5 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 5, 2026
in Esai
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Roger Penrose

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin

Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui batas disiplin ilmu modern. Ketika banyak ilmuwan memandang manusia hanya sebagai kumpulan reaksi biologis dan sistem komputasi, Penrose justru mempertanyakan keyakinan itu. Baginya, kesadaran manusia tidak sesederhana mesin yang memproses data.

Dalam dunia modern yang semakin memuja kecerdasan buatan, algoritma, dan otomasi, pandangan Penrose terasa seperti suara yang mengingatkan bahwa manusia memiliki dimensi lebih dalam daripada sekadar kalkulasi. Ia melihat ada sesuatu dalam kesadaran yang tidak dapat direduksi menjadi logika mekanis.

Melalui karya-karyanya seperti The Emperor’s New Mind dan Shadows of the Mind, Penrose mencoba menunjukkan bahwa kemampuan manusia memahami kebenaran memiliki sifat yang melampaui komputer biasa. Mesin mungkin dapat menghitung lebih cepat, tetapi belum tentu mampu “menyadari” makna dari apa yang dihitung.

Pandangan ini menarik karena di tengah kemajuan teknologi, manusia justru menghadapi krisis makna. Banyak orang memiliki akses informasi luar biasa, tetapi kehilangan kedalaman kesadaran. Penrose seolah mengingatkan bahwa rasio maupun nalar belum tentu identik dengan kebijaksanaan.

Dalam filsafat, terutama sejak René Descartes dan era Pencerahan, rasio dianggap alat utama mencapai kebenaran. Namun banyak pemikir kemudian mengkritik dominasi rasio murni, termasuk Roger Penrose, karena manusia juga memiliki intuisi, pengalaman batin, dan kesadaran yang tidak seluruhnya dapat dijelaskan oleh logika formal.

Gödel, Kesadaran, dan Batas Rasionalitas

Salah satu dasar pemikiran Penrose berasal dari Teorema Ketidaklengkapan Gödel. Teori ini menyatakan bahwa dalam sistem matematika tertentu selalu ada kebenaran yang tidak dapat dibuktikan hanya dari aturan sistem itu sendiri.

Penrose menggunakan gagasan tersebut untuk mengkritik keyakinan bahwa pikiran manusia hanyalah algoritma. Jika otak sekadar komputer biologis, maka manusia seharusnya tidak dapat melampaui batas sistem formalnya. Namun kenyataannya, manusia sering mampu “melihat” kebenaran secara intuitif bahkan sebelum mampu membuktikannya secara logis.

Di sini Penrose membawa sains memasuki wilayah filsafat. Ia mempertanyakan: dari mana datangnya intuisi? Mengapa manusia dapat mengalami inspirasi mendadak? Mengapa kesadaran mampu memahami keindahan matematika?

Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya telah lama menjadi renungan spiritual dan filosofis. Dalam banyak tradisi Timur, kesadaran dipandang bukan sekadar produk otak, melainkan bagian dari realitas yang lebih luas. Penrose tidak berbicara dalam bahasa mistik, tetapi arah refleksinya membuka ruang dialog antara sains dan spiritualitas.

Ia tidak menolak rasionalitas, namun menunjukkan bahwa rasionalitas memiliki batas. Di luar batas itu terdapat wilayah misteri yang belum sepenuhnya dipahami ilmu pengetahuan modern.

Lubang Hitam dan Kesunyian Kosmos

Selain meneliti kesadaran, Penrose juga terkenal karena kontribusinya pada teori relativitas dan lubang hitam bersama Stephen Hawking. Mereka menunjukkan bahwa jika relativitas Einstein benar, maka alam semesta memiliki singularitas—titik ekstrem di mana hukum fisika seperti runtuh.

Bagi banyak orang, kosmologi hanyalah angka dan persamaan. Namun bagi Penrose, alam semesta menyimpan keindahan matematis yang hampir artistik. Ia percaya hukum-hukum alam bukan kebetulan semata, melainkan memiliki keteraturan mendalam.

Ketika melihat gambar galaksi, lubang hitam, atau struktur ruang-waktu, Penrose tidak hanya melihat benda fisik, tetapi juga pola geometris yang luar biasa elegan. Dalam pandangannya, matematika bukan sekadar alat manusia, melainkan bahasa fundamental realitas.

Di sini muncul nuansa reflektif yang menarik. Semakin jauh manusia mempelajari alam semesta, semakin besar kesadaran bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari kosmos yang sangat luas. Pengetahuan modern ternyata tidak selalu menghasilkan kesombongan; kadang justru melahirkan kerendahan hati.

Penrose termasuk ilmuwan yang masih memiliki rasa takjub terhadap misteri eksistensi. Sikap ini mulai jarang ditemukan di tengah budaya modern yang sering merasa mampu menjelaskan segalanya.

Orch-OR dan Misteri Jiwa

Salah satu gagasan paling kontroversial Penrose adalah teori Orch-OR yang dikembangkan bersama Stuart Hameroff. Teori ini menyatakan bahwa kesadaran mungkin muncul dari proses kuantum di dalam mikrotubulus sel otak.

