20 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

Ahmad Prasetya Hady by Ahmad Prasetya Hady
June 12, 2026
in Esai
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

Ahmad Prasetya Hady

SAYA menulis ini bukan hanya untuk diri saya sendiri, tetapi untuk banyak seniman yang mungkin merasakan hal yang sama. Mereka yang menghabiskan waktu bertahun-tahun menempuh pendidikan tinggi di bidang seni, mulai dari S1, S2, hingga S3.

Mereka yang mengabdikan hidupnya untuk belajar, meneliti, mencipta, mengajar, dan menjaga keberlangsungan kebudayaan. Mereka yang menghabiskan puluhan tahun bergelut dalam praktik seni dengan keyakinan bahwa ilmu, pengalaman, dan dedikasi akan mendapatkan tempat yang layak di tengah masyarakat.

Namun kenyataan yang kami hadapi sering kali jauh berbeda dari harapan.

Banyak dari kami yang hidup dalam ketidakpastian. Tidak sedikit yang menganggur, bekerja serabutan, atau kesulitan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Ironisnya, kondisi ini terjadi bukan karena kami tidak memiliki kemampuan atau pendidikan, melainkan karena bidang yang kami tekuni sering kali dianggap tidak memiliki nilai ekonomi yang penting. Seni dipuji dalam pidato, dipamerkan dalam festival, dibanggakan sebagai identitas bangsa, tetapi para pelaku seninya justru sering kali hidup dalam kesulitan.

Sebagai seniman, kami tidak hanya menciptakan karya. Kami melakukan riset, membaca teori, memahami sejarah, melakukan eksperimen, dan mengembangkan berbagai gagasan yang lahir dari proses intelektual yang panjang.

Karya yang terlihat sederhana di mata sebagian orang bisa jadi merupakan hasil pemikiran dan kerja keras selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Namun yang sering terjadi adalah karya tersebut dihargai sangat rendah, ditawar tanpa rasa hormat, atau bahkan diminta secara cuma-cuma atas nama “dukungan”, “kolaborasi”, atau alasan-alasan lain yang tidak pernah diminta kepada profesi-profesi lain.

Tidak sedikit seniman yang pernah mendengar kalimat seperti, “Kan cuma gambar,” “Kan cuma pertunjukan,” “Kan cuma hobi,” atau “Nanti dapat exposure.” Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar sepele, tetapi sesungguhnya menunjukkan betapa rendahnya penghargaan terhadap kerja seni di masyarakat kita.

Yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa banyak orang menikmati hasil karya seni setiap hari tanpa menyadari keberadaan para penciptanya. Mereka menikmati musik, film, desain, ilustrasi, pertunjukan, karya rupa, dan berbagai bentuk ekspresi budaya lainnya. Namun ketika berbicara tentang kesejahteraan seniman, persoalan itu sering dianggap tidak penting.

Kami seolah hanya dibutuhkan ketika diperlukan untuk mempercantik panggung.

Ketika ada festival, pameran, perayaan, peluncuran program, acara resmi, atau momentum tertentu, seniman dipanggil untuk mengisi ruang-ruang tersebut. Seni digunakan untuk menciptakan suasana, membangun citra, dan menunjukkan kekayaan budaya. Namun setelah acara selesai, lampu dipadamkan, dan para tamu pulang, senimannya kembali menghadapi kenyataan yang sama: mencari cara agar bisa tetap hidup dan berkarya.

Inilah ironi yang selama ini jarang dibicarakan secara jujur.

Negeri ini sering berbicara tentang pentingnya kebudayaan. Kita bangga menyebut diri sebagai bangsa yang kaya akan seni dan tradisi. Kita senang memamerkan kebudayaan kepada dunia internasional. Kita menjadikan seni sebagai simbol identitas nasional. Namun pada saat yang sama, banyak pelaku seni yang justru tidak mendapatkan perhatian yang memadai.

Pertanyaannya sederhana: bagaimana mungkin sebuah bangsa mengaku mencintai kebudayaannya jika para penjaga kebudayaan itu sendiri hidup dalam ketidakpastian?

Bagaimana mungkin kita berbicara tentang kemajuan kebudayaan jika banyak lulusan seni yang kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya?

Apa gunanya mendorong generasi muda untuk belajar seni hingga jenjang tertinggi jika setelah lulus mereka justru dihadapkan pada kenyataan bahwa ilmu dan keahlian mereka tidak memiliki ruang yang cukup untuk berkembang?

Banyak program yang diklaim sebagai upaya pembangunan dan pembukaan lapangan kerja. Banyak proyek yang diluncurkan dengan berbagai istilah modern dan slogan yang terdengar menjanjikan. Namun sering kali program-program tersebut tidak benar-benar menyentuh kebutuhan para seniman dan pekerja budaya. Yang terlihat justru pembangunan yang lebih berorientasi pada pencitraan, seremoni, dan proyek-proyek yang menghasilkan kebanggaan sesaat, sementara persoalan kesejahteraan pelaku seni tetap berada di pinggir pembahasan.

Kami melihat bagaimana banyak sumber daya dihabiskan untuk hal-hal yang dianggap prestisius, sementara para seniman yang telah mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk pendidikan dan praktik seni harus berjuang sendiri agar tetap bertahan.

Padahal seni bukan sekadar hiburan.

Seni adalah cara sebuah bangsa berpikir tentang dirinya sendiri. Seni adalah ruang kritik, refleksi, pendidikan, dan kemanusiaan. Seni merekam sejarah, merawat identitas, dan membangun kesadaran sosial. Seni bukan pelengkap pembangunan. Seni adalah bagian dari pembangunan itu sendiri.

