2 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

I Komang Sutirtayasa by I Komang Sutirtayasa
July 2, 2026
in Panggung
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

Pameran | Foto: Puspa Dewi

SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Angka tersebut menandakan bahwa festival ini telah memasuki penyelenggaraan ke-4.

Sebagai pengingat, Festival Cerita Rasa (FCR) merupakan festival pedesaan yang merayakan cerita, cita rasa, dan mempromosikan kepedulian lingkungan, budaya, dan kemanusiaan. Cerita rasa digerakan dari halaman rumah dan didorong menjadi ruang untuk saling mendengar, merasakan, dan berbagi.

Kegiatan FCR 0.4 diselenggarakan oleh Sanggar Bali Tersenyum pada hari Jumat dan Sabtu, 19 – 20 Juni 2026, di Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana.

Menu utama Cerita Rasa tahun ini adalah workshop membuat komik, melukis di atas batu, mencetak kartu pos, bercerita tentang kuliner, dan menu khas di malam hari adalah menonton layar tancap bersama.

Jeda satu tahun mungkin terasa menurunkan momentum, namun antusiasme anak-anak yang menjadi audien utama tetap tinggi. Anak-anak datang dengan wajah penuh tanya, apa yang akan mereka pelajari hari ini? Mereka datang bersama teman-teman sepermainan, ada pula teman baru yang datang untuk pertama kali, ikut merasakan suasana festival sederhana ini.

Cerita Rasa selalu berusaha menghadirkan ruang bagi anak-anak untuk belajar dan berekspresi melalui aktivitas yang mungkin mereka kenal, namun dengan pendekatan baru. Menggambar, bukan hal asing karena sejak Taman Kanak-kanak telah bersentuhan dengan alat gambar pensil, krayon, spidol yang mereka corat-coret di atas kertas. Tapi Bagaimana dengan melukis di atas batu?

Belajar Membuat Komik

Hari pertama dimulai pada pukul 13.00 WITA, dengan agenda belajar membuat komik empat panel. Workshop ini ditemani oleh Kak Puspa, yang memulai dengan memperkenalkan format komik dan bagian-bagian utama yang membentuk sebuah komik. Dilanjutkan dengan belajar membaca komik, memahami gambar, tokoh dan cerita yang disuguhkan di dalamnya.

Satu setengah jam selanjutnya, yang berakhir pada pukul 15.00 WITA, anak-anak diajak untuk membangun cerita mereka, membaginya menjadi empat adegan dan menggambar di kertas masing-masing. Ide-ide mereka muncul dari keseharian. Ada yang bercerita tentang anjingnya yang terkurung di dapur, ada cerita bertemu ular saat bermain layangan, penyelamatan korban banjir, anjing yang mengejar kucing, hingga kisah anak kucing yang takut turun setelah naik terlalu tinggi ke atas pohon.

Melukis di Atas Batu

Keseruan hari pertama kemudian berlanjut bersama Kak Siska Olie melalui sesi melukis di atas batu. Kak Olie rela meluangkan waktu dan energi menempuh perjalanan jauh, dari Denpasar ke Jembrana untuk berbagi hobi uniknya ini: melukis di atas Batu. Melukis batu hanya salah satu hobinya membuat yang lucu-lucu seperti karya dari bahan benang, dan berbagai bentuk unik dari bahan clay yang memang lucu-lucu.

Lukisan batu | Foto: Made Birus

Anak-anak memulai aktivitas dengan memilih batu di halaman, yang akan menjadi pengganti kertas untuk melukis. Selain batu, ada juga memilih pecahan genteng, tegel, atau sisa bongkaran tembok. Setiap batu yang dipilih memiliki keunikan, mulai dari bentuk, tekstur, ukuran hingga beratnya.

Setelah membersihkan batu dari debu, sesi melukis dimulai dengan sebuah kebingungan. Gambar apa yang harus dibuat? Bagaimana ini, kok goresan pensil tidak kelihatan? Kak Olie kemudian memandu mereka dengan menjelaskan tahapan melukis, penggunaan cat dan kuas, pencampuran warna, dan membagikan ide-ide bentuk yang bisa dicoba sebagai inspirasi lukisan.

Hal yang menarik dari sesi ini adalah tentang penemuan warna baru ketika cat dicampur. Reaksi unik anak-anak melihat warna yang mereka inginkan terwujud dengan mencampur dua warna yang berbeda, menjadi gambaran yang sah, bahwa sesi ini memberikan pengalaman yang baru dan semoga membekas dalam diri mereka.

Mengenal dan Melukis Kartu Pos

Hari kedua dimulai dengan sesi mengenal dan mencetak kartu pos bersama Kak Yurika. Pertama-tama peserta diajak mengenal benda pos, khususnya kartu pos dan bagaimana kartu itu digunakan pada masanya. Walaupun hingga saat ini kartu pos masih dicetak sebagai souvenir di berbagai tempat, namun bagi generasi anak-anak sekarang benda-benda pos dan kerja kantor pos sudah menjadi hal asing.

