5 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Guru Profesional Bekerja Proporsional

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
May 2, 2026
in Esai
Guru Profesional Bekerja Proporsional

Ilustrasi tatkala.co | Canva

TEMA Hardiknas2026 adalah Menguatkan Partisipasi  Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua. Frase “partisipasi semesta” pertama muncul melalui Konsolidasi Nasional Pendidikan pada Februari 2026, yang menegaskan pentingnya kolaborasi pemerintah, guru, orang tua, dunia usaha, media, dan masyarakat. Semua elemen itu menentukan kompas Pendidikan Indonesia ke depan.

Seiring dengan menuanya usia bangsa dan semakin sering kita merayakan Hari Pendidikan Nasional, ada catatan penting yang mesti direnungkan di balik serimoni hingar bingar di bawah sorot kamera yang viral di berbagai platform media sosial. Tentu saja mereka yang berupacara itu tidak akan pernah berada dalam  barisan rapi tanpa kehadiran guru. Tiba-tiba saja saya teringat pada puisi berjudul “Menyesal” karya Ali Hasjmy. Tiga baris terakhir puisinya, berbunyi ; …Kepada yang muda kuharap/Atur barisan di pagi hari/Menuju arah padang bakti//

Bangsa ini jangan sampai menyesal karena yang mengatur barisan di pagi hari kurang semangat. Kekurangan energi untuk sanggup berdiri tegak karena gaji mereka  pun belum cukup untuk itu. Itu terjadi karena beragamnya status keguruan para paru. Dari berbagai daerah, masih ada guru yang digaji di bawah Rp 500.00,00 sebulan. Sudah kecil terlambat pula. Masih ada guru bertaruh nyawa menyeberangkan murid melintasi sungai menuju sekolah. Masih ada guru yang melewati jalan becek berlumpur yang bila ditempuh dengan sepeda motor licinnya minta ampun. Masih ada guru rela berjalan kaki berkilo-kilo, walaupun gajinya hanya cukup untuk hidup sangat sederhana dalam waktu sepekan. Masih ada guru yang selepas dari sekolah langsung menjadi pemulung, mengorek sampah demi sesuap nasi bagi anak yang ditinggal di rumah. Masih ada guru yang serba kekurangan secara material sehingga anak-anaknya pun tidak mendapatkan Pendidikan yang selayaknya. Masih banyak guru yang SK-nya menjadi jaminan di Bank sehingga yang tersisa bukti potong gaji.   Di tengah situasi itulah, Pendidikan bermutu untuk semua dipertaruhkan. Di sinilah pentingnya partisipasi semesta mendukung.

Jika mencermati tema Hari Pendidikan Nasional 2026, ada sejumlah hal yang menarik untuk dikulik. Pertama, frasa “partisipasi semesta” yang disimplifikasi menjadi kolaborasi enam elemen : pemerintah, guru, orang tua, dunia usaha, media, dan masyarakat. Keenam elemen ini seyogyanya seiring sejalan memandang Pendidikan sebagai kompas masa depan bangsa. Tanpa demikian, posisi guru menjadi lemah bahkan sering dibully dan dilecehkan di depan publik. Betapa sakitnya hati guru bila ditelanjangi di depan muridnya sendiri oleh oknum yang seharusnya menjadi anutan. Ini perlu menjadi refleksi untuk memahami partisipasi semesta.

Kedua, pemerintah perlu menghapus kasta guru yang selama ini ada. Ada guru PNS, guru PPPK, guru PPPK PW, guru hononer, guru tetap yayasan, guru tak tetap. Selain guru PNS, status guru itu sangat riskan. Mereka harap-harap cemas. Apakah kontrak mereka diperpanjang atau tidak. Mereka semua mendidik dan mengajar dengan tugas yang sama, mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi dengan pendapatan yang berbeda. Hal itu telah menimbulkan kesenjangan antarguru baik diinternal sekolah maupun antarsekolah. Identik dengan kasta guru, kasta sekolah juga belum dapat dihapus walaupun pemerintah menyebut tidak ada sekolah unggulan atau sekolah pavorit. Nyatanya, perbedaan antarsekolah begitu nyata adanya. Daya dukungnya tidak sama, baik fasilitas pendukung, guru, tendik, dan kesadaran masyarakat pendukungnya.

Ketiga, generasi emas yang selalu digemakan menyambut seabad Indonesia Merdeka adalah harapan yang perlu dijemput dengan semangat ber-AKHLAK. Pendidikan berorientasi pada Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif. Orientasi itu seyogyanya berkesinambungan siapa pun pemimpinnya. Jangan sampai guru di garda terdepan  seperti dikejar macan berlari tergesa-gesa dikepung tugas administrasi yang semakin banyak. Sejak TPG dibayar setiap bulan mulai Januari 2026, obrolan di ruang guru berkisar valid tidaknya info GTK. Obrolan ini kurang  empati mengingat kasta guru yang beragam dalam satu sekolah. Seyogyanya guru cerdas menggunakan parameter komunikasi secara pragmatik.

