“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.”
Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made Sujaya, S.S., M.Hum., Dekan Fakultas Bahasa dan Seni UPMI Bali. Ucapannya membuka sebuah siang yang hangat, Minggu, 3 Mei 2026, saat puluhan karya tapel ogoh-ogoh berjajar rapi di ruang lomba, menghadirkan ragam ekspresi, karakter, dan imajinasi tanpa batas.
Hari itu, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Seni Rupa berkolaborasi dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Undagi menggelar Lomba Tapel Ogoh-ogoh se-Bali. Sebanyak 49 peserta ambil bagian dalam ajang yang menjadi bagian dari rangkaian program tahunan Tabula Rasa, yang kini memasuki tahun ketiga.

Mengusung tema “Baksya Ing Aruna” yang dimaknai sebagai ‘Kreativitas Tanpa Mengenal Batas’, lomba ini menghadirkan pendekatan berbeda dalam melihat ogoh-ogoh. Tak lagi sekadar karya musiman yang hadir menjelang Nyepi, tetapi sebagai medium ekspresi seni yang terus hidup dan berkembang.
Ketua panitia, I Gede Bagus Budiyasa Amerta, menjelaskan bahwa pemilihan lomba tapel ogoh-ogoh didasari pertimbangan praktis. Bentuknya yang lebih ringkas memudahkan pengelolaan ruang sekaligus menjaga kondusivitas acara.
“Ke depan, tentu akan kami evaluasi dan kembangkan. Tidak menutup kemungkinan ada penambahan cabang lomba seperti sketsa, ogoh-ogoh mini, atau kategori lainnya agar ruang kreativitas semakin luas,” ujarnya.



Sejak pagi hari, pukul 09.00 WITA, suasana sudah tampak hidup. Para peserta sibuk mempersiapkan karya mereka jauh sebelum penjurian dimulai pukul 13.00 WITA. Detail demi detail diperhatikan dengan cermat, mulai dari penataan rambut, ornamen, alas, hingga penyusunan sinopsis dan dokumentasi proses kreatif.
Di antara peserta, Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak begitu antusias. Ini merupakan pengalaman kelimanya mengikuti lomba serupa. Dengan penuh semangat, ia membagikan kesannya.
“Saya senang bisa ikut lomba ini. Setiap mengikuti lomba, selalu ada masukan dari juri yang sangat berarti. Dari situ saya belajar banyak dan bisa terus memperbaiki karya saya ke depannya,” tuturnya.

Tak sekadar kompetisi, lomba ini juga menjadi ruang belajar yang hidup. Para peserta tidak hanya berlomba menampilkan karya terbaik, tetapi juga menyerap pengalaman, kritik, dan inspirasi dari sesama perupa muda.
Ketua Program Studi Pendidikan Seni Rupa, Dr. Ni Putu Laras Purnamasari, S.Sn., M.A., menegaskan bahwa lomba ini merupakan pembuka dari rangkaian Tabula Rasa tahun 2026. Rangkaian kegiatan selanjutnya telah disiapkan secara bertahap dalam beberapa bulan ke depan.
“Kegiatan Tabula Rasa tahun ini memang kami rancang dengan jeda di tiap bulannya, agar setiap kegiatan bisa lebih fokus dan maksimal dalam pelaksanaannya,” jelasnya.
Ia menambahkan, pada bulan Juni akan digelar pameran kolektif yang melibatkan mahasiswa Pendidikan Seni Rupa bersama sejumlah siswa SMP dan SMA di Kota Denpasar. Sementara itu, pada bulan Juli akan diadakan seminar secara hybrid sebagai ruang diskusi dan pengembangan wawasan.


Lebih dari sekadar agenda rutin, Laras melihat Tabula Rasa sebagai ruang tumbuh bagi mahasiswa.
“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi inkubator dalam berkesenian. Tidak hanya mengasah keterampilan praktik, tetapi juga melatih kemampuan berorganisasi serta mengelola sebuah event secara profesional,” ujarnya.
Apresiasi pun datang dari Made Sujaya. Dalam sambutannya, ia menyoroti semangat mahasiswa yang terus menyala meskipun jumlah mereka tidak besar.
“Saya sangat mengapresiasi kegiatan lomba ini. Prodi Seni Rupa memang termasuk salah satu prodi yang paling aktif di Fakultas Bahasa dan Seni. Jumlah mahasiswanya mungkin kecil, tetapi semangat dan daya hidupnya tidak pernah kecil,” ungkapnya.
Di tengah deretan tapel yang menampilkan wajah-wajah penuh ekspresi, dari yang anggun hingga menyeramkan, terlihat jelas bahwa ogoh-ogoh telah menemukan ruang barunya. Ia tak lagi sekadar hadir sebagai tradisi tahunan, melainkan sebagai wujud kreativitas yang terus bernapas, tumbuh, dan menemukan makna baru di tangan generasi muda Bali. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole




























