12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Mana Wayan dan Ketut? —Krisis Penanda Identitas dalam Penamaan Generasi Bali Kontemporer

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
April 18, 2026
in Esai
Di Mana Wayan dan Ketut? —Krisis Penanda Identitas dalam Penamaan Generasi Bali Kontemporer

NAMA diri dalam masyarakat Bali tidak sekadar berfungsi sebagai alat identifikasi individu, melainkan merupakan bagian integral dari sistem tanda yang sarat makna sosial, kultural, dan kosmologis. Dalam perspektif antropologi linguistik, nama bukan hanya label arbitrer, tetapi simbol yang mengandung informasi tentang posisi seseorang dalam jaringan relasi sosial. Ketika seseorang menyandang nama tertentu, masyarakat Bali tidak hanya mengenali individu tersebut secara personal, tetapi juga segera dapat menafsirkan latar belakang keluarga, urutan kelahiran, bahkan dalam beberapa konteks, status sosialnya. Dengan demikian, nama berfungsi sebagai “teks sosial” yang dapat dibaca oleh komunitasnya.

Penamaan seperti Wayan/Gede/Putu/Luh, Made, Nyoman, dan Ketut merupakan sistem penanda urutan kelahiran yang telah mengakar kuat dalam struktur sosial masyarakat Bali. Secara tradisional, Wayan/Gede/Putu/Luh,  merujuk pada anak pertama, Made atau Kadek pada anak kedua, Nyoman atau Komang pada anak ketiga, dan Ketut pada anak keempat. Sistem ini bukan sekadar konvensi linguistik, tetapi mencerminkan pola pikir masyarakat Bali yang menekankan keteraturan, keseimbangan, dan siklus dalam kehidupan keluarga. Dalam konteks ini, kelahiran anak tidak dipandang sebagai peristiwa individual semata, tetapi sebagai bagian dari siklus yang berulang dan terstruktur. Oleh karena itu, nama menjadi penanda posisi seseorang dalam siklus tersebut.

Nama-nama ini juga merepresentasikan nilai kolektif yang hidup dalam masyarakat Bali. Penggunaan nama berbasis urutan kelahiran menunjukkan bahwa identitas individu tidak berdiri sendiri, melainkan selalu terkait dengan struktur keluarga dan komunitas. Dalam budaya yang cenderung kolektivistik, seperti Bali, identitas personal tidak dilepaskan dari relasi sosial. Nama Wayan/Gede/Putu/Luh,  tidak hanya berarti “anak pertama”, tetapi juga membawa ekspektasi sosial tertentu, seperti peran sebagai anak sulung yang memiliki tanggung jawab lebih dalam keluarga. Dengan demikian, nama berfungsi sebagai mekanisme kultural yang secara implisit mengatur peran dan harapan sosial.

Selain itu, nama diri dalam masyarakat Bali juga berkaitan erat dengan hubungan genealogis. Melalui nama, seseorang dapat dilacak dalam struktur kekerabatan yang lebih luas. Dalam banyak kasus, nama depan dikombinasikan dengan nama keturunan atau penanda kasta, sehingga membentuk identitas yang lebih kompleks. Hal ini menunjukkan bahwa sistem penamaan Bali bekerja secara berlapis, menggabungkan dimensi individu, keluarga, dan struktur sosial yang lebih besar. Dengan kata lain, nama menjadi pintu masuk untuk memahami posisi seseorang dalam jaringan sosial yang kompleks.

Tidak kalah penting, sistem penamaan ini juga mengandung dimensi kosmologis dan spiritual. Dalam pandangan hidup masyarakat Bali yang dipengaruhi oleh ajaran Hindu, kehidupan manusia dipahami sebagai bagian dari tatanan kosmis yang lebih luas. Kelahiran, termasuk urutan kelahiran, tidak dipandang sebagai kebetulan, tetapi memiliki makna dalam keseimbangan alam semesta. Pemberian nama tidak jarang dikaitkan dengan pertimbangan hari baik (dewasa ayu), konsultasi dengan tokoh adat atau pemangku, serta pelaksanaan ritual tertentu. Nama, dalam hal ini, menjadi bagian dari proses sakral yang menghubungkan manusia dengan dimensi spiritual.

