SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada akhir tajuknya Festival Cerita Rasa 0.4. Angka tersebut menandakan bahwa festival ini telah memasuki penyelenggaraan ke-4.
Sebagai pengingat, Festival Cerita Rasa (FCR) merupakan festival pedesaan yang merayakan cerita, cita rasa, dan mempromosikan kepedulian lingkungan, budaya, dan kemanusiaan. Cerita rasa digerakan dari halaman rumah dan didorong menjadi ruang untuk saling mendengar, merasakan, dan berbagi.
Kegiatan FCR 0.4 diselenggarakan oleh Sanggar Bali Tersenyum pada hari Jumat dan Sabtu, 19 – 20 Juni 2026, di Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana.
Menu utama Cerita Rasa tahun ini adalah workshop membuat komik, melukis di atas batu, mencetak kartu pos, bercerita tentang kuliner, dan menu khas di malam hari adalah menonton layar tancap bersama.
Jeda satu tahun mungkin terasa menurunkan momentum, namun antusiasme anak-anak yang menjadi audien utama tetap tinggi. Anak-anak datang dengan wajah penuh tanya, apa yang akan mereka pelajari hari ini? Mereka datang bersama teman-teman sepermainan, ada pula teman baru yang datang untuk pertama kali, ikut merasakan suasana festival sederhana ini.
Cerita Rasa selalu berusaha menghadirkan ruang bagi anak-anak untuk belajar dan berekspresi melalui aktivitas yang mungkin mereka kenal, namun dengan pendekatan baru. Menggambar, bukan hal asing karena sejak Taman Kanak-kanak telah bersentuhan dengan alat gambar pensil, krayon, spidol yang mereka corat-coret di atas kertas. Tapi Bagaimana dengan melukis di atas batu?
Belajar Membuat Komik
Hari pertama dimulai pada pukul 13.00 WITA, dengan agenda belajar membuat komik empat panel. Workshop ini ditemani oleh Kak Puspa, yang memulai dengan memperkenalkan format komik dan bagian-bagian utama yang membentuk sebuah komik. Dilanjutkan dengan belajar membaca komik, memahami gambar, tokoh dan cerita yang disuguhkan di dalamnya.
Satu setengah jam selanjutnya, yang berakhir pada pukul 15.00 WITA, anak-anak diajak untuk membangun cerita mereka, membaginya menjadi empat adegan dan menggambar di kertas masing-masing. Ide-ide mereka muncul dari keseharian. Ada yang bercerita tentang anjingnya yang terkurung di dapur, ada cerita bertemu ular saat bermain layangan, penyelamatan korban banjir, anjing yang mengejar kucing, hingga kisah anak kucing yang takut turun setelah naik terlalu tinggi ke atas pohon.
Melukis di Atas Batu
Keseruan hari pertama kemudian berlanjut bersama Kak Siska Olie melalui sesi melukis di atas batu. Kak Olie rela meluangkan waktu dan energi menempuh perjalanan jauh, dari Denpasar ke Jembrana untuk berbagi hobi uniknya ini: melukis di atas Batu. Melukis batu hanya salah satu hobinya membuat yang lucu-lucu seperti karya dari bahan benang, dan berbagai bentuk unik dari bahan clay yang memang lucu-lucu.

Anak-anak memulai aktivitas dengan memilih batu di halaman, yang akan menjadi pengganti kertas untuk melukis. Selain batu, ada juga memilih pecahan genteng, tegel, atau sisa bongkaran tembok. Setiap batu yang dipilih memiliki keunikan, mulai dari bentuk, tekstur, ukuran hingga beratnya.
Setelah membersihkan batu dari debu, sesi melukis dimulai dengan sebuah kebingungan. Gambar apa yang harus dibuat? Bagaimana ini, kok goresan pensil tidak kelihatan? Kak Olie kemudian memandu mereka dengan menjelaskan tahapan melukis, penggunaan cat dan kuas, pencampuran warna, dan membagikan ide-ide bentuk yang bisa dicoba sebagai inspirasi lukisan.
Hal yang menarik dari sesi ini adalah tentang penemuan warna baru ketika cat dicampur. Reaksi unik anak-anak melihat warna yang mereka inginkan terwujud dengan mencampur dua warna yang berbeda, menjadi gambaran yang sah, bahwa sesi ini memberikan pengalaman yang baru dan semoga membekas dalam diri mereka.
Mengenal dan Melukis Kartu Pos
Hari kedua dimulai dengan sesi mengenal dan mencetak kartu pos bersama Kak Yurika. Pertama-tama peserta diajak mengenal benda pos, khususnya kartu pos dan bagaimana kartu itu digunakan pada masanya. Walaupun hingga saat ini kartu pos masih dicetak sebagai souvenir di berbagai tempat, namun bagi generasi anak-anak sekarang benda-benda pos dan kerja kantor pos sudah menjadi hal asing.
Sesi ini awalnya dirancang sebagai kegiatan menulis kartu pos dan membuat gambar sendiri di sisi sebaliknya. Karena pesertanya kebanyakan anak-anak usia SD, sesi kemudian berfokus pada mencetak sisi ilustrasi kartu pos.
