13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

Emi Suy by Emi Suy
May 19, 2026
in Esai
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

Emi Suy

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan hanya dari apa yang terlihat di permukaan. Satu foto dianggap cukup untuk membaca isi hati seseorang. Satu gestur dipakai untuk menentukan moralitas. Bahkan satu rangkulan bisa dijadikan ukuran kesetiaan dan cinta. Padahal hidup tidak pernah sesederhana itu.

Kita hidup di zaman ketika potongan gambar lebih dipercaya daripada keseluruhan kenyataan. Kamera hanya menangkap beberapa detik, tetapi manusia menjadikannya pengadilan bagi seluruh hidup seseorang. Yang dilihat hanyalah serpihan, lalu serpihan itu diperlakukan seperti kebenaran mutlak.

Mungkin karena memahami membutuhkan empati, sedangkan menghakimi hanya membutuhkan ego.

Analogi tentang angka enam dan sembilan sebenarnya sederhana, tetapi diam-diam sangat dekat dengan kenyataan hidup manusia. Dari satu sisi terlihat angka enam, dari sisi lain terlihat angka sembilan.

Tidak selalu ada yang sepenuhnya salah atau sepenuhnya benar. Yang berbeda sering kali hanyalah posisi berdiri. Namun manusia terlalu mencintai sudut pandangnya sendiri sampai lupa bahwa orang lain juga memiliki mata, pengalaman, dan luka yang berbeda.

Di titik ini, pemikiran Friedrich Nietzsche tentang perspectivism terasa relevan. Nietzsche percaya bahwa manusia tidak pernah benar-benar melihat dunia secara utuh. Cara seseorang memahami kehidupan dibentuk oleh pengalaman, trauma, kehilangan, dan ketakutan yang pernah ia alami. Karena itu, banyak penilaian sebenarnya lebih mencerminkan isi kepala si penilai daripada kenyataan orang yang sedang dinilai.

Sayangnya, media sosial memperburuk keadaan itu. Dunia digital membuat manusia semakin terbiasa melihat hidup sebagai pertunjukan visual. Orang-orang mulai percaya bahwa cinta harus terlihat agar dianggap nyata. Hubungan yang ramai di media sosial dianggap paling harmonis. Foto mesra dianggap bukti kesetiaan. Pelukan di depan kamera dianggap tanda kedekatan. Sementara hubungan yang tenang sering dicurigai sebagai hubungan yang dingin dan tanpa rasa.

Padahal tidak semua cinta bekerja dengan bahasa yang sama. Ada cinta yang mudah diumumkan kepada dunia. Ada cinta yang memilih diam tetapi bertahan paling lama. Ada yang menunjukkan rasa sayang lewat sentuhan, dan ada pula yang mencintai lewat kesabaran serta ketenangan.

Dalam banyak puisi yang kutulis, aku memandang cinta justru hadir sebagai sesuatu yang sunyi. Ada luka yang tidak berisik, ada rindu yang tidak sibuk mencari panggung. Perasaan manusia sering tumbuh dalam diam, jauh dari kebutuhan untuk dipamerkan. Dan mungkin memang begitu hakikat cinta yang paling jujur: tidak selalu terlihat, tetapi tetap tinggal.

Masalahnya, manusia modern terlalu terobsesi pada validasi visual. Hubungan perlahan berubah menjadi panggung. Orang-orang tidak lagi sibuk membangun kebahagiaan, melainkan sibuk terlihat bahagia. Feed media sosial dipenuhi foto mesra dan potongan momen yang tampak sempurna, sementara realitas di baliknya tidak pernah benar-benar terlihat.

Kamera tidak pernah merekam pertengkaran setelah foto diambil. Ia tidak menangkap percakapan panjang yang penuh air mata. Ia tidak menyimpan bagaimana seseorang bertahan ketika pasangannya sedang jatuh. Foto hanyalah serpihan kecil dari hidup, tetapi manusia sering memperlakukannya seperti bukti mutlak untuk memvonis seseorang.

Di sinilah pemikiran Martin Buber menjadi penting. Dalam gagasannya tentang “aku dan engkau”, Buber menjelaskan bahwa manusia seharusnya hadir untuk memahami orang lain sebagai sesama manusia, bukan sekadar menjadikannya objek penilaian sosial. Namun media sosial perlahan mengubah hubungan antarmanusia menjadi hubungan antara penonton dan tontonan. Orang tidak lagi benar-benar ingin memahami, mereka hanya ingin menilai.

Sebagai perempuan, kenyataan itu terasa lebih melelahkan. Perempuan terlalu mudah dijadikan objek penghakiman hanya dari permukaan: cara berpakaian, cara tertawa, cara berbicara, bahkan dari posisi tangan dalam sebuah foto. Ketika perempuan dekat dengan seseorang, ia dianggap tidak menjaga diri. Ketika menjaga jarak, ia dianggap dingin. Ketika menunjukkan cinta, ia dianggap berlebihan. Ketika memilih diam, ia dianggap tidak punya perasaan.

Seolah dunia memiliki standar yang terus berubah hanya untuk memastikan perempuan tetap berada di posisi yang salah.

Padahal perempuan juga manusia. Ia memiliki cara sendiri untuk mencintai, menjaga hubungan, dan menunjukkan rasa sayang. Tidak semua perempuan nyaman mempertontonkan kemesraan di depan banyak mata. Ada yang mencintai dengan tenang, sederhana, dan tidak banyak bicara. Ada yang lebih memilih menjaga hubungan dalam diam daripada sibuk meyakinkan dunia bahwa ia sedang bahagia.

