1 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
June 1, 2026
in Esai
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Ilustrasi tatkala.co

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa

Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu, tahun 1945, Soekarno menyampaikan pidato yang kemudian menjadi salah satu fondasi lahirnya negara Indonesia modern. Namun, lebih dari sekadar peristiwa sejarah, Hari Lahir Pancasila sesungguhnya adalah peringatan atas lahirnya sebuah kesadaran kebangsaan: bagaimana ratusan suku, bahasa, budaya, dan agama dapat hidup bersama dalam satu rumah bernama Indonesia.

Tujuh puluh tahun lebih setelah kemerdekaan, tantangan bangsa tentu berbeda dengan masa para pendiri negara. Jika dahulu ancaman datang dari kolonialisme dan penjajahan fisik, kini tantangan muncul dalam bentuk polarisasi sosial, krisis lingkungan, kesenjangan ekonomi, intoleransi, serta derasnya arus informasi yang sering kali mengaburkan kebenaran.

Karena itu, Hari Lahir Pancasila tidak cukup dimaknai sebagai seremoni tahunan. Ia harus menjadi momentum refleksi: apakah Pancasila masih hidup dalam perilaku kita sehari-hari, atau hanya tersimpan dalam teks yang dibaca setiap upacara?

Ketuhanan yang Memanusiakan

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, sering dipahami sebatas pengakuan terhadap keberadaan Tuhan. Padahal sila ini juga mengandung konsekuensi etis yang sangat mendalam: jika semua manusia berasal dari sumber ilahi yang sama, maka setiap manusia layak dihormati.

Dalam tradisi Sanatana Dharma dikenal ungkapan:

“Ekam Sat Viprah Bahudha Vadanti”.

Kebenaran itu satu, para bijaksana menyebutnya dengan banyak nama. Ajaran ini tidak mengajak manusia menyeragamkan keyakinan, melainkan mengembangkan kerendahan hati. Bahwa keterbatasan manusia membuat setiap tradisi menggunakan bahasa, simbol, dan pendekatan yang berbeda untuk memahami Yang Tak Terbatas.

Dalam konteks Indonesia, semangat ini sangat relevan. Pancasila tidak dibangun untuk memaksakan satu tafsir keagamaan tertentu. Sebaliknya, ia menjadi ruang bersama bagi berbagai keyakinan untuk hidup berdampingan secara bermartabat.

Karena itu, ketika perbedaan keyakinan melahirkan kebencian, diskriminasi, atau penolakan terhadap hak orang lain untuk beribadah, maka sesungguhnya yang terluka bukan hanya kelompok tertentu, tetapi juga semangat Pancasila itu sendiri.

Pancasila dan Pancakosha: Membangun Manusia Seutuhnya

Di tengah dominasi ukuran-ukuran material, konsep Pancakosha dalam filsafat Hindu menawarkan perspektif yang menarik. Manusia dipahami memiliki lima lapisan keberadaan: Annamaya Kosha (fisik), Pranamaya Kosha (energi kehidupan), Manomaya Kosha (pikiran dan emosi), Vijnanamaya Kosha (kebijaksanaan), dan Anandamaya Kosha (kebahagiaan sejati).

Pembangunan bangsa sering kali terfokus pada lapisan pertama: ekonomi, infrastruktur, investasi, dan pertumbuhan. Semua itu penting. Namun manusia tidak hidup dari pembangunan fisik semata.

Kesehatan mental, kualitas pendidikan, kematangan emosional, integritas moral, dan kedalaman spiritual juga merupakan bagian dari pembangunan manusia. Dalam perspektif ini, Pancasila dapat dipahami sebagai kerangka pembangunan manusia seutuhnya.

Sila pertama menyentuh dimensi spiritual. Sila kedua mengembangkan kemanusiaan. Sila ketiga membangun kesadaran kolektif. Sila keempat melatih kebijaksanaan dalam musyawarah. Sila kelima mengarahkan seluruh proses menuju keadilan sosial.

Dengan kata lain, Pancasila bukan hanya ideologi politik, melainkan juga jalan pembentukan manusia Indonesia yang utuh dan berimbang. Dia juga nilai-nilai budaya yang tumbuh di dalam hati manusia Indonesia.

Tantangan Pancasila di Era Digital

Zaman now menghadirkan tantangan yang tidak pernah dibayangkan para pendiri bangsa. Teknologi membuat dunia semakin terhubung, tetapi tidak selalu membuat manusia semakin dekat. Media sosial memungkinkan komunikasi tanpa batas, namun juga membuka ruang bagi penyebaran kebencian, hoaks, dan polarisasi.

