12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

Chandra Manikan by Chandra Manikan
June 10, 2026
in Esai
Pemerintah dan Komunitas, Dua Logika Tak Pernah Bertemu: Ketika Partisipasi Berhenti di Permukaan

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PERBEDAAN pandangan antara pemerintah dan komunitas, terutama komunitas orang muda sering dianggap sebagai persoalan komunikasi. Seolah-olah, jika dialog diperbaiki, maka kesalahpahaman akan selesai. Namun masalahnya tidak sesederhana itu, yang sebenarnya terjadi adalah benturan dua logika yang berbeda secara mendasar: cara pemerintah dan komunitas memahami ruang, kekuasaan, dan partisipasi memang tidak pernah benar-benar berada dalam kerangka yang sama.

Pemerintah bekerja dalam logika administratif. Ruang dipahami sebagai objek yang harus ditata, dikendalikan, dan diatur melalui prosedur formal. Kebijakan diproduksi melalui mekanisme birokratis, dan partisipasi ditempatkan sebagai tahapan yang harus dilalui, lebih sebagai syarat legitimasi daripada arena perundingan. Dalam kerangka ini, partisipasi bersifat terukur, terdokumentasi, dan tetap berada dalam kendali institusi. Ia hadir sebagai konsultasi, bukan sebagai distribusi kekuasaan.

Sebaliknya, komunitas bekerja dalam logika yang lebih eksperimental dan kolektif. Mereka memproduksi ruang melalui praktik: diskusi, pertunjukan, riset alternatif, hingga gerakan sosial. Bagi mereka, ruang bukan sekadar lokasi fisik atau forum resmi, melainkan pengalaman hidup yang terus dinegosiasikan. Perspektif ini tidak selalu kompatibel dengan struktur birokrasi yang menuntut kepastian, stabilitas, dan prosedural.

Di sinilah ketegangan bermula, ketika pemerintah membuka ruang partisipasi, yang sering terjadi adalah partisipasi tanpa kekuasaan. Usulan masyarakat didengar, tetapi tidak menentukan. Aspirasi dikumpulkan, tetapi tidak mengikat. Ketika usulan hanya dijadikan bahan pertimbangan tanpa distribusi kewenangan nyata, partisipasi berubah menjadi simbol legitimasi, bukan transformasi kekuasaan.

Dalam kerangka Sherry Arnstein, kondisi ini berada pada level tokenism, di mana partisipasi hadir secara formal, tetapi tidak disertai distribusi kewenangan yang nyata. Dengan kata lain, masyarakat diundang untuk berbicara, tetapi tidak untuk memutuskan. Masalah ini, sudah dimulai sejak pemerintah membuka ruang partisipasi itu sendiri.

Seperti yang diingatkan John Gaventa, kekuasaan tidak hanya bekerja melalui apa yang terlihat, tetapi juga melalui apa yang tersembunyi dan tidak disadari. Dalam banyak kasus, arah kebijakan telah ditentukan sebelum ruang partisipasi dibuka. Agenda sudah dibentuk, batas diskusi sudah ditetapkan. Partisipasi kemudian menjadi ritual administratif: dilakukan, dicatat, dan digunakan untuk memperkuat legitimasi.

Di sisi lain, komunitas tidak tinggal diam. Mereka menciptakan ruangnya sendiri; ruang alternatif yang otonom, fleksibel, dan seringkali lebih hidup. Namun ruang ini berjalan paralel dengan ruang negara, tanpa pernah benar-benar bertemu dalam satu arena yang setara. Apa yang terjadi kemudian adalah fragmentasi. Negara memiliki ruangnya sendiri. Komunitas memiliki ruang tandingannya. Keduanya berjalan berdampingan, tetapi tidak pernah bernegosiasi dalam distribusi kuasa yang nyata.

Dalam perspektif Henri Lefebvre, ini bisa dibaca sebagai konflik produksi ruang. Negara memproduksi ruang yang terkonsepsi: dirancang, dirasionalisasi, dan diatur. Sementara komunitas memproduksi ruang yang dihidupi: dialami, dirasakan, dan dijalankan dalam praktik sehari-hari. Ketika ruang yang dirancang negara (dalam hal ini dibaca sebagai pemerintah) tidak memberi tempat bagi ruang yang dihidupi masyarakat, yang muncul bukan sekadar perbedaan pandangan, tapi segregasi politik. Dari sini, muncul rasa saling curiga yang tidak terhindarkan.

Pemerintah melihat komunitas sebagai tidak terstruktur dan sporadis. Komunitas melihat pemerintah sebagai kaku, hierarkis, dan hegemonik. Namun ketegangan ini bukan semata kegagalan dialog. Ia adalah hasil dari desain struktur kekuasaan yang tidak memungkinkan redistribusi otoritas. Dengan demikian, problem utama bukan absennya partisipasi, melainkan absennya transformasi kekuasaan.

Dalam konteks ini, gagasan co-production sering ditawarkan sebagai jalan keluar. Ia menjanjikan hubungan yang lebih setara antara negara dan warga, di mana kebijakan tidak hanya dibuat untuk masyarakat, tetapi bersama masyarakat. Secara ideal, co-production dapat menjadi infrastruktur politik baru: memperkuat kapasitas warga, membuka ruang negosiasi, dan menciptakan bentuk kewarganegaraan yang lebih aktif.

Namun pertanyaannya: apakah itu benar-benar terjadi?

Pengalaman di berbagai kota, termasuk di Denpasar, menunjukkan bahwa praktik yang disebut partisipatif seringkali berhenti pada level pelibatan, bukan pembagian kuasa. Inisiatif seperti platform pelaporan publik atau forum warga memang membuka kanal komunikasi, tetapi kontrol atas agenda, prosedur, dan keputusan tetap berada di tangan negara.

Di titik ini, co-production berisiko menjadi perpanjangan dari logika administratif yang sama, hanya dengan wajah yang lebih partisipatif. Kesenjangan ini muncul dari perbedaan rasionalitas. Pemerintah bekerja dalam logika administratif: menjaga stabilitas, mengikuti prosedur, dan menghindari risiko politik. Komunitas bergerak dalam logika sosial: merespons pengalaman langsung, menuntut perubahan konkret, dan memperjuangkan hak.

Selama kedua logika ini tidak dipertemukan dalam satu arena yang setara, maka upaya kolaborasi akan terus menemui batasnya. Bisa jadi, persoalan utamanya bukan bagaimana meningkatkan partisipasi, tetapi bagaimana mendistribusikan kekuasaan.

Karena selama ruang yang dibuka hanya bersifat simbolik, dan selama keputusan tetap terkunci dalam struktur yang sama, maka perbedaan ini akan terus direproduksi. Demokrasi lokal, dalam konteks ini, tampak seperti rumah yang pintunya terbuka, tetapi kuncinya tidak pernah benar-benar berpindah tangan. [T]

Penulis: Chandra Manikan
Editor: Adnyana Ole

Tags: komunikasikomunitaspemerintahan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘The Adventure Seekers’, Drama Musikal yang Menghidupkan Makna Perpisahan di SDN 1 Ungasan

Next Post

Diikuti Makhluk Gaib Seusai Piknik

Chandra Manikan

Chandra Manikan

Seorang warga Indonesia yang gemar mengulik wacana, identitas, dan bagaimana kuasa bekerja dalam kehidupan sehari-hari. IG: @pcmpw

Related Posts

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails
Next Post

Diikuti Makhluk Gaib Seusai Piknik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co