku.

“Untuk sampah daur ulang, kami bersihkan terlebih dahulu sebelum dipilah secara lebih detail di Bank Sampah PESPA Kelurahan Paket Agung. Dengan sistem ini, AVIRAMA Foundation berhasil meminimalisir jumlah sampah yang berakhir dan terbuang begitu saja ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir),” bebernya.
Tak hanya mengelola kebersihan selama festival, AVIRAMA Foundation juga membuka stan edukasi lingkungan yang menghadirkan berbagai aktivitas interaktif. Pengunjung dapat menyaksikan praktik pembuatan kompos skala rumah tangga menggunakan tong komposter, mengenal budidaya maggot, hingga mengikuti lokakarya mengolah limbah plastik (upcycle) menjadi gelang dan gantungan kunci.
“Dalam aktivitas ini, fokus utama kami adalah edukasi dan pengawasan agar pengunjung mulai memahami serta lebih bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan sendiri. Kami tidak hanya ingin menjaga area festival tetap bersih, tetapi juga ingin membekali pengunjung dengan pola pikir (mindset) baru: bahwa sampah yang dikelola dengan benar akan memiliki nilai guna lebih dan tidak akan mencemari lingkungan,” pungkas Gede Herry.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto






























