SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang ditampilkan justru wajah-wajah nyata, suara bergetar, dan tubuh-tubuh terpasung tapi penuh perlawanan. Di tengah peringatan Hari Kartini yang acap terasa seremonial, lagu ini datang seperti pengingat bahwa semangat Raden Ajeng Kartini tidak pernah benar-benar selesai, ia hanya berpindah bentuk.
Lagu “Kartini” dari Navicula bukan sekadar penghormatan pada sosok historis, melainkan jembatan yang menghubungkan semangat emansipasi masa lalu dengan perjuangan konkret perempuan masa kini, khususnya pada peristiwa ‘Kartini Kendeng’ pada 2016 silam.
Lagu ini dibuka dengan lirik yang langsung menancap: “Panggil namaku Kartini saja”. Kalimat ini sederhana, tapi implikasinya luas. Ia seperti mencabut Kartini dari buku sejarah dan menanamkannya kembali di tanah yang sedang diperebutkan di Kendeng.

Dalam klipnya, saya menyaksikan perempuan-perempuan berdiri membawa poster, berbicara lewat pengeras suara, dan menatap lurus ke depan. Mereka bukan figur simbolik yang dikonstruksi, melainkan representasi dari perjuangan nyata para petani perempuan Kendeng yang menolak pembangunan pabrik semen di wilayah mereka. Saya teringat dokumentasi aksi memasung kaki di depan Istana Negara ─ sebuah bentuk protes yang ekstrem, tapi justru karena itu sulit diabaikan.
Sebagai pendengar Navicula, saya tidak menemukan kompleksitas musikal yang rumit di lagu ini. Aransemen “Kartini” cenderung minimalis, bahkan repetitif. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia memberi ruang bagi lirik untuk bernapas. Setiap bait terasa seperti potongan kesaksian. Tidak ada metafora berlapis-lapis, semuanya disampaikan dengan lugas, hampir seperti laporan lapangan yang dipadatkan menjadi puisi yang tajam.
Saya mencoba menempatkan lagu ini dalam konteks diskografi Navicula. Sejak berdiri pada 1996 di Bali, band ini memang konsisten mengangkat isu lingkungan dan sosial. Di tengah industri yang acap kali menuntut kompromi, mereka tetap berada di jalur independen, baik secara musikal maupun ideologis. Eksplorasi musik Navicula memadukan rock dengan elemen grunge, folk, etnik, hingga psychedelic memberikan warna khas, namun tidak mengaburkan pesan keberpihakan pada isu-isu kemanusiaan dan lingkungan.
Menariknya, lagu ini lahir dari respons personal Gede Robi (sang vokalis) setelah menyaksikan dokumenter tentang konflik Kendeng. Dari sana, proses kreatif berkembang menjadi bentuk solidaritas. Ini menunjukkan bagaimana musik tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi artistik, tetapi juga medium advokasi. Navicula tidak berdiri di luar isu. Mereka masuk, terlibat, dan mengambil posisi.

Lagu “Kartini” berhasil menjalankan fungsinya sebagai karya yang kontekstual. Ia tidak berdiri di ruang hampa, melainkan berakar pada peristiwa nyata. Liriknya lugas, bahkan cenderung dokumentatif, namun tetap memiliki daya puitik. Penggunaan diksi seperti “duta aksara” dan “lentera” memberikan nuansa simbolik tanpa kehilangan relevansi.
Ketika saya mendalami lebih jauh tentang Kartini Kendeng, saya menyadari bahwa lagu ini hanya membuka pintu kecil dari cerita yang jauh lebih besar. Sejak 2005, warga di kawasan karst Pegunungan Kendeng telah menolak kehadiran industri semen. Bagi mereka, tanah bukan sekadar ruang produksi, melainkan sumber kehidupan. Mata air, sawah, hingga identitas budaya semuanya terikat di sana.
Aksi menyemen kaki menjadi simbol ekstrem dari perlawanan tersebut. Tubuh mereka dikorbankan untuk menyampaikan pesan: bahwa tanah yang mereka pijak tidak bisa digantikan. Dalam salah satu kutipan yang terdokumentasi, seorang perempuan berkata, “Kami hanya mampu memperjuangkan, kami punya hak hidup.” Kalimat ini menggema dalam video klip lagu “Kartini”, menjadi semacam chorus tak tertulis yang memperkuat pesan utama.

Namun demikian, ada ironi yang tak bisa diabaikan. Lagu ini dirilis pada 21 April 2016, tetapi tidak mencapai popularitas masif. Dalam kurun hampir satu dekade, jumlah penontonnya masih di angka 263 ribu di kanal YouTube @Navicula Music. Ini menimbulkan pertanyaan, apakah isu yang diangkat terlalu ‘berat’ bagi konsumsi publik? Atau justru menunjukkan bagaimana narasi perjuangan perempuan di luar arus utama masih kurang mendapat ruang dan perhatian?
Kendati demikian, justru keterbatasan itu membuat lagu ini terasa lebih intim dan otentik. Ia tidak dibentuk untuk pasar, melainkan untuk perlawanan. Melalui lagu ini, Navicula menawarkan perspektif lain bahwa menjadi Kartini hari ini bisa berarti berdiri di garis depan, menjaga tanah, dan bersuara meski raga terpasung. Menjadi pengingat bahwa terang yang dijanjikan tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus diperjuangkan.
Pada akhirnya, lagu ini mengajak kita untuk mendefinisikan ulang makna Kartini. Bukan hanya sebagai figur sejarah yang diperingati setiap tahun, tetapi sebagai semangat yang hidup dalam berbagai bentuk perjuangan. Navicula mengingatkan bahwa emansipasi belum selesai. Dan mungkin, memang tidak pernah selesai. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole





























