3 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
in Khas
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

Pementasan teater "Nyoman Nyai Srimben" di pembukaan SLF 2026 | Foto: SLF 2026

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Melalui performance Perempuan di Sawah produksi Lemah Tulis Bali, pembukaan Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 mengajak publik memaknai kembali peran perempuan dalam ritual Mapag Toya (menjemput air). Pertunjukan tersebut membawa pesan filosofis bahwa menjaga sawah sama artinya dengan menjaga perempuan, sebagai simbol merawat martabat kemanusiaan dan keberlangsungan kehidupan.

Performance itu menjadi pembuka rangkaian Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 yang resmi dibuka pada Jumat (3/7) malam di Gedung Sasana Budaya, Kabupaten Buleleng. Mengusung tema Stri Sasana yang berarti energi keseimbangan semesta, festival yang berlangsung hingga 5 Juli ini menghadirkan 42 program interaktif, mulai dari kuliah umum, diskusi panel, lokakarya, peluncuran buku, bedah buku, pembacaan puisi, pemutaran film, hingga pertunjukan seni yang melibatkan penulis, seniman, akademisi, dan pegiat budaya dari Indonesia maupun mancanegara.

Founder sekaligus Direktur Singaraja Literary Festival, Kadek Sonia Piscayanti, mengatakan SLF memiliki karakter yang berbeda dibandingkan festival sastra lainnya. Selama empat tahun penyelenggaraannya, festival ini konsisten menjadikan manuskrip lontar yang tersimpan di Gedong Kirtya Singaraja sebagai sumber inspirasi tema dan penciptaan karya.

Founder sekaligus Direktur Singaraja Literary Festival, Kadek Sonia Piscayanti, saat memberikan sambutan dalam pembukaan Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 | Foto: SLF 2026

“Saya menginginkan manuskrip lontar itu tidak hanya diteliti lalu didiamkan, tetapi juga diapresiasi dan dialihwahanakan dalam berbagai bentuk karya seni, seperti pembacaan puisi, pementasan teater, musikalisasi puisi, film, maupun kolaborasi seni lainnya,” ujar Sonia.

Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi upaya menghadirkan kembali pengetahuan yang tersimpan dalam lontar agar tetap hidup dan relevan bagi generasi masa kini melalui bahasa seni yang lebih dekat dengan masyarakat.

Ia menilai pendekatan tersebut menghadirkan kebaruan dalam ekosistem sastra Indonesia. Karena itu, Sonia berharap Singaraja Literary Festival terus memperoleh dukungan dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Buleleng, Kementerian Kebudayaan, komunitas, dan mitra penyelenggara agar dapat berkembang secara berkelanjutan.

Pada kesempatan itu, Sonia juga mengumumkan 13 Emerging Writers terpilih yang berasal dari Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Para penulis muda tersebut akan mengikuti berbagai program pengembangan selama festival berlangsung. Ia turut menyampaikan apresiasi kepada jaringan Asia Pacific Writers and Translators, sponsor, media partner, komunitas, serta sekitar 70 panitia yang telah bekerja mempersiapkan penyelenggaraan SLF 2026.

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengatakan Singaraja Literary Festival bukan sekadar ruang apresiasi sastra, melainkan ruang lahirnya gagasan, dialog, dan kolaborasi kebudayaan. “Festival ini bukan hanya menjadi ruang apresiasi sastra, tetapi juga ruang lahirnya ide-ide baru bagi perkembangan kebudayaan Indonesia,” katanya.

Ia berharap seluruh peserta memanfaatkan festival sebagai ruang bertukar gagasan, berdiskusi, dan memperluas wawasan. Menurutnya, hasil diskusi, karya, dan kolaborasi yang lahir dari festival harus menjadi pijakan nyata bagi upaya pelestarian kebudayaan.

Sutjidra juga memberikan apresiasi terhadap peran perempuan dalam penyelenggaraan festival, termasuk Founder SLF Kadek Sonia Piscayanti dan Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Nissa Rengganis. Menurutnya, kehadiran perempuan dalam ruang kebudayaan menunjukkan semakin luasnya kesempatan bagi perempuan untuk berkarya dan berkontribusi, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Sumber Daya Manusia, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Syukur Aji Sukrojo, menyampaikan apresiasi atas konsistensi penyelenggaraan Singaraja Literary Festival yang dinilai berhasil membangun ekosistem sastra berbasis kekayaan budaya lokal.

