1 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Di Mana Wayan dan Ketut? —Krisis Penanda Identitas dalam Penamaan Generasi Bali Kontemporer

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
April 18, 2026
in Esai
Di Mana Wayan dan Ketut? —Krisis Penanda Identitas dalam Penamaan Generasi Bali Kontemporer

NAMA diri dalam masyarakat Bali tidak sekadar berfungsi sebagai alat identifikasi individu, melainkan merupakan bagian integral dari sistem tanda yang sarat makna sosial, kultural, dan kosmologis. Dalam perspektif antropologi linguistik, nama bukan hanya label arbitrer, tetapi simbol yang mengandung informasi tentang posisi seseorang dalam jaringan relasi sosial. Ketika seseorang menyandang nama tertentu, masyarakat Bali tidak hanya mengenali individu tersebut secara personal, tetapi juga segera dapat menafsirkan latar belakang keluarga, urutan kelahiran, bahkan dalam beberapa konteks, status sosialnya. Dengan demikian, nama berfungsi sebagai “teks sosial” yang dapat dibaca oleh komunitasnya.

Penamaan seperti Wayan/Gede/Putu/Luh, Made, Nyoman, dan Ketut merupakan sistem penanda urutan kelahiran yang telah mengakar kuat dalam struktur sosial masyarakat Bali. Secara tradisional, Wayan/Gede/Putu/Luh,  merujuk pada anak pertama, Made atau Kadek pada anak kedua, Nyoman atau Komang pada anak ketiga, dan Ketut pada anak keempat. Sistem ini bukan sekadar konvensi linguistik, tetapi mencerminkan pola pikir masyarakat Bali yang menekankan keteraturan, keseimbangan, dan siklus dalam kehidupan keluarga. Dalam konteks ini, kelahiran anak tidak dipandang sebagai peristiwa individual semata, tetapi sebagai bagian dari siklus yang berulang dan terstruktur. Oleh karena itu, nama menjadi penanda posisi seseorang dalam siklus tersebut.

Nama-nama ini juga merepresentasikan nilai kolektif yang hidup dalam masyarakat Bali. Penggunaan nama berbasis urutan kelahiran menunjukkan bahwa identitas individu tidak berdiri sendiri, melainkan selalu terkait dengan struktur keluarga dan komunitas. Dalam budaya yang cenderung kolektivistik, seperti Bali, identitas personal tidak dilepaskan dari relasi sosial. Nama Wayan/Gede/Putu/Luh,  tidak hanya berarti “anak pertama”, tetapi juga membawa ekspektasi sosial tertentu, seperti peran sebagai anak sulung yang memiliki tanggung jawab lebih dalam keluarga. Dengan demikian, nama berfungsi sebagai mekanisme kultural yang secara implisit mengatur peran dan harapan sosial.

Selain itu, nama diri dalam masyarakat Bali juga berkaitan erat dengan hubungan genealogis. Melalui nama, seseorang dapat dilacak dalam struktur kekerabatan yang lebih luas. Dalam banyak kasus, nama depan dikombinasikan dengan nama keturunan atau penanda kasta, sehingga membentuk identitas yang lebih kompleks. Hal ini menunjukkan bahwa sistem penamaan Bali bekerja secara berlapis, menggabungkan dimensi individu, keluarga, dan struktur sosial yang lebih besar. Dengan kata lain, nama menjadi pintu masuk untuk memahami posisi seseorang dalam jaringan sosial yang kompleks.

Tidak kalah penting, sistem penamaan ini juga mengandung dimensi kosmologis dan spiritual. Dalam pandangan hidup masyarakat Bali yang dipengaruhi oleh ajaran Hindu, kehidupan manusia dipahami sebagai bagian dari tatanan kosmis yang lebih luas. Kelahiran, termasuk urutan kelahiran, tidak dipandang sebagai kebetulan, tetapi memiliki makna dalam keseimbangan alam semesta. Pemberian nama tidak jarang dikaitkan dengan pertimbangan hari baik (dewasa ayu), konsultasi dengan tokoh adat atau pemangku, serta pelaksanaan ritual tertentu. Nama, dalam hal ini, menjadi bagian dari proses sakral yang menghubungkan manusia dengan dimensi spiritual.

Namun, dalam beberapa dekade terakhir, terjadi fenomena yang cukup signifikan dalam praktik penamaan di masyarakat Bali. Banyak orang tua yang tidak lagi menggunakan penanda nama tradisional seperti Wayan/Putu/Gede/Luh, Made/Kadek, Nyoman, dan Ketut. Sebagai gantinya, muncul kecenderungan pemberian nama yang berorientasi modern, baik yang bersumber dari bahasa Sanskerta yang dimodifikasi, bahasa Indonesia populer, maupun bahasa asing seperti Inggris. Nama-nama tersebut sering kali dipilih karena dianggap lebih “universal”, dan memiliki nilai estetika tertentu. Perubahan ini terutama terlihat di wilayah urban dan pada kelompok masyarakat dengan tingkat pendidikan serta mobilitas sosial yang tinggi. Dengan demikian, praktik penamaan tidak lagi sepenuhnya tunduk pada konvensi adat, melainkan mulai dipengaruhi oleh selera individual dan dinamika global.