Kita menyaksikan bagaimana identitas agama, etnis, maupun pilihan politik sering digunakan untuk membangun tembok pemisah. Seseorang dapat dibenci bukan karena perilakunya, melainkan karena identitas yang melekat padanya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diikuti oleh kemajuan kesadaran. Di sinilah Pancasila menemukan relevansinya kembali. Nilai persatuan, musyawarah, penghormatan terhadap martabat manusia, dan keadilan sosial justru menjadi semakin penting dalam dunia yang penuh fragmentasi.

Hari Lahir Pancasila pada era digital seharusnya menjadi pengingat bahwa kecerdasan teknologi harus disertai kecerdasan nurani. Tanpa itu, kemajuan hanya akan mempercepat konflik dan memperbesar ketimpangan.

Merayakan Pancasila dengan Tindakan

Pada akhirnya, perayaan Hari Lahir Pancasila tidak diukur dari jumlah spanduk, baliho, seminar, atau upacara yang diselenggarakan. Ukuran sejatinya adalah sejauh mana nilai-nilai Pancasila hadir dalam kehidupan masyarakat.

Pancasila hidup ketika pejabat menjalankan amanah dengan jujur. Pancasila hidup ketika guru mendidik dengan keteladanan. Pancasila hidup ketika pengusaha memperoleh keuntungan tanpa mengorbankan kemanusiaan dan lingkungan. Pancasila hidup ketika warga mampu menghormati tetangganya yang berbeda agama, suku, maupun pandangan politik.

Di Bali, yang selama berabad-abad dikenal sebagai ruang perjumpaan berbagai budaya dan keyakinan, semangat ini menjadi semakin penting. Pulau ini membutuhkan pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga harmoni sosial, kelestarian alam, dan kesehatan batin masyarakatnya.

Hari Lahir Pancasila mengingatkan kita bahwa bangsa ini didirikan bukan hanya untuk menjadi negara yang kuat, tetapi juga negara yang beradab. Sebuah bangsa yang mampu memadukan kemajuan dengan kebijaksanaan, keberagaman dengan persatuan, dan kebebasan dengan tanggung jawab.

Karena itu, perayaan Hari Lahir Pancasila zaman now seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Perayaan yang sesungguhnya terjadi ketika setiap warga negara menjadikan Pancasila sebagai laku hidup. Sebab Pancasila tidak lahir untuk disimpan dalam arsip sejarah, melainkan untuk terus dilahirkan kembali setiap hari dalam pikiran, perkataan, dan tindakan kita.

Jayalah Indonesia! [T]

Tags: Bung KarnopancasilaSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

Next Post

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails

Memang Pasar Malam

by Angga Wijaya
May 30, 2026
0
Memang Pasar Malam

BUKAN di sebuah kota kabupaten di Jawa. Bukan pula di lapangan alun-alun yang hanya ramai ketika ada perayaan tertentu. Pasar...

Read moreDetails

Kuta dan Peradaban Palegongan: Radikalisme Estetika di Ambang Pesisir

by I Gusti Made Darma Putra
May 29, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi...

Read moreDetails

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
0
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai...

Read moreDetails

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

by Afgan Fadilla
May 29, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan...

Read moreDetails

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

by Ahmad Sihabudin
May 28, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

RUANG publik dalam sebuah negara semestinya menjadi tempat di mana akal sehat, etika, dan tanggung jawab bertemu. Ia bukan sekadar...

Read moreDetails
Next Post
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati
Khas

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

by Emi Suy
June 1, 2026
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif
Esai

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara
Budaya

Penayangan Perdana Film Dokumenter IMAJI Karya Heri Windi Anggara

BAYANGKAN sebuah dunia tanpa warna, tanpa garis, dan tanpa bayangan sejak pertama kali kamu membuka mata di dunia. Bagi kebanyakan...

by Satria Aditya
May 31, 2026
Radio Tua Kakek Panjul
Dongeng

Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi
Cerpen

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu
Puisi

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya
Ulas Buku

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
Awas Ada Pocong!
Esai

Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi
Esai

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Wisata Bahari di Negeri Maritim

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

by Chusmeru
May 31, 2026
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan
Esai

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
Membaca Racauan Arman Dhani
Ulas Buku

Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co