Keempat, tuntutan kepada guru untuk menciptakan Budaya Sekolah Aman Nyaman (BSAN) bin Aman Sehat Resik  dan Indah (ASRI) kepada murid perlu diimbangi dengan keamanan dan kenyamanan guru melaksanakan swadarmanya. Selama ini, banyak guru mengajar tidak linier dengan mata pelajaran yang diampu padahal jumlah jam mengajarnya melampaui jam mengajar minimal 24 jam/minggu. Namun,  Tunjangan Profesi Guru (TPG)-nya tidak terbayarkan karena alasan tidak linier. Guru demikian perlu diproteksi dan dibayarkan TPG-nya karena mereka sudah mau belajar melampaui bidang keahliannya. Seharusnya mereka mendapatkan TPG plus. Dapat dibayangkan bila tidak ada guru yang mengajar bidang studi tertentu dengan alasan tidak linier, pasti akibatnya lebih parah. Gerakan BSAN dan ASRI makin menjadi utopia bagi guru. Slogan yang indah bila tidak diimani akan menjadi anomali.

Respon para guru yang berkesadaran belajar meningkatkan kualitas diri dan kualifikasi Pendidikan hendaknya direspon oleh pemerintah dan diberikan karpet merah untuk pertama-tama secara otomatis ditambahkan gelar akademiknya ke dalam data base kepegawaian dengan menunjukkan ijazah asli. Selain itu, gaji mereka juga perlu disesuaikan dengan kualifikasi pendidikannya sehingga semangat belajar dan mengajarnya meningkat. Sebagaimana guru terbiasa menyemangati murid, demikian pulalah seyogyanya guru diperlakukan karena semua orang ingin dihargai tak terkecuali para guru.  

Jika mencermati Pidato Mendikdasmen dalam memperingati Hardiknas 2026, tampaknya belum menyentuh berbagai persoalan yang dihadapi guru plus solusinya.  Dominan substansi pidatonya berpihak pada murid sesuai dengan hakikat Pendidikan memanusiakan manusia. Dalam pidatonya, Mendikdasmen  Abdul Mu’ti mengatakan, “…Inti proses Pendidikan adalah memuliakan. Bapak Pendididikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara meletakkan dasar dan nilai Pendidikan dengan sistem among : asah (ilmu), asih (kasih sayang), dan asuh (pendampingan, pembinaan)…”.

Mbah Menteri tidak menyinggung bagaimana kebijakan yang diambil terkait posisi guru PPPK, PPPK PW, dan honorer yang masih banyak di sekolah-sekolah. Hari ini mereka sedang waswas. Lebih educandum bila Abdul Mu’ti juga memberikan perhatian terhadap keberadaan mereka yang jumlahnya makin banyak. Selain itu,  porsi penghargaan kepada guru bersertifikat pendidik sebagai penanda formal guru profesional seyogyanya dapat melaksanakan kewajiban secara proporsional. Lebih-lebih zaman maya kini, guru tidak selesai tugasnya di sekolah. Mereka sudah biasa membawa pekerjaan sekolah ke rumah. Memanjakan murid tanpa PR tetapi guru memaksakan diri mengerjakan PR tanpa Rp tambahan. Namanya juga Kangguru mana mungkin jadi beruang. Namun, lebih banyak bergurau, sebelum selesai berguru. Selamat Hari Pendidikan Nasional. Salam SMA : “Maju bersama hebat semua”. [T]

Penulis: I Nyoman Tingkat
Editor: Adnyana Ole

Tags: guruHari Pendidikan Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

Next Post

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
0
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

Read moreDetails

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
0
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

Read moreDetails

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

by I Wayan Artika
July 2, 2026
0
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

Read moreDetails

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
0
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

Read moreDetails

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
0
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

Read moreDetails

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

by Iko Amadeus
June 30, 2026
0
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

Read moreDetails

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
0
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

Read moreDetails

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
0
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

Read moreDetails

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

by Angga Wijaya
June 29, 2026
0
Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

Read moreDetails

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
0
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

Read moreDetails
Next Post
Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Di Balik Siswa Merundung Guru: Ketika Gizi Anak Tercukupi, Akhlak Malah Terdegradasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 5, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat
Ulas Rupa

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

by Hartanto
July 4, 2026
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.
Kritik Seni

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka...

by Made Chandra
July 5, 2026
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya
Kritik Seni

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen
Ulas Buku

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali
Panggung

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan
Esai

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4
Panggung

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada...

by I Komang Sutirtayasa
July 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co