21 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
July 6, 2026
in Esai
Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan “tidak” terhadap sesuatu yang dianggap keliru. Semangat inilah yang kemudian menginspirasi lahirnya Disobedience Day, yang setiap tahun diperingati pada 3 Juli. Meskipun bukan hari peringatan resmi yang ditetapkan oleh pemerintah atau organisasi internasional, Disobedience Day telah dikenal luas sebagai momentum refleksi tentang pentingnya berpikir kritis, berani mempertanyakan kemapanan, dan tidak mengikuti aturan secara membabi buta ketika aturan tersebut bertentangan dengan keadilan, moralitas, atau hati nurani.

Akar filosofis Disobedience Day sesungguhnya jauh lebih tua daripada peringatannya sendiri. Gagasan tersebut bersumber dari konsep civil disobedience atau ketidakpatuhan sipil yang dipopulerkan oleh Henry David Thoreau melalui esainya Civil Disobedience pada tahun 1849. Thoreau berpendapat bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral untuk tidak bekerja sama dengan ketidakadilan. Menurutnya, ketika hukum bertentangan dengan suara hati, maka hati nurani harus menjadi kompas utama. Pemikiran ini kemudian menginspirasi gerakan damai Mahatma Gandhi dalam memperjuangkan kemerdekaan India, perjuangan hak-hak sipil Martin Luther King Jr. di Amerika Serikat, hingga berbagai gerakan sosial di berbagai belahan dunia.

Disobedience Day bukanlah ajakan untuk melanggar hukum atau menciptakan kekacauan. Sebaliknya, hari ini mengingatkan bahwa masyarakat yang sehat membutuhkan warga yang tidak hanya patuh, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk bertanya: Apakah kebijakan ini adil? Apakah pembangunan ini benar-benar berpihak kepada rakyat? Apakah kemajuan ekonomi sejalan dengan kelestarian lingkungan dan budaya? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang menjadi fondasi demokrasi yang hidup. Sebuah bangsa tidak akan maju apabila seluruh warganya hanya menjadi pengikut yang pasif tanpa keberanian menggunakan akal sehat dan hati nurani.

Dalam konteks Bali, refleksi ini menjadi sangat relevan. Pulau yang selama berabad-abad dikenal sebagai pusat harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas kini menghadapi dinamika pembangunan yang semakin kompleks. Investasi, pariwisata, infrastruktur, dan pertumbuhan ekonomi membawa banyak peluang, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan terhadap tata ruang, lingkungan, budaya, serta kualitas hidup masyarakat. Oleh karena itu, keberanian menyampaikan kritik yang konstruktif bukanlah bentuk permusuhan terhadap pembangunan, melainkan bagian dari tanggung jawab untuk memastikan bahwa pembangunan tetap berjalan sesuai nilai-nilai keadilan, keberlanjutan, dan kearifan lokal.

Dari perspektif inilah, kita dapat memahami mengapa berbagai gerakan masyarakat sipil, termasuk Forum Pemerhati Pembangunan Bali (FOR HATI Bali), memiliki arti penting dalam kehidupan demokrasi. Audiensi FOR HATI Bali dengan Pansus TRAP DPRD Bali pada 3 Juni 2026 bukan sekadar penyampaian aspirasi, melainkan contoh bahwa warga negara dapat menjalankan fungsi kontrol sosial secara damai, argumentatif, dan konstitusional. Semangat seperti ini sesungguhnya sejalan dengan makna terdalam Disobedience Day: keberanian untuk tidak diam ketika melihat sesuatu yang perlu dikoreksi, sekaligus tetap mengedepankan dialog, etika, dan penghormatan terhadap hukum.

Melawan Arus Bukan Berarti Membenci Pembangunan

Setiap zaman memiliki orang-orang yang berani mempertanyakan arah perjalanan masyarakat. Mereka sering dicap sebagai pembangkang, pengganggu, bahkan musuh kemajuan. Namun sejarah justru menunjukkan bahwa hampir semua perubahan besar lahir dari mereka yang berani mengajukan pertanyaan yang tidak berani diajukan orang lain.

