21 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

Inno Koten by Inno Koten
May 20, 2026
in Ulas Buku
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

Buku 'Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel pendek. Dalam perbincangannya di kanal YouTube Buku Akik, Eka mengakui bahwa naskah awal sebenarnya jauh lebih panjang, lalu dipangkas demi mencapai bentuk cerita yang cepat dan langsung. Pilihan bentuk membuat novel ini dapat dibaca dalam sekali duduk, tapi dengan perpindahan adegan yang begitu cepat.

Di dalam kartu pos yang disisipkan bersama novel, Eka Kurniawan menulis, “Saya berharap kamu terhibur. Jika ia memberimu sedikit pening, bolehlah ambil segelas air, teh, atau kopi. Kalimat ini menjadi penanda harapan dan isyarat kewaspadaan; dan kesannya memang demikian; menghibur sekaligus memeningkan. Ada pengalaman membaca yang cukup berbeda dari novel-novelnya yang terdahulu. Keganjilan terus mengganggu pikiran. Salah satunya adalah teknik penceritaan yang menggabungkan sudut pandang orang pertama dan orang ketiga.

Poros cerita berada dalam kendali Sato Reang, seorang anak laki-laki di Rawa Batu. Di tangan Eka, Sato Reang tampak ‘mengeong dan menggonggong’ ke segala arah dengan keliaran pikiran, juga humor yang masuk akal. Masa kecilnya disesaki oleh kenakalan dan pembangkangan religius, moralitas, yang bahkan itu sudah diwartakan sejak paragraf pertama, “Aku berhenti pergi ke mesjid. Aku berhenti sembahyang. Aku tak lagi mengucapkan doa sebelum tidur. Sato Reang makan menggunakan tangan kiri, bodo amatlah, dan masuk. Jika sedang malas, aku pipis di samping pohon pisang tanpa cebok.”

Akan tetapi, semakin jauh teks bergerak, semakin terasa bahwa di balik pemberontakan Sato Reang, ada sosok lain yang mengatur irama hidupnya. Arah psikis Sato Reang dikendalikan ayahnya. Jejak ayah merambah dalam ruang kesadaran Sato Reang. Maka, setelah halaman terakhir tuntas terbaca, muncul beberapa pertanyaan dalam benak saya. Mengapa Umar Bin Abdul Malik begitu menginginkan Sato Reang menjadi anak yang saleh? Mungkinkah obsesi ini dipengaruhi alasan-alasan lain? Adakah sesuatu yang sengaja disembunyikan Eka di balik sosok ayah?

Setidaknya pertanyaan-pertanyaan inilah yang menggangu saya. Dari sini, saya berusaha menandai rerentuhan yang berserakan di sekitar sosok sosok ayah melalui tiga jalur, disiplin religius, hasrat intelektual dan maskulinitas yang gagal, dan bayang-bayang sejarah dan negara yang membentuk obsesinya terhadap keteraturan sosial dan moral. Ketiganya saling berkelindan hingga diwariskan dalam tubuh dan kesadaran Sato Reang.

Penjinakan Tubuh

Kekuasaan ayah bermula melalui pendisplinan tubuh. Hal itu dimulai dengan episode sunat yang dihadiri oleh ayah dan paman Sato Reang. Dengan rasionalitas kanak-kanak yang jenaka dan logis, Sato Reang menerima sunat karena merasa kulupnya menyerupai kura-kura, aneh, jelek dan menjijikan. Ketakutan menjelang prosedur sunat secara medis diredam melalui pelarian kognitif. Ia menyebutkan fakta-fakta secara acak dan formula matematika. Namun komedi itu segera berakhir ketika suara sang Ayah mengintervensi ruang kesadarannya, “Sudah saatnya kau menjadi anak saleh.”

Kalimat ini menjadi gerbang menuju rezim moral. Tubuhnya dikerangkeng oleh aparatus agama. Sunat menjadi penanda hukum moral atas tubuh. Menjadi saleh berarti menyerahkan kedaulatan atas tubuh sendiri kepada sebuah otoritas eksternal yang transenden. Maka melalui episode sunat Sato Reang, Eka hendak mengajak pembaca untuk menyaksikan transformasi ritus kultural-biologis menjadi momen inaugurasi ideologis.

