14 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 14, 2026
in Esai
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai

Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentukan oleh takdir, ataukah manusia memiliki kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri? Pertanyaan ini hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari filsafat Yunani, ajaran agama-agama besar, hingga ilmu pengetahuan modern.

Di satu sisi, kita melihat banyak hal yang tampaknya sudah ditentukan. Tidak seorang pun memilih untuk lahir dari orang tua tertentu, di negara tertentu, dengan kondisi fisik tertentu. Semua itu datang tanpa diminta. Namun di sisi lain, kita juga menyaksikan bagaimana dua orang yang lahir dalam kondisi hampir sama dapat menjalani kehidupan yang sangat berbeda. Yang satu menjadi pemimpin, yang lain menjadi pecundang. Yang satu tumbuh menjadi pribadi bijaksana, yang lain terjebak dalam kemarahan dan kebencian.

Di sinilah muncul perdebatan antara takdir dan kehendak bebas (free will). Sebagian orang melihat hidup sebagai rangkaian peristiwa yang telah ditentukan. Sebagian lainnya percaya bahwa manusia adalah pencipta nasibnya sendiri.

Namun, mungkin persoalannya bukan memilih salah satu di antara keduanya. Takdir dan kehendak bebas bukanlah musuh. Keduanya justru saling melengkapi dalam proses pertumbuhan manusia.

Perspektif ini menjadi lebih menarik ketika dilihat melalui konsep Pancakosha dalam Sanatana Dharma dan Peta Kesadaran David Hawkins.

Takdir sebagai Bahan Baku Kehidupan

Saya teringat sebuah analogi sederhana tentang sepotong kayu. Kayu jati memiliki sifat yang berbeda dengan kayu kamper atau mahoni. Seratnya berbeda, kekuatannya berbeda, aromanya berbeda. Ia tidak memilih menjadi kayu jati atau kayu kamper. Itulah kodratnya.

Demikian pula manusia.

Setiap orang lahir membawa “bahan baku” yang berbeda-beda. Ada yang lahir dengan tubuh sehat, ada yang lahir dengan keterbatasan fisik. Ada yang lahir dalam keluarga berkecukupan, ada yang lahir dalam kemiskinan. Ada yang dianugerahi kecerdasan tinggi, ada yang harus bekerja keras untuk mencapai hal yang sama.

Dalam perspektif Hindu, kondisi-kondisi ini sering dipahami sebagai bagian dari hukum karma. Takdir bukanlah hukuman dari Tuhan, melainkan konsekuensi dari rangkaian sebab-akibat yang panjang.

Melalui lensa Pancakosha, takdir terutama tampak pada lapisan Annamaya Kosha, tubuh fisik, dan sebagian pada Pranamaya Kosha, lapisan energi. Kita tidak memilih tubuh yang kita miliki, tetapi tubuh itulah kendaraan yang diberikan kepada kita.

Dalam bahasa sederhana, takdir adalah titik awal, bukan titik akhir.

Masalahnya, banyak orang mengira bahwa titik awal adalah keseluruhan cerita. Ketika mengalami kesulitan, mereka merasa menjadi korban keadaan. Mereka melihat hidup sebagai sesuatu yang menimpa mereka, bukan sesuatu yang dapat mereka tanggapi secara kreatif.

Di sinilah pentingnya memahami kehendak bebas.

Kehendak Bebas: Kemampuan Memberi Makna pada Takdir

Kehendak bebas bukanlah kemampuan untuk mengubah semua keadaan. Kehendak bebas adalah kemampuan untuk memilih respons terhadap keadaan.

Viktor Frankl, seorang psikiater yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi, pernah mengatakan bahwa kebebasan terakhir manusia adalah memilih sikap terhadap situasi yang tidak dapat diubah.

Pandangan ini sangat dekat dengan ajaran para Stoik dan juga filsafat Timur.

Kembali kepada analogi kayu. Kayu jati mungkin tidak dapat memilih menjadi cendana. Namun kayu jati masih dapat menjadi meja yang indah, ukiran yang bernilai seni tinggi, atau sekadar kayu bakar. Potensinya sama, hasil akhirnya berbeda.

Di sinilah kehendak bebas bekerja.

Dalam Pancakosha, kehendak bebas mulai berkembang kuat pada Manomaya Kosha dan terutama Vijnanamaya Kosha. Pada lapisan pikiran dan emosi, manusia mulai memiliki kemampuan untuk merefleksikan dirinya. Pada lapisan kebijaksanaan, manusia mampu melihat konsekuensi dari setiap pilihan yang dibuat.

