12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Negeri ’Katanya’: Tuduh Dulu, Buktikan Belakangan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
April 18, 2026
in Esai
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

Ahmad Sihabudin

Di negeri ini, politik itu tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya berganti tempat tidur: kadang di gedung parlemen, kadang di layar televisi, dan seringnya justru di grup WhatsApp yang nama anggotanya lebih panjang daripada isi diskusinya. Di sana, keputusan tidak diambil, tapi kesimpulan sudah dipastikan. Dan yang paling menarik, kebenaran tidak perlu hadir, cukup diwakili oleh “katanya”.

Kasus ijazah palsu yang konon menyeret tokoh besar dan pemodal besar itu pun hadir seperti serial drama yang tidak jelas jumlah episodenya. Awalnya kita kira ini mini seri, eh ternyata sinetron kejar tayang.

Setiap hari ada saja perkembangan: saksi baru, bukti lama, analisis dadakan, hingga pakar yang kemarin bicara ekonomi, hari ini tiba-tiba ahli forensik kertas. Publik pun bingung, ini sedang menyaksikan proses hukum atau audisi “Indonesia Mencari Kepastian”?

Di tengah kekacauan itu, rumor tampil seperti selebritas papan atas, tidak pernah benar-benar diundang, tapi selalu berhasil mencuri perhatian. Ia datang tanpa identitas, tapi punya daya sebar lebih cepat daripada undangan kondangan digital. Dan seperti biasa, begitu rumor muncul, kita semua mendadak jadi detektif. Bedanya, detektif sungguhan mencari bukti, sementara kita cukup mencari “yang sejalan dengan perasaan”.

Kalau dipilah, rumor ini memang punya dua wajah. Wajah pertama adalah wajah rakyat biasa, yang mungkin sudah terlalu lama menunggu kejelasan, sampai akhirnya memilih membuat versi sendiri. Ini semacam “demokrasi imajinasi”: kalau fakta tak kunjung datang, ya sudah, kita produksi saja cerita alternatif. Toh, dalam dunia rumor, logika itu opsional, yang penting “masuk akal menurut hati”.

Di warung kopi, misalnya, seorang bapak bisa dengan yakin berkata, “Saya punya sumber terpercaya.” Ketika ditanya siapa sumbernya, ia menjawab dengan tenang, “Teman saya.” Ketika ditanya lagi teman siapa, jawabannya mulai kabur, “Pokoknya orang dalam.” Dalam konteks ini, “orang dalam” bisa berarti siapa saja, mulai dari pegawai kantor, tetangga, sampai mungkin tukang parkir yang pernah melihat seseorang lewat.

Wajah kedua adalah rumor yang lebih “elit”, lahir dari dapur politik yang penuh strategi. Ini bukan lagi sekadar kabar angin, tapi angin yang sudah diarahkan pakai kipas angin industri. Rumor jenis ini biasanya lebih rapi, lebih sistematis, dan kadang dilengkapi “bumbu ilmiah” agar terlihat kredibel. Ada potongan data, ada kutipan, ada grafik (meskipun sering tidak jelas sumbernya), pokoknya lengkap seperti skripsi, bedanya, tidak perlu diuji.

Di titik ini, saling tuding dan saling tuntut menjadi semacam koreografi yang indah, kalau dilihat dari jauh. Yang satu menunjuk dengan penuh keyakinan, yang lain membalas dengan gugatan. Yang dituduh berkata, “Ini fitnah!”, yang menuduh berkata, “Ini fakta!” Dan publik? Seperti penonton pertandingan bulu tangkis, kepala menoleh ke kiri dan ke kanan mengikuti arah shuttlecock tuduhan.

Lucunya, setiap pihak merasa paling rasional. Tidak ada yang merasa sedang berdrama, padahal dari luar, semuanya tampak seperti panggung teater absurd. Bahkan kadang kita tidak tahu mana yang lebih cepat: proses hukum atau proses viral. Karena seringkali, sebelum hakim sempat membaca berkas, netizen sudah lebih dulu menjatuhkan vonis, lengkap dengan analisis, meme, dan kadang juga soundtrack.

Di sinilah kita mulai menyadari bahwa dalam ekosistem seperti ini, kebenaran bukan lagi soal “apa yang terjadi”, tapi “apa yang dipercaya banyak orang”. Dan kepercayaan itu seringkali dibentuk bukan oleh data, melainkan oleh seberapa sering sesuatu diulang. Kalau sebuah rumor diulang cukup lama dan cukup sering, ia bisa naik pangkat menjadi “pengetahuan umum”. Padahal, kalau ditelusuri, asal-usulnya mungkin hanya dari satu kalimat: “katanya sih…”

Sementara itu, institusi formal, yang seharusnya menjadi penampung aspirasi dan penyaring kebenaran, sering terlihat seperti sedang antre di loket yang salah. Prosedurnya panjang, bahasanya rumit, dan waktunya lama. Di sisi lain, rumor bekerja seperti ojek online: cepat, fleksibel, dan langsung sampai ke tujuan (meskipun kadang alamatnya meleset jauh).

Maka tidak heran jika masyarakat kadang lebih percaya pada kabar angin daripada klarifikasi resmi. Bukan karena mereka anti kebenaran, tapi karena kebenaran versi resmi sering datang terlambat, seperti tamu yang datang saat acara sudah bubar. Sementara rumor sudah lebih dulu mengisi ruangan, duduk nyaman, bahkan sempat mengganti dekorasi.

Dan di tengah semua itu, gejala saling tuding dan saling tuntut terus berlangsung seperti lingkaran setan yang tidak mau pensiun. Setiap tuduhan melahirkan tuntutan, setiap tuntutan melahirkan tuduhan baru. Ini seperti permainan pingpong tanpa skor akhir, yang penting bukan menang atau kalah, tapi terus memukul bola agar permainan tidak berhenti.

Akhirnya, kita pun sampai pada satu pertanyaan yang agak menggelitik: apakah kita benar-benar ingin tahu kebenaran, atau sebenarnya kita hanya menikmati proses mencarinya, lengkap dengan dramanya? Karena kalau yang kedua, maka kita harus jujur bahwa politik di negeri ini bukan hanya soal kekuasaan, tapi juga soal hiburan.

Dan seperti semua hiburan, ia punya konsekuensi. Kita bisa tertawa, kita bisa terhibur, tapi jangan sampai lupa bahwa di balik semua rumor, tudingan, dan tuntutan itu, ada realitas yang menunggu untuk diselesaikan. Masalahnya, selama kita masih sibuk berdebat soal “katanya”, realitas itu mungkin akan terus antre, sambil geleng-geleng kepala melihat kita yang terlalu menikmati pertunjukan. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tumpek Landep dan Gen Z, Mengasah Pikiran di Era Digital

Next Post

Perayaan Besi, Menajamkan Pikiran

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Perayaan Besi, Menajamkan Pikiran

Perayaan Besi, Menajamkan Pikiran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co