13 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
May 29, 2026
in Esai
‘Magnifica Humanitas’ sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI

Ruben Cornelius Siagian

TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai babak baru dalam percakapan global tentang kecerdasan buatan. Dokumen ini bukan sekadar nasihat religius bagi umat Katolik, melainkan intervensi moral terhadap arah peradaban digital. Ensiklik tersebut resmi dirilis Vatikan pada Mei 2026 dan menempatkan AI sebagai salah satu ujian terbesar bagi martabat manusia, kebenaran, kerja, kebebasan, dan perdamaian dunia.

Sudut pandang utama tulisan adalah bahwa Magnifica Humanitas perlu dibaca sebagai kritik terhadap peradaban teknokratis, yaitu peradaban yang terlalu percaya bahwa setiap masalah manusia dapat diselesaikan melalui efisiensi, komputasi, otomatisasi, dan kontrol data. Dalam kerangka ini, AI bukan ditolak sebagai teknologi, tetapi diperingatkan agar tidak berubah menjadi sistem kekuasaan baru yang menggeser manusia dari pusat kehidupan sosial.

AI dan Paradigma Teknokratis

Paus Leo XIV tampaknya melanjutkan garis kritik yang sebelumnya kuat dalam pemikiran Paus Fransiskus, terutama kritik terhadap “paradigma teknokratis” dalam Laudato si’. Namun, Magnifica Humanitas memperluas kritik itu ke dunia algoritma, model bahasa besar, otomasi kerja, senjata otonom, dan ekonomi data. AI dipandang bukan hanya sebagai alat teknis, tetapi sebagai struktur sosial yang dapat mengubah relasi kuasa.

Secara teoritis, pandangan ini sejalan dengan kritik Jacques Ellul tentang masyarakat teknologis, yaitu ketika teknik tidak lagi menjadi sarana, melainkan berubah menjadi logika dominan yang mengatur manusia (Ellul, 2021). Ia juga dekat dengan gagasan Martin Heidegger tentang teknologi modern sebagai cara manusia “membingkai” dunia hanya sebagai sumber daya (Heidegger, 1954). Dalam konteks AI, manusia berisiko dibaca bukan sebagai pribadi yang bermartabat, melainkan sebagai data, pola perilaku, target iklan, tenaga kerja murah, atau objek prediksi.

Di sinilah prinsip Doktrin Sosial Gereja. Martabat manusia, kebaikan bersama, solidaritas, subsidiaritas, dan tujuan universal barang-barang menjadi kriteria etis untuk menilai AI. Artinya, pertanyaan utama bukan lagi “seberapa canggih AI?”, melainkan “siapa yang diuntungkan, siapa yang dikorbankan, dan apakah manusia tetap menjadi subjek moral?”

Martabat Manusia Melawan Reduksi Algoritmik

Gagasan paling kuat dari ensiklik ini adalah bahwa AI tidak memiliki hati, tubuh, pengalaman batin, nurani, dan tanggung jawab moral. AI dapat meniru bahasa manusia, menghasilkan keputusan statistik, dan mengolah data dalam skala besar, tetapi ia tidak mengalami penderitaan, kasih, rasa bersalah, atau pertobatan. Karena itu, menyerahkan keputusan hidup manusia sepenuhnya kepada mesin adalah bentuk kemunduran moral.

Dalam konteks ini, AI tidak boleh dijadikan hakim terakhir atas nilai manusia. Kita sudah melihat bagaimana sistem algoritmik dipakai dalam rekrutmen kerja, kredit, asuransi, kepolisian prediktif, pendidikan, bahkan penilaian risiko sosial. Jika data historis yang digunakan mengandung bias, maka AI dapat memperkuat ketidakadilan lama dalam bentuk baru yang tampak objektif.

Penelitian dan laporan global menunjukkan bahwa isu bias, privasi, dan kepercayaan publik terhadap AI masih menjadi masalah serius. Stanford AI Index 2025 mencatat bahwa AI telah menjadi teknologi transformatif, tetapi manfaatnya tidak otomatis tersebar secara adil tanpa tata kelola yang tepat (Wang & Xie, 2026). Dengan kata lain, kemajuan teknis tidak identik dengan kemajuan moral.