Sesi ini awalnya dirancang sebagai kegiatan menulis kartu pos dan membuat gambar sendiri di sisi sebaliknya. Karena pesertanya kebanyakan anak-anak usia SD, sesi kemudian berfokus pada mencetak sisi ilustrasi kartu pos.

Kata mencetak menjadi penekanan pada sesi ini, karena apa yang dilakukan anak-anak adalah teknik seni cetak, yang memang menjadi cara untuk pembuatan kartu pos.

Kak Yurika mengajak anak-anak memanfaatkan daun-daun yang mereka petik di sekitar sanggar, sebagai media berkarya. Setelah memilih daun, mereka mengoleskan cat pada permukaan daun lalu mencetaknya di atas kertas. Bentuk-bentuk daun yang berbeda dipadukan dengan berbagai warna menghasilkan karya yang unik dan menarik. Tidak ada karya yang sama. Setiap anak memiliki ciri khas dan karakternya sendiri, baik itu dari komposisi, bentuk dan pilihan warna.

Ketika cat telah mengering, kertas itu dibalik dan diberi cetakan bertuliskan “kartu pos” dan satu cetakan garis-garis yang bertuliskan kepada, dimana akan menjadi tempat menulis nama dan alamat yang akan dituju.

Setelah itu, karya anak-anak dipajang di bangunan lumbung padi sanggar. Karya di atas kertas digantung pada tali-tali dan karya di atas batu batu disusun di bawahnya. Presentasi ini sebagai bentuk pameran kecil, agar bisa mereka lihat kembali dan menunjukkannya pada orang tua mereka.

Cerita Rasa

Menjelang sore di hari kedua, kegiatan beralih ke dapur sanggar. Sambil menyiapkan makan malam, Kak Tirta berbagi kisah tentang bumbu Bali, dari yang paling sederhana berupa uyah tabia (Garam dan cabe), base Suna cekuh, hingga base genep khas Bali.

Mereka yang ikut dalam diskusi Cerita Rasa adalah remaja-remaja yang memiliki ketertarikan pada dunia kuliner, yang saat ini sedang menempuh bangku sekolah SMK jurusan tata boga. Percakapan mengalir dari bumbu di dapur tradisional, hingga ke pengalaman belajar di kelas tata boga, praktek memasak,pengalaman memasak untuk orang asing atau turis, peluang mengenalkan kekayaan kuliner desa kepada wisatawan, hingga cita-cita dan rencana yang akan dilakukan setelah lulus Sekolah SMK nanti.

Pemutaran Film Layar Tancap

Malam Festival Cerita Rasa selalu dilengkapi dengan layar tancap di halaman sanggar. Layar selebar 4 meter menjadi ruang membaca kehidupan melalui film pendek. Kali ini, ada total 12 judul film yang dihadirkan dalam empat sesi pemutaran, yang mana tiap sesi memutar tiga judul film dengan tema yang berbeda-beda.

Pada hari pertama, diputar film-film karya “tuan rumah”. Tiga film karya anak muda Jembrana yang menyoroti kegelisahan mereka tentang perundungan dan masa depan mereka.

  • Lembar ke-13 (Sutradara: Krisna Dwipananda)
  • Atma Nirartha (Sutradara: Agus Arta Wiguna)
  • Nara Yana (Sutradara: Ciello Permana)

Setelah sesi berbagi cerita bersama pembuat dan mereka yang terlibat dalam film-film dari Jembrana tersebut, dilanjutkan sesi pemutaran kedua dari film koleksi Acffest (Festival Film Anti Korupsi). Tiga film yang diputar menarik benang merah kisah mengenai bagaimana anak-anak bertemu dan menyikapi nilai-nilai kejujuran, keberanian dan tanggung jawab dalam pergaulan keseharian mereka.

  • Pirates Sepuluh Ribu (Sutradara: Muhammad Azhar)
  • Loma (Sutradara: Della Kartika)
  • Andaka Janu (Sutradara: Vaneasa Mertida)

Pada malam terakhir layar tancap, menghadirkan tiga karya Luar Kotak film, yang menyoroti kisah anak-anak dalam menemukan penyelesaian atas masalah yang mereka temui.

  • Budi (Sutradara: Dodek Sukahet) 
  • Mulat Sarira (Sutradara: Dodek Sukahet)
  • Tetamian (Sutradara:  Kania)

Sedangkan tiga lainnya kembali dari koleksi Acffest, yang kali ini menyoroti tema bagaimana nilai-nilai kejujuran, keberanian dan tanggung jawab bertemu dengan jabatan atau kekuasaan.