Perubahan ini juga mencerminkan pergeseran nilai dari kolektivisme menuju individualisme. Jika dalam sistem tradisional nama berfungsi sebagai representasi struktur keluarga dan komunitas, maka dalam konteks modern nama lebih dipahami sebagai ekspresi identitas personal. Orang tua tidak lagi merasa terikat untuk mengikuti pola penamaan berbasis urutan kelahiran, melainkan lebih menekankan pada keunikan, kreativitas, dan makna personal yang ingin disematkan pada anak. Hal ini menunjukkan bahwa nama telah bergeser dari simbol kolektif menjadi simbol individual. Namun, pergeseran ini sekaligus mengurangi fungsi sosial nama sebagai penanda posisi dalam struktur keluarga Bali.

Penghilangan penanda nama tradisional tidak dapat dipandang secara sederhana sebagai perubahan selera atau tren semata. Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar mengenai keberlanjutan identitas budaya Bali di tengah arus modernisasi. Di satu sisi, perubahan tersebut dapat dipahami sebagai bentuk adaptasi terhadap tuntutan zaman yang semakin global. Namun, di sisi lain, hilangnya penanda nama tradisional berpotensi mengikis simbol-simbol identitas kultural yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat Bali.

Begitu pula, penanda jenis kelamin dalam sistem penamaan Bali, yakni penggunaan kata sandang “Ni” untuk perempuan dan “I” untuk laki-laki, pada masa kini menunjukkan kecenderungan semakin jarang digunakan oleh masyarakat Bali dalam memberi nama kepada anak. Padahal, dalam struktur penamaan tradisional, kedua penanda ini memiliki fungsi yang sangat jelas dan praktis, yaitu sebagai penunjuk langsung jenis kelamin seseorang. Dengan adanya kata sandang tersebut, identitas gender dapat dikenali secara instan tanpa memerlukan konteks tambahan. Hal ini menunjukkan bahwa sistem penamaan Bali sejak awal telah dirancang secara fungsional dan efisien dalam mendukung komunikasi sosial.

Dalam praktiknya, keberadaan penanda “Ni” dan “I” menjadi sangat penting terutama karena terdapat sejumlah nama diri yang bersifat netral gender, seperti Nyoman Tirta. Nama tersebut dapat digunakan baik oleh laki-laki maupun perempuan. Tanpa kehadiran kata sandang di depannya, akan sulit bagi orang lain untuk mengidentifikasi jenis kelamin pemilik nama tersebut hanya dari bentuk leksikalnya. Dengan demikian, penanda “Ni” dan “I” berfungsi sebagai elemen disambiguasi yang membantu menghindari ambiguitas dalam interaksi sosial, khususnya dalam komunikasi yang bersifat formal maupun administratif.

Penggunaan kata sandang ini juga menunjukkan bahwa sistem penamaan Bali tidak hanya mempertimbangkan aspek urutan kelahiran atau identitas keluarga, tetapi juga memperhatikan dimensi linguistik yang berkaitan dengan kejelasan referensi. Dalam perspektif pragmatik, penanda “Ni” dan “I” dapat dipahami sebagai perangkat yang memperjelas rujukan (referential clarity), sehingga memudahkan proses identifikasi dalam berbagai konteks sosial. Hal ini menegaskan bahwa sistem penamaan tradisional Bali memiliki kompleksitas dan kecanggihan tersendiri yang tidak sekadar simbolik, tetapi juga komunikatif.

Selain itu, terdapat kekhasan dalam penggunaan kata sandang “I” yang tidak selalu secara kaku merujuk pada laki-laki. Dalam konteks tertentu, khususnya pada individu dengan kasta atau wangsa tertentu seperti Gusti, kata sandang “I” dapat digunakan secara lebih fleksibel, bahkan tidak selalu menjadi penanda gender yang eksklusif. Fenomena ini menunjukkan bahwa sistem penamaan Bali bersifat dinamis dan kontekstual, di mana aturan-aturan yang ada dapat mengalami penyesuaian dengan struktur sosial yang melingkupinya. Dengan demikian, penanda nama tidak hanya berkaitan dengan bahasa, tetapi juga erat dengan stratifikasi sosial dan sistem nilai yang berlaku.

Berkurangnya penggunaan penanda “Ni” dan “I” dalam penamaan modern menimbulkan implikasi tertentu. Salah satunya adalah meningkatnya potensi ambiguitas dalam mengenali identitas gender seseorang hanya dari nama. Hal ini juga mencerminkan adanya pergeseran nilai dalam masyarakat, di mana kejelasan penanda tradisional mulai tergantikan oleh preferensi terhadap nama yang dianggap lebih modern atau universal. Akibatnya, fungsi praktis dan simbolik dari kata sandang tersebut perlahan mengalami reduksi, seiring dengan perubahan cara masyarakat memaknai identitas dan representasinya melalui nama.

