6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Nyoman Mariyana by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
in Esai
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Foto oleh Nyoman Mariyana

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang membentuk identitas, sistem nilai, cara berpikir, hingga pandangan hidup suatu komunitas. Dalam setiap tradisi terkandung pengetahuan lokal, filosofi kehidupan, etika sosial, estetika, dan spiritualitas yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman. Oleh sebab itu, menggali tradisi bukanlah aktivitas untuk mengenang masa lalu semata, tetapi merupakan upaya membangun masa depan melalui pemahaman terhadap akar budaya yang dimiliki.

Di era modern, perkembangan teknologi dan globalisasi menghadirkan perubahan sosial yang sangat cepat. Berbagai budaya global dengan mudah memasuki ruang kehidupan masyarakat melalui media digital sehingga perlahan menggeser perhatian generasi muda terhadap budaya lokal. Tradisi mulai dipandang sebagai sesuatu yang kuno, tidak praktis, bahkan dianggap menghambat kemajuan. Pandangan demikian menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan budaya karena ketika tradisi tidak lagi dipelajari, dipahami, dan dipraktikkan, maka sesungguhnya tradisi sedang menuju kepunahannya. Tradisi tidak mati karena hilangnya benda-benda budaya, tetapi mati ketika masyarakat kehilangan kesadaran akan makna yang dikandungnya.

Dalam perspektif antropologi budaya, tradisi merupakan embrio kehidupan generasi penerus. Melalui tradisi, masyarakat mewariskan berbagai nilai yang menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan. Proses pewarisan tersebut dikenal sebagai enkulturasi. Menurut Melville J. Herskovits, enkulturasi adalah proses ketika individu mempelajari dan menghayati kebudayaan masyarakatnya sejak lahir melalui keluarga, lingkungan sosial, pendidikan, maupun pengalaman hidup. Enkulturasi tidak hanya mengajarkan seseorang tentang tata cara melakukan suatu tradisi, tetapi juga menanamkan makna yang melatarbelakangi praktik budaya tersebut.

Melalui enkulturasi, seseorang mulai mengenali siapa dirinya, dari mana asal budayanya, serta bagaimana hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Dalam konteks kebudayaan Bali misalnya, berbagai tradisi seni, ritual, maupun adat istiadat bukan hanya dipelajari sebagai keterampilan teknis, tetapi menjadi media pendidikan karakter yang membentuk rasa hormat, gotong royong, tanggung jawab, serta keseimbangan hidup. Dengan demikian, menggali tradisi sesungguhnya merupakan upaya membangun kepekaan budaya yang akan menumbuhkan kecintaan dan kepedulian terhadap warisan leluhur.

Namun demikian, proses pewarisan budaya tidak akan menghasilkan keberlanjutan apabila berhenti pada tahap mengenal atau mempraktikkan tradisi. Nilai-nilai budaya harus masuk ke dalam kesadaran individu sehingga menjadi keyakinan yang memengaruhi cara berpikir dan bertindak. Dalam teori konstruksi sosial yang dikemukakan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, proses tersebut disebut internalisasi, yaitu tahap ketika realitas sosial diterima sebagai bagian dari identitas pribadi. Internalisasi menjadikan nilai budaya tidak lagi dipandang sebagai aturan yang dipaksakan dari luar, tetapi menjadi kesadaran batin yang diyakini sebagai sesuatu yang benar dan layak dijaga.

Ketika seseorang menginternalisasi nilai tradisinya, ia tidak lagi melestarikan budaya karena tuntutan adat semata, melainkan karena memiliki keyakinan bahwa tradisi tersebut mengandung nilai kehidupan yang penting. Kesadaran inilah yang membentuk rasa memiliki terhadap budaya. Kepedulian terhadap tradisi kemudian tumbuh secara alami, bukan karena adanya kewajiban, tetapi karena adanya kesadaran bahwa keberadaan tradisi merupakan bagian dari keberadaan dirinya sendiri.

Proses enkulturasi dan internalisasi selanjutnya akan membentuk apa yang oleh Pierre Bourdieu disebut sebagai habitus. Habitus merupakan sistem disposisi yang terbentuk melalui pengalaman hidup dan secara terus-menerus memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan bertindak. Dalam konteks tradisi, habitus menjelaskan mengapa seseorang yang tumbuh dalam lingkungan budaya tertentu akan memiliki kecenderungan untuk mempertahankan, mengembangkan, bahkan menciptakan bentuk-bentuk kebudayaan baru tanpa harus meninggalkan akar tradisinya.

