6 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bermain dengan Jin Tengah Malam

Chusmeru by Chusmeru
May 7, 2026
in Fiksi
Meninggal Seperti Pepes Ikan

Chusmeru

MEMILIKI seorang anak yang sehat, cerdas, dan saleh tentu membahagiakan bagi Krisna Malika dan Riana Dewanti. Anak pertama mereka, Arkanda Rayana berusia lima tahun. Masih duduk di taman kanak-kanak. Anak lelaki kesayangan yang mereka panggil Kanda itu mempunyai cerita panjang saat hadir di bumi.

Kehadiran Kanda penuh dengan penantian panjang. Tiga tahun setelah menikah, Krisna Malika dan Riana Dewanti belum juga punya momongan. Riana Dewanti sempat periksa dan konsultasi ke dokter kandungan. Hasilnya, dokter mengatakan tidak ada masalah dengan rahim Riana. Krisna Malika pun periksa ke dokter. Kesimpulannya, Krisna tidak bermasalah secara medis.

Dokter hanya menyarankan Krisna dan Riana untuk bersabar, sambil mengurangi aktivitas yang menyita banyak waktu dan tenaga. Itu yang sulit mereka lakukan. Krisna bekerja di sebuah perusahaan desain interior yang kadang bekerja hingga larut malam. Riana pun bekerja di perusahaan farmasi yang mengharuskannya melakukan kerja ke luar kota berhari-hari.

Tiga tahun mereka bersabar. Menunggu kehamilan Riana. Berbagai upaya pun dilakukan Riana dan Krisna. Setiap hari mereka mengkonsumsi makanan yang meningkatkan kesuburan. Hampir tiap hari mereka menyantap makanan yang kaya antioksidan. Sayur, ikan laut, dan buah-buahan yang mengandung lemak baik mereka makan setiap hari.

Hingga tiba saat yang menggembirakan bagi Krisna dan Riana. Dokter kandungan menyatakan Riana positif mengandung. Tentu saja mereka bersuka cita. Kesabaran mereka membuahkan hasil. Mereka akan menjadi seorang ayah dan ibu. Hari-hari mereka akan diwarnai canda bersama buah hati kesayangan.

Selama mengandung Riana menjaga betul kesehatan dirinya dan bayi yang dikandungnya. Riana selalu mengkonsumsi makanan yang kaya nutrisi, sayuran, dan buah-buahan. Tak lupa ia juga makan kecambah atau tauge yang sudah dimasak. Ia percaya tauge sangat baik untuk kesehatannya dan bayinya.

Hampir setiap hari Krisna menegelus perut Riana. Sesekali Krisna juga berbicara kepada bayi yang dikandung lewat perut Riana. Mereka berharap bayi itu akan lahir menjadi anak yang sehat dan cerdas.

Harapan Krisna dan Riana terkabul. Setelah lebih dari sembilan bulan berada di dalam kandungan, bayi itu lahir. Laki-laki. Ganteng dan sehat. Rasa gembira tak terbendung di hati Krisna dan Riana. Mereka kini menjadi seorang ayah dan ibu bagi anak laki-laki.

***

Arkanda Rayana, begitu Krisna dan Riana memberi nama pada anak mereka. Kini Kanda, nama panggilan anak mereka, telah menginjak usia lima tahun. Kanda tengah ceria bermain di taman kanak-kanak. Kanda tumbuh dan berkembang sebagai anak yang lincah. Meski kadang Krisna dan Riana menjumpai Kanda sedang duduk diam sendirian di kamar. Pernah pula Riana mendapati Kanda sedang bercakap sendirian di sudut kamar.

“Sedang bicara dengan siapa, Kanda?” tanya Riana suatu saat.

“Ini, Ma. Kanda lagi main sama teman Kanda,” jawab Kanda sambil menunjuk ke tembok.

Riana hanya tersenyum. Ia pikir anak-anak seusia Kanda memang kadang berhalusinasi dan berimajinasi berbicara kepada orang lain. Karenanya Riana tak menganggap serius jawaban Kanda. Anak itu terus memainkan barang-barang permainannya sambil berbicara ke tembok.

Bukan hanya Riana, suaminya pun pernah menjumpai Kanda sedang tertawa sendiri sambil memegang mainan mobil-mobilan. Krisna mengamati sekeliling ruangan. Ia tidak melihat orang lain atau sesuatu yang lucu.

“Kanda tertawa kenapa?” tanya Krisna kepada anaknya.

“Itu lho, Pa… teman Kanda lucu, ngajak balapan mobil-mobilan,” jawab Kanda sambil menunjuk ke arah depan.

Krisna melihat ke arah yang ditunjuk anaknya. Tidak terlihat siapa pun atau apa pun. Seperti halnya istrinya, Krisna pun hanya tersenyum. Ia menduga anaknya sedang berfantasi bermain mobil-mobilan dengan orang lain. Krisna membiarkan Kanda terus bermain sambil tertawa.