Identitas orang Bali pada dasarnya tidak hanya dapat dikenali dari nama diri seseorang, melainkan juga dari berbagai penanda kultural lain seperti bahasa yang digunakan, praktik ritual keagamaan, sistem kekerabatan, hingga keterlibatan dalam adat dan tradisi. Misalnya, penggunaan bahasa Bali dengan tingkat tutur (sor singgih basa), partisipasi dalam upacara seperti odalan atau ngaben, serta keberadaan dalam struktur banjar merupakan indikator kuat identitas kebalian. Dengan demikian, identitas budaya Bali bersifat multidimensional dan tidak bergantung pada satu aspek saja. Namun, di antara berbagai penanda tersebut, nama diri memiliki posisi yang paling awal dan paling mudah dikenali dalam interaksi sosial.

Nama diri menjadi penanda yang paling kasatmata karena ia muncul pertama kali dalam proses perkenalan dan komunikasi. Tanpa perlu melihat praktik budaya lainnya, seseorang dapat segera mengidentifikasi latar belakang kebalian melalui nama seperti Wayan, Made, Nyoman, atau Ketut. Dalam konteks ini, nama berfungsi sebagai “identitas permukaan” yang langsung terbaca, bahkan oleh orang di luar komunitas Bali. Keunggulan nama sebagai penanda identitas terletak pada sifatnya yang ringkas, konsisten, dan melekat secara permanen pada individu. Oleh karena itu, nama memiliki kekuatan simbolik yang sangat besar dalam merepresentasikan identitas etnis.

Namun, kecenderungan masyarakat Bali saat ini yang tidak lagi menggunakan nama diri tradisional menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam cara identitas ditampilkan. Ketika nama-nama khas Bali mulai ditinggalkan dan digantikan oleh nama yang bersifat global atau netral budaya, maka salah satu penanda paling jelas dari identitas kebalian menjadi tidak lagi terlihat. Dalam situasi ini, identitas Bali tidak hilang sepenuhnya, tetapi menjadi kurang tampak di permukaan dan memerlukan penanda lain yang lebih kompleks untuk dikenali. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi pergeseran dari identitas yang “langsung terbaca” menuju identitas yang lebih implisit.

Kondisi tersebut dapat dipahami sebagai bentuk reduksi penanda identitas orang Bali, khususnya pada level simbolik. Reduksi ini tidak selalu berarti hilangnya identitas, tetapi menunjukkan berkurangnya elemen-elemen yang secara eksplisit menandai keanggotaan seseorang dalam budaya Bali. Dalam jangka panjang, jika kecenderungan ini terus berlangsung, maka identitas kebalian berpotensi mengalami proses pengaburan, terutama dalam ruang sosial yang semakin heterogen dan global. Oleh karena itu, fenomena tidak digunakannya nama diri tradisional perlu dipahami bukan hanya sebagai pilihan individual, tetapi sebagai bagian dari dinamika sosial yang lebih luas yang memengaruhi cara identitas budaya dipertahankan, dinegosiasikan, dan direpresentasikan. [T]

Tags: balinama bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perayaan Besi, Menajamkan Pikiran

Next Post

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails

Seni sebagai Napas Demokrasi: Mengapa Kritik Bukan Ancaman, Melainkan Tanda Kehidupan

by Ahmad Prasetya Hady
July 28, 2026
0
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan

“Demokrasi tidak hanya hidup di bilik suara. Ia juga hidup di panggung teater, di dinding mural, dalam bait puisi, dan...

Read moreDetails

Komunikasi Politik dan Krisis Komunikasi Publik Pemimpin

by Chusmeru
July 27, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DINAMIKA komunikasi politik selalu berubah pada setiap rezim. Puluhan tahun silam, para pemimpin dikenal lewat pidato di lapangan terbuka dan...

Read moreDetails

Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

by Agung Sudarsa
July 27, 2026
0
Bali di Persimpangan Kesadaran ——Membaca Tragedi Sosial Melalui Perspektif Pañcamaya Kośa

SEBUAH peristiwa tragis yang baru-baru ini terjadi di Bali kembali mengguncang nurani masyarakat. Bukan semata karena adanya korban jiwa, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali
Khas

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi
Khas

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi
Khas

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena
Ulas Pentas

Pada Akhirnya Eksperimentasi Napas, Tubuh, dan Gerak Itu Berjudul Igel Prana ——Catatan Pasca Pertunjukan dan Sidang Tertutup Gus Sena

MALAM itu, 20 Juli 2026, jam di ponsel menunjukan pukul 18:52 Wita, di depan gedung Ni Ketut Reneng, kampus Institut...

by Dewa Purwita Sukahet
July 31, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co