DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam arti plesir yang dalam Bahasa Bali disebut malali bukanlah akar budaya orang Bali. Kalau toh mereka berwisata belakangan ini berkat taraf hidup mulai meningkat maka pertama-tama yang dituju adalah Pura. Begitu pula Paket Wisata para pelajar, travel agence yang memfasilitasi sudah dipastikan ada sesi sembahyang bersama. Bila paketnya Jawa Timur misalnya, Pura yang dituju Alas Purwo, Pura Arjono, Semeru bergantung pada rute perjalanan. Plesiran orang Bali berbasis religius. Itu pula sebabnya mereka selalu membawa busana adat ke Pura dan banten sesajen ketika mereka berwisata. Sebutan paling tepat untuk wisata orang Bali adalah wisata religius.
Begitu pula halnya, ketika rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan studi Tiru ke Suku Baduy Luar yang berlangsung selama 3 hari, Kamis Umanis Gumbreg hingga Sabtu Pon Gumbreg 14–16 Mei 2026, pertama yang dituju adalah Pura Aditya Jaya Rawamangun Jakarta Timur. Ketika rombongan sampai di tempat parkir Jaba Pura, mereka bergegas mengganti pakaian dan menyiapkan sarana persembahyangan. Yang agak ribet adalah ibu-ibu yang perlu mapayas agar lebih jegeg dan glowing. Apalagi ibu-ibu zaman now, yang sedikit-sedikit mapayas ke salon. Namun, tidak demikian dengan Ibu-ibu yang ikut rombongan ini. Mereka terbiasa ngayah di desa adat masing-masing. Umumnya mereka memiliki keterampilan budaya Bali yang memadai : Majejahitan, matetuasan, mareringgitan mengunakan janur atau daun rontal.
Para panglingsir desa adat terutama kaum Ibu yang tergabung dalam Paiketan Krama Istri (PAKIS) merasa surprise tampak dari wajah-wajahnya yang sumringah. Melepaskan diri sesaat dari rutinitas makrama dengan ritual ikutannya yang nyaris tiada henti. Maka selama perjalanan pun curhatan, pengalaman, dan tradisi terkuak dalam obrolan dengan segala suka dukanya. Lebih-lebih Travel Agence dengan tour leader-nya lihai menghibur dan begitu masuk bus pertama-tama memohon maaf karena Bus tidak tepat waktu. Tempat duduk pun kurang. Akibatnya, peserta yang rerata lansia awal pun pakrimik. Namun, pakrimik-nya segera terobati dengan kata pertama ; Maaf oleh Edo Narayana yang menjadi tour leader.

Dalam perjalanan dari Bandara Soekarno – Hatta menuju Pura Aditya Jaya Rawamangun sekitar 1 jam, Edo mampu mencairkan suasana menjadi penuh kehangatan dan persaudaraan. Ia pun mengedukasi rombongan dengan memperkenalkan nama-nama tempat di Jakarta. Secara toponomi, setidaknya 144 nama tempat di Jakarta berasal dari nama tanaman seperti Kebon Jerok, Kebon Sirih, Duren Sawit, Kelapa Gading, Menteng, Gandaria, dan lain-lain. Nama-nama tempat itu setara dengan nama-nama tempat di Bali. Di Bali ada Abian Base, Abian Kapas, Abian Semal, Abian Tuung.
Begitulah orang (Bali) berwisata, di bus pun belajar bila punya kesadaran untuk belajar dengan siapa saja. Apalagi sampai di Pura, belajarnya lebih banyak dan seharusnya lebih mendalam dengan kesadaran dan kesabaran. Sampai di Pura menjelang sandikala, membuat persembahyangan terasa khusuk dengan kidung Warga Sari sebagai pengiring. Walaupun deru kendaraan ngeriung, persembahyangan berlangsung khusuk dipimpin pinandita istri. Denting gentanya merasuk sukma dan ucapan mantranya pun dengan artikulasi bergema jelas. Tidak terkontaminasi oleh deru deras suara kendaraan lalu lalang yang meraung-raung di sekitarnya. Mirip suasana Melasti di Bali, walaupun turis lalu lalang berbikini di sekitarnya, Melasti tetap lancar dan khusuk saat persembahyangan.