Socrates mempertanyakan kebijaksanaan masyarakat Athena, Galileo mempertanyakan pandangan kosmologi yang telah diterima selama berabad-abad. Gandhi mengajarkan bahwa melawan ketidakadilan tidak harus dengan kekerasan, tetapi dapat dilakukan melalui ketidakpatuhan sipil yang damai. Mereka bukan pemberontak demi pemberontakan. Mereka adalah pencari kebenaran.

Dalam kehidupan modern, semangat seperti itu tetap dibutuhkan. Demokrasi tidak hanya memberikan hak memilih pemimpin, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengingatkan ketika kebijakan dinilai menyimpang dari kepentingan rakyat.

Karena itu, melawan arus tidak identik dengan membenci pembangunan. Justru terkadang, keberanian mengoreksi arah pembangunan merupakan bentuk tanggung jawab agar pembangunan tidak kehilangan tujuan utamanya, yakni meningkatkan kesejahteraan manusia tanpa merusak alam dan nilai-nilai budaya.

Edgar Allan Poe dan Keberanian Berpikir Berbeda

Nama Edgar Allan Poe sering dijadikan simbol nonkonformitas. Ia memang bukan pencetus Disobedience Day, tetapi perjalanan hidupnya menunjukkan keberanian untuk berpikir berbeda.

Ketika sastra Amerika pada abad ke-19 didominasi cerita moral dan romantika, Poe justru menjelajahi wilayah psikologi manusia, misteri, ketakutan, dan sisi gelap kehidupan. Karya-karyanya seperti The Raven maupun The Murders in the Rue Morgue membuka jalan bagi lahirnya sastra detektif modern dan horor psikologis.

Pilihan hidupnya pun tidak mudah. Ia meninggalkan jalur karier yang aman demi menjadi penulis profesional, meskipun harus hidup dalam kemiskinan dan ketidakpastian. Keberanian itu menunjukkan bahwa kreativitas hampir selalu lahir dari keberanian menolak menjadi seragam.

Pelajaran yang dapat dipetik bukanlah agar setiap orang menjadi pembangkang, melainkan agar setiap orang berani berpikir mandiri. Peradaban berkembang karena ada manusia yang berani bertanya, bukan hanya karena banyak orang patuh mengikuti arus.

Forum Pemerhati Pembangunan Bali dan Rebellion yang Konstruktif

Refleksi tersebut mengingatkan kita pada langkah Forum Pemerhati Pembangunan Bali (FOR HATI Bali) ketika melakukan audiensi dengan Pansus TRAP DPRD Bali pada 3 Juni 2026.

Forum tersebut tidak hadir untuk menolak pembangunan secara membabi buta. Sebaliknya, mereka mengajak semua pihak memastikan bahwa pembangunan berjalan sesuai tata ruang, menghormati hukum, menjaga lingkungan, melindungi budaya Bali, dan mengutamakan kepentingan masyarakat luas. Inilah makna rebellion yang sehat dalam kehidupan demokrasi.

Rebellion tidak harus diwujudkan melalui kemarahan atau tindakan anarkis. Rebellion dapat diwujudkan melalui kajian ilmiah, dialog, penyampaian aspirasi, pengawasan publik, dan keberanian menyampaikan kritik secara santun namun tegas.

Demokrasi justru memerlukan warga negara seperti ini. Pemerintah memerlukan masukan. DPRD memerlukan kontrol sosial. Investor memerlukan kepastian hukum. Masyarakat memerlukan ruang untuk menyampaikan kegelisahan mereka.

Ketika warga memilih diam terhadap persoalan yang mereka lihat, demokrasi kehilangan salah satu fondasi terpentingnya, yaitu partisipasi masyarakat. Sebaliknya, ketika kritik disampaikan berdasarkan data, argumentasi, dan etika, kritik tersebut menjadi energi positif yang memperkuat kualitas pembangunan.

