5 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengeja Ulang Arah Pendidikan Kita

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
May 2, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

TANGGAL 2 Mei adalah hari yang keramat bagi dunia pendidikan Indonesia. Ada suasana yang khas menyelimuti hati para pendidik dan para siswanya. Itu yang saya rasakan dulu. Entah kalau sekarang, karena di luar pagar sekolah, realitas bergerak lebih cepat.

Tengok saja tuntutan TKA (tes kemampuan akademik), program MBG yang masih menemukan jalan agar bisa nyaman diterima semua pihak, zonasi dan jam kosong di sekolah-sekolah, Program Kampus Berdampak, dan tekanan dunia kerja yang makin konkret dan kompetitif. 

Di satu sisi, kita diminta mencetak manusia “seutuhnya”, di sisi lain, kita dikejar target keterampilan yang serba praktis. Ditambah gangguan masif dari konten media sosial pada para pelajar, yang membuat konten receh bertebaran bagai jamur di musim hujan. Bisa jadi dianggap sok-sokan, kalau kita masih menggugat apakah pendidikan kita masih berada di jalur yang benar, atau sedang kelimpungan mencari arah. Jika kita merasa susah membaca ulang pendidikan kita, setidaknya mari mengeja ulang. 

Banyak orang mulai merasa, dan bahkan mengatakannya secara terang-terangan, bahwa pendidikan Indonesia makin lama makin buruk. Anak-anak dianggap makin tidak disiplin, lebih suka rebahan sambil scrolling, sopan santun menipis, dan kenakalan remaja meningkat.

Di tengah situasi ini, saya yakin, pasti di antara sidang para pembaca yang budiman sempat muncul satu gagasan yang terdengar tegas sekaligus menggoda. Gagasan bahwa yang namanya pendidikan memang harus dipaksakan dulu, baru nanti pelan-pelan disadari dan masuk sebagai suatu kesadaran.

Antara Disiplin dan Dogma

Gagasan agar pendidikan “dipaksa dulu” sebenarnya bukan tanpa dasar. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak hal memang dengan metode itu meski secara tidak langsung, kita bisa pahami manfaatnya.

Anak kecil belajar membaca, bangun pagi, atau disiplin waktu, bahkan kesopanan, bukan karena sadar, tapi karena dibiasakan. Dalam tradisi filsafat, ini punya akar yang jelas. Aristoteles pernah menyebut bahwa kebajikan terbentuk lewat kebiasaan. Kita menjadi baik bukan karena tahu, tapi karena melakukan hal baik berulang-ulang.

Jadi ide pemaksaan ini bisa juga dijalankan, hanya saja masalahnya muncul ketika pembiasaan ini berubah menjadi pemaksaan tanpa makna.  Di titik ini, pendidikan bisa tergelincir menjadi dogma, menjadi sesuatu yang harus diterima, tanpa ruang untuk dipertanyakan. Padahal, seperti diingatkan Immanuel Kant, manusia bukan sekadar objek yang dibentuk, melainkan subjek yang berpikir. Jika pendidikan hanya menuntut kepatuhan, maka yang lahir bukan manusia merdeka, tapi manusia yang sekadar taat. Jelas ini bukan lagi membentuk manusia seutuhya, yang merdeka dan bermartabat.

Teknologi Bisa Disalahkan, Tapi Tidak Cukup

Tidak bisa dipungkiri, teknologi dan budaya digital memainkan peran besar dalam perubahan perilaku pelajar hari ini. Dunia yang dipenuhi video pendek, notifikasi tanpa henti, dan algoritma yang dirancang untuk membuat kita betah berlama-lama, jelas memengaruhi cara dan moivasi belajar.  Tokoh pemerhati teknologi seperti Nicholas Carr bahkan mengingatkan bahwa internet bisa menggeser cara kita berpikir, dari yang mendalam menjadi serba cepat dan dangkal.

Tapi hanya berkutat di sini adalah kesalahan yang sering kita lakukan. Karena bagaimana pun teknologi bukan sebagai penyandang dosa tunggal. Teknologi hanya memperbesar kelemahan yang memang sebenarnya sudah ada.  Kalau sekolah sekarang terasa membosankan bagi para siswa, apakah itu semata karena TikTok, IG dan lainnya? Atau karena pengalaman belajar atau pengalaman mengajar kita memang belum cukup memberikan makna? 