Malam hari di rumah, Krisna dan Riana masih mengerjakan tugas-tugas kantor yang belum sempat mereka selesaikan. Keduanya fokus pada laptop masing-masing. Menjelang pukul sepuluh malam, mereka mendengar suara Kanda sedang bernyanyi di luar, di halaman rumah. Krisna dan Riana terkejut. Bukankah seharusnya Kanda sudah tidur di kamarnya?

Perlahan Krisna dan Riana menuju pintu rumah. Ada perasaan tidak enak pada diri mereka. Sedikit merinding, agak takut juga. Mengapa anak mereka masih bermain di halaman rumah malam hari? Dengan siapa Kanda bermain dan bernyanyi?

Pintu dibuka Krisna dengan pelan. Riana mengamati dari belakang. Mereka terkejut. Tampak Kanda sedang bernyanyi dan menari di halaman rumah. Tangan Kanda bergerak-gerak seolah sedang menggenggam seseorang. Krisna dan Riana saling pandang, takut dan merinding melihat anak mereka berulah seperti itu di malam hari. Bergegas mereka menghampiri Kanda.

“Kanda sedang apa malam-malam di luar rumah?” tanya Krisna sambil memeluk Kanda.

“Ini, Pa.. Kanda sedang bermain bersama teman-teman,” jawab Kanda seraya menunjuk ke sekeliling.

Seketika berhembus angin sepoi di halaman rumah. Pepohonan bergerak perlahan. Krisna dan Riana merasakan hawa dingin yang tidak biasa di pekarangan rumah mereka. Sekujur tubuh mereka mendadak merinding saat tercium bau wangi bedak bayi di sekitar tempat Kanda bermain.

“Ayo masuk ke rumah, Kanda. Sudah larut malam,” kata Krisna sambil membopong Kanda masuk ke dalam rumah.

Kanda sempat hendak berontak. Ketika diajak duduk di ruang tamu, Kanda masih menunjukkan wajah ngambeknya.

“Kenapa Papa menyuruh Kanda masuk? Kanda kan sedang bermain bersama teman-teman” tanya Kanda protes.

“Mereka bukan teman Kanda. Mereka itu jin,” jawab Krisna dengan nada cemas.

“Jin itu apa, Pa?” tanya Kanda tak mengerti maksud ayahya.

Krisna tak segera menjawab. Ia memandang istrinya. Riana pun terdiam. Mereka hanya saling memberi isyarat agar tak lagi membahas soal jin itu. Mereka menyadari Kanda belum paham tentang makhluk jin. Waktu dan kegiatannya hanyalah bermain. Walau ia tidak memahami bahwa teman bermainnya adalah jin, bukan manusia biasa.

***

Tanah di luar masih tampak basah. Hujan seharian membuat malam terasa cukup dingin. Krisna dan Riana bersiap untuk berangkat tidur. Krisna memastikan semua pintu rumahnya telah terkunci. Riana menengok ke kamar Kanda. Anak laki-laki yang tampan dan lucu itu telah tidur lelap. Krisna dan Riana pun masuk kamar.

Saat Krisna dan Riana tertidur pulas, mereka dikejutkan dengan suara keras Kanda yang berada di halaman rumah. Mereka terbangun sambil melihat jam dinding yang menunjukkan angka sebelas. Krisna terkejut. Riana ketakutan, merinding sambil mengatupkan kedua tangannya di lengan. Krisna merasa yakin telah mengunci semua pintu. Riana juga sudah memastikan Kanda tidur di kamarnya. Lantas mengapa Kanda berada di halaman rumah tengah malam?

Dengan berjingkat-jingkat Krisna dan Riana berjalan menuju pintu depan. Masih terkunci dari dalam. Semua jendela juga tertutup rapat. Bagaimana mungkin Kanda dapat keluar rumah? Bulu kuduk Krisna mulai berdiri. Sementara di luar rumah terdengar suara tawa Kanda. Dibukanya gorden penutup jendela depan rumah. Mereka terkejut. Kanda berlarian kian-kemari sambil tertawa.

“Kanda…!!!” teriak Riana sambil berlari menjemput anaknya di halaman rumah.

Kanda tampak seperti kebingungan. Krisna menuntun Kanda untuk menuju kembali ke dalam rumah. Tercium bau wangi daun pandan saat Kanda meninggalkan halaman rumah. Setelah itu terdengar suara riuh anak-anak, tapi tak tampak dalam pandangan Krisna dan Riana. Malam yang dingin menambah suasana semakin menyeramkan. Riana pucat ketakutan. Krisna merinding, namun juga kesal dan marah pada makhluk gaib yang selalu mengajak anaknya bermain di malam hari.