Para panglingsir Desa Adat yang nunas ica di Pura Aditya Jaya Rawamangun Jakarta Timur selesai sembahyang juga mendapatkan wawasan baru tentang keberadaan Pura dan Umat Hindu di Jakarta. I Made Sudarta Ketua Umum Suka Duka Hindhu Dharma (SDHK) Jakarta Raya mengatakan ada 15 Pura yang umum digunakan tempat persembahyangan Umat Hindu di Jakarta. “Namun, umumnya yang terkenal adalah Pura Aditya Jaya Rawamangun. Setiap umat Hindu Bali yang datang ke Jakarta belum lengkap tanpa nangkil ngaturang sembah bakti di Pura ini”, kata I Made Sudarta seorang pensiunan berasal dari Mengwi Badung sudah lama menetap di Jakarta.
Masuk akal pernyataan I Made Sudarta jika mencermati sejarah berdirinya Pura Aditya Jaya Rawamangun di Jalan Daksinapati Raya Nomor 10 Rawamangun Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur. Pura ini adalah Pura tertua di Jakarta diresmikan pada 1972 melalui perjuangan panjang komunitas Hindu Jakarta sejak 1955. Jadi, perlu waktu 17 tahun perjuangan tokoh Umat Hindu Jakarta untuk mewujudkan tempat suci yang representatif. Menariknya, di Pura ini terdapat fasilitas yang cukup memadai antara lain seperangkat gamelan, balai pertemuan, wantilan pura, dan kantin pura yang tertata bersih dan rapi dengan aneka makanan Bali termasuk babi guling. Tidak salah bila rombongan Panglingsir Desa Adat se- Badung makan malamnya di wantilan Pura di Madya Mandala Pura.
Makanannya memenuhi cita rasa lidah orang Bali pada umumnya. Selain itu, pilihan makan di Jaba Pura juga memberdayakan krama pangemong secara ekonomi. Memutar cakra yadnya berdampak ekonomi sejalan dengan Gerakan Swadesi dari Mahatma Gandhi yang diartikulasikan oleh Bung Karno dengan semangat berdikari.

Daya tarik lain, Pura Aditya Jaya Rawamangun juga termasuk Pura Ramah Anak. Di sini juga ada Sekolah Minggu untuk memfasilitasi anak-anak Hindu Jakarta yang tidak mendapatkan Pelajaran Agama bila ia sekolah di Yayasan Sekolah berbasis Agama. Pernyataan itu saya peroleh di ruang makan ketika bertemu orang tua siswa yang anaknya perempuan duduk di Kelas I SD. Ia diikutkan dalam Sekolah Minggu sekaligus belajar Menari Bali.
Sebagaimana diakui Bandesa Madya Majelis Desa Adat (MDA) Kabupaten Badung, Ida Bagus Gde Widnyana “Membayangkan saja sulit. Apalagi melaksanakan tugas besar dengan tingkat kompleksitas persoalan Jakarta, mengempon 15 Pura pastilah tidak mudah”. Sehubungan dengan hal itu, mewakili rombongan Ketua MDA Kabupaten Badung menyerahkan dana punia kepada Ketua Umum SDHD, I Made Sudarta.
Menurut I Made Sudarta, Pujawali di Aditya Jaya Rawamangun jatuh pada Saraswati, Saniscara Umanis Watugunung. Pembiayaan berasal dari urunan krama dan sponsor umumnya dari BUMN. Umumnya umat Hindu yang asal-muasalnya dari Bali membawa budayanya di tempat tinggalnya yang baru. Begitu juga orang Bali di Jakarta. Seni budaya Bali hidup di Pura Aditya Jaya Rawamangun. Kearifan lokal Bali, desa, kala, patra membuat orang Hindu Bali lentur di mana saja. Mengunjungi komunitas Hindu di luar Bali adalah cara orang Bali berwisata, from healing to eling. [T]





























