7 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

Wayan Gde Yudane by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
in Esai
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

The Final Moment of Sprites|WATER|Art & Creative Biennale 2015 | Foto: Gusade Darmasuta

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana percakapan publik tidak lagi dirancang untuk saling memahami, melainkan hanya untuk saling menunggu giliran berbicara. Di bawah riuh rendahnya lalu lintas informasi hari ini, kita sebenarnya sedang menyaksikan sebuah pergeseran yang sunyi namun destruktif: degradasi budaya diskusi yang akut. Keberhasilan teknologi dalam menghubungkan kepala manusia ternyata tidak berbanding lurus dengan kemampuan kepala-kepala tersebut untuk saling bertukar isi.

Kedangkalan yang Dirayakan

Budaya bertukar gagasan telah mengalami penyederhanaan yang luar biasa. Ketelitian, nuansa, dan konteks kini dianggap sebagai beban kosmetik yang memperlambat arus perputaran konten. Kompleksitas dunia yang berlapis-lapis dipangkas habis demi kenyamanan sebuah kesimpulan satu kalimat atau utasan pendek yang instan. Kita hidup di zaman di mana masalah geopolitik menahun, krisis ekonomi global, hingga perdebatan sains yang rumit dituntut untuk selesai dijelaskan dalam video berdurasi tiga puluh detik.

Akibatnya, perdebatan tidak lagi menjadi ruang dialektika untuk mencari sintesis atau titik temu. Ia telah bergeser menjadi arena sirkus, benturan antara dua dogma yang sama-sama menolak untuk goyah. Keberhasilan sebuah argumen tidak lagi diukur dari validitas data atau kekuatan logika yang mendasarinya, melainkan dari seberapa banyak tepuk tangan digital yang berhasil dikumpulkan. Kebenaran telah bergeser dari sesuatu yang harus digali secara mendalam menjadi sesuatu yang ditentukan oleh jumlah suara terbanyak.

Kepunahan Kerendahan Hati Intelektual

Dahulu, kalimat “saya tidak tahu” adalah sebuah undangan terbuka untuk belajar. Frasa pendek itu adalah motor penggerak peradaban dan awal dari segala bentuk ilmu pengetahuan. Para pemikir besar masa lalu membangun fondasi kebijaksanaan dari kesadaran akan keterbatasan diri sendiri. Namun hari ini, frasa itu telah punah dari kosakata harian, digantikan oleh kepura-puraan yang terorganisasi dengan sangat rapi.

Mengakui keterbatasan pengetahuan kini dianggap sebagai aib sosial dan tanda kelemahan intelektual yang fatal. Sebaliknya, berbicara tanpa dasar, tanpa data, dan tanpa validasi justru dirayakan sebagai bentuk keberanian berpendapat yang otentik. Ada kepuasan instan yang aneh ketika seseorang merasa mampu mendebat seorang profesional hanya dengan bermodalkan ingatan samar dari satu artikel yang dibaca sekilas. Keahlian yang dibangun lewat dedikasi, keringat, dan riset bertahun-tahun kini memiliki nilai tukar yang sama rendahnya dengan opini sekilas yang dirumuskan dalam waktu lima menit di dalam ruang tunggu.

Prasmanan Fakta dan Kebenaran Mandiri

Skeptisisme sehat yang dahulu menjadi benteng pertahanan dari pembodohan kini telah bermutasi menjadi sinisme massal. Masyarakat tidak lagi memiliki ketertarikan untuk mencari kebenaran obyektif. Energi yang ada justru dihabiskan untuk berburu pembenaran atas apa yang sudah ingin mereka percayai sejak awal. Struktur digital saat ini telah memfasilitasi hal tersebut dengan sangat baik, menyediakan algoritma yang siap menyuapi ego setiap orang dengan informasi yang seragam.

Ketika setiap individu merasa memiliki hak eksklusif untuk menentukan versinya sendiri tentang kenyataan, fakta empiris kehilangan kekuatannya. Data ilmiah diperlakukan layaknya menu prasmanan dalam sebuah pesta—diambil yang dirasa manis dan cocok dengan lidah, lalu dibuang atau dimusuhi jika dirasa pahit dan tidak nyaman di hati. Sains tidak lagi dipandang sebagai metode uji coba yang ketat, melainkan sekadar masalah selera. Jika sebuah fakta tidak mendukung narasi pribadi, maka fakta tersebut akan langsung diberi label sebagai konspirasi atau manipulasi.

Panggung Riuh Para Peneriak

Pada akhirnya, ruang publik kita telah berubah menjadi arena monolog massal. Sebuah tempat yang sangat luas namun pengap, di mana setiap orang berdiri di atas podiumnya masing-masing, memegang pengeras suara, dan berteriak sekencang mungkin kepada kerumunan yang juga sedang sibuk berteriak. Tidak ada yang benar-benar berdiri di posisi pendengar. Semua orang berasumsi bahwa mereka adalah guru bagi dunia, dan dunia adalah murid yang wajib mendengarkan ocehan mereka.

Kita sama sekali tidak sedang kekurangan informasi di abad ini; kita justru sedang tenggelam di dalamnya. Namun, di tengah banjir bandang data tersebut, kita memilih untuk mematikan fungsi kritis otak dan menyalakan ego paling primitif. Kita hanya sedang berkumpul untuk merayakan pemakaman massal bagi kemampuan untuk mendengarkan, sembari pelan-pelan merawat ketidaktahuan yang diagungkan dengan penuh rasa percaya diri. [T]

Kubu Art Space

Tags: intelektual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

Next Post

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

Wayan Gde Yudane

Wayan Gde Yudane

Komponis. Mendapat Anugerah Kebudayaan Indonesia 2020 untuk katagori Pencipta Pelopor Pembaru

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post
Mungkinkah Korut Serang AS?

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Ruang Komunitas, Masa Depan Sastra Jakarta Bertumbuh — Membaca Festival Sastra Jakarta 2026 sebagai Gerakan Pembinaan dan Regenerasi Kebudayaan
Khas

Dari Ruang Komunitas, Masa Depan Sastra Jakarta Bertumbuh — Membaca Festival Sastra Jakarta 2026 sebagai Gerakan Pembinaan dan Regenerasi Kebudayaan

SEBUAH kota tidak cukup hanya memiliki sejarah sastra, nama-nama besar, atau gedung-gedung yang sesekali menjadi tempat berlangsungnya perhelatan kebudayaan. Kota...

by Emi Suy
November 7, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co