Menurutnya, SLF tahun ini menjadi bagian dari trajektori Manajemen Talenta Nasional (MTN) Bidang Seni Budaya, program prioritas Kementerian Kebudayaan yang diamanatkan melalui Peraturan Presiden Nomor 108 Tahun 2024. “Selama tiga hari ke depan, kita akan menyaksikan bagaimana Singaraja Literary Festival menjadi bagian dari trajektori MTN pada bidang sastra,” ujarnya.

Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Nissa Rengganis, saat memberikan sambutan dalam pembukaan Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 | Foto: SLF 2026

Ia menjelaskan, Manajemen Talenta Nasional Bidang Seni Budaya dirancang untuk mendata, membina, mengembangkan, hingga membawa talenta seni budaya Indonesia menuju rekognisi internasional. Program tersebut mencakup lima bidang, yakni seni pertunjukan, seni rupa, musik, film, dan sastra.

Syukur menambahkan, penyelenggaraan SLF menunjukkan bagaimana pengetahuan yang tersimpan dalam manuskrip lontar dapat dirayakan kembali melalui pendekatan yang relevan dengan perkembangan zaman.

“Kami menyambut baik inisiatif teman-teman penyelenggara yang menjadikan Singaraja Literary Festival sebagai strategi kebudayaan yang cerdas dalam merayakan sastra dan pengetahuan lontar,” katanya.

Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, Nissa Rengganis, mengatakan festival sastra memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem kebudayaan dan literasi. Baginya, karya sastra tidak hanya dibaca dalam ruang pribadi, tetapi juga dirayakan bersama sebagai ruang dialog publik.

“SLF yang sudah berjalan empat tahun telah berhasil menjadi wadah penting bagi penulis, penyair, pembaca, pelajar, hingga masyarakat umum untuk saling berbagi gagasan, pengalaman, dan apresiasi terhadap dunia sastra,” ujar Nissa.

Ia menilai tema Stri Sasana sebagai energi keseimbangan semesta membuka ruang untuk mengeksplorasi warisan budaya sekaligus mengangkat peran perempuan dalam naskah klasik Bali. Hal tersebut diwujudkan melalui konsep alih wahana dengan menerjemahkan teks-teks lontar ke dalam berbagai bentuk seni pertunjukan kontemporer, teater, seni rupa, dan film sehingga tetap relevan bagi generasi muda.

Selama tiga hari, Singaraja Literary Festival akan menjadi ruang bertemunya penulis, seniman, akademisi, pelajar, dan masyarakat. Dari ruang itu, manuskrip lontar yang tersimpan di Gedong Kirtya kembali dibaca, dimaknai, lalu dialihwahanakan ke berbagai bentuk karya.[T]

Reporter/Penulis: Puja Savitri
Editor: Jaswanto

Tags: Manajemen Talenta NasionalsastraSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2026Stri Sasana
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

Next Post

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
0
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

Read moreDetails

Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

by Emi Suy
November 1, 2026
0
Kota, Ingatan, dan Warisan Kebudayaan — Membaca Kembali Ali Sadikin di Tengah Jakarta yang Terus Bergerak

SEBUAH kota tidak hanya dibangun dari beton, aspal, jembatan, dan gedung-gedung yang meninggi. Ada sesuatu yang tidak selalu terlihat dalam...

Read moreDetails

Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

by Wahyu Mahaputra
October 30, 2026
0
Belanda Menyebutnya Ekspedisi, Bali Menyebutnya Agresi: Pertarungan Narasi tentang Perang di Bali 1846-1950 — Dari Tur dan Diskusi Buku “Merebut Bali” karya Anne-Lot Hoek

SETIDAKNYA 7,05 juta wisatawan mancanegara melintasi pintu gerbang Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai setiap tahunnya. Bali telah lama...