Kebenaran sebagai Barang Publik

Salah satu kontribusi penting Magnifica Humanitas adalah menempatkan kebenaran sebagai bagian dari kebaikan bersama. Ini sangat relevan karena AI generatif mempercepat produksi teks, gambar, audio, dan video palsu dalam skala massal. Deepfake, propaganda otomatis, dan manipulasi opini publik membuat masyarakat semakin sulit membedakan kebenaran dari fabrikasi.

Kasus deepfake dalam politik, penipuan finansial berbasis suara sintetis, dan banjir konten palsu di media sosial menunjukkan bahwa krisis AI bukan hanya krisis teknologi, melainkan krisis epistemik. Ketika publik tidak lagi percaya pada fakta, demokrasi kehilangan dasar rasionalnya. Reuters melaporkan bahwa PBB telah menyerukan langkah global untuk mendeteksi dan melawan deepfake berbasis AI karena risikonya terhadap pemilu, penipuan, dan kepercayaan publik.

Dalam perspektif ensiklik, kebenaran tidak boleh diprivatisasi oleh platform digital atau dikendalikan oleh algoritma keterlibatan (Caplan & Boyd, 2016). Kebenaran adalah syarat bagi demokrasi, keadilan, dan kehidupan bersama. Jika AI hanya diatur oleh logika klik, viralitas, dan keuntungan iklan, maka ia akan lebih mudah menjadi mesin kekacauan daripada sarana pencerahan.

Kerja, Otomasi, dan Martabat Pekerja

Bagian tentang kerja dalam Magnifica Humanitas sangat penting karena AI sering dipromosikan sebagai alat efisiensi, tetapi jarang dibahas dari sisi martabat pekerja. Otomasi memang dapat meningkatkan produktivitas, tetapi juga dapat menciptakan pengangguran struktural, memperlemah posisi tawar buruh, dan menghapus pekerjaan tingkat awal.

Penelitian Economic Insights menunjukkan bahwa AI generatif lebih mungkin mengubah pekerjaan daripada langsung menghancurkan seluruh pekerjaan, tetapi dampaknya tidak merata (Drozd & Tavares, 2024). Pekerjaan administratif dan klerikal termasuk yang paling terekspos, dan kelompok tertentu dapat lebih rentan terhadap perubahan tersebut.

Maka, pertanyaan etisnya bukan apakah perusahaan boleh menggunakan AI, melainkan bagaimana transisi itu dilakukan. Apakah pekerja diberi pelatihan ulang? Apakah keuntungan produktivitas dibagi secara adil? Apakah AI dipakai untuk memperkuat manusia atau sekadar mengganti manusia demi margin laba?

Hal ini secara jelas tampak pada pekerja data labeler dan moderator konten. Di balik kecerdasan AI, ada jutaan pekerja yang memberi label gambar, membersihkan data, memoderasi konten kekerasan, dan melatih model. Brookings mencatat adanya gerakan pekerja data dan moderator konten di Kenya serta Global South yang menuntut upah layak, kondisi kerja aman, dan dukungan kesehatan mental. Kasus ini menunjukkan bahwa AI yang tampak “otomatis” sering berdiri di atas kerja manusia yang tersembunyi.

Kebebasan dan Perbudakan Digital Baru

Ensiklik ini juga kuat karena menyebut kemungkinan munculnya “perbudakan baru” dalam ekonomi digital. Istilah ini dapat dibaca secara luas, bahwa bukan hanya perdagangan manusia yang difasilitasi platform, tetapi juga bentuk eksploitasi digital seperti kerja mikro berupah rendah, pengawasan pekerja, manipulasi perilaku konsumen, dan ketergantungan manusia pada sistem rekomendasi.