  • Jimpitan (Sutradara: Wiwid Setiyardi)
  • Persenan (Sutradara: Lukman Hakim)
  • Sendal Bupati (Sutradara: Nick Julio Siahaan)

Berbicara tentang festival, rasanya sulit menggambarkan setiap cerita dan rasa yang timbul dan tumbuh dalam interaksi antar mereka yang hadir dan menikmati. Ketika festival berakhir, yang dibawa pulang adalah pengalaman personal yang baru, yang akan menjadi bagian dari cerita mereka sendiri.

Sampai jumpa di Festival Cerita Rasa 0.5 tahun 2028. [T]

Tags: festival cerita rasajembranaLiterasiSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

Next Post

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

I Komang Sutirtayasa

I Komang Sutirtayasa

Mantan pekerja pariwisata yang belajar kembali hidup di desa. Aktif di LPHD, KIM dan Pokdarwis West Desa Tukadaya, Jembrana

Related Posts

Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 1, 2026
0
Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan...

Read moreDetails

Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 26, 2026
0
Bangkitkan Legong Lasem Kelandis, Komunitas Ni Pollok Hidupkan Kembali Jejak Maestro di Pesta Kesenian Bali 2026

Rasa penasaran tampak jelas dari raut wajah ribuan penonton yang memadati Kalangan Angsoka, Taman Budaya Bali, Kamis 25 Juni 2026....

Read moreDetails

‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

by Dede Putra Wiguna
June 25, 2026
0
‘A Night of Broadway’: Ketika Anak-Anak Janawati Academy of Performing Arts (JAPA) Bawakan Kisah-Kisah Dunia dalam Satu Panggung Musikal

PERNAHKAH Anda menyaksikan kisah Aladdin, Rapunzel, atau The Little Mermaid? Pada Sabtu malam, 20 Juni 2026, kisah-kisah yang selama ini...

Read moreDetails

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
0
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

Read moreDetails

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
0
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

Read moreDetails

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

Read moreDetails

“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
0
“Aji Pemalik Sumpah” dari Sekaa Dramatari Arja Sudhamala di Pesta Kesenian Bali 2026: Pertama dan Total

SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang...

Read moreDetails

Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
0
Ekpresi Anak-anak SLB dalam Pergelaran Tari Bali di Pesta Kesenian Bali 2026

Ini pergelaran tari Bali biasa, tetapi orang-orang yang hadir justru membludak. Maklum, pentas seni itu dibawakan oleh anak-anak dari Sekolah...

Read moreDetails

Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

by Nyoman Budarsana
June 20, 2026
0
Universitas Negeri Yogyakarta di Pesta Kesenian Bali 2026: Sendratari Ciptoning Mintaraga, Beber Warna Tari Yogya

GEMERLAP cahaya panggung di Gedung Ksirarnawa mempertegas para penari tampil dengan karakter dan busana yang berbeda. Beragam busana itu tentu...

Read moreDetails

Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

by Nyoman Budarsana
June 19, 2026
0
Semarak Baleganjur “Seet Wangsul” Buleleng di Pesta Kesenian Bali 2026 —Terinspirasi dari Tradisi Bebayuhan Sanan Empeg di Desa Anturan

Kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Anturan, terdapat sebuah ritual peruwatan yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Namanya Bebayuhan Sanan...

Read moreDetails
Next Post
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan
Esai

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4
Panggung

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada...

by I Komang Sutirtayasa
July 2, 2026
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa
Esai

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

by I Wayan Artika
July 2, 2026
Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali
Khas

Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring...

by Dede Putra Wiguna
July 2, 2026
Fiksi

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

by Chusmeru
July 2, 2026
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton
Esai

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali
Panggung

Tabuh, Tari, dan Sendratari Karya Wayan Berata Bangkitkan Memori Seni Bali

Bagi anak-anak, Rekasadana (Pergelaran) Karya Legendaris Maestro Wayan Berata yang dipersembahkan Sanggar atau Sekaa Gong Gita Bandana Praja, Banjar Belaluan...

by Nyoman Budarsana
July 1, 2026
The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia
Khas

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna,...

by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta
Ulas Pentas

‘The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark’ di TMII —Cahaya Menghidupkan Hanoman Duta

SAAT menyaksikan The Mystical Kecak Dance Glow in The Dark: Hanoman Duta, Amfiteater Panggung Budaya, Taman Mini Indonesia Indah (TMII),...

by Azzahra Naya R
July 1, 2026
Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat
Politik

Dua Belas Manifesto Aliansi Cipayung Plus untuk Dewan Perwakilan Rakyat

DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu...

by Jaswanto
July 1, 2026
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama
Ulas Buku

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata
Esai

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

by Agung Sudarsa
July 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co