3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 1, 2026
in Esai
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Ilustrasi tatkala.co

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa

Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu, tahun 1945, Soekarno menyampaikan pidato yang kemudian menjadi salah satu fondasi lahirnya negara Indonesia modern. Namun, lebih dari sekadar peristiwa sejarah, Hari Lahir Pancasila sesungguhnya adalah peringatan atas lahirnya sebuah kesadaran kebangsaan: bagaimana ratusan suku, bahasa, budaya, dan agama dapat hidup bersama dalam satu rumah bernama Indonesia.

Tujuh puluh tahun lebih setelah kemerdekaan, tantangan bangsa tentu berbeda dengan masa para pendiri negara. Jika dahulu ancaman datang dari kolonialisme dan penjajahan fisik, kini tantangan muncul dalam bentuk polarisasi sosial, krisis lingkungan, kesenjangan ekonomi, intoleransi, serta derasnya arus informasi yang sering kali mengaburkan kebenaran.

Karena itu, Hari Lahir Pancasila tidak cukup dimaknai sebagai seremoni tahunan. Ia harus menjadi momentum refleksi: apakah Pancasila masih hidup dalam perilaku kita sehari-hari, atau hanya tersimpan dalam teks yang dibaca setiap upacara?

Ketuhanan yang Memanusiakan

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, sering dipahami sebatas pengakuan terhadap keberadaan Tuhan. Padahal sila ini juga mengandung konsekuensi etis yang sangat mendalam: jika semua manusia berasal dari sumber ilahi yang sama, maka setiap manusia layak dihormati.

Dalam tradisi Sanatana Dharma dikenal ungkapan:

“Ekam Sat Viprah Bahudha Vadanti”.

Kebenaran itu satu, para bijaksana menyebutnya dengan banyak nama. Ajaran ini tidak mengajak manusia menyeragamkan keyakinan, melainkan mengembangkan kerendahan hati. Bahwa keterbatasan manusia membuat setiap tradisi menggunakan bahasa, simbol, dan pendekatan yang berbeda untuk memahami Yang Tak Terbatas.

Dalam konteks Indonesia, semangat ini sangat relevan. Pancasila tidak dibangun untuk memaksakan satu tafsir keagamaan tertentu. Sebaliknya, ia menjadi ruang bersama bagi berbagai keyakinan untuk hidup berdampingan secara bermartabat.

Karena itu, ketika perbedaan keyakinan melahirkan kebencian, diskriminasi, atau penolakan terhadap hak orang lain untuk beribadah, maka sesungguhnya yang terluka bukan hanya kelompok tertentu, tetapi juga semangat Pancasila itu sendiri.

Pancasila dan Pancakosha: Membangun Manusia Seutuhnya

Di tengah dominasi ukuran-ukuran material, konsep Pancakosha dalam filsafat Hindu menawarkan perspektif yang menarik. Manusia dipahami memiliki lima lapisan keberadaan: Annamaya Kosha (fisik), Pranamaya Kosha (energi kehidupan), Manomaya Kosha (pikiran dan emosi), Vijnanamaya Kosha (kebijaksanaan), dan Anandamaya Kosha (kebahagiaan sejati).

Pembangunan bangsa sering kali terfokus pada lapisan pertama: ekonomi, infrastruktur, investasi, dan pertumbuhan. Semua itu penting. Namun manusia tidak hidup dari pembangunan fisik semata.

Kesehatan mental, kualitas pendidikan, kematangan emosional, integritas moral, dan kedalaman spiritual juga merupakan bagian dari pembangunan manusia. Dalam perspektif ini, Pancasila dapat dipahami sebagai kerangka pembangunan manusia seutuhnya.

Sila pertama menyentuh dimensi spiritual. Sila kedua mengembangkan kemanusiaan. Sila ketiga membangun kesadaran kolektif. Sila keempat melatih kebijaksanaan dalam musyawarah. Sila kelima mengarahkan seluruh proses menuju keadilan sosial.

Dengan kata lain, Pancasila bukan hanya ideologi politik, melainkan juga jalan pembentukan manusia Indonesia yang utuh dan berimbang. Dia juga nilai-nilai budaya yang tumbuh di dalam hati manusia Indonesia.

Tantangan Pancasila di Era Digital

Zaman now menghadirkan tantangan yang tidak pernah dibayangkan para pendiri bangsa. Teknologi membuat dunia semakin terhubung, tetapi tidak selalu membuat manusia semakin dekat. Media sosial memungkinkan komunikasi tanpa batas, namun juga membuka ruang bagi penyebaran kebencian, hoaks, dan polarisasi.

Kita menyaksikan bagaimana identitas agama, etnis, maupun pilihan politik sering digunakan untuk membangun tembok pemisah. Seseorang dapat dibenci bukan karena perilakunya, melainkan karena identitas yang melekat padanya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diikuti oleh kemajuan kesadaran. Di sinilah Pancasila menemukan relevansinya kembali. Nilai persatuan, musyawarah, penghormatan terhadap martabat manusia, dan keadilan sosial justru menjadi semakin penting dalam dunia yang penuh fragmentasi.

Hari Lahir Pancasila pada era digital seharusnya menjadi pengingat bahwa kecerdasan teknologi harus disertai kecerdasan nurani. Tanpa itu, kemajuan hanya akan mempercepat konflik dan memperbesar ketimpangan.

Merayakan Pancasila dengan Tindakan

Pada akhirnya, perayaan Hari Lahir Pancasila tidak diukur dari jumlah spanduk, baliho, seminar, atau upacara yang diselenggarakan. Ukuran sejatinya adalah sejauh mana nilai-nilai Pancasila hadir dalam kehidupan masyarakat.

Pancasila hidup ketika pejabat menjalankan amanah dengan jujur. Pancasila hidup ketika guru mendidik dengan keteladanan. Pancasila hidup ketika pengusaha memperoleh keuntungan tanpa mengorbankan kemanusiaan dan lingkungan. Pancasila hidup ketika warga mampu menghormati tetangganya yang berbeda agama, suku, maupun pandangan politik.

Di Bali, yang selama berabad-abad dikenal sebagai ruang perjumpaan berbagai budaya dan keyakinan, semangat ini menjadi semakin penting. Pulau ini membutuhkan pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga harmoni sosial, kelestarian alam, dan kesehatan batin masyarakatnya.

Hari Lahir Pancasila mengingatkan kita bahwa bangsa ini didirikan bukan hanya untuk menjadi negara yang kuat, tetapi juga negara yang beradab. Sebuah bangsa yang mampu memadukan kemajuan dengan kebijaksanaan, keberagaman dengan persatuan, dan kebebasan dengan tanggung jawab.

Karena itu, perayaan Hari Lahir Pancasila zaman now seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Perayaan yang sesungguhnya terjadi ketika setiap warga negara menjadikan Pancasila sebagai laku hidup. Sebab Pancasila tidak lahir untuk disimpan dalam arsip sejarah, melainkan untuk terus dilahirkan kembali setiap hari dalam pikiran, perkataan, dan tindakan kita.

Jayalah Indonesia! [T]

Tags: Bung KarnopancasilaSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

Next Post

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co