14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 14, 2026
in Esai
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai

Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentukan oleh takdir, ataukah manusia memiliki kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri? Pertanyaan ini hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari filsafat Yunani, ajaran agama-agama besar, hingga ilmu pengetahuan modern.

Di satu sisi, kita melihat banyak hal yang tampaknya sudah ditentukan. Tidak seorang pun memilih untuk lahir dari orang tua tertentu, di negara tertentu, dengan kondisi fisik tertentu. Semua itu datang tanpa diminta. Namun di sisi lain, kita juga menyaksikan bagaimana dua orang yang lahir dalam kondisi hampir sama dapat menjalani kehidupan yang sangat berbeda. Yang satu menjadi pemimpin, yang lain menjadi pecundang. Yang satu tumbuh menjadi pribadi bijaksana, yang lain terjebak dalam kemarahan dan kebencian.

Di sinilah muncul perdebatan antara takdir dan kehendak bebas (free will). Sebagian orang melihat hidup sebagai rangkaian peristiwa yang telah ditentukan. Sebagian lainnya percaya bahwa manusia adalah pencipta nasibnya sendiri.

Namun, mungkin persoalannya bukan memilih salah satu di antara keduanya. Takdir dan kehendak bebas bukanlah musuh. Keduanya justru saling melengkapi dalam proses pertumbuhan manusia.

Perspektif ini menjadi lebih menarik ketika dilihat melalui konsep Pancakosha dalam Sanatana Dharma dan Peta Kesadaran David Hawkins.

Takdir sebagai Bahan Baku Kehidupan

Saya teringat sebuah analogi sederhana tentang sepotong kayu. Kayu jati memiliki sifat yang berbeda dengan kayu kamper atau mahoni. Seratnya berbeda, kekuatannya berbeda, aromanya berbeda. Ia tidak memilih menjadi kayu jati atau kayu kamper. Itulah kodratnya.

Demikian pula manusia.

Setiap orang lahir membawa “bahan baku” yang berbeda-beda. Ada yang lahir dengan tubuh sehat, ada yang lahir dengan keterbatasan fisik. Ada yang lahir dalam keluarga berkecukupan, ada yang lahir dalam kemiskinan. Ada yang dianugerahi kecerdasan tinggi, ada yang harus bekerja keras untuk mencapai hal yang sama.

Dalam perspektif Hindu, kondisi-kondisi ini sering dipahami sebagai bagian dari hukum karma. Takdir bukanlah hukuman dari Tuhan, melainkan konsekuensi dari rangkaian sebab-akibat yang panjang.

Melalui lensa Pancakosha, takdir terutama tampak pada lapisan Annamaya Kosha, tubuh fisik, dan sebagian pada Pranamaya Kosha, lapisan energi. Kita tidak memilih tubuh yang kita miliki, tetapi tubuh itulah kendaraan yang diberikan kepada kita.

Dalam bahasa sederhana, takdir adalah titik awal, bukan titik akhir.

Masalahnya, banyak orang mengira bahwa titik awal adalah keseluruhan cerita. Ketika mengalami kesulitan, mereka merasa menjadi korban keadaan. Mereka melihat hidup sebagai sesuatu yang menimpa mereka, bukan sesuatu yang dapat mereka tanggapi secara kreatif.

Di sinilah pentingnya memahami kehendak bebas.

Kehendak Bebas: Kemampuan Memberi Makna pada Takdir

Kehendak bebas bukanlah kemampuan untuk mengubah semua keadaan. Kehendak bebas adalah kemampuan untuk memilih respons terhadap keadaan.

Viktor Frankl, seorang psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi, pernah mengatakan bahwa kebebasan terakhir manusia adalah memilih sikap terhadap situasi yang tidak dapat diubah.

Pandangan ini sangat dekat dengan ajaran para Stoik dan juga filsafat Timur.

Kembali kepada analogi kayu. Kayu jati mungkin tidak dapat memilih menjadi cendana. Namun kayu jati masih dapat menjadi meja yang indah, ukiran yang bernilai seni tinggi, atau sekadar kayu bakar. Potensinya sama, hasil akhirnya berbeda.

Di sinilah kehendak bebas bekerja.

Dalam Pancakosha, kehendak bebas mulai berkembang kuat pada Manomaya Kosha dan terutama Vijnanamaya Kosha. Pada lapisan pikiran dan emosi, manusia mulai memiliki kemampuan untuk merefleksikan dirinya. Pada lapisan kebijaksanaan, manusia mampu melihat konsekuensi dari setiap pilihan yang dibuat.

Dengan kata lain, kehendak bebas bukan sekadar kebebasan memilih apa yang disukai ego. Kehendak bebas adalah kemampuan untuk bertindak secara sadar.

Semakin sadar seseorang, semakin besar kebebasannya.

Sebaliknya, semakin tidak sadar seseorang, semakin ia dikendalikan oleh kebiasaan, ketakutan, kemarahan, dan dorongan-dorongan bawah sadar yang sebenarnya bukan hasil pilihannya.

Peta Kesadaran Hawkins: Dari Korban Takdir Menuju Tanggung Jawab

David Hawkins memberikan perspektif menarik melalui Peta Kesadaran yang terkenal.