Ironisnya, ketika berbicara tentang profesi lain, masyarakat memahami bahwa keahlian harus dihargai. Dokter dihargai karena ilmunya. Insinyur dihargai karena keahliannya. Akademisi dihargai karena pengetahuannya. Tetapi ketika seorang seniman meminta penghargaan yang layak atas karya dan pengalamannya, masih banyak yang menganggapnya berlebihan.

Mengapa? Apakah karena karya seni tidak selalu berbentuk angka?Apakah karena manfaat seni tidak selalu bisa dihitung dengan statistik ekonomi?Ataukah karena selama ini masyarakat telah terbiasa menikmati seni tanpa pernah benar-benar memikirkan kehidupan para penciptanya?

Yang kami tuntut sebenarnya sangat sederhana. Kami tidak meminta kemewahan. Kami tidak meminta perlakuan istimewa. Kami tidak meminta untuk dipuja. Kami hanya meminta agar profesi seniman diperlakukan dengan hormat. Kami meminta agar pendidikan seni tidak dianggap sebagai jalan buntu. Kami meminta agar pengalaman puluhan tahun dalam praktik seni memiliki nilai yang diakui. Kami meminta agar karya yang lahir dari proses panjang tidak terus-menerus diremehkan.

Kami ingin hidup layak dari profesi yang telah kami tekuni sepanjang hidup.

Karena sesungguhnya tidak ada yang salah dengan menjadi seniman. Yang salah adalah sistem yang terus-menerus menempatkan seni sebagai sesuatu yang penting secara simbolik tetapi tidak penting secara nyata. Yang salah adalah ketika kebudayaan dijadikan slogan, sementara para pelaku kebudayaan dibiarkan berjuang sendirian.

Sudah terlalu lama seniman diajarkan untuk bertahan hidup hanya dengan idealisme. Seolah-olah kecintaan terhadap seni harus dibayar dengan kemiskinan. Seolah-olah pengabdian terhadap kebudayaan harus diterima sebagai alasan untuk hidup dalam ketidakpastian.

Tidak ada profesi lain yang secara terus-menerus diminta berkorban seperti itu. Dan karena itulah, suara ini perlu disampaikan. Bukan untuk mengeluh. Bukan untuk mencari belas kasihan. Tetapi untuk mengingatkan bahwa di balik setiap karya yang dinikmati masyarakat, ada manusia yang bekerja, berpikir, belajar, dan berjuang.

Ada seniman yang menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk menjaga nyala kebudayaan agar tidak padam. Jika keadaan ini terus dibiarkan, jangan heran jika semakin banyak seniman yang memilih meninggalkan profesinya. Jangan heran jika generasi muda mulai ragu menempuh pendidikan seni karena melihat masa depan yang tidak menjanjikan. Jangan heran jika ruang-ruang budaya perlahan kehilangan kehidupan karena mereka yang seharusnya menjaganya tidak lagi mampu bertahan.

Sebab yang sedang kita hadapi hari ini bukanlah krisis kreativitas. Seniman Indonesia tidak kekurangan kreativitas, gagasan, atau kemampuan. Yang sedang kita hadapi adalah krisis penghargaan.

Dan ketika sebuah bangsa gagal menghargai para senimannya, sesungguhnya bangsa itu sedang perlahan kehilangan salah satu bagian terpenting dari jiwanya sendiri. Karena kebudayaan tidak pernah hidup dari gedung-gedung megah, slogan-slogan indah, atau acara-acara seremonial semata.

Kebudayaan hidup dari manusia-manusia yang menciptakannya.

Dan hari ini, banyak dari manusia-manusia itu sedang berteriak dalam diam. Mereka adalah para seniman berpendidikan, para praktisi yang telah mengabdikan hidupnya untuk seni, yang terus berkarya meski sering diabaikan, diremehkan, dan dilupakan.

Sudah saatnya suara mereka didengar. Sudah saatnya penghargaan terhadap seni diwujudkan bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam tindakan nyata yang memungkinkan para seniman hidup dengan martabat yang layak. Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung-gedung tinggi, melainkan bangsa yang mampu menghargai orang-orang yang menjaga jiwa dan kebudayaannya. [T]

Penulis: Ahmad Prasetya Hady
Editor: Adnyana Ole

Tags: Seniseniman
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Storynomics Tourism Berbasis Kearifan Lokal —Catatan dari PkM Undiksha di Komunitas Wanayana Kayoman dan Sekolah Adat Manik Empul, Desa Pedawa

Next Post

Bung Karno dalam Puisi   

Ahmad Prasetya Hady

Ahmad Prasetya Hady

Dosen Kajian Film Televisi dan Media UPN "Veteran" Jakarta

Related Posts

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
0
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

Read moreDetails

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

Read moreDetails

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails
Next Post
Bung Karno dalam Puisi   

Bung Karno dalam Puisi   

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU
Esai

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta
Ulas Rupa

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

by Emi Suy
October 19, 2026
Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental
Olahraga

Tak Sekadar Berlari, Mamaka Fun Run Vol. 3 Bawa Misi Edukasi Kesehatan Mental

KETIKA musik mulai diputar, tangan para peserta terangkat di atas kepala. Mereka bertepuk tangan mengikuti irama lagu “Gemu Fa Mi...

by Nyoman Budarsana
October 19, 2026
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata
Esai

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

by Angga Wijaya
October 19, 2026
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra
Esai

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya
Ulas Musik

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co