Beberapa kejadian yang dialami Kanda membuat Krisna berinisiatif mengundang guru mengaji buat Kanda. Selain untuk mengajarkan membaca kitab suci bagi Kanda sejak dini, juga untuk kegiatan Kanda di malam hari. Krisna dan Riana juga berharap, dengan kegiatan mengaji di rumah, Kanda akan terhindar dari gangguan jin yang selalu mengajak bermain di tengah malam.

Tidak sulit bagi Kanda untuk belajar mengaji. Dengan cepat ia memahami apa yang diajarkan oleh guru mengajinya. Krisna dan Riana sedikit lega. Anak kesayangan mereka punya kesibukan di malam hari.

“Kenapa anak saya sering diajak bermain oleh jin di tengah malam ya, Pak. Apa anak saya indigo?” tanya Krisna kepada guru mengaji Kanda.

“Kanda anak yang baik, Pak Krisna. Sebenarnya Kanda bukan indigo, tapi dia memiliki kemampuan melihat dan berkomunikasi dengan makhluk gaib,” kata guru mengaji.

“Sampai kapan Kanda akan menjadi seperti itu, Pak?” tanya Krisna.

“Bisa diikhtiarkan untuk melemahkan kemampuannya, dan menjauhkan Kanda dari gangguan jin,” jawab guru mengaji Kanda.

“Bagaimana caranya, Pak?” tanya Krisna sedikit bersemangat mendengar jawaban guru mengaji anaknya.

“Saran saya, Bapak Krisna dan Ibu Riana berpuasa sunah Senin-Kamis selama tujuh bulan, serta puasa pada hari lahir dan pasaran Kanda. Dengan niat semoga Kanda dijauhkan dari gangguan jin,” jelas guru mengaji.

Krisna dan Riana memahami dan mennyetujui saran guru mengaji anak mereka. Kanda masih kanak-kanak. Fisik dan psikisnya masih sangat rentan terhadap godaan makhluk halus. Melakukan puasa sunah seperti saran guru mengaji Kanda adalah saran yang bersifat spiritual dan transendental.

Tujuh bulan mereka menjalankan puasa sunah itu. Kanda tak lagi diganggu jin. Ia tak lagi keluar rumah di malam hari. Kanda kini menjadi anak yang kalem. Bahkan ia kini memiliki kegemaran baru, menggambar apa saja yang ia sukai di buku gambar. Hingga, suatu ketika Krisna dan Riana menghampiri Kanda yang sedang asyik menggambar.

“Sedang menggambar apa, Kanda?” tanya Krisna.

“Ini, Pa. Kanda menggambar teman-teman Kanda yang dulu sering mengajak bermain,” jawab Kanda sambil menunjukkan hasil gambarnya.

Krisna Malika dan Riana Dewanti terkejut sekaligus merinding. Kanda menggambar sosok misterius yang wajahnya sangat mengerikan. Ada gambar anak kecil yang bertaring. Ada pula gambar sosok tinggi besar dengan sorot mata tajam.

Kanda memang sudah tidak lagi bermain dengan mereka tengah malam. Namun rupanya ia menyimpan kenangan bersama jin yang pernah berteman dengannya. [T]

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

Tags: cerita misterifiksihoror
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

Next Post

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Ajian Jaran Goyang

by Chusmeru
August 20, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI lelaki jomblo di usia yang tidak lagi muda membuat Teguh Priyono selalu menjadi perbincangan tetangga. Wajahnya tidak terlalu jelek....

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Kencan Pertama di Kafe Pinggir Sungai

by Chusmeru
August 6, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

KENCAN pertama untuk sebagian besar orang dianggap sesuatu yang mendebarkan. Begitu pun yang dirasakan Heru Pambudi dan Tuty Rosdiana. Belum...

Read moreDetails

Malam Keakraban Berbuntut Teror

by Chusmeru
July 23, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

MENJADI dosen pembimbing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi membuat Asifa Furoda selalu dekat dengan mahasiswa. Bukan hanya ketika berada...

Read moreDetails

Resepsi Pernikahan Genderuwo di Bulan Suro

by Chusmeru
July 2, 2026
0

MENDAPAT amanah dari warganya, Suyadi merasa bangga dan terharu menjadi kepala desa. Jabatan yang membuatnya harus memimpin daerah yang agak...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  'Piercing the Corporate Veil' dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
Labirin Bahasa di Sekitar Kita
Bahasa

Labirin Bahasa di Sekitar Kita

PERNAHKAH Anda memperhatikan bagaimana sebuah kata bekerja di media sosial atau di obrolan sehari-hari? Kita sering mengira bahasa itu seperti...

by I Made Sudiana
September 4, 2026
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang
Esai

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

by Andre Syahreza
September 4, 2026
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana
Opini

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang
Esai

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
Nusa Dua Memang Tiada Satunya
Esai

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co