Walaupun teori ini masih diperdebatkan, daya tariknya sangat besar karena mencoba menjelaskan kesadaran sebagai sesuatu yang lebih dalam daripada aktivitas listrik saraf biasa. Jika benar ada proses kuantum dalam kesadaran, maka manusia mungkin terhubung dengan struktur dasar realitas semesta.

Pandangan ini mengingatkan banyak orang pada gagasan spiritual kuno bahwa manusia adalah mikrokosmos dari alam raya. Dalam tradisi Timur, tubuh sering dipandang sebagai miniatur kosmos. Penrose memang tidak sedang mengajarkan agama, tetapi teorinya secara tidak langsung membuka kemungkinan bahwa kesadaran memiliki dimensi universal.

Di era modern, manusia sering terjebak melihat diri hanya sebagai tubuh biologis. Akibatnya hidup menjadi sangat materialistik. Kesuksesan diukur sebatas kepemilikan dan konsumsi. Namun Penrose mengajak manusia kembali bertanya: apakah kesadaran hanyalah reaksi kimia? Apakah cinta, intuisi, dan pengalaman batin hanya ilusi neuron?

Pertanyaan itu penting karena cara manusia memahami kesadaran akan memengaruhi arah peradaban. Jika manusia melihat dirinya sekadar mesin biologis, maka kehidupan mudah kehilangan kesucian.

Penrose dan Masa Depan Spiritualitas Sains

Roger Penrose menunjukkan bahwa sains sejati tidak selalu menutup pintu misteri. Justru semakin dalam seseorang memahami realitas, semakin terlihat bahwa masih banyak yang belum diketahui.

Di tengah konflik antara kaum materialis dan spiritualis, Penrose hadir sebagai jembatan yang unik. Ia tetap berpijak pada matematika dan fisika ketat, tetapi tidak menolak kemungkinan bahwa kesadaran menyimpan rahasia besar yang belum terpecahkan.

Pendekatan seperti ini penting bagi masa depan manusia. Dunia modern membutuhkan sains, tetapi juga membutuhkan kebijaksanaan. Teknologi tanpa kesadaran dapat berubah menjadi ancaman. AI dapat membantu manusia, tetapi tidak otomatis memberi makna hidup.

Penrose mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar makhluk yang berpikir, tetapi juga makhluk yang menyadari. Kesadaran itulah yang membuat manusia mampu mengalami cinta, keheningan, belas kasih, dan pencarian makna.

Barangkali pada akhirnya, pencarian ilmiah Penrose bukan hanya tentang fisika atau matematika, tetapi tentang usaha memahami siapa manusia sebenarnya. Dan semakin manusia masuk ke kedalaman kesadaran, semakin tampak bahwa semesta tidak hanya terdiri dari materi, tetapi juga misteri.

Pancakosha, Hawkins, dan Resonansi Holistik Penrose–Capra

Pemikiran Penrose menjadi semakin kaya ketika dibaca berdampingan dengan konsep Pancakosha dalam Vedanta, peta kesadaran David R. Hawkins, serta pandangan holistik Fritjof Capra. Ketiganya berasal dari jalur berbeda—fisika matematis, psikologi spiritual, dan teori sistem—namun memiliki titik temu: kritik terhadap paradigma materialisme mekanistik yang memandang manusia hanya sebagai mesin biologis.

Dalam konsep Pancakosha, manusia dipahami memiliki lima lapisan eksistensi: annamaya kosha (tubuh fisik), pranamaya kosha (energi vital), manomaya kosha (pikiran dan emosi), vijnanamaya kosha (intuisi dan kebijaksanaan), serta anandamaya kosha (kesadaran  murni atau kebahagiaan abadi). Struktur ini memperlihatkan bahwa kesadaran manusia bersifat bertingkat dan multidimensional. Tubuh hanyalah lapisan paling luar.

Ketika Penrose mempertanyakan apakah kesadaran sekadar hasil komputasi neuron, ia sebenarnya sedang memasuki wilayah yang dalam filsafat Timur telah lama dijelajahi. Teori Orch-OR yang dikembangkannya bersama Stuart Hameroff mencoba menjelaskan kemungkinan adanya proses kuantum subtil di otak manusia. Walaupun masih kontroversial, teori itu menunjukkan bahwa kesadaran mungkin tidak dapat dijelaskan hanya melalui mekanisme material biasa.

Di sinilah pemikiran Penrose terasa selaras dengan The Tao of Physics karya Capra. Dalam buku tersebut, Capra menunjukkan adanya kemiripan antara fisika modern dan mistisisme Timur. Dunia tidak lagi dipandang sebagai kumpulan benda terpisah, melainkan jaringan relasi energi yang saling terhubung. Fisika kuantum menghancurkan pandangan mekanistik Newtonian yang terlalu kaku.