Habitus budaya menunjukkan bahwa tradisi bukan sesuatu yang statis. Tradisi justru menjadi sumber kreativitas yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Seseorang yang memiliki habitus budaya yang kuat tidak hanya menjadi pelaku tradisi, tetapi mampu menjadi pencipta karya baru, peneliti, pendidik, kurator budaya, maupun penulis yang dapat menarasikan kembali nilai-nilai budaya kepada masyarakat luas. Tradisi kemudian berubah menjadi sumber inspirasi yang melahirkan inovasi tanpa kehilangan identitasnya.

Dalam perspektif ini, menggali tradisi tidak berhenti pada kegiatan dokumentasi atau pelestarian fisik semata. Menggali tradisi berarti menelusuri sejarahnya, memahami filosofi yang melatarbelakanginya, mengidentifikasi fungsi sosial dan religiusnya, serta mengungkap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Hasil penggalian tersebut menjadi dasar bagi lahirnya regenerasi budaya yang berkelanjutan. Generasi muda tidak sekadar mewarisi bentuk luar suatu tradisi, tetapi memahami makna yang menjadikannya tetap relevan sepanjang waktu.

Tradisi yang berhasil digali secara mendalam akan melahirkan regenerasi yang sehat. Regenerasi bukan hanya menghasilkan penerus yang mampu mengulang apa yang dilakukan generasi sebelumnya, tetapi juga individu yang mampu mengembangkan tradisi sesuai kebutuhan zamannya. Di sinilah tradisi menjadi embrio lahirnya inovasi. Berbagai penciptaan karya seni baru, penelitian akademik, dokumentasi digital, pendidikan budaya, hingga pengembangan pariwisata budaya pada hakikatnya berawal dari pemahaman yang mendalam terhadap akar tradisi.

Sebaliknya, apabila tradisi tidak pernah digali, maka yang diwariskan hanyalah bentuk-bentuk simbolik tanpa makna. Lambat laun masyarakat hanya mengetahui cara melaksanakan tradisi, tetapi tidak memahami alasan mengapa tradisi tersebut ada. Kondisi seperti ini menyebabkan tradisi mudah ditinggalkan ketika menghadapi perubahan sosial karena masyarakat tidak lagi memiliki ikatan emosional maupun intelektual terhadap nilai-nilai yang dikandungnya. Kepunahan tradisi selalu diawali oleh hilangnya pemahaman.

Oleh karena itu, apa yang diwariskan oleh leluhur tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang remeh atau usang. Warisan budaya merupakan jejak awal perjalanan suatu peradaban. Jejak tersebut perlu diketahui agar generasi sekarang memiliki pijakan yang kokoh dalam menapaki tangga perkembangan berikutnya. Seseorang tidak akan mampu menciptakan pembaruan yang bermakna apabila ia kehilangan hubungan dengan akar budayanya. Semakin dalam seseorang mengenali tradisinya, semakin besar pula kemampuannya menghasilkan pembaruan yang tetap berakar pada identitas budayanya sendiri.

Pada akhirnya, keberlangsungan tradisi sangat ditentukan oleh kesediaan setiap generasi untuk menggali, memahami, menghayati, dan mengembangkannya. Enkulturasi membentuk proses pewarisan budaya, internalisasi menanamkan nilai menjadi keyakinan hidup, sedangkan habitus melahirkan tindakan kreatif yang menjaga keberlanjutan budaya. Ketiga proses tersebut menjadi satu rangkaian yang memastikan tradisi tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus hidup sebagai sumber inspirasi, identitas, dan peradaban bagi generasi kini maupun generasi yang akan datang.[T]

Penulis: Nyoman Mariyana
Editor: Adnyana Ole

Tags: Budayakesenian baliSeniTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

Next Post

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

Nyoman Mariyana

Nyoman Mariyana

I Nyoman Mariyana, S.Sn., M.Sn. Lahir di Sempidi, 08 Maret 1985. Kini dosen Seni Karawitan di Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Denpasar. Penulis buku Gamelan Gender Wayang (Mahima, 2021)

Related Posts

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails
Next Post
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co