Menurut Hawkins, tingkat kesadaran manusia bergerak dari level rendah seperti rasa malu, rasa bersalah, apati, ketakutan, dan kemarahan menuju keberanian, penerimaan, cinta, damai, hingga pencerahan.

Pada tingkat kesadaran rendah, manusia cenderung melihat dirinya sebagai korban takdir.

Segala sesuatu dianggap berasal dari luar dirinya. Kegagalan selalu disebabkan oleh orang lain. Kesulitan hidup dianggap sebagai ketidakadilan nasib. Hidup dipenuhi keluhan dan penolakan.

Dalam kondisi ini, free will sesungguhnya sangat terbatas. Seseorang merasa bebas, tetapi sebenarnya sedang digerakkan oleh rasa takut, kebencian, iri hati, atau keinginan untuk berkuasa.

Perubahan besar terjadi pada level Keberanian (200).

Pada titik ini manusia mulai mengambil tanggung jawab atas hidupnya. Ia berhenti menyalahkan keadaan. Ia mulai bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan?”

Ketika mencapai level Penerimaan (350), seseorang menyadari bahwa tidak semua hal berada dalam kendalinya, tetapi respons terhadap semua hal selalu berada dalam wilayah kebebasannya.

Pada level Cinta (500) dan Damai (600), pertentangan antara takdir dan kehendak bebas mulai mencair. Hidup tidak lagi dipandang sebagai arena pertarungan antara diri dan dunia. Setiap peristiwa menjadi kesempatan belajar dan bertumbuh.

Dalam bahasa spiritual, seseorang mulai melihat bahwa kehidupan memiliki kecerdasan yang lebih besar daripada ego individual.

Peran Guru dan Kesadaran dalam Mengolah Takdir

Dalam analogi kayu, terdapat satu unsur penting yang sering terlupakan: pemahat.

Kayu yang sama dapat menghasilkan karya yang berbeda tergantung pada siapa yang mengolahnya. Dalam kehidupan spiritual, pemahat ini dapat dianalogikan sebagai seorang Sadguru.

Sadguru tidak mengubah kayu jati menjadi kayu kamper. Ia tidak menghapus takdir seseorang. Yang dilakukan adalah membantu melihat potensi tertinggi yang tersembunyi dalam diri murid.

Banyak orang hidup hanya pada lapisan Annamaya Kosha dan Manomaya Kosha. Mereka sibuk dengan tubuh, emosi, dan pikiran. Akibatnya mereka mudah terombang-ambing oleh keadaan.

Peran guru adalah membantu seseorang memasuki Vijnanamaya Kosha, lapisan kebijaksanaan. Dari sana ia mulai melihat pola-pola hidupnya dengan lebih jernih.

Dalam perspektif Hawkins, guru membantu menaikkan tingkat kesadaran seseorang sehingga ia tidak lagi bereaksi secara otomatis terhadap kehidupan.

Takdir yang dahulu tampak sebagai beban mulai dipahami sebagai pelajaran.

Penderitaan yang dahulu dianggap hukuman mulai dipahami sebagai kesempatan pertumbuhan.

Kegagalan yang dahulu dianggap akhir perjalanan mulai dipahami sebagai bagian dari proses pendewasaan.

Pada titik ini, kehidupan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus dilawan, melainkan sesuatu yang harus dipahami.

Ketika Takdir dan Kehendak Bebas Bertemu

Pada akhirnya, takdir dan kehendak bebas bukanlah dua kutub yang saling bertentangan.

Takdir adalah bahan baku kehidupan. Kehendak bebas adalah kemampuan mengolah bahan baku tersebut. Kesadaran adalah kualitas pengolahannya.

Semakin rendah kesadaran seseorang, semakin ia merasa hidupnya ditentukan oleh nasib. Semakin tinggi kesadarannya, semakin ia menyadari bahwa setiap peristiwa dapat menjadi sarana pertumbuhan.

Dalam Pancakosha, perjalanan spiritual adalah perjalanan dari identifikasi dengan tubuh menuju kesadaran yang lebih luas hingga mencapai Anandamaya Kosha, lapisan kebahagiaan sejati. Pada tingkat ini, pertentangan antara takdir dan kehendak bebas mulai menghilang.

Demikian pula dalam Peta Kesadaran Hawkins. Pada tingkat Damai dan Pencerahan, manusia tidak lagi sibuk mempertahankan kehendak ego. Ia menemukan keselarasan dengan arus kehidupan yang lebih besar.

Inilah makna terdalam dari kebebasan. Bukan kebebasan untuk melakukan apa saja, melainkan kebebasan untuk menjadi diri yang sejati. Bukan kebebasan melawan takdir, melainkan kebebasan untuk mewujudkan potensi tertinggi yang terkandung di dalam takdir itu sendiri.

Seperti sepotong kayu di tangan pemahat agung, kehidupan setiap manusia menyimpan kemungkinan-kemungkinan yang belum terwujud. Takdir menyediakan kayunya. Kehendak bebas menyediakan kesediaan untuk dibentuk. Kesadaran menentukan keindahan hasil akhirnya. Dan di sanalah perjalanan manusia menemukan maknanya. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hawkinskebebasanpancakoshatakdir
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Next Post

 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co