Kritik klasik John Dewey bisa kembali relevan, bahwa belajar yang tidak terhubung dengan pengalaman hidup akan kehilangan daya tariknya. Sebagian dari kita pasti pernah mengalami betapa semangatnya saat kita main di luar rumah. Karena sekaligus belajar biologi, fisika , ekonomi atau bahkan geografi, ke alam sekitar, ke kebun, sawah dekat rumah atau saat ke rumah kakek nenek, dan semua itu bisa kita lihat sebagai materi yang terhampar luas di sekitar kita.

Kalau kita tarik ke situasi sekarang, ketika jadi sekolah gagal menjadi ruang yang hidup, maka layar ponsel akan mengambil alih. Atau bisa juga kita balik, saat layar ponsel mengambil alih, maka sekolah kesulitan mewujud menjadi ruang belajar yang hidup.

Selain menyoal teknologi, sering kali diskusi tentang krisis pendidikan berhenti pada dua pihak yaitu siswa dan guru. Siswa dianggap kurang disiplin, guru dianggap kurang berkualitas. Padahal, persoalannya lebih struktural. Guru hari ini bukan hanya mengajar, tapi juga dibebani tetek-bengek administrasi, tuntutan kurikulum, dan tekanan hasil yang instan. Di saat yang sama, para guru sebagai warga masyarakat, mereka juga hidup dalam dunia yang sama, terpapar distraksi digital yang tidak kalah kuat.

Sementara itu, kurikulum sering kali terlihat ideal di atas kertas. Kurikulum akan bicara tentang kreativitas, berpikir kritis, dan profil pelajar masa depan, namun rapuh dalam implementasinya.  Jika bicara dalam logika sederhana, kalau sesuatu terus gagal di lapangan, maka ia belum benar-benar sukses sebagai desain.

Dipaksa, Tapi Apa yang Dipaksa?

Mari kita kembali ke pertanyaan awal kita. Apa iya sih, pendidikan perlu “dipaksakan”? Bisa jadi Jawabannya adalah iya, tapi bukan seperti yang kita bayangkan. Dalam hemat saya yang perlu dipaksa bukanlah keyakinan atau cara berpikir, melainkan struktur dan kebiasaan. 

Di era digital, hal ini akan menjadi sangat krusial. Karena tanpa intervensi, algoritma akan lebih efektif “mendidik” anak dibandingkan sekolah. Dan kita tahu keganasan algoritma yang tidak pernah peduli pada karakter, yang penting hanyalah keterlibatan audiens.  Karena itu, beberapa hal memang perlu ditegaskan di sini, bahwa perlu adanya waktu belajar yang jelas dan konsisten, suatu ruang bebas dari berbagai distraksi untuk melatih fokus, dan pembiasaan membaca dan berpikir mendalam.

Ini bukan bentuk otoritarianisme, melainkan higiene kognitif, cara menjaga kesehatan cara berpikir di tengah banjir informasi yang penuh potensi bias, hoaks, dan distraksi.  Namun, di saat yang sama, ada hal yang tidak boleh dipaksakan seperti makna dari apa yang dipelajari, misal cara khas setiap orang dalam memahami dunia sektiarnya, serta kesadaran pribadi yang akan menjamin seseorang memiliki martabatnya sebagai manusia merdeka. Karena kesadaran tidak pernah lahir dari tekanan, melainkan dari pengalaman yang bermakna.

Jika ditarik lebih jauh, krisis pendidikan hari ini mungkin bukan sekadar soal disiplin atau kurikulum. Masalahnya lebih mendasar, yaitu bahwa sistem pendidikan kita kalah canggih dibanding sistem algoritma digital dalam membentuk perilaku manusia. Algoritma lebih tahu apa yang menarik perhatian, lebih pintar dalam memberi umpan balik instan, lebih gercep dalam terus menyesuaikan diri dengan penggunanya.  Lah, sementara pendidikan, lebih sering satu arah, lambat beradaptasi, dan juga kurang personal. Dalam pertarungan yang tak seimbang ini, ini, tidak heran jika banyak siswa lebih “terdidik” oleh media sosial daripada oleh sekolah.

Menuju Pendidikan yang Lebih Cerdas, Bukan Lebih Keras

Jika melihat situasi zaman yang selalu berubah, karakter yang selalu berkembang, menjadi jelas bahwa solusinya bukan sekadar kembali ke pendekatan lama yang keras dan penuh pemaksaan. Kita tidak butuh pendidikan yang lebih menakutkan, tapi kita butuh pendidikan yang lebih cerdas.

Cerdas ini bisa berari mampu mendesain pengalaman belajar yang relevan, memahami cara kerja perhatian di era digital dan bisa membangun disiplin tanpa mematikan nalar. Seperti yang diingatkan Paulo Freire, pendidikan seharusnya membebaskan, bukan sekadar mengisi otak dengan kognisi belaka.

