Sajak Tentang Air
I
Dari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;
menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air.
Dari kulit tanah, hutan tua mendekapnya dengan
akar-akar yang tersangga batu-batu purba.
Dari tubuh kota, ia memecah menjadi alamat-alamat.
Gemersik mendengung ke utara, selatan, timur, dan
mulut sungai yang lapar.
II
Ia lebih baka dari dongeng-dongeng yang dibacakan
ibu sebelum tidur.
Di kedalaman yang tidak terukur, ia memberi denyut
pada seluruh yang lahir.
III
Yang tumpah darinya tetes demi tetes, mencari kau
dengan taat.
“Minumlah aku untuk dahagamu.”
Ada yang ingin ia beritahu padamu lewat tidur
dan jagamu:
pada hujan yang tumpah, selalu ada waswas;
pada langit yang kuning, selalu ada gersang;
yang menunggu tiba,
yang menunggu waktu.
Siasat Menjadi WNI
Mengirim Video Lucu
Jemarimu akan terlatih megetuk
kotak pesan kawanmu yang selalu
bercakap dengan anjingnya yang tidak acuh
dan mengganti kopi dengan sopi untuk sarapan.
Mengirim Doa
Mengajak duka lara yang tercatat di kartu identitasmu
untuk berjalan ke rumah ibadah terdekat dan berdoa
dengan bahasa paling halus.
Mengirim Resep Makanan
Bumbu-bumbu dapur bergegas masuk ke layar gawai,
menjadi tips sederhana yang menarik kau
ke hadapan kompor dan membayangkan hari yang tenang.
Mengirim Matcha
Bukan untuk memaafkan kekacauan yang dilakukan
penguasa; namun sejenak saja memberi minum pada
kecemasan-kecemasan yang meletup di jantung.
Mengirim Puisi Pablo Neruda
Cien Sonetos de Amor: XVII untuk Matilde Uturria
menjadi penghiburan untuk diriku dan dirimu yang
masih bertahan mendengar berita buruk dari negara.
Tentang Perjalanan ke Prancis
“Angkat gelas ini untuk persahabatan.”
Di tangannya orang-orang mempertaruhkan
nasib. Berkelahi dengan takdir sendiri.
Menghirup bangkai kemarahan yang
tak menjadi apa-apa.
Langkah kakinya yang menjejak di jalanan
kota ditukar dengan mulut-mulut lapar
yang tak bisa lagi tertawa meski seratus lelucon
memberondong telinga.
Di sebuah jalan, di Courville-Sur-Euro,
ia bertemu hantu Simone Segouin yang
membisikinya sebuah pertanyaan.
“Adakah kau dengar suara-suara pohon-pohon
menangis di mimpimu semalam?”
Di kamar hotelnya, ia duduk dan meneguk anggur.
Wajahnya tersenyum memandang sebuah lukisan
yang mengeluarkan darah.
Tentang Kematiannya
Kami serentak terbangun dari tidur
dengan rasa gembira yang menempel
di pori-pori.
Kami tertawa melihat penyiar televisi
membacakan kabarnya sembari terkikik.
Kami ingin menangis tetapi tidak ada lagi
kesedihan yang mampu menyinggahi mata kami.
Kami ke kamar mandi, membersihkan diri
dari sisa rasa takut yang melekat di sekujur.
Kami membuka pintu rumah dan melihat
matahari yang begitu bundar benderang.
Kami menyanyikan lagu kemenangan
dan
bersorak-sorai.
Adaline
Usia tergelincir jatuh di danau yang membeku.
Di langit, kau lihat dirimu yang lain menjelma
cahaya paling jernih.
Kau cukup dan tenang dengan warna rambut
yang berganti-ganti setiap musim.
Pada ulang tahun ke-30, kau berlari
meski lilin-lilin belum utuh membakar dirinya.
Perang demi perang selalu mudah bagi
sepasang kakimu yang melompat-lompat
dari satu nama ke nama baru lainnya.
Tahun—entah keberapa—kau masih
bersembunyi dari pertanyaan yang
tak bisa kau jawab:
apakah ini kutukan atau anugerah?
Kau tidak pernah terlambat sekaligus
tidak pernah lebih cepat. Sepatumu dipaku
di antara jam dinding dan waktu yang melaju.
Kematian tidak pernah menyentuhmu.
Oh Adaline yang malang, kau tidak pernah
bisa mengucapkan selamat tinggal.
.
Penulis: Ama Gaspar
Editor: Adnyana Ole






