Kata mencetak menjadi penekanan pada sesi ini, karena apa yang dilakukan anak-anak adalah teknik seni cetak, yang memang menjadi cara untuk pembuatan kartu pos.
Kak Yurika mengajak anak-anak memanfaatkan daun-daun yang mereka petik di sekitar sanggar, sebagai media berkarya. Setelah memilih daun, mereka mengoleskan cat pada permukaan daun lalu mencetaknya di atas kertas. Bentuk-bentuk daun yang berbeda dipadukan dengan berbagai warna menghasilkan karya yang unik dan menarik. Tidak ada karya yang sama. Setiap anak memiliki ciri khas dan karakternya sendiri, baik itu dari komposisi, bentuk dan pilihan warna.
Ketika cat telah mengering, kertas itu dibalik dan diberi cetakan bertuliskan “kartu pos” dan satu cetakan garis-garis yang bertuliskan kepada, dimana akan menjadi tempat menulis nama dan alamat yang akan dituju.
Setelah itu, karya anak-anak dipajang di bangunan lumbung padi sanggar. Karya di atas kertas digantung pada tali-tali dan karya di atas batu batu disusun di bawahnya. Presentasi ini sebagai bentuk pameran kecil, agar bisa mereka lihat kembali dan menunjukkannya pada orang tua mereka.
Cerita Rasa
Menjelang sore di hari kedua, kegiatan beralih ke dapur sanggar. Sambil menyiapkan makan malam, Kak Tirta berbagi kisah tentang bumbu Bali, dari yang paling sederhana berupa uyah tabia (Garam dan cabe), base Suna cekuh, hingga base genep khas Bali.
Mereka yang ikut dalam diskusi Cerita Rasa adalah remaja-remaja yang memiliki ketertarikan pada dunia kuliner, yang saat ini sedang menempuh bangku sekolah SMK jurusan tata boga. Percakapan mengalir dari bumbu di dapur tradisional, hingga ke pengalaman belajar di kelas tata boga, praktek memasak,pengalaman memasak untuk orang asing atau turis, peluang mengenalkan kekayaan kuliner desa kepada wisatawan, hingga cita-cita dan rencana yang akan dilakukan setelah lulus Sekolah SMK nanti.
Pemutaran Film Layar Tancap
Malam Festival Cerita Rasa selalu dilengkapi dengan layar tancap di halaman sanggar. Layar selebar 4 meter menjadi ruang membaca kehidupan melalui film pendek. Kali ini, ada total 12 judul film yang dihadirkan dalam empat sesi pemutaran, yang mana tiap sesi memutar tiga judul film dengan tema yang berbeda-beda.
Pada hari pertama, diputar film-film karya “tuan rumah”. Tiga film karya anak muda Jembrana yang menyoroti kegelisahan mereka tentang perundungan dan masa depan mereka.
- Lembar ke-13 (Sutradara: Krisna Dwipananda)
- Atma Nirartha (Sutradara: Agus Arta Wiguna)
- Nara Yana (Sutradara: Ciello Permana)
Setelah sesi berbagi cerita bersama pembuat dan mereka yang terlibat dalam film-film dari Jembrana tersebut, dilanjutkan sesi pemutaran kedua dari film koleksi Acffest (Festival Film Anti Korupsi). Tiga film yang diputar menarik benang merah kisah mengenai bagaimana anak-anak bertemu dan menyikapi nilai-nilai kejujuran, keberanian dan tanggung jawab dalam pergaulan keseharian mereka.
- Pirates Sepuluh Ribu (Sutradara: Muhammad Azhar)
- Loma (Sutradara: Della Kartika)
- Andaka Janu (Sutradara: Vaneasa Mertida)
Pada malam terakhir layar tancap, menghadirkan tiga karya Luar Kotak film, yang menyoroti kisah anak-anak dalam menemukan penyelesaian atas masalah yang mereka temui.
- Budi (Sutradara: Dodek Sukahet)
- Mulat Sarira (Sutradara: Dodek Sukahet)
- Tetamian (Sutradara: Kania)
Sedangkan tiga lainnya kembali dari koleksi Acffest, yang kali ini menyoroti tema bagaimana nilai-nilai kejujuran, keberanian dan tanggung jawab bertemu dengan jabatan atau kekuasaan.
- Jimpitan (Sutradara: Wiwid Setiyardi)
- Persenan (Sutradara: Lukman Hakim)
- Sendal Bupati (Sutradara: Nick Julio Siahaan)
Berbicara tentang festival, rasanya sulit menggambarkan setiap cerita dan rasa yang timbul dan tumbuh dalam interaksi antar mereka yang hadir dan menikmati. Ketika festival berakhir, yang dibawa pulang adalah pengalaman personal yang baru, yang akan menjadi bagian dari cerita mereka sendiri.
Sampai jumpa di Festival Cerita Rasa 0.5 tahun 2028. [T]






























