PERNAHKAH Anda mendengar orang mengatakansepakat seribu persen?
Saya sendiri kerap mendengar pejabat, figur publik, atau teman sendiri berteriak sepakat seribu persen untuk menunjukkan antusiasme ekstrem mereka dalam sebuah forum.
Selanjutnya dalam artikel ini, seribu persen ditulis dengan angka dan lambang 1.000% sesuai dengan EYD Edisi V. Penulisan antara angka dan lambang tidak ada spasi. Tujuannya supaya angka dan lambang tidak dianggap kata (dua kata) sehingga dalam pengetikan, antara angka dan persen masih berada pada baris yang sama. Kalau dianggap dua kata, antara 1.000 dan % bisa saja berada pada baris yang berbeda ketika batas margin kanan dalam pengetikan telah habis.
Kita kembali ke masalah pokok. Di era media sosial yang serba bombastis, kita sering terjebak dalam perlombaan kata-kata. Saat sebuah opini yang viral melintas di beranda, jemari kita kita seolah gatal untuk mengetik atau menyuarakan dukungan yang paling ekstrem. Frasa sepakat 1.000% pun lahir sebagai puncaknya. Secara emosional, ini terdengar seperti guntur yang menggelegar, menunjukkan betapa membara dukungan kita. Namun, jika kita sejenak berlogika, pernyataan ini sebenarnya adalah sebuah tragedi komedi kebahasaan.
Persen (%) adalah simbol matematika yang secara harfiah bermakna ‘per seratus’. Dengan kata lain, persen (persentase) adalah cara menyatakan sebuah angka sebagai bagian dari keseluruhan (rasio) dalam bentuk pecahan per seratus. Dalam matematika dasar, 100% melambangkan sebuah totalitas yang utuh.
Begitu pula dengan sebuah kesepakatan. Sepakat adalah kondisi mental yang biner—antara ya atau tidak. Ketika Anda menyatakan sepakat 100%, artinya tidak ada lagi celah keraguan di dalam pikiran Anda. Seluruh ruang dukungan sudah terisi penuh. Lalu, apa gunanya menambahkan sembilan ratus persen lagi?
Penggunaan angka 1.000% adalah bentuk hiperbola yang sebenarnya kurang tepat sasaran. Hiperbola seharusnya memperkuat makna, namun dalam konteks persentase, angka ekstrem ini justru mengaburkan logika. Kita seolah-olah merasa bahwa angka 100 sudah tidak cukup kuat lagi untuk mengekspresikan gairah kita. Kita merasa harus berteriak lebih kencang dengan deretan angka nol yang berbaris panjang agar suara kita dianggap paling valid. Padahal, penggunaan bahasa yang logis justru mencerminkan kejernihan berpikir seseorang.
Dalam bahasa Indonesia, kita memiliki banyak pilihan kata atau diksi yang lebih elegan untuk menunjukkan intensitas dukungan tanpa harus merusak nalar matematika. Jika angka 100 persen terasa terlalu membosankan, mengapa tidak mencoba klausa atau kalimat seperti berikut ini.
Saya mendukung sepenuhnya; ini adalah pemikiran yang mutlak benar; atau saya setuju tanpa reservasi sedikit pun. Klausa-klausa tersebut jauh lebih berkelas dan tetap menunjukkan ketegasan posisi kita.
Bahasa memang terus berkembang, namun perkembangan itu sebaiknya tidak menabrak batas akal sehat. Menggunakan istilah yang tidak logis hanya demi terlihat keren atau dramatis justru menunjukkan kedangkalan kita dalam memahami konsep dasar sebuah kata. Ketepatan dalam berbahasa adalah bentuk penghormatan kita terhadap lawan bicara dan terhadap logika itu sendiri.
Mari kita mulai memulihkan kewarasan dalam berkomunikasi. Tidak perlu lagi ada angka-angka fantastis yang mustahil dalam menyatakan dukungan. Sepakat 100% sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan bahwa kita berada di pihak yang sama.
Apakah Anda sepakat 100% dengan tulisan ini? [T]
Penulis: I Made Sudiana
Editor: Adnyana Ole





