Pemikiran Erich Fromm menegaskan bahwa cinta bukan sekadar perasaan romantis, melainkan tindakan aktif: menjaga, memahami, menghormati, dan bertanggung jawab. Karena itu, cinta tidak pernah bisa diukur dari posisi tangan dalam sebuah foto. Cinta terlihat dari siapa yang tetap tinggal ketika hidup sedang sulit, dari siapa yang tidak pergi ketika keadaan berubah buruk, dan dari siapa yang tetap menjaga bahkan ketika tidak ada kamera yang merekamnya.

Namun manusia modern terlalu sering mengubah hidup menjadi panggung. Orang tidak lagi bertanya “apa yang benar”, tetapi “apa yang terlihat benar”. Di titik ini, manusia bukan lagi sedang hidup, tetapi sedang tampil.

Dan mungkin di situlah luka terbesar zaman ini: manusia semakin pandai menilai, tetapi semakin miskin memahami.

Dunia yang Kehilangan Kedalaman

Mungkin inilah ironi terbesar manusia modern: semakin terhubung, tetapi semakin jauh dari kemampuan memahami satu sama lain. Dunia digital membuat manusia dapat melihat kehidupan orang lain setiap hari, tetapi tidak benar-benar mengenal isi hati mereka. Yang terlihat hanyalah potongan kecil realitas, lalu potongan itu dijadikan keseluruhan cerita.

Padahal manusia tidak pernah sesederhana tampilan luarnya.

Ada luka yang tidak pernah diunggah.

Ada kesetiaan yang tidak pernah dipamerkan.

Ada cinta yang bekerja dalam diam tanpa perlu pengakuan.

Dan ada perjuangan yang tetap berlangsung bahkan ketika dunia mengira semuanya baik-baik saja.

Manusia sering lupa bahwa hidup tidak selalu berjalan dalam jalur hitam dan putih. Tidak semua hal bisa diputuskan hanya dengan label “benar” atau “salah”. Banyak hal lahir dari pengalaman, luka, lingkungan, cara didik, bahkan ketakutan yang berbeda-beda. Dari situlah perspektif terbentuk.

Masalahnya, sebagian orang terlalu mencintai prinsipnya sendiri sampai menganggap sudut pandang lain sebagai ancaman. Ketika hidup orang lain tidak sesuai dengan ukuran mereka, mereka buru-buru menghakimi, seolah moral hanya milik satu versi manusia saja.

Padahal orang yang benar-benar dewasa biasanya lebih banyak memahami daripada menyalahkan. Ia tahu bahwa manusia tidak dibentuk dari satu cerita. Apa yang terlihat buruk di mata seseorang, bisa jadi adalah cara bertahan hidup bagi orang lain.

Manusia yang gemar menyalahkan bukan selalu paling benar kadang hanya paling takut menerima bahwa dunia tidak berputar sesuai kehendaknya. Mereka nyaman hidup dalam kepastian, sehingga perbedaan dianggap kesalahan.

Perspektif bukan berarti semua hal dibenarkan, tetapi memahami perspektif membuat manusia belajar bahwa tidak semua perbedaan harus berubah menjadi permusuhan.

Karena ironisnya, banyak orang ingin dimengerti, tetapi sedikit yang mau belajar mengerti.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling keras menghakimi, melainkan siapa yang masih memiliki ruang di dalam dirinya untuk memahami.

Dan mungkin, di dunia yang terlalu sibuk menilai ini, kemampuan untuk memahami seseorang tanpa menghakimi adalah bentuk kemanusiaan yang paling sunyi dan paling langka. [T]

Jakarta, 19 Mei 2026

Penulis: Emi Suy
Editor: Adnyana Ole

Tags: cintamanusia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ungkapan ‘Sakit Hati dan Patah Hati’ Nadiem Memantik Simpati Publik

Next Post

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

Emi Suy

Emi Suy

Lahir di Magetan, Jawa Timur, dengan nama Emi Suyanti. Emi penyair perempuan Indonesia yang ikut mendirikan Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) dan saat ini aktif menjadi pengurus, serta menjabat sebagai sekretaris redaksi merangkap redaktur Sastramedia, sebuah jurnal sastra daring. Sampai saat ini Emi sudah menerbitkan lima buku kumpulan puisi tunggal, yaitu Tirakat Padam Api (2011), serta trilogi Sunyi yang terdiri dari Alarm Sunyi (2017), Ayat Sunyi (2018), Api Sunyi (2020) serta Ibu Menanak Nasi Hingga Matang Usia Kami (2022), buku kumpulan esai sastra Interval (2023), serta satu buku kumpulan puisi duet bersama Riri Satria berjudul Algoritma Kesunyian (2023). Penulis Naskah Opera (Libretto) I’m Not For Sale tentang perjuangan tokoh perempuan Ny. Auw Tjoei Lan menantang kematian menyelamatkan kehidupan, oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan. Puisi Emi Suy dimuat di lebih dari 200 buku kumpulan puisi bersama, serta di berbagai media online, seperti Basabasi.co, Sastramedia.com, juga dimuat di media nasional, antara lain Malutpost, Lampung Post, Banjarmasin Post, Suara Merdeka, Media Indonesia, serta Kompas. Puisinya pernah dimuat di majalah internasional dalam bahasa Inggris; majalah Porch Litmag.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co