3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Mana Wayan dan Ketut? —Krisis Penanda Identitas dalam Penamaan Generasi Bali Kontemporer

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
April 18, 2026
in Esai
Di Mana Wayan dan Ketut? —Krisis Penanda Identitas dalam Penamaan Generasi Bali Kontemporer

NAMA diri dalam masyarakat Bali tidak sekadar berfungsi sebagai alat identifikasi individu, melainkan merupakan bagian integral dari sistem tanda yang sarat makna sosial, kultural, dan kosmologis. Dalam perspektif antropologi linguistik, nama bukan hanya label arbitrer, tetapi simbol yang mengandung informasi tentang posisi seseorang dalam jaringan relasi sosial. Ketika seseorang menyandang nama tertentu, masyarakat Bali tidak hanya mengenali individu tersebut secara personal, tetapi juga segera dapat menafsirkan latar belakang keluarga, urutan kelahiran, bahkan dalam beberapa konteks, status sosialnya. Dengan demikian, nama berfungsi sebagai “teks sosial” yang dapat dibaca oleh komunitasnya.

Penamaan seperti Wayan/Gede/Putu/Luh, Made, Nyoman, dan Ketut merupakan sistem penanda urutan kelahiran yang telah mengakar kuat dalam struktur sosial masyarakat Bali. Secara tradisional, Wayan/Gede/Putu/Luh,  merujuk pada anak pertama, Made atau Kadek pada anak kedua, Nyoman atau Komang pada anak ketiga, dan Ketut pada anak keempat. Sistem ini bukan sekadar konvensi linguistik, tetapi mencerminkan pola pikir masyarakat Bali yang menekankan keteraturan, keseimbangan, dan siklus dalam kehidupan keluarga. Dalam konteks ini, kelahiran anak tidak dipandang sebagai peristiwa individual semata, tetapi sebagai bagian dari siklus yang berulang dan terstruktur. Oleh karena itu, nama menjadi penanda posisi seseorang dalam siklus tersebut.

Nama-nama ini juga merepresentasikan nilai kolektif yang hidup dalam masyarakat Bali. Penggunaan nama berbasis urutan kelahiran menunjukkan bahwa identitas individu tidak berdiri sendiri, melainkan selalu terkait dengan struktur keluarga dan komunitas. Dalam budaya yang cenderung kolektivistik, seperti Bali, identitas personal tidak dilepaskan dari relasi sosial. Nama Wayan/Gede/Putu/Luh,  tidak hanya berarti “anak pertama”, tetapi juga membawa ekspektasi sosial tertentu, seperti peran sebagai anak sulung yang memiliki tanggung jawab lebih dalam keluarga. Dengan demikian, nama berfungsi sebagai mekanisme kultural yang secara implisit mengatur peran dan harapan sosial.

Selain itu, nama diri dalam masyarakat Bali juga berkaitan erat dengan hubungan genealogis. Melalui nama, seseorang dapat dilacak dalam struktur kekerabatan yang lebih luas. Dalam banyak kasus, nama depan dikombinasikan dengan nama keturunan atau penanda kasta, sehingga membentuk identitas yang lebih kompleks. Hal ini menunjukkan bahwa sistem penamaan Bali bekerja secara berlapis, menggabungkan dimensi individu, keluarga, dan struktur sosial yang lebih besar. Dengan kata lain, nama menjadi pintu masuk untuk memahami posisi seseorang dalam jaringan sosial yang kompleks.

Tidak kalah penting, sistem penamaan ini juga mengandung dimensi kosmologis dan spiritual. Dalam pandangan hidup masyarakat Bali yang dipengaruhi oleh ajaran Hindu, kehidupan manusia dipahami sebagai bagian dari tatanan kosmis yang lebih luas. Kelahiran, termasuk urutan kelahiran, tidak dipandang sebagai kebetulan, tetapi memiliki makna dalam keseimbangan alam semesta. Pemberian nama tidak jarang dikaitkan dengan pertimbangan hari baik (dewasa ayu), konsultasi dengan tokoh adat atau pemangku, serta pelaksanaan ritual tertentu. Nama, dalam hal ini, menjadi bagian dari proses sakral yang menghubungkan manusia dengan dimensi spiritual.

