13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang luar biasa, sehingga diangkat sebagai simbol emansipasi, dirayakan sebagai sang pembuka jalan bagi perempuan untuk keluar dari gelapnya keterbatasan menuju terang kebebasan. 

Namun bagaimana pun, perempuan hari ini harus tetap merenungkan ulang apakah mereka benar-benar merdeka, atau sesungguhnya masih ada kungkungan yang harus diperjuangkan kebebasannya.

Dari Emansipasi ke Ilusi Partisipasi

Di masa Kartini, persoalan waktu itu jelas. Bahwa kaum perempuan tidak diberi akses di mana pendidikan dibatasi, pilihan hidup dikunci, dan ruang publik hampir sepenuhnya tertutup. Emansipasi saat itu adalah ibarat perjuangan membuka pintu. 

Hari ini, pintu itu tampaknya sudah terbuka lebar. Perempuan-perempuan kita bisa sekolah tinggi, bekerja, berkarya, bahkan membangun identitasnya sendiri di ruang digital. Sekilas, perjuangan untuk emansipasi tampak selesai.  Emansipasi perempuan sudah terlaksana. Namun justru di sinilah persoalan tetap saja mengintai meski menjadi lebih halus.

Filsuf Michel Foucault pernah mengingatkan bahwa kekuasaan modern tidak lagi bekerja dengan cara melarang, tetapi dengan cara mengatur dan menormalisasi. Kita tidak lagi dipaksa dari luar, tetapi dibentuk dari dalam, seperti cara kita berpikir, memilih, bahkan merasa bebas. 

Berkaitan dengan emansipasi perempuan, memang kita lihat perempuan Gen Z tidak lagi dilarang untuk tampil. Mereka justru didorong untuk tampil. Tetapi dorongan itu tidak netral, melainkan diarahkan, dibingkai, dan juga tanpa terasa diam-diam dikendalikan.

Menjadi atau Diperankan?

Generasi Z tumbuh dalam dunia tanpa batas geografis. Mereka punya akses pada informasi, ruang ekspresi, dan peluang yang lebih luas dibanding generasi sebelumnya.  Namun kebebasan ini datang dengan tagihan harga.  Platform sosial seperti TikTok dan Instagram bukan sekadar ruang ekspresi, tetapi juga ruang kurasi. Apa yang viral, apa yang dianggap menarik, bahkan siapa yang layak dilihat, semuanya diatur oleh logika algoritma.

Dalam kerangka ini, pemikiran Shoshana Zuboff menjadi relevan. Ia menyebut era ini sebagai surveillance capitalism, ketika pengalaman manusia diubah menjadi data, dianalisis, lalu digunakan untuk mengarahkan perilaku.  Kaitannya dengan ini adalah, ketika seorang perempuan merasa sedang menjadi dirinya sendiri, ada dua kemungkinan. Bisa jadi itu pilihan bebas, atau pilihan yang sudah didesain.

Persoalan ini semakin kompleks ketika kita bicara soal identitas.  Simone de Beauvoir pernah mengatakan bahwa perempuan tidak dilahirkan, tetapi “menjadi”. Identitas perempuan adalah hasil konstruksi sosial.  Di era digital, konstruksi ini datang dari banyak arah. Ia diproduksi secara masif oleh budaya global, media sosial, dan standar yang terus diulang.

Judith Butler bahkan menegaskan bahwa identitas gender adalah sesuatu yang dipentaskan, artinya dibentuk melalui pengulangan perilaku yang diharapkan.  Jika demikian, perlu untuk menjadi kritis apakah perempuan hari ini benar-benar menjadi dirinya sendiri, atau sedang memainkan peran yang diharapkan oleh audiens digitalnya.

Tekanan Baru dalam Wajah Kebebasan

Perempuan hari ini memang hidup dalam ruang yang lebih terbuka. Akses pendidikan luas, peluang karier tersedia, bahkan kesempatan membangun kemandirian ekonomi juga semakin nyata. Namun justru di situlah sekaligus muncul tekanan baru yang sering luput dibaca. Jika dulu perempuan dibatasi, hari ini mereka justru dituntut untuk “menjadi segalanya.” Mandiri secara finansial, sukses dalam karier, cerdas secara intelektual, sekaligus tetap mampu mengelola kehidupan personal dengan baik.

Kebebasan tidak lagi sekadar membuka pilihan, tetapi juga menghadirkan standar baru yang tidak kalah menekan.  Seorang perempuan muda hari ini tidak hanya dihadapkan pada pertanyaan “ingin jadi apa”, tetapi juga pada ekspektasi tak tertulis yaitu harus berhasil. Bukan sekadar bekerja, tetapi memiliki karier yang jelas. Bukan sekadar mandiri, tetapi juga mampu membangun aset, stabil secara finansial, dan bahkan terlihat “mapan” di usia yang relatif muda.

Di ruang digital, tekanan itu diperkuat. Linimasa dipenuhi narasi tentang self-made woman, financial independence, hingga pencapaian di usia 20-an. Kesuksesan menjadi sesuatu yang harus dipamerkan, dibandingkan, sehingga tanpa sadar lalu dijadikan tolok ukur bersama.

