20 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bung Karno dalam Puisi   

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
June 13, 2026
in Esai
Bung Karno dalam Puisi   

Bung Karno

BUNG Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Dari 8 PresidenIndonesia,Bung Karno, Abdul Rachman Wahid (Gus Dur), dan Susilo Bambang Yudoyonomenonjol bakat seninya. Bung Karno adalah presiden Indonesia yang memiliki cita rasa seni yang tinggi.Bung Karno tidak hanyamacan podium yang berani menggebrak meja di forum-forum dunia terhormat, tetapi juga memiliki hati yang lembut. Jangankan Malaysia, yang bertetangga berani di-gamal-kan “Ganyang  Malaysia” saat konfrontasi Indonesia Malaysia. Amerika dan Inggris pun dilucuti. “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis,” kata Bung Karno mahaberani.

Gus Dur, Presiden ke-4 RI juga memiliki selera humor tingkat tinggi. Dalam satu pesawat dari lawatan ke luar negeri, berdialoglah Gus Dur dengan Romo. Kata Romo, “Gus,    sambil menawarkan daging babi. Daging paling enak sedunia”.

“Maaf, saya Muslim tidak makan daging babi.” Gus Dur menjawab..

Giliran Gus Dur sampai Bandara Soekarno- Hatta dijemput oleh istrinya. “Romo, ini istri saya sudah menjemput. Istri Romo mana?” tanya Gus Dur.

“Maaf, Gus. Aku tidak punya istri, Gus,” jawab Romo.

“Aduh…  itu daging paling enak sedunia, Romo!” jawab Gus Dur sambil lalu.

SBY juga punya cita rasa seni yang tinggi. Selain menulis syair lagu,  menyanyi, dan melukis, ia juga memiliki istri dengan bakat seni fotografi. Setiap kali kunjungan ke mana saja, lebih-lebih saat mendampingi suami membuka Pesta Kesenian Bali (PKB), Ani Yudonono selalu membidikkan lensa kamera. Untuk mendokumentasikan karya-karyanya, SBY juga memiliki Museum di Blitar. Seorang pemimpin dengan naluri seni dapat mengorkestrasi tugas-tugas kepemimpinannya menjadi variatif dan menggairahkan.

 Namun demikian, kesenimanan Bung Karno melampaui kesenimanan Gus Dur dan SBY. Bung Karno selain penulis naskah Toneel (drama, teater), ia juga sutradara, manajer, dan produser sekaligus penyair. Kesenimanan  Bung Karno memang lengkap. Puisi karya Bung Karno terkenal adalah ”Aku Melihat Indonesia” ditulis sekitar 1930 – 1940-an. Jika memperhatikan secara historis, produktivitas Bung Karno dalam berkesenian pada dekade itu, ia berada pada masa tahanan Penjara Belanda. Namun, tahanan baginya bukan mematikan ide, melainkan menghidupkan ide dengan membayangkan Indonesia ke depan. Bayangan itu, terpatri dalam puisi dan tercurah dalam toneel yang diteaterkan. Teater baginya adalah jalan menusuk lawan (penjajah) dengan mengalihwahanakan cerita daerah dalam pentas. Hanya orang berkecerdasan di atas rata-rata  yang mampu untuk pekerjaan demikian di tengah tekanan dalam pengasingan.

Puisi  “Aku Melihat Indonesia” termuat dalam buku  Puisi-Puisi Revolusi Bung Karno terbit pertama 2002 oleh Penerbit Yayasan Seni dan Budaya Gema Patriot, Jakarta. Buku ini suntingan Maman S. Tegeg.  Menurutnya, secara khusus petikan pidato Bung Karno sering dideklamasikan sebagai dasar menjadikan Kumpulan Puisi. “Saat orang terhanyut oleh pidato Bung Karno yang berapi-api, ada segelintir orang yang menikmatinya sebagai deklamasi puisi. Barangkali karena itulah, buku ini ada. Salam puisi”.

Puisi  “Aku Melihat Indonesia” mengingatkan saya pada buku Komunitas Terbayang (Imagined Communities) dari Benedict Anderson yang berintikan sebuah bangsa sebagai komunitas yang dibangun secara sosial, dengan anggota-anggotanya merasa terhubung meski tidak saling kenal secara langsung. Dalam konteks Indonesia, komunitas terbayang itu adalah entitas bangsa yang terdiri atas puluhan ribu pulau dengan keanekaragamannya.