Pasca sunat, kekuasaan mewujud dalam apa yang disebut Michel Foucault sebagai mikrofisika kekuasan (micro-physics of power). Otoritas sang Ayah menjelma menjadi pengawasan, merambat ke hal yang paling dekat dari keseharian Sato Reang. Tubuh Sato keluar dari ritme organiknya yang bebas dan mulai diarahkan mengikuti ritme moral yang ketat.

Mekanisme ini bekerja melalui serangkaian pendisplinan ruang, waktu dan aktivitas, semisal pemberangusan ruang bermain (adu jangkrik) dan penggorakan bola plastik ungu di depan surau. Tentu ini merupakan simbolisasi dari penolakan kekuasaan terhadap tubuh yang bermain (homo ludens). Ruang profan disublimasikan menjadi ruang sakral (mesjid).

Ayahnya juga mengatur ritme biologis. Perintah untuk sembahyang terus hadir dalam keseharian, bahkan sampai menyentuh wilayah bawah sadar (mimpi). Sebab menjelang subuh, Sato tetap berada dalam pengawasan ketika sang Ayah menggedor pintu kamarnya sambil berteriak, “Bangun Sati, bangun! Sembahyang!” Sementara itu, saat Sato Reang terpaksa mengikuti perintah ayahnya dengan belajar mengaji di rumah, ia selalu diganjar dengan teriakan salah ketika ada huruf yang keliru dilafalkan.

Melalui rutinitas dan represi ini, rasa bersalah diinternalisasi. Kekuasaan tidak lagi membutuhkan kekerasan fisik yang konstan; menetap di dalam kepala Sato Reang. Ayah dalam konteks ini bertindak sebagai perpanjangan tangan dari Aparatus ideologis negara (dalam istilah Louis Althusser), yang mendisplinkan tubuh demi melahirkan subjek yang patuh.

Hasrat Intelektual dan Maskulinitas yang Gagal

Di balik disiplin religius yang ketat, figur ayah sebenarnya tidak pernah bergerak sebagai sosok moralistik utuh. Ada keretakan dan ambigiutas dalam dirinya. Sebabnya, sang Ayah tetap membiarkan Sato Reang membeli dan mengisi teka-teki silang. Detail kecil ini terasa penting. Umar tidak memusuhi dunia pengetahuan modern. Ada relasi yang intim antara dirinya dengan dunia literasi dan pengetahuan.

Relasi tersebut memperoleh bentuk yang lebih jelas ketika Sato Reang menceritakan masa lalu ayahnya. Umar Bin Abdul Malik memiliki taman baca pribadi, menyewakan buku-buku, membaca cerita silat, lalu membeli mesin tik dan mencoba menulis cerita silatnya sendiri. Figur ayah, pada posisi ini bergerak melampaui fungsi domestik sebagai penjaga moral keluarga. Ia adalah representasi subjek modernitas yang hidup di ruang kelas sosial menengah yang rapuh dan terbatas. Dunia silat menyediakan pelarian imajinatif tentang heroisme, kehormatan, dan fantasi maskulintas.

Mula-mulai Sato Reang meragukan cerita tersebut. Ia menanyakan kebenarannya kepada sang ibu, tetapi ibunya tidak mengetahui banyak hal mengenai masa itu. Kepastiannya diperoleh setelah dipertegas oleh paman dan bibinya. Menurut pamannya, sang ayah pernah menyelesaikan naskah setebal dua ratus halaman. Tokoh utamanya seperti percampuran antara pendekar mabuk yang ke mana-mana dituntun oleh seekor monyet peliharaannya. Keraguan. Sato semakin mempercayai cerita pamannya ketika ia mengingat sang ayah membawanya ke tukang cukur langganan di seberang pasar. Di tempat itu, rambut Sato dipangkas dengan model yang hampir tidak pernah berubah, pendek dengan sedikit jembul di bagian depan. 

Dalam konteks budaya Indonesia, cerita silat menyimpan hasrat maskulinitas. Imajinasi terhadap pendekar dipenuhi tubuh laki-laki tangguh, pengembara moral yang yang menjaga kehormatan, dan figur yang memperoleh wibawa melalui disiplin tubuh serta kemampuan mengendalikan diri. Karena itu, keterikatan Umar Bin Abdul Malik terhadap cerita silat bergerak sebagai ambisi literer, sekaligus sebagai usaha membangun kembali citra maskulinitasnya sendiri di tengah kehidupan sosial yang rapuh. Melalui cerita silat seorang laki-laki dapat membayangkan dirinya sebagai sosok yang memiliki otoritas, dihormati dan mampu mengendalikan dunia di sekitarnya.