Dengan kata lain, kehendak bebas bukan sekadar kebebasan memilih apa yang disukai ego. Kehendak bebas adalah kemampuan untuk bertindak secara sadar.

Semakin sadar seseorang, semakin besar kebebasannya.

Sebaliknya, semakin tidak sadar seseorang, semakin ia dikendalikan oleh kebiasaan, ketakutan, kemarahan, dan dorongan-dorongan bawah sadar yang sebenarnya bukan hasil pilihannya.

Peta Kesadaran Hawkins: Dari Korban Takdir Menuju Tanggung Jawab

David Hawkins memberikan perspektif menarik melalui Peta Kesadaran yang terkenal.

Menurut Hawkins, tingkat kesadaran manusia bergerak dari level rendah seperti rasa malu, rasa bersalah, apati, ketakutan, dan kemarahan menuju keberanian, penerimaan, cinta, damai, hingga pencerahan.

Pada tingkat kesadaran rendah, manusia cenderung melihat dirinya sebagai korban takdir.

Segala sesuatu dianggap berasal dari luar dirinya. Kegagalan selalu disebabkan oleh orang lain. Kesulitan hidup dianggap sebagai ketidakadilan nasib. Hidup dipenuhi keluhan dan penolakan.

Dalam kondisi ini, free will sesungguhnya sangat terbatas. Seseorang merasa bebas, tetapi sebenarnya sedang digerakkan oleh rasa takut, kebencian, iri hati, atau keinginan untuk berkuasa.

Perubahan besar terjadi pada level Keberanian (200).

Pada titik ini manusia mulai mengambil tanggung jawab atas hidupnya. Ia berhenti menyalahkan keadaan. Ia mulai bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan?”

Ketika mencapai level Penerimaan (350), seseorang menyadari bahwa tidak semua hal berada dalam kendalinya, tetapi respons terhadap semua hal selalu berada dalam wilayah kebebasannya.

Pada level Cinta (500) dan Damai (600), pertentangan antara takdir dan kehendak bebas mulai mencair. Hidup tidak lagi dipandang sebagai arena pertarungan antara diri dan dunia. Setiap peristiwa menjadi kesempatan belajar dan bertumbuh.

Dalam bahasa spiritual, seseorang mulai melihat bahwa kehidupan memiliki kecerdasan yang lebih besar daripada ego individual.

Peran Guru dan Kesadaran dalam Mengolah Takdir

Dalam analogi kayu, terdapat satu unsur penting yang sering terlupakan: pemahat.

Kayu yang sama dapat menghasilkan karya yang berbeda tergantung pada siapa yang mengolahnya. Dalam kehidupan spiritual, pemahat ini dapat dianalogikan sebagai seorang Sadguru.

Sadguru tidak mengubah kayu jati menjadi kayu kamper. Ia tidak menghapus takdir seseorang. Yang dilakukan adalah membantu melihat potensi tertinggi yang tersembunyi dalam diri murid.

Banyak orang hidup hanya pada lapisan Annamaya Kosha dan Manomaya Kosha. Mereka sibuk dengan tubuh, emosi, dan pikiran. Akibatnya mereka mudah terombang-ambing oleh keadaan.

Peran guru adalah membantu seseorang memasuki Vijnanamaya Kosha, lapisan kebijaksanaan. Dari sana ia mulai melihat pola-pola hidupnya dengan lebih jernih.

Dalam perspektif Hawkins, guru membantu menaikkan tingkat kesadaran seseorang sehingga ia tidak lagi bereaksi secara otomatis terhadap kehidupan.

Takdir yang dahulu tampak sebagai beban mulai dipahami sebagai pelajaran.

Penderitaan yang dahulu dianggap hukuman mulai dipahami sebagai kesempatan pertumbuhan.

Kegagalan yang dahulu dianggap akhir perjalanan mulai dipahami sebagai bagian dari proses pendewasaan.

Pada titik ini, kehidupan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang harus dilawan, melainkan sesuatu yang harus dipahami.

Ketika Takdir dan Kehendak Bebas Bertemu

Pada akhirnya, takdir dan kehendak bebas bukanlah dua kutub yang saling bertentangan.

Takdir adalah bahan baku kehidupan. Kehendak bebas adalah kemampuan mengolah bahan baku tersebut. Kesadaran adalah kualitas pengolahannya.

Semakin rendah kesadaran seseorang, semakin ia merasa hidupnya ditentukan oleh nasib. Semakin tinggi kesadarannya, semakin ia menyadari bahwa setiap peristiwa dapat menjadi sarana pertumbuhan.