Pemberontakan Terbesar adalah Melawan Keserakahan

Dalam berbagai buku dan ceramahnya, Guruji Anand Krishna sering mengingatkan bahwa musuh terbesar manusia bukanlah orang lain, melainkan ego yang hidup di dalam dirinya sendiri.

Karena itu, pemberontakan yang paling penting bukanlah melawan pemerintah ataupun kelompok tertentu, melainkan melawan keserakahan, ketidaksadaran, dan cara berpikir yang memandang alam hanya sebagai objek eksploitasi. [T]

Bali sejak lama mengajarkan filosofi Tri Hita Karana, yaitu keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Apabila pembangunan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa menjaga keseimbangan tersebut, maka yang hilang bukan hanya sawah, pantai, hutan, atau sumber air, tetapi juga identitas Bali sebagai sebuah peradaban.

Keberanian untuk berkata, “Mari kita evaluasi kembali,” bukanlah tanda anti-investasi maupun anti-kemajuan. Sebaliknya, itulah bentuk cinta yang paling bertanggung jawab terhadap Bali.Karena cint a tidak selalu diwujudkan dengan persetujuan. Kadang-kadang cinta justru hadir dalam bentuk keberanian mengingatkan.

Masa Depan Bali Ditentukan oleh Keberanian Hati Nurani

Pada akhirnya, Disobedience Day mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki hati nurani yang tidak boleh dikalahkan oleh rasa takut, tekanan sosial, maupun kepentingan sesaat. Bali hari ini menghadapi tantangan besar. Pertumbuhan ekonomi, investasi, pariwisata, urbanisasi, dan pembangunan infrastruktur membawa manfaat yang nyata, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan terhadap daya dukung lingkungan, tata ruang, sumber air, pertanian, serta warisan budaya.

Dalam situasi seperti itu, diperlukan keberanian moral dari semua pihak: pemerintah yang mau mendengar, investor yang menghormati kearifan lokal, akademisi yang menyajikan kajian objektif, media yang menjaga independensi, dan masyarakat yang aktif mengawasi jalannya pembangunan.

Forum Pemerhati Pembangunan Bali menunjukkan bahwa warga negara dapat menjalankan fungsi kontrol sosial secara damai dan konstitusional. Mereka mengingatkan bahwa pembangunan yang baik bukanlah pembangunan yang paling cepat, melainkan pembangunan yang paling bijaksana.

Seperti diyakini Thoreau, Gandhi, dan Martin Luther King Jr., ketidakpatuhan terhadap ketidakadilan bukanlah tindakan melawan negara, melainkan penghormatan terhadap kebenaran dan martabat manusia. Dalam konteks Bali, keberanian mengajukan pertanyaan, memberikan kritik, dan menawarkan solusi bukanlah ekspresi kebencian terhadap pembangunan. Sebaliknya, itulah wujud cinta yang matang—cinta yang tidak membiarkan Pulau Dewata kehilangan jati dirinya demi keuntungan jangka pendek.

Inilah makna terdalam dari rebellion: bukan menghancurkan, melainkan menjaga; bukan menolak perubahan, melainkan memastikan perubahan tetap berpihak kepada manusia, alam, dan nilai-nilai luhur. Sebab sejarah membuktikan bahwa peradaban besar tidak dibangun oleh mereka yang selalu mengikuti arus, tetapi oleh mereka yang berani mendengarkan suara hati nurani. Dalam konteks Bali, suara hati itu mengingatkan bahwa pembangunan sejati bukan sekadar membangun gedung, jalan, atau kawasan ekonomi, melainkan membangun masa depan yang tetap menjaga keseimbangan antara kemajuan, budaya, spiritualitas, dan kelestarian alam. Itulah pemberontakan yang paling mulia—pemberontakan hati nurani demi Bali yang lestari, bermartabat, dan diwariskan dengan utuh kepada generasi mendatang.

Tags: balicinta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

Next Post

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails
Next Post
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA "Kejar Sampah" di Singaraja Literary Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co