Namun proyek tersebut berakhir dalam kegagalan. Umar mulai menyadari bahwa cerita yang ditulisnya memiliki kemiripan dengan berbagai cerita silat yang telah dibaca. Ketakutan dianggap menjiplak, Umar membakar naskah silatnya, meski ia terus mencoba menulis hingga percobaan keempat dan kelima. Hanya satu naskah yang selamat dan Umar menyelipkannya di antara buku-buku sewaan taman bacanya dengan harapan ada pembaca yang menyukainya. Harapan itu tidak pernah datang. Taman baca pun perlahan sepi, buku-buku hilang tanpa kembali. Umar mulai meragukan bakatnya sendiri.

Kegagalan literer menjelma luka eksistensial yang dalam. Umar tidak mampu menjadi pengarang, gagal memperoleh legitimasi simbolik, dan batal menemukan jalan mobilitas sosial melalui dunia literasi. Dalam perspektif Jean-Paul Sartre, manusia selalu bergerak melalui proyek masa depannya. Hasrat untuk menjadi sesuatu memberi arah bagi keberadaannya. Ketika proyek runtuh sebelum memperoleh standar keutuhan sosial, maka krisis eksistensial muncul dalam kehampaan. Dunia persilatan bagi Umar akhirnya dapat dibaca sebagai ruang tempat di mana ia mencoba membangun kembali harga diri dan maskulinitasnya.

Energi intelektual yang gagal ini ditransfer ke dalam tubuh Sato Reang (kisah gunting rambut). Umar memindahkan proyek kependekaran yang runtuh ke dalam tubuh anaknya sendiri. Tragedi paling sadis dari keseluruhan proses ini akhirnya mewujud pada nama Sato Reang ketika Umar mendapatkan anak pertamanya. Nama tersebut tidak sekadar berasal dari tokoh utama naskah silat yang gagal diterbitkan. Ada sisa-sisa fantasi kependekaran dan maskulinitas yang tidak pernah mencapai keutuhan. Sato Reang tumbuh dalam ruang percobaan demi melanjutkan impian sang Ayah yang gagal memenuhi hasrat intelektual.

Maka pemberontakan Sato Reang terhadap ayahnya bergerak dalam lingkaran yang sulit diputus. Ia membenci disiplin moral yang diwariskan kepadanya, tetapi seluruh arah pembangkannya tetap ditentukan oleh luka paternal, semisal, begitu sukanya Sato Reang ketika orang lain marah dan menderita. Bahkan setelah ayahnya mati, Umar terus menghantui Sato Reang dalam tubuh dan kesadarannya. Seperti naskah yang lama terbakar, tetapi abunya tetap tetap berterbangan di seluruh ruang hidup anaknya.

Bayang-bayang Sejarah dan Negara

Rentang hidup Umar Bin Abdul Malik, 1941-1991, terasa terlalu spesifik untuk dibaca semata sebagai penanda biologis. Tahun-tahun tersebut menempatkannya dalam lintasan sejarah Indonesia modern yang penuh pergolakan; akhir kolonialisme, pendudukan Jepang, revolusi kemerdekaan, pergulatan ideologi pasca-kemerdekaan, tragedi 1965, hingga konsilidasi Orde Baru. Eka Kurniawan memang tidak pernah menjelaskan pengalaman politik Umar Bin Abdul Malik secara langsung. Namun tubuh ayah bisa ditafsir sebagai arsip sejarah yang memikul ingatan kolektif generasinya sendiri.

AMKM menghadirkan sejumlah fragmen kecil tentang ayah, misalnya kedekatannya dengan guru sejarah dan relasinya dengan keluarga Syekh Ruhayat Jamil. Detail-detail tersebut tampak terpisah, tetapi membentuk horizon sejarah yang lebih luas. Kekuasaan Negara merembes ke ruang domestik, mengubah keluarga dan memproduksi ketertiban sosial.  Umar menjadi figur paternalistik yang membawa bayang-bayang sejarah, juga logika negara pada kehidupan sehari-hari.

Jejak sejarah itu terasa kuat ketika Eka Kurniawan menceritakan kematian Umar Bin Abdul malik pada tahun 1991. Dalam suasana pemakaman, Sato Reang menyebut bahwa beberapa guru sekolah turut datang melayat. Salah satu yang hadir adalah guru sejarah, sosok yang disebut Sato dekat dengan ayahnya. Detail ini muncul singkat, hampir lewat begitu saja, namun justru penting. Kehadiran guru sejarah memperlihatkan bahwa figur ayah bergerak di dalam orbit historis tertentu.