Dalam situasi saat ini, perempuan tidak lagi sekadar berjuang untuk mendapatkan akses, tetapi juga berhadapan dengan beban baru yaitu adanya kewajiban untuk membuktikan, bahwa kebebasan itu berhasil digunakan dengan benar. Di titik ini, emansipasi menghadirkan paradoks. Ia membebaskan, tetapi sekaligus menuntut. Ia membuka peluang, tetapi juga menciptakan standar baru yang tidak selalu realistis. 

Karena itu, persoalan hari ini bukan lagi sekadar bicara kesetaraan akses, melainkan sesuatu yang lebih subsansial yaiu otonomi diri, menyoal apakah pilihan yang diambil benar-benar lahir dari kehendak pribadi, atau justru dari tekanan zaman yang berubah bentuk.

Emansipasi Digital

Namun, berhenti pada kritik saja akan membuat kita terjebak dalam pesimisme.  Justru di tengah kompleksitas ini, perempuan Gen Z memiliki keunggulan yang tidak dimiliki generasi sebelumnya. Generasi yang sejak awal hidup dalam ekosistem digital, maka teknologi bagi mereka bukan sekadar alat, tetapi bagian dari cara berpikir dan cara melihat dunia.

Kita bisa melihat bagaimana banyak perempuan muda hari ini tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pencipta ruang. Ada yang membangun akun edukasi tentang kesehatan mental dengan ribuan pengikut. Ada yang menggunakan media sosial untuk mengedukasi soal body positivity, menantang standar kecantikan yang sempit. Ada pula yang memanfaatkan platform digital untuk bisnis, membangun brand sendiri, bahkan mandiri secara ekonomi sejak usia muda.

Dalam kasus-kasus seperti itu, media sosial tidak lagi sekadar menjadi ruang tekanan, justru ruang kemungkinan. Di sinilah emansipasi menemukan bentuk barunya yaitu emansipasi digital.  Perempuan Gen Z tidak harus menunggu ruang diberikan. Mereka bisa menciptakan ruangnya sendiri, membangun personal branding, mengangkat isu sosial melalui konten, menciptakan komunitas, bahkan mengubah gagasan menjadi nilai ekonomi. 

Pemikiran Manuel Castells tentang network society menjelaskan bahwa kekuasaan di era digital tersebar dalam jaringan. Yang mampu mengelola jaringan itu, memiliki kekuatan untuk memproduksi makna. Jadi, perempuan hari ini tidak hanya menjadi objek algoritma, tetapi juga subjek yang menggunakannya. 

Namun, di tengah tuntutan untuk menjadi mandiri dan sukses, tantangannya masih ada yaitu perempuan masih belum sepenuhnya lepas dari posisi sebagai objek. Saat ini ada kasus yang ramai di lingkungan Universitas Indonesia. Sekelompok mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia membuat grup percakapan yang berisi candaan dan komentar bernada merendahkan perempuan. Menjadi pengingat yang agak pahit, bahwa bahkan di ruang yang terdidik, di institusi yang seharusnya menjunjung tinggi nalar kritis dan etika, cara pandang terhadap perempuan sebagai objek masih bertahan. Malahan ditambah lagi dengan lagu dari mahasiswa ITB yang judulnya Erika.

Ini bukan sekadar soal oknum atau candaan yang kebablasan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa budaya melihat perempuan sebagai objek masih terinternalisasi, bahkan di kalangan yang secara intelektual mestinya mampu mengkritisinya.

Di titik ini, kita lihat bahwa emansipasi berjalan dalam dua sisi sekaligus. Di satu sisi, perempuan dituntut untuk menjadi subjek yang mandiri, produktif, dan sukses. Di sisi lain, mereka masih berhadapan dengan cara pandang lama yang mereduksi mereka menjadi objek, baik dalam ruang fisik maupun digital.  Kontradiksi ini menciptakan beban ganda, satu sisi dituntut untuk berdaya, tetapi masih juga harus menghadapi objektifikasi. 

Maka, persoalan emansipasi hari ini tidak bisa dilihat secara linear seolah-olah kita hanya bergerak maju. Emansipasi justru bergerak secara simultan, maju dalam satu aspek, tetapi tertahan, bahkan mundur, dalam aspek yang lain.

Kartini Hari Ini adalah Sebuah Pertanyaan, Bukan Sekadar Simbol

Berandai-andai jika Raden Ajeng Kartini hidup hari ini, dengan melihat kualitas sifat kritis beliau, mungkin tidak lagi bertanya mengapa perempuan tidak boleh sekolah.  Beliau mungkin akan bertanya mengapa kebebasan harus diukur dari validasi digital? Mengapa menjadi diri sendiri terasa semakin sulit di tengah ruang yang terbuka? Siapa sebenarnya yang mengendalikan kebebasan itu? Kartini hari ini bukan lagi sekadar simbol perjuangan, tetapi pertanyaan yang belum selesai.

Dan mungkin di sinilah letak tantangan dari emansipasi perempuan hari ini, bukan hanya membuktikan kapasitas diri, tetapi juga terus-menerus menegosiasikan cara pandang dunia terhadap dirinya. Selamat Hari Kartini. Tabik, untuk semua perempuan Indonesia. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari KartiniKartiniPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Musik, Lukisan, dan Kesadaran Bertemu dalam Nyanyian Dharma

Next Post

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana
Esai

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka
Esai

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co