Berkaitan dengan ini, seyogyanya memang Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar momen perayaan, tapi juga sebagai tradisi refleksi secara jujur. Tidak apa jika kita mengakui pendidikan kita belum bisa dikatakan berhasil, tapi harus pula optimis bahwa tidak gagal sepenuhnya. 

Di tengah dunia yang berubah cepat, kita tidak bisa hanya mengandalkan slogan “membentuk manusia seutuhnya” tanpa benar-benar memikirkan bagaimana caranya. Jadi, saudara, apakah siswa kita perlu dipaksa?

Lalu bagaimana caranya membuat sistem pendidikan kita agar cukup kuat, relevan, dan cerdas untuk bersaing dengan dunia yang juga turut membentuk mereka setiap hari? Maka pekerjaan kita memang masih panjang, dan perubahan tidak dimulai dari merancang slogan yang apik, melainkan dari keberanian untuk berpikir ulang. Selamat Hari Pendidikan Nasional. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari Pendidikan Nasional
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Maburuh’ dan Tubuh yang Tak Pernah Diam

Next Post

Guru Profesional Bekerja Proporsional

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
0
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

Read moreDetails

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
0
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

Read moreDetails

Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

by I Wayan Artika
July 2, 2026
0
Lokalisme dalam Revitalisasi Cerita Rakyat Pedawa

PERJALANAN nasib hidup dan mati cerita rakyat ditentukan oleh sikap pemiliknya. Cerita rakyat pun dengan beberapa alasan dikubur. Hal ini...

Read moreDetails

PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

by I Wayan Yudana
July 1, 2026
0
PKB dan SPMB, Drama yang Selalu Penuh Penonton

MUSIM libur kenaikan kelas dan pascakelulusan sekolah di Bali selalu menghadirkan dua tontonan besar. Yang pertama, Pesta Kesenian Bali (PKB)....

Read moreDetails

Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

by Agung Sudarsa
July 1, 2026
0
Bali Under Attack —Ketika Ambisi Pembangunan Menggerus Alam, Budaya, dan Jiwa Pulau Dewata

Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali....

Read moreDetails

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

by Iko Amadeus
June 30, 2026
0
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

Read moreDetails

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
0
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

Read moreDetails

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
0
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

Read moreDetails

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

by Angga Wijaya
June 29, 2026
0
Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

Read moreDetails

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
0
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

Read moreDetails
Next Post
Guru Profesional Bekerja Proporsional

Guru Profesional Bekerja Proporsional

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 5, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat
Ulas Rupa

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

by Hartanto
July 4, 2026
“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.
Kritik Seni

“Let Them Cook”: Saat Klinik Seni Taxu Hadir Mengacak-ngacak Arena Percaturan Seni Rupa Bali.

DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai,  segerombol anak muda yang menyebut diri mereka...

by Made Chandra
July 5, 2026
Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya
Kritik Seni

Di Mana Penciptaan Berlangsung: Sebuah Refleksi tentang Kehadiran, Waktu, dan Lahirnya Karya

MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara. Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah...

by Wayan Gde Yudane
July 4, 2026
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen
Ulas Buku

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali
Panggung

Matajog, Terompah, dan Hadang Semarakkan Jantra Tradisi Bali

Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian...

by Nyoman Budarsana
July 3, 2026
Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata
Esai

Bali Sedang Menghancurkan Dirinya Sendiri? —Refleksi tentang Pembangunan, Kesadaran, dan Masa Depan Pulau Dewata

Sebuah Slide yang Mengusik Kesadaran TERKADANG, inspirasi lahir bukan dari buku tebal atau hasil penelitian yang rumit, melainkan dari sebuah...

by Agung Sudarsa
July 3, 2026
Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan
Esai

Etika Lingkungan: Bayang-bayang Kebertahanan Pangan di Tengah Masifnya Konversi Lahan

ETIKA lingkungan merupakan suatu perspektif moral yang menempatkan alam sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik, bukan sekadar objek eksploitasi untuk...

by IM Gede Nesa Saputra
July 2, 2026
Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4
Panggung

Kisah Anak Kucing Penakut dan Lukisan di Atas Batu dari Festival Cerita Rasa 0.4

SETELAH sempat absen pada tahun 2025, Festival Cerita Rasa di Desa Tukadaya, Jembrana kembali hadir dengan membubuhkan angka 0.4, pada...

by I Komang Sutirtayasa
July 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co