Namun, dalam beberapa dekade terakhir, terjadi fenomena yang cukup signifikan dalam praktik penamaan di masyarakat Bali. Banyak orang tua yang tidak lagi menggunakan penanda nama tradisional seperti Wayan/Putu/Gede/Luh, Made/Kadek, Nyoman, dan Ketut. Sebagai gantinya, muncul kecenderungan pemberian nama yang berorientasi modern, baik yang bersumber dari bahasa Sanskerta yang dimodifikasi, bahasa Indonesia populer, maupun bahasa asing seperti Inggris. Nama-nama tersebut sering kali dipilih karena dianggap lebih “universal”, dan memiliki nilai estetika tertentu. Perubahan ini terutama terlihat di wilayah urban dan pada kelompok masyarakat dengan tingkat pendidikan serta mobilitas sosial yang tinggi. Dengan demikian, praktik penamaan tidak lagi sepenuhnya tunduk pada konvensi adat, melainkan mulai dipengaruhi oleh selera individual dan dinamika global.

Perubahan ini juga mencerminkan pergeseran nilai dari kolektivisme menuju individualisme. Jika dalam sistem tradisional nama berfungsi sebagai representasi struktur keluarga dan komunitas, maka dalam konteks modern nama lebih dipahami sebagai ekspresi identitas personal. Orang tua tidak lagi merasa terikat untuk mengikuti pola penamaan berbasis urutan kelahiran, melainkan lebih menekankan pada keunikan, kreativitas, dan makna personal yang ingin disematkan pada anak. Hal ini menunjukkan bahwa nama telah bergeser dari simbol kolektif menjadi simbol individual. Namun, pergeseran ini sekaligus mengurangi fungsi sosial nama sebagai penanda posisi dalam struktur keluarga Bali.

Penghilangan penanda nama tradisional tidak dapat dipandang secara sederhana sebagai perubahan selera atau tren semata. Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar mengenai keberlanjutan identitas budaya Bali di tengah arus modernisasi. Di satu sisi, perubahan tersebut dapat dipahami sebagai bentuk adaptasi terhadap tuntutan zaman yang semakin global. Namun, di sisi lain, hilangnya penanda nama tradisional berpotensi mengikis simbol-simbol identitas kultural yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat Bali.

Begitu pula, penanda jenis kelamin dalam sistem penamaan Bali, yakni penggunaan kata sandang “Ni” untuk perempuan dan “I” untuk laki-laki, pada masa kini menunjukkan kecenderungan semakin jarang digunakan oleh masyarakat Bali dalam memberi nama kepada anak. Padahal, dalam struktur penamaan tradisional, kedua penanda ini memiliki fungsi yang sangat jelas dan praktis, yaitu sebagai penunjuk langsung jenis kelamin seseorang. Dengan adanya kata sandang tersebut, identitas gender dapat dikenali secara instan tanpa memerlukan konteks tambahan. Hal ini menunjukkan bahwa sistem penamaan Bali sejak awal telah dirancang secara fungsional dan efisien dalam mendukung komunikasi sosial.

Dalam praktiknya, keberadaan penanda “Ni” dan “I” menjadi sangat penting terutama karena terdapat sejumlah nama diri yang bersifat netral gender, seperti Nyoman Tirta. Nama tersebut dapat digunakan baik oleh laki-laki maupun perempuan. Tanpa kehadiran kata sandang di depannya, akan sulit bagi orang lain untuk mengidentifikasi jenis kelamin pemilik nama tersebut hanya dari bentuk leksikalnya. Dengan demikian, penanda “Ni” dan “I” berfungsi sebagai elemen disambiguasi yang membantu menghindari ambiguitas dalam interaksi sosial, khususnya dalam komunikasi yang bersifat formal maupun administratif.

Penggunaan kata sandang ini juga menunjukkan bahwa sistem penamaan Bali tidak hanya mempertimbangkan aspek urutan kelahiran atau identitas keluarga, tetapi juga memperhatikan dimensi linguistik yang berkaitan dengan kejelasan referensi. Dalam perspektif pragmatik, penanda “Ni” dan “I” dapat dipahami sebagai perangkat yang memperjelas rujukan (referential clarity), sehingga memudahkan proses identifikasi dalam berbagai konteks sosial. Hal ini menegaskan bahwa sistem penamaan tradisional Bali memiliki kompleksitas dan kecanggihan tersendiri yang tidak sekadar simbolik, tetapi juga komunikatif.