Namun, dalam beberapa dekade terakhir, terjadi fenomena yang cukup signifikan dalam praktik penamaan di masyarakat Bali. Banyak orang tua yang tidak lagi menggunakan penanda nama tradisional seperti Wayan/Putu/Gede/Luh, Made/Kadek, Nyoman, dan Ketut. Sebagai gantinya, muncul kecenderungan pemberian nama yang berorientasi modern, baik yang bersumber dari bahasa Sanskerta yang dimodifikasi, bahasa Indonesia populer, maupun bahasa asing seperti Inggris. Nama-nama tersebut sering kali dipilih karena dianggap lebih “universal”, dan memiliki nilai estetika tertentu. Perubahan ini terutama terlihat di wilayah urban dan pada kelompok masyarakat dengan tingkat pendidikan serta mobilitas sosial yang tinggi. Dengan demikian, praktik penamaan tidak lagi sepenuhnya tunduk pada konvensi adat, melainkan mulai dipengaruhi oleh selera individual dan dinamika global.

Perubahan ini juga mencerminkan pergeseran nilai dari kolektivisme menuju individualisme. Jika dalam sistem tradisional nama berfungsi sebagai representasi struktur keluarga dan komunitas, maka dalam konteks modern nama lebih dipahami sebagai ekspresi identitas personal. Orang tua tidak lagi merasa terikat untuk mengikuti pola penamaan berbasis urutan kelahiran, melainkan lebih menekankan pada keunikan, kreativitas, dan makna personal yang ingin disematkan pada anak. Hal ini menunjukkan bahwa nama telah bergeser dari simbol kolektif menjadi simbol individual. Namun, pergeseran ini sekaligus mengurangi fungsi sosial nama sebagai penanda posisi dalam struktur keluarga Bali.

Penghilangan penanda nama tradisional tidak dapat dipandang secara sederhana sebagai perubahan selera atau tren semata. Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar mengenai keberlanjutan identitas budaya Bali di tengah arus modernisasi. Di satu sisi, perubahan tersebut dapat dipahami sebagai bentuk adaptasi terhadap tuntutan zaman yang semakin global. Namun, di sisi lain, hilangnya penanda nama tradisional berpotensi mengikis simbol-simbol identitas kultural yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat Bali.

Begitu pula, penanda jenis kelamin dalam sistem penamaan Bali, yakni penggunaan kata sandang “Ni” untuk perempuan dan “I” untuk laki-laki, pada masa kini menunjukkan kecenderungan semakin jarang digunakan oleh masyarakat Bali dalam memberi nama kepada anak. Padahal, dalam struktur penamaan tradisional, kedua penanda ini memiliki fungsi yang sangat jelas dan praktis, yaitu sebagai penunjuk langsung jenis kelamin seseorang. Dengan adanya kata sandang tersebut, identitas gender dapat dikenali secara instan tanpa memerlukan konteks tambahan. Hal ini menunjukkan bahwa sistem penamaan Bali sejak awal telah dirancang secara fungsional dan efisien dalam mendukung komunikasi sosial.

Dalam praktiknya, keberadaan penanda “Ni” dan “I” menjadi sangat penting terutama karena terdapat sejumlah nama diri yang bersifat netral gender, seperti Nyoman Tirta. Nama tersebut dapat digunakan baik oleh laki-laki maupun perempuan. Tanpa kehadiran kata sandang di depannya, akan sulit bagi orang lain untuk mengidentifikasi jenis kelamin pemilik nama tersebut hanya dari bentuk leksikalnya. Dengan demikian, penanda “Ni” dan “I” berfungsi sebagai elemen disambiguasi yang membantu menghindari ambiguitas dalam interaksi sosial, khususnya dalam komunikasi yang bersifat formal maupun administratif.

Penggunaan kata sandang ini juga menunjukkan bahwa sistem penamaan Bali tidak hanya mempertimbangkan aspek urutan kelahiran atau identitas keluarga, tetapi juga memperhatikan dimensi linguistik yang berkaitan dengan kejelasan referensi. Dalam perspektif pragmatik, penanda “Ni” dan “I” dapat dipahami sebagai perangkat yang memperjelas rujukan (referential clarity), sehingga memudahkan proses identifikasi dalam berbagai konteks sosial. Hal ini menegaskan bahwa sistem penamaan tradisional Bali memiliki kompleksitas dan kecanggihan tersendiri yang tidak sekadar simbolik, tetapi juga komunikatif.

