23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
in Ulas Musik
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

Tangkapan layar dari video klip “Kartini” di kanal YouTube @Navicula Music

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang ditampilkan justru wajah-wajah nyata, suara bergetar, dan tubuh-tubuh terpasung tapi penuh perlawanan. Di tengah peringatan Hari Kartini yang acap terasa seremonial, lagu ini datang seperti pengingat bahwa semangat Raden Ajeng Kartini tidak pernah benar-benar selesai, ia hanya berpindah bentuk.

Lagu “Kartini” dari Navicula bukan sekadar penghormatan pada sosok historis, melainkan jembatan yang menghubungkan semangat emansipasi masa lalu dengan perjuangan konkret perempuan masa kini, khususnya pada peristiwa ‘Kartini Kendeng’ pada 2016 silam.

Lagu ini dibuka dengan lirik yang langsung menancap: “Panggil namaku Kartini saja”. Kalimat ini sederhana, tapi implikasinya luas. Ia seperti mencabut Kartini dari buku sejarah dan menanamkannya kembali di tanah yang sedang diperebutkan di Kendeng.

Tangkapan layar dari video klip “Kartini” di kanal YouTube @Navicula Music

Dalam klipnya, saya menyaksikan perempuan-perempuan berdiri membawa poster, berbicara lewat pengeras suara, dan menatap lurus ke depan. Mereka bukan figur simbolik yang dikonstruksi, melainkan representasi dari perjuangan nyata para petani perempuan Kendeng yang menolak pembangunan pabrik semen di wilayah mereka. Saya teringat dokumentasi aksi memasung kaki di depan Istana Negara ─ sebuah bentuk protes yang ekstrem, tapi justru karena itu sulit diabaikan.

Sebagai pendengar Navicula, saya tidak menemukan kompleksitas musikal yang rumit di lagu ini. Aransemen “Kartini” cenderung minimalis, bahkan repetitif. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia memberi ruang bagi lirik untuk bernapas. Setiap bait terasa seperti potongan kesaksian. Tidak ada metafora berlapis-lapis, semuanya disampaikan dengan lugas, hampir seperti laporan lapangan yang dipadatkan menjadi puisi yang tajam.

Saya mencoba menempatkan lagu ini dalam konteks diskografi Navicula. Sejak berdiri pada 1996 di Bali, band ini memang konsisten mengangkat isu lingkungan dan sosial. Di tengah industri yang acap kali menuntut kompromi, mereka tetap berada di jalur independen, baik secara musikal maupun ideologis. Eksplorasi musik Navicula memadukan rock dengan elemen grunge, folk, etnik, hingga psychedelic memberikan warna khas, namun tidak mengaburkan pesan keberpihakan pada isu-isu kemanusiaan dan lingkungan.

Menariknya, lagu ini lahir dari respons personal Gede Robi (sang vokalis) setelah menyaksikan dokumenter tentang konflik Kendeng. Dari sana, proses kreatif berkembang menjadi bentuk solidaritas. Ini menunjukkan bagaimana musik tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi artistik, tetapi juga medium advokasi. Navicula tidak berdiri di luar isu. Mereka masuk, terlibat, dan mengambil posisi.

Tangkapan layar dari video klip “Kartini” di kanal YouTube @Navicula Music

 

Lagu “Kartini” berhasil menjalankan fungsinya sebagai karya yang kontekstual. Ia tidak berdiri di ruang hampa, melainkan berakar pada peristiwa nyata. Liriknya lugas, bahkan cenderung dokumentatif, namun tetap memiliki daya puitik. Penggunaan diksi seperti “duta aksara” dan “lentera” memberikan nuansa simbolik tanpa kehilangan relevansi.

Ketika saya mendalami lebih jauh tentang Kartini Kendeng, saya menyadari bahwa lagu ini hanya membuka pintu kecil dari cerita yang jauh lebih besar. Sejak 2005, warga di kawasan karst Pegunungan Kendeng telah menolak kehadiran industri semen. Bagi mereka, tanah bukan sekadar ruang produksi, melainkan sumber kehidupan. Mata air, sawah, hingga identitas budaya semuanya terikat di sana.

Aksi menyemen kaki menjadi simbol ekstrem dari perlawanan tersebut. Tubuh mereka dikorbankan untuk menyampaikan pesan: bahwa tanah yang mereka pijak tidak bisa digantikan. Dalam salah satu kutipan yang terdokumentasi, seorang perempuan berkata, “Kami hanya mampu memperjuangkan, kami punya hak hidup.” Kalimat ini menggema dalam video klip lagu “Kartini”, menjadi semacam chorus tak tertulis yang memperkuat pesan utama.

 Tangkapan layar dari video klip “Kartini” di kanal YouTube @Navicula Music

Namun demikian, ada ironi yang tak bisa diabaikan. Lagu ini dirilis pada 21 April 2016, tetapi tidak mencapai popularitas masif. Dalam kurun hampir satu dekade, jumlah penontonnya masih di angka 263 ribu di kanal YouTube @Navicula Music. Ini menimbulkan pertanyaan, apakah isu yang diangkat terlalu ‘berat’ bagi konsumsi publik? Atau justru menunjukkan bagaimana narasi perjuangan perempuan di luar arus utama masih kurang mendapat ruang dan perhatian?

Kendati demikian, justru keterbatasan itu membuat lagu ini terasa lebih intim dan otentik. Ia tidak dibentuk untuk pasar, melainkan untuk perlawanan. Melalui lagu ini, Navicula menawarkan perspektif lain bahwa menjadi Kartini hari ini bisa berarti berdiri di garis depan, menjaga tanah, dan bersuara meski raga terpasung. Menjadi pengingat bahwa terang yang dijanjikan tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus diperjuangkan.

Pada akhirnya, lagu ini mengajak kita untuk mendefinisikan ulang makna Kartini. Bukan hanya sebagai figur sejarah yang diperingati setiap tahun, tetapi sebagai semangat yang hidup dalam berbagai bentuk perjuangan. Navicula mengingatkan bahwa emansipasi belum selesai. Dan mungkin, memang tidak pernah selesai. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: KartinimusikNaviculaPerempuanulasan musik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

Next Post

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co