Dalam Pancakosha, perjalanan spiritual adalah perjalanan dari identifikasi dengan tubuh menuju kesadaran yang lebih luas hingga mencapai Anandamaya Kosha, lapisan kebahagiaan sejati. Pada tingkat ini, pertentangan antara takdir dan kehendak bebas mulai menghilang.

Demikian pula dalam Peta Kesadaran Hawkins. Pada tingkat Damai dan Pencerahan, manusia tidak lagi sibuk mempertahankan kehendak ego. Ia menemukan keselarasan dengan arus kehidupan yang lebih besar.

Inilah makna terdalam dari kebebasan. Bukan kebebasan untuk melakukan apa saja, melainkan kebebasan untuk menjadi diri yang sejati. Bukan kebebasan melawan takdir, melainkan kebebasan untuk mewujudkan potensi tertinggi yang terkandung di dalam takdir itu sendiri.

Seperti sepotong kayu di tangan pemahat agung, kehidupan setiap manusia menyimpan kemungkinan-kemungkinan yang belum terwujud. Takdir menyediakan kayunya. Kehendak bebas menyediakan kesediaan untuk dibentuk. Kesadaran menentukan keindahan hasil akhirnya. Dan di sanalah perjalanan manusia menemukan maknanya. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hawkinskebebasanpancakoshatakdir
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Next Post

 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Bung Karno dalam Puisi   

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
0
Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

Read moreDetails

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

Read moreDetails

Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

by Angga Wijaya
June 11, 2026
0
Bali Lupa Menyembuhkan Dirinya Sendiri

SUATU pagi di Ubud, seorang wisatawan asing duduk bersila di atas matras yoga. Ia memejamkan mata. Di hadapannya terbentang hamparan...

Read moreDetails

Tempe dan Ekonomi yang Teriris

by Dodik Suprayogi
June 11, 2026
0
Tempe dan Ekonomi yang Teriris

DI atas meja makan rumah tangga Indonesia, tempe bukan sekadar lauk pendamping yang hadir sebagai pelengkap nasi. Melainkan pilar ketahanan...

Read moreDetails

Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

by Chandra Manikan
June 10, 2026
0
Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka...

Read moreDetails

‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

by Agung Sudarsa
June 10, 2026
0
‘Be The Change’, Jadilah Bagian dari For HATI Bali dalam Kebersamaan

Dari Puputan Badung Menuju Perjuangan Zaman Kini PADA tanggal 20 September 1906, dunia menyaksikan sebuah peristiwa yang hingga kini masih...

Read moreDetails

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

by Abdul Karim Abraham
June 9, 2026
0
GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis...

Read moreDetails

Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

by I Nyoman Tingkat
June 9, 2026
0
Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

JUNIadalah bulan keenam dalam Tarikh Kalender Masehi, semua orang tahu. Juni adalah bulan pertengahan tahun, semua orang juga tahu. Juni...

Read moreDetails

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

by Dede Putra Wiguna
June 9, 2026
0
Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

 “Kalau menurutmu, apa yang paling menentukan nasib manusia?” tanya Wayan Tulus sambil memeriksa saluran air yang mengaliri sawahnya. Di sampingnya,...

Read moreDetails

Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi...

Read moreDetails
Next Post
 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB
Panggung

Mendengar Kembali Bunyi yang Terlupakan: Catatan atas Pertunjukan Gula Gending 2.0 di Taman Budaya NTB

ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas...

by Jaswanto
June 14, 2026
 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara
Budaya

 ‘Sang Jaratkaru’ dari Buleleng pada Peed Aya PKB 2026: Presentasi Kejayaan dan Karakteristik Budaya Bali Utara

DENPASAR – TATKALA.CO |  Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta...

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins
Esai

Takdir dan Kehendak Bebas: Membaca Ulang Kehidupan melalui Pancakosha dan Peta Kesadaran Hawkins

Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu...

by Agung Sudarsa
June 14, 2026
Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali
Panggung

Tari Siwanataraja, Simbol Awal Penciptaan yang Selalu Hadir dalam Peed Aya Pesta Kesenian Bali

Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang...

by Nyoman Budarsana
June 14, 2026
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti
Cerpen

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan
Puisi

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

by IRZI
June 13, 2026
Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan
Budaya

Bupati Sutjidra Buka Banjar Festival 2026: Wujudkan Kolaborasi Budaya dan Penguatan Ekonomi Kerakyatan

BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita...

by tatkala
June 13, 2026
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word
Ulas Rupa

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi
Bahasa

Ketika Prasasti Keluar dari Kamus Arkeologi

SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan...

by I Made Sudiana
June 13, 2026
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan
Ulas Musik

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
Bung Karno dalam Puisi   
Esai

Bung Karno dalam Puisi   

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus...

by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka...

by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co