Selain itu, terdapat kekhasan dalam penggunaan kata sandang “I” yang tidak selalu secara kaku merujuk pada laki-laki. Dalam konteks tertentu, khususnya pada individu dengan kasta atau wangsa tertentu seperti Gusti, kata sandang “I” dapat digunakan secara lebih fleksibel, bahkan tidak selalu menjadi penanda gender yang eksklusif. Fenomena ini menunjukkan bahwa sistem penamaan Bali bersifat dinamis dan kontekstual, di mana aturan-aturan yang ada dapat mengalami penyesuaian dengan struktur sosial yang melingkupinya. Dengan demikian, penanda nama tidak hanya berkaitan dengan bahasa, tetapi juga erat dengan stratifikasi sosial dan sistem nilai yang berlaku.

Berkurangnya penggunaan penanda “Ni” dan “I” dalam penamaan modern menimbulkan implikasi tertentu. Salah satunya adalah meningkatnya potensi ambiguitas dalam mengenali identitas gender seseorang hanya dari nama. Hal ini juga mencerminkan adanya pergeseran nilai dalam masyarakat, di mana kejelasan penanda tradisional mulai tergantikan oleh preferensi terhadap nama yang dianggap lebih modern atau universal. Akibatnya, fungsi praktis dan simbolik dari kata sandang tersebut perlahan mengalami reduksi, seiring dengan perubahan cara masyarakat memaknai identitas dan representasinya melalui nama.

Identitas orang Bali pada dasarnya tidak hanya dapat dikenali dari nama diri seseorang, melainkan juga dari berbagai penanda kultural lain seperti bahasa yang digunakan, praktik ritual keagamaan, sistem kekerabatan, hingga keterlibatan dalam adat dan tradisi. Misalnya, penggunaan bahasa Bali dengan tingkat tutur (sor singgih basa), partisipasi dalam upacara seperti odalan atau ngaben, serta keberadaan dalam struktur banjar merupakan indikator kuat identitas kebalian. Dengan demikian, identitas budaya Bali bersifat multidimensional dan tidak bergantung pada satu aspek saja. Namun, di antara berbagai penanda tersebut, nama diri memiliki posisi yang paling awal dan paling mudah dikenali dalam interaksi sosial.

Nama diri menjadi penanda yang paling kasatmata karena ia muncul pertama kali dalam proses perkenalan dan komunikasi. Tanpa perlu melihat praktik budaya lainnya, seseorang dapat segera mengidentifikasi latar belakang kebalian melalui nama seperti Wayan, Made, Nyoman, atau Ketut. Dalam konteks ini, nama berfungsi sebagai “identitas permukaan” yang langsung terbaca, bahkan oleh orang di luar komunitas Bali. Keunggulan nama sebagai penanda identitas terletak pada sifatnya yang ringkas, konsisten, dan melekat secara permanen pada individu. Oleh karena itu, nama memiliki kekuatan simbolik yang sangat besar dalam merepresentasikan identitas etnis.

Namun, kecenderungan masyarakat Bali saat ini yang tidak lagi menggunakan nama diri tradisional menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam cara identitas ditampilkan. Ketika nama-nama khas Bali mulai ditinggalkan dan digantikan oleh nama yang bersifat global atau netral budaya, maka salah satu penanda paling jelas dari identitas kebalian menjadi tidak lagi terlihat. Dalam situasi ini, identitas Bali tidak hilang sepenuhnya, tetapi menjadi kurang tampak di permukaan dan memerlukan penanda lain yang lebih kompleks untuk dikenali. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi pergeseran dari identitas yang “langsung terbaca” menuju identitas yang lebih implisit.

Kondisi tersebut dapat dipahami sebagai bentuk reduksi penanda identitas orang Bali, khususnya pada level simbolik. Reduksi ini tidak selalu berarti hilangnya identitas, tetapi menunjukkan berkurangnya elemen-elemen yang secara eksplisit menandai keanggotaan seseorang dalam budaya Bali. Dalam jangka panjang, jika kecenderungan ini terus berlangsung, maka identitas kebalian berpotensi mengalami proses pengaburan, terutama dalam ruang sosial yang semakin heterogen dan global. Oleh karena itu, fenomena tidak digunakannya nama diri tradisional perlu dipahami bukan hanya sebagai pilihan individual, tetapi sebagai bagian dari dinamika sosial yang lebih luas yang memengaruhi cara identitas budaya dipertahankan, dinegosiasikan, dan direpresentasikan. [T]

Tags: balinama bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perayaan Besi, Menajamkan Pikiran

Next Post

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co