Dalam konteks Indonesia modern, sejarah selalu memiliki hubungan erat dengan kekuasaan. Negara membangun narasi resmi tentang stabilitas, pembangunan, ancaman ideologi dan ketertiban sosial melalui pendidikan. Kedetakan tersebut menghadirkan kesan bahwa Umar Bin Abdul Malik hidup di bawah horizon sejarah nasional yang menjadikan keteraturan sebagai prinsip kehidupan. Kesalehan, disiplin, dan kepatuhan moral beriringan dengan kebutuhan menjaga stabilitas sosial. Maka boleh jadi, sosok Umar adalah miniatur paternalistik negara; pengatur tubuh, moral dan keteraturan.

Situasi tersebut membantu menjelaskan mengapa pengawasan ayah terhadap Sato Reang terasa begitu intens. Kesalehan anak bergerak sebagai upaya mempertahankan dunia agar tetap stabil terkendali. Generasi yang tumbuh melewati pergolakan sejarah panjang memang sering memandang keteraturan ssebagai syarat keselamatan hidup. Tubuh anak pun menjadi tempat segala kecemasan sejarah disalurkan. Dalam relasi tersebut, keluarga berubah menjadi perpanjangan tangan dari disiplin sosial yang besar.

Lapisan politik itu kian kuat lewat relasi ayah dan keluarga Syekh Ruhayat Jamil. Piknik keluarga yang dilakukan Umar Bin Abdul Malik ternyata merupakan perjalanan mengikuti pengajian. Di sanalah, untuk pertama kalinya, Sato Reang bertemu Jamal teman sekolah sekaligus tempat pelampiasan dari seluruh pemberontakannya. Jamal adalah anak Kia Maulana, cucu Syekh Ruhayat Jamil. Awalnya informasi ini tampak biasa, hingga Eka Kurniawan kemudian mengungkap bahwa Syekh Ruhayat Jamil ditangkap Kormail karena terhubung dengan Darul Islam di akhir-akhir novel.

Posisi ideologi Umar Bin Abdul Malik memang tidak hadir secara eksplisit. Namun, kedekatannya dengan keluarga Syekh Ruhayat Jamil menghadirkan kemungkinan bahwa ia hidup di sekitar orbit sosial Islam politik pasca-kemerdekaan. Eka Kurniawan tidak memberi jawaban pasti, tetapi meninggalkan serpihan-serpihan yang membuka ruang tafsir mengenai hubungan antara religiusitas, negara, dan trauma politik.  Ada kemungkinan bahwa ia menyimpan kedekatan kultural tertentu terhadap lingkungan Islam politik, lalu memilih menjalani kehidupan domestik yang lebih aman dan stabil. Pilihan tersebut juga memperlihatkan bagaimana negara paternalistik, teristimewa pada masa Orde Baru berhasil mendorong masyarakat untuk mencari keamanan melalui keteraturan keluarga, moralitas, dan kepatuhan sosial.

Posisi ini memperlihatkan sejarah nasional membentuk psikologi keseharian masyarakat biasa. Sosok ayah akhirnya menjadi simpul perjumpaan disiplin negara, agama, dan kecemasan sejarah. Reruntuhan tersebut akhirnya diwariskan kepada Sato Reang. Maka, AMKM melampaui pertentangan antara anak dan ayah. Novel ini dapat dibaca sebagai pewarisan trauma sejarah, tentang negara paternalistik yang merembes masuk ke ruang keluarga, dan tentang manusia yang tumbuh di bawah bayang-bayang narasi paternal yang tidak pernah benar-benar tuntas. [T]

Penulis: Inno Koten
Editor: Adnyana Ole

Tags: Eka KurniawannovelsastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

BTR Ultra 2026 dan Hal-hal yang Menjadikannya Prestisius

Next Post

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Inno Koten

Inno Koten

Lahir di Flores Timur, pada 16 Agustus 1989. Studi Filsafat IFTK Ledalero (2009-2013). Studi Magister Teologi Kontekstual di IFTK Ledelero (2015-2017). Studi Magister Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta (2023-2025). Saat ini menjadi pendamping Calon Imam Katolik di Seminari Menengah San Dominggo Hokeng

Related Posts

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails
Next Post
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika 'Tresna Ngatos Mati' lewat Filosofi Smaradhana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co