Jikalau aku berdiri di Pantai Ngliyep
Aku mendengar laut Hindia bergelora
Membanting di pantai Ngliyep itu
Aku mendengar lagu, sajak Indonesia

Begitu seterusnya Bung Karno membayangkan alam (sawah, gunung, laut), budaya daerah (lagu merdu Batak, Pangkur Palaran), flora fauna (pohon ditiup angin, burung perkutut, menghirup udara). Semua itu adalah reflika Indonesia. Bait terakhir dari puisi “Aku Melihat Indonesia”  Bung Karno menutup dengan harapan anak-anak yang ingin Merdeka :

Jikalau aku melihat wajah anak-anak
Di desa-desa dengan mata yang bersinar-sinar
“Pak Merdeka; Pak Merdeka; Pak Merdeka!”
Aku bukan lagi melihat mata manusia
Aku melihat Indonesia.

Dalam buku itu Bung Karno juga mengkritik lahirnya Politikus Salon. Puisinya diberi judul “Janganlah Menjadi Politikus Salon” berisi kritik  pada politikus yang tidak faham dengan kerjanya :

Janganlah jadi politikus salon!
Lebih dari separo
Politisi kita adalah politisi salon
Yang mengenal Marhaen
Hanya dari sebutan saja

Kritik Bung Karno tentang Politikus Salon ternyata mendahului politik citra yang dibayangkan  jauh sebelum Pemilu Langsung.  Kini pencitraan politik sangatlah kental bahkan melampaui kenyataan yang disebut hiperealitas. Politik siluman model inilah yang disebut simulacra. Dunia penuh simulasi. Simulasinya juga berbayar mahal. Tanpa bayaran siapa mau datang. Kompak kadang bergantung pada isi kompek.  Lain simulasinya, lain faktanya. Inilah yang melahirkan kebenaran baru yang berbeda dengan kebenaran itu sendiri. Ibarat ijazah mesti bisa dibedakan yang identik dengan yang orisinal.

Apa yang disebut Bung Karno sebagai Politikus Salon mengingatkan saya pada “Sajak Palsu”-nya Agus R. Sarjono yang berisi kritik pedas kepada dunia Pendidikan. Dunia pendidikan yang penuh kepura-puraan. Mochtar Lubis menyebutnya munafik sebagai salah satu ciri manusia Indonesia. “Selamat Pagi, Pak. Selamat Pagi, Bu ucap anak sekolah dengan sapaan palsu”. Bahkan kepalsuan demi kepalsuan dibungkus dengan ayat-ayat suci agama  yang bermetamorfosisis menjadi ayat-ayat setan. Dalam konteks Hindu inilah yang disebut sebagai kecenderungan keraksasaan daripada  kedewataan. 

Boleh jadi, dengan darah Ibu Ida Ayu Nyoman Rai, membuat Bung Karno dekat dengan Bali yang Hindu. Kutipan sloka Hindu pun menyelinap dalam pidatonya, seperti Satyam Eva Jayate, yang disandingkan dengan konsep berdikari secara ekonomi. Slogan ini dijadikan corong oleh PDIP dalam berbagai kegiatan Partai.

Begitulah Bung Karno pidatonya lantang berapi-api sering terselip kata yang puitis sehingga cuplikan pidatonya pun dideklamasikan anak-anak sekolah. Karena dideklamasikan, Bung Karno hidup dalam puisi. Karena gizi batinnyalah, Bung Karno merasuk ke hati rakyat yang dipimpinnya. Orang Jawa menyebutnya manunggaling kaula – Gusti. Jika di dalam Alinea kedua Pembukaan UUD 1945, diterakan dengan pernyataan : …mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pinta gerbang kemerdekaan Negara Indonesia…”, maka penghuni halaman rumah  hingga kamar Indonesia sesungguhnya sudah disiapkan makanan batin bergizi oleh Si Bung :  Puisi pembakar semangat keteladanan. [T]

Penulis: I Nyoman Tiingkat
Editor: Adnyana Ole

Tags: Bung KarnoPuisiSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

Next Post

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails
Next Post
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co