2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

Ahmad Fatoni by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
in Esai
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

Rendra

……………..
Aku bertanya:
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
belajar filsafat, sastra, teknologi, kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata:
“Di sini aku merasa asing dan sepi.”

(W.S. Rendra, Sajak Seonggok Jagung, 1975)

“Aku bertanya: apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya?” Demikian kegelisahan W. S. Rendra dalam Sajak Seonggok Jagung. Puluhan tahun lalu, Rendra telah melihat bahaya pendidikan yang tercerabut dari kehidupan manusia. Pendidikan, dalam kritiknya, bisa berubah menjadi menara gading yang hanya melahirkan orang-orang pandai, tetapi asing terhadap realitas sosialnya. Ironisnya, kegelisahan itu terasa semakin relevan hari ini ketika pendidikan tinggi mulai diukur terutama dengan logika pasar kerja.

Kemendiktisaintek sempat melempar wacana penutupan program studi (prodi) di perguruan tinggi yang dianggap tidak lagi relevan dengan kebutuhan zaman. Alasannya sederhana sekaligus problematis. Fakta di lapangan menunjukkan lulusan perguruan tinggi sulit mendapatkan pekerjaan sehingga rentan mengalami oversupply. Prodi sosial-humaniora dan ilmu keguruan menjadi bidang yang paling sering disebut dalam isu tersebut. Kendati kemudian Mendiktisaintek Brian Yuliarto meralat pernyataannya.

Perdebatan yang muncul justru membuka pertanyaan mendasar: sebenarnya untuk apa perguruan tinggi hadir? Apakah kampus hanya tempat mencetak pekerja atau seharusnya menjadi ruang lahirnya manusia merdeka, pemikir, dan penjaga nurani masyarakat?

Wacana penutupan prodi mempertegas betapa pendidikan kini semakin dilihat melalui kacamata utilitarian, sesuatu dianggap bernilai jika langsung menghasilkan keuntungan ekonomi. Dalam logika ini, jurusan yang cepat terserap industri dipandang “berguna”, sedangkan ilmu-ilmu yang tidak menghasilkan pekerjaan instan dianggap beban. Kampus perlahan direduksi menjadi semacam pabrik tenaga kerja.

Kritik terhadap orientasi pendidikan yang terlalu industrialistik sebenarnya telah lama digaungkan oleh Paulo Freire (2005) yang menilai pendidikan senyatanya menjadi proses pembebasan manusia, bukan sekadar alat produksi ekonomi. Padahal sejarah peradaban manusia tidak dibangun semata oleh orang-orang yang mampu bekerja, tetapi oleh mereka yang mampu berpikir.

Tak dapat dimungkiri, dunia membutuhkan insinyur dan programmer, tetapi dunia juga membutuhkan filsuf, guru, sastrawan, ahli sejarah, antropolog, dan ilmuwan sosial untuk menjaga kemanusiaan agar tidak tenggelam dalam mesin industrialisasi. Martha C. Nussbaum (2010) bahkan mengingatkan bahwa krisis humaniora akan melahirkan masyarakat yang efisien secara ekonomi, tetapi miskin empati dan nalar demokratis.

Upaya merelevansikan pendidikan tinggi dengan dunia industri sesungguhnya telah berlangsung lama. Mata kuliah kewirausahaan diwajibkan hampir di semua program studi. Pada masa Nadiem Makarim, program Magang Merdeka juga didorong sebagai jembatan antara kampus dan dunia kerja. Namun demikian, pendidikan tidak semestinya melulu tunduk pada kepentingan industri.

Pendidikan adalah proses memerdekakan manusia. Pandangan ini sejalan dengan gagasan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan bertujuan menuntun segala kekuatan kodrat manusia agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup setinggi-tingginya.  Pernyataan ini juga selaras dengan amanat Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan, “mencerdaskan kehidupan bangsa.” Kata “mencerdaskan” jauh lebih luas daripada sekadar “mempekerjakan.” Pendidikan tidak hanya bertugas menciptakan tenaga kerja yang efisien, tetapi juga manusia yang mampu memahami masyarakat, memiliki empati, dan menjaga nilai-nilai kebudayaan.

Pada titik inilah sajak Rendra menemukan maknanya kembali. Ketika pendidikan hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri, mahasiswa berisiko menjadi “layang-layang di ibu kota” yang tercerabut dari akar sosial dan kemanusiaannya sendiri. Mereka mungkin mahir mengoperasikan teknologi, namun gagap memahami penderitaan masyarakat. Mereka mungkin sukses secara ekonomi, tetapi asing terhadap bangsanya sendiri.

Petakanya, industrialisasi perguruan tinggi akan melahirkan cara pandang baru terhadap kuliah bahwa pendidikan menjadi investasi modal semata. Mahasiswa akan memilih jurusan berdasarkan logika return of investment: jurusan mana yang cepat menghasilkan uang, mana yang paling cepat mendapatkan pekerjaan. Dalam jangka panjang, pola pikir model ini berbahaya tersebab ilmu akan kehilangan nilai intrinsiknya. Sastra dianggap tidak penting karena tidak cepat kaya. Filsafat dipandang mubazir gegara tidak menjanjikan gaji besar.

Kita tentu tidak boleh menutup mata terhadap kebutuhan dunia kerja. Perguruan tinggi memang harus adaptif terhadap perubahan zaman, termasuk perkembangan AI, digitalisasi, dan teknologi. Namun adaptasi bukan berarti menyerahkan seluruh orientasi pendidikan kepada pasar. Bahkan ketika Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berbicara tentang AI dan algoritma, matematika sebagai ilmu dasar tetap penting. Ini membuktikan pendidikan sejati justru bertumpu pada fondasi ilmu yang kuat, bukan sekadar tren industri sesaat.

Tak dapat dimungkiri, pasar kerja selalu berubah. Hari ini profesi tertentu dibutuhkan, besok bisa digantikan mesin. Tetapi kemampuan berpikir kritis, berempati, memahami manusia, dan membaca perubahan sosial akan tetap relevan sepanjang zaman. Barangkali inilah yang hendak diingatkan Rendra kepada kita: pendidikan yang baik bukanlah pendidikan yang sekadar membuat seseorang “laku” di pasar kerja, melainkan pendidikan yang membuat manusia tetap dekat dengan kenyataan hidupnya.

Kampus bukan hanya tempat mencetak pekerja, tetapi ruang untuk merawat akal sehat bangsa. Jika tidak, kita mungkin akan menghasilkan generasi yang terampil bekerja, namun kehilangan kemampuan paling mendasar sebagai manusia yang memahami sesamanya. [T]

Penulis: Ahmad Fatoni
Editor: Adnyana Ole

Tags: PendidikanRendra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wisata Bahari di Negeri Maritim

Next Post

Awas Ada Pocong!

Ahmad Fatoni

Ahmad Fatoni

Lahir di Surabaya. Alumnus sastra Arab dari International Islamic University Islamabad, Pakistan. Beberapa karya tulis; cerpen, puisi, esai, dan resensi sastra, pernah dimuat di berbagai media nasional. Kini menjadi staf pengajar di Universitas Muhammadiyah Malang.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Awas Ada Pocong!

Awas Ada Pocong!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co