Capra melihat alam semesta sebagai “web of life”, jaringan kehidupan yang saling bergantung. Penrose, walaupun lebih matematis dan hati-hati, juga melihat adanya keteraturan mendalam dalam realitas kosmos. Keduanya sama-sama menolak reduksi realitas menjadi sekadar materi padat tanpa dimensi kesadaran. Perbedaannya, Capra lebih eksplisit mengaitkan sains dengan spiritualitas Timur, sedangkan Penrose tetap bergerak melalui pendekatan matematis dan fisika teoritis.

Pada tingkat manomaya kosha, manusia masih hidup dalam dualitas ego, emosi, dan ketakutan. Banyak kemajuan teknologi lahir dari lapisan ini—cemerlang secara intelektual tetapi sering miskin kebijaksanaan. Penrose mengingatkan bahwa kecerdasan komputasional belum tentu melahirkan kesadaran sejati. Pandangan ini sejalan dengan kritik Hawkins terhadap masyarakat modern yang sering memuja intelek namun kehilangan kualitas batin.

Dalam Power vs. Force, Hawkins menjelaskan tingkat kesadaran manusia mulai dari rasa malu, takut, marah, hingga cinta, damai, dan pencerahan. Semakin tinggi tingkat kesadaran, semakin manusia mampu melihat keterhubungan kehidupan. Kesadaran rendah cenderung melihat dunia secara terpisah dan kompetitif, sedangkan kesadaran tinggi melihat harmoni dan kesatuan.

Di titik ini terlihat hubungan menarik antara Hawkins dan Capra. Jika Hawkins berbicara tentang evolusi kesadaran manusia, maka Capra berbicara tentang evolusi cara pandang terhadap alam semesta. Keduanya menuju paradigma holistik. Penrose pun, melalui pencariannya tentang kesadaran dan kosmos, tampak bergerak ke arah yang sama meskipun menggunakan bahasa sains ketat.

Dalam tradisi Vedanta, vijnanamaya kosha adalah lapisan kebijaksanaan intuitif yang melampaui pikiran rasional biasa. Banyak ilmuwan besar sebenarnya bekerja bukan hanya melalui logika linear, tetapi juga intuisi mendalam. Penrose sendiri sering berbicara tentang keindahan matematika dan kemampuan manusia “melihat” kebenaran secara intuitif. Hal ini mengingatkan bahwa kesadaran manusia memiliki dimensi kreatif yang belum mampu direplikasi AI sepenuhnya.

Lapisan tertinggi, anandamaya kosha, adalah kesadaran kebahagiaan dan kesatuan. Dalam pengalaman ini, manusia tidak lagi merasa terpisah dari semesta. Pandangan Capra tentang interconnectedness, Hawkins tentang level kesadaran tinggi, dan refleksi Penrose mengenai misteri kosmos semuanya mengarah pada intuisi yang mirip: realitas pada dasarnya bersifat menyatu.

Inilah tantangan besar peradaban modern. Sains berkembang sangat cepat, tetapi kesadaran manusia belum berkembang seimbang. Teknologi memberi kekuatan luar biasa, namun tanpa evolusi kesadaran, kekuatan itu mudah berubah menjadi krisis ekologis, perang, dan alienasi spiritual, ketika manusia merasa terpisah dari dirinya sendiri, dari orang lain, dari alam, atau dari makna hidupnya.

Karena itu, dialog antara Penrose, Capra, Hawkins, dan filsafat Vedanta menjadi penting bagi masa depan. Mereka mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar konsumen materi atau mesin biologis, melainkan bagian dari kesadaran kosmik yang lebih luas. Di titik inilah sains dan spiritualitas tidak lagi dipandang sebagai musuh, tetapi dua jalan berbeda menuju pemahaman tentang misteri kehidupan.[T]

Tags: fisikailmu fisikaNobelRoger Penrose
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

Next Post

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

by Sugi Lanus
August 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

Read moreDetails

Presiden di Dalam Kepala Saya

by Angga Wijaya
August 3, 2026
0
Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

Read moreDetails

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

by Chusmeru
August 3, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

Read moreDetails

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails
Next Post
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin
Khas

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  
Khas

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

NOL KILOMETER ̶S̶I̶N̶G̶A̶R̶A̶J̶A̶ BULELENG : Titik Start Berbenah, Bukan Sekadar Bersolek dan Beautifikasi

ADA banyak sambutan positif dan keceriaan di tengah peresmian tugu Nol Kilometer di depan Kantor Bupati Buleleng. Titik yang dibenahi...

by Sugi Lanus
August 4, 2026
Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita
Ulas Pentas

Dwi Dvara: Antara Keagungan Ciptaan dan Hasrat Merusak dalam Diri Kita

Di Ambang Dualitas Eksistensial Dalam ruang pertunjukan yang temaram, pendar cahaya proyektor perlahan menghidupkan bidang panggung. Karya pertunjukan bertajuk DWI...

by Dewa Made Ari Kurniawan
August 4, 2026
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia
Khas

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co