Selain itu, terdapat kekhasan dalam penggunaan kata sandang “I” yang tidak selalu secara kaku merujuk pada laki-laki. Dalam konteks tertentu, khususnya pada individu dengan kasta atau wangsa tertentu seperti Gusti, kata sandang “I” dapat digunakan secara lebih fleksibel, bahkan tidak selalu menjadi penanda gender yang eksklusif. Fenomena ini menunjukkan bahwa sistem penamaan Bali bersifat dinamis dan kontekstual, di mana aturan-aturan yang ada dapat mengalami penyesuaian dengan struktur sosial yang melingkupinya. Dengan demikian, penanda nama tidak hanya berkaitan dengan bahasa, tetapi juga erat dengan stratifikasi sosial dan sistem nilai yang berlaku.

Berkurangnya penggunaan penanda “Ni” dan “I” dalam penamaan modern menimbulkan implikasi tertentu. Salah satunya adalah meningkatnya potensi ambiguitas dalam mengenali identitas gender seseorang hanya dari nama. Hal ini juga mencerminkan adanya pergeseran nilai dalam masyarakat, di mana kejelasan penanda tradisional mulai tergantikan oleh preferensi terhadap nama yang dianggap lebih modern atau universal. Akibatnya, fungsi praktis dan simbolik dari kata sandang tersebut perlahan mengalami reduksi, seiring dengan perubahan cara masyarakat memaknai identitas dan representasinya melalui nama.

Identitas orang Bali pada dasarnya tidak hanya dapat dikenali dari nama diri seseorang, melainkan juga dari berbagai penanda kultural lain seperti bahasa yang digunakan, praktik ritual keagamaan, sistem kekerabatan, hingga keterlibatan dalam adat dan tradisi. Misalnya, penggunaan bahasa Bali dengan tingkat tutur (sor singgih basa), partisipasi dalam upacara seperti odalan atau ngaben, serta keberadaan dalam struktur banjar merupakan indikator kuat identitas kebalian. Dengan demikian, identitas budaya Bali bersifat multidimensional dan tidak bergantung pada satu aspek saja. Namun, di antara berbagai penanda tersebut, nama diri memiliki posisi yang paling awal dan paling mudah dikenali dalam interaksi sosial.

Nama diri menjadi penanda yang paling kasatmata karena ia muncul pertama kali dalam proses perkenalan dan komunikasi. Tanpa perlu melihat praktik budaya lainnya, seseorang dapat segera mengidentifikasi latar belakang kebalian melalui nama seperti Wayan, Made, Nyoman, atau Ketut. Dalam konteks ini, nama berfungsi sebagai “identitas permukaan” yang langsung terbaca, bahkan oleh orang di luar komunitas Bali. Keunggulan nama sebagai penanda identitas terletak pada sifatnya yang ringkas, konsisten, dan melekat secara permanen pada individu. Oleh karena itu, nama memiliki kekuatan simbolik yang sangat besar dalam merepresentasikan identitas etnis.

Namun, kecenderungan masyarakat Bali saat ini yang tidak lagi menggunakan nama diri tradisional menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam cara identitas ditampilkan. Ketika nama-nama khas Bali mulai ditinggalkan dan digantikan oleh nama yang bersifat global atau netral budaya, maka salah satu penanda paling jelas dari identitas kebalian menjadi tidak lagi terlihat. Dalam situasi ini, identitas Bali tidak hilang sepenuhnya, tetapi menjadi kurang tampak di permukaan dan memerlukan penanda lain yang lebih kompleks untuk dikenali. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi pergeseran dari identitas yang “langsung terbaca” menuju identitas yang lebih implisit.

Kondisi tersebut dapat dipahami sebagai bentuk reduksi penanda identitas orang Bali, khususnya pada level simbolik. Reduksi ini tidak selalu berarti hilangnya identitas, tetapi menunjukkan berkurangnya elemen-elemen yang secara eksplisit menandai keanggotaan seseorang dalam budaya Bali. Dalam jangka panjang, jika kecenderungan ini terus berlangsung, maka identitas kebalian berpotensi mengalami proses pengaburan, terutama dalam ruang sosial yang semakin heterogen dan global. Oleh karena itu, fenomena tidak digunakannya nama diri tradisional perlu dipahami bukan hanya sebagai pilihan individual, tetapi sebagai bagian dari dinamika sosial yang lebih luas yang memengaruhi cara identitas budaya dipertahankan, dinegosiasikan, dan direpresentasikan. [T]

Tags: balinama bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perayaan Besi, Menajamkan Pikiran

Next Post

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co