Dalam ekonomi platform, kebebasan sering tampak sebagai pilihan, yaitu memilih aplikasi, memilih pekerjaan fleksibel, memilih konten. Namun di balik itu, algoritma menentukan visibilitas, pendapatan, rating, bahkan reputasi seseorang. Kebebasan menjadi semu ketika manusia tidak memahami bagaimana sistem mengambil keputusan atas dirinya.

Di sinilah prinsip subsidiaritas menjadi relevan. Keputusan teknologi tidak boleh hanya ditentukan oleh perusahaan besar, investor, atau negara kuat. Komunitas terdampak harus memiliki suara. Data, algoritma, dan paten tidak boleh hanya menjadi barang privat yang memperkaya segelintir elit, sebab dampaknya menyentuh kehidupan publik.

Senjata Otonom dan Hilangnya Tanggung Jawab Moral

Paus Leo XIV memperingatkan bahaya senjata otonom yang dapat membuat keputusan hidup dan mati semakin jauh dari pertimbangan manusia. Reuters melaporkan bahwa dalam ensiklik ini Paus mendesak regulasi AI yang lebih ketat dan memperingatkan bahwa sebagian senjata kini bergerak menuju operasi di luar kendali manusia langsung.

Persoalan utama senjata otonom bukan hanya akurasi, tetapi tanggung jawab. Jika drone atau sistem AI salah menargetkan warga sipil, siapa yang bertanggung jawab? Programmer? Komandan? Produsen? Negara? Davison, N. (2018) telah lama memperingatkan bahwa keterbatasan kontrol manusia atas senjata otonom dapat menyulitkan pertanggungjawaban dalam hukum humaniter internasional (Davison, 2018).

Dalam kasus perang modern teknologi militer semakin terdigitalisasi, seperti drone, sistem target otomatis, pengawasan satelit, dan analisis medan tempur berbasis AI. Dalam situasi perang, kecepatan algoritmik dapat mengalahkan refleksi moral. Padahal keputusan membunuh tidak boleh direduksi menjadi kalkulasi probabilitas.

Peradaban Kasih sebagai Alternatif

Konsep “Peradaban Kasih” dalam ensiklik ini bukan slogan sentimental. Ia adalah tawaran politik-etis untuk melawan budaya kekuasaan. Dalam budaya kekuasaan, AI dipakai untuk menguasai pasar, memantau warga, memenangkan perang, dan memaksimalkan profit. Dalam peradaban kasih, AI harus diarahkan untuk pendidikan, kesehatan, keadilan sosial, perdamaian, perlindungan lingkungan, dan penguatan relasi manusia.

Pandangan ini tidak anti-teknologi. Justru sebaliknya, ia menuntut teknologi yang lebih bertanggung jawab. AI dapat membantu diagnosis penyakit, memetakan bencana, mempercepat riset ilmiah, meningkatkan akses pendidikan, dan mendukung administrasi publik. Namun semua manfaat itu hanya bermakna jika manusia tetap menjadi tujuan, bukan bahan bakar sistem.

Menjadi Arsitek yang Bijaksana

Magnifica Humanitas mengingatkan bahwa krisis AI bukan terutama soal mesin yang menjadi terlalu pintar, melainkan manusia yang menjadi terlalu lalai. Bahaya terbesar bukan ketika AI menggantikan manusia secara teknis, tetapi ketika manusia menyerahkan nurani, tanggung jawab, dan penilaian moralnya kepada sistem otomatis.

Ensiklik ini relevan tidak hanya bagi umat Katolik, tetapi bagi akademisi, pembuat kebijakan, insinyur, pengusaha, jurnalis, pendidik, dan masyarakat sipil. Ia mengajak kita menjadi “arsitek yang bijaksana”, yaitu membangun teknologi dengan fondasi martabat manusia, bukan sekadar efisiensi; dengan orientasi kebaikan bersama, bukan monopoli; dengan solidaritas, bukan eksploitasi; dengan kebenaran, bukan manipulasi.