Read moreDetails

Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

by Nyoman Budarsana
October 30, 2026
0
Pekan CERIA di Jimbaran, Merawat Alam dan Budaya dari Imajinasi Anak-Anak

WAJAH-wajah polos penuh semangat memenuhi Jimbaran Hub, Kuta Selatan, Badung, Bali, pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026. Sisa air hujan...

Read moreDetails

Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

by Nyoman Budarsana
October 29, 2026
0
Karya Agung Ki Pasek Badeg, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Ikatan Pasemetonan

ALUNAN lembut gamelan gangsa dan moncong reong berpadu dengan tembang-tembang klasik nan sakral, menghadirkan suasana khidmat yang sarat nuansa spiritual....

Read moreDetails

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
0
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

Read moreDetails

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
0
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

Read moreDetails

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails
Next Post
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

Tari Kontemporer "Perempuan di Sawah" Membuka Singaraja Literary Festival 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba
Pendidikan

Peringati Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda, Prima Mandiri School Asah Kreativitas dan Keberanian Siswa Lewat Berbagai Lomba

TIGA bendera kecil terangkat hampir bersamaan. Pertanyaan demi pertanyaan menguji ketangkasan para peserta. Ada yang sigap menjawab, ada pula yang...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam
Esai

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi
Pendidikan

Road to Bali Digifest 2026, UPMI Bali Dorong Mahasiswa Berani Berinovasi

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI) semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. Teknologi ini menawarkan kemudahan dalam belajar dan berkarya. Namun,...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026
Pendidikan

Tak Sekadar Memburu Juara, Jurnalis Muda Bali Belajar Memaknai Fakta di Pekan Jurnalistik UPMI Bali 2026

FAKTA bisa menjadi cerita yang menggugah ketika berada di tangan yang tepat. Semangat itulah yang mengemuka dalam Pekan Jurnalistik Universitas...

by Dede Putra Wiguna
November 3, 2026
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026
Esai

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
Poem by Sugi Lanus | Yamuna
Poetry

Poem by Sugi Lanus | Yamuna

My Yamuna, I bow down to your love,which has kept me awake while drowning in your flow for thousands of...

by Sugi Lanus
November 2, 2026
Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu
Kritik Sastra

Bentrok Tafsir: Ketika Teks Membelah Persepsi — Membicarakan Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Balai Banjar” karya I Nyoman Rasta Sindhu

SATU cerpen mampu menghasilkan dua tafsir yang saling bertolak belakang. Fenomena ini muncul dan menarik perhatian saya ketika melakukan penilaian...

by I Kadek Adhi Dwipayana
November 2, 2026
Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”
Kritik Sastra

Hal-Hal Tak Biasa dari Lontar “Kidung Bhuwana Wināśa” sebagai “Memory of the World”

Sejarah Ditulis oleh Korban yang Kalah Karya sastra Kidung Bhuwana Wināśa ‘Nyanyian Kehancuran Dunia’ yang ditulis oleh Ida Pedanda Ngurah...

by Putu Eka Guna Yasa
November 2, 2026
Musik, Agama dan Politik
Esai

Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur
Pameran

Ketika Sampah Menemukan Kehidupan Baru dalam Pameran Seni “Re_Make” di ARTOTEL Sanur

SUASANA ARTOTEL Sanur Bali tampak ramai pada Jumat (30/10/2026). Sejumlah pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan mancanegara, terlihat mengamati berbagai...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional
Khas

“The Nusantara Spice Odyssey” di Hotel Tugu Bali, Menghidupkan Kisah Nusantara Lewat Kuliner dan Tari Tradisional

CAHAYA lilin menerangi meja-meja yang dihiasi bunga. Para staf menyambut tamu yang berdatangan, sementara aroma hidangan perlahan mengisi ruang makan...

by Ayu Kahuatu Tamar
November 1, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Dibuka, Sekitar 6.000 Pengunjung Ramaikan Hari Pertama

Sekitar 6.000 pengunjung menghadiri hari pertama Jembrana Creative Festival (JCF) 2026 di Taman Pecangakan, Negara, Sabtu (31/10/2026). Berdasarkan catatan panitia,...

by tatkala
November 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co