Sehingga AI akan menjadi cermin dari nilai manusia yang menciptakannya. Jika dibangun dalam logika kuasa, ia akan memperbesar ketimpangan. Jika dibangun dalam etika kasih, ia dapat menjadi alat pembebasan. Maka pertanyaan terbesar era AI bukan “apa yang dapat dilakukan mesin?”, melainkan “manusia seperti apa yang sedang kita bentuk melalui mesin itu?” [T]

Referensi

Caplan, R., & Boyd, D. (2016). Who controls the public sphere in an era of algorithms. Mediation, Automation, Power, 1–19.

Davison, N. (2018). A legal perspective: Autonomous weapon systems under international humanitarian law.

Drozd, L. A., & Tavares, M. (2024). Generative AI: A turning point for labor’s share. Economic Insights, 9(1), 2–11.

Ellul, J. (2021). The technological society. Vintage.

Heidegger, M. (1954). The question concerning technology. Technology and values: Essential readings, 99, 113.

Wang, X., & Xie, F. (2026). Global artificial intelligence governance research in the digital and intelligent era: Advances, trends and countermeasures. Journal of Knowledge Management, 30(1), 30–68.

Tags: AIkecerdasan buatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pucuk Dicinta, Akar Terlupa  — [Ketika Kritik Berlimpah, Namun Perubahan Tak Kunjung Tiba]

Next Post

5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
0
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

Read moreDetails

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
0
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

Read moreDetails

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
0
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

Read moreDetails

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
0
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

Read moreDetails

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

by Chusmeru
August 12, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

Read moreDetails

Perang versus Kemanusiaan: Sebuah Ironi

by Ni Made Ratminingsih
August 11, 2026
0
Merah Putih: Simbol Identitas dan Realitas

DALAM ajaran Hindu, abad ini termasuk zaman Kali Yuga, yakni zaman yang dipenuhi kegelapan, kemerosotan moral, dan konflik. Zaman kegelapan...

Read moreDetails

Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

by Agung Sudarsa
August 11, 2026
0
Kemerdekaan yang Belum Selesai ——Refleksi Menyambut 81 Tahun Indonesia Merdeka

"Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai...

Read moreDetails

Manusia Bukan Unggahan Terakhirnya

by Angga Wijaya
August 11, 2026
0
Telenovela

SETIAP kali saya mengunggah tulisan yang agak muram di media sosial, ada saja saudara atau kerabat yang kemudian mengirim pesan...

Read moreDetails

Rumah Dikontrakkan Bernama Indonesia [Renungan Hari Veteran Nasional]

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA pepatah yang mulai usang, "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri". ...

Read moreDetails

Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

by I Ketut Suar Adnyana
August 9, 2026
0
Menafsir Makna Bahasa di Ruang Digital

TRANSFORMASI digital telah membawa perubahan mendasar dalam pola interaksi manusia. Perkembangan media sosial, aplikasi percakapan, platform berbagi video, forum daring,...

Read moreDetails
Next Post
5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita —Nomor 3 Paling Sering!

5 Kesalahan Fatal Saat Pakai Parfum Wanita ---Nomor 3 Paling Sering!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana
Ulas Rupa

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

by Hartanto
August 13, 2026
Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   
Esai

Duta SMA, Pelantang Sebaya Perkuat Peradaban Bangsa   

PROGRAM Duta SMA pada 2026 telah memasuki Angkatan ke-5 sejak dimulai pada 2022. Program ini menjadi program prioritas Kemendikdasmen  yang...

by I Nyoman Tingkat
August 13, 2026
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih
Ulas Musik

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

by Mahesa Putra
August 13, 2026
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’
Panggung

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
Sekali Lagi tentang Dirgahayu
Bahasa

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

by I Made Sudiana
August 13, 2026
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   
Esai

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal
Esai

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”
Opini

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar
Kesehatan

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Saat Pendukung Sebaya Juga Butuh Didukung DI sebuah ruangan sederhana di Kota Denpasar, lima belas orang duduk melingkar. Mereka bukan...

by tatkala
August 12, 2026
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan
Panggung

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital
Esai

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co