6 November 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepiring Seafood Kedonganan dan Pelajaran Resiliensi Pariwisata Bali

AA Ayu Arun Suwi Arianty by AA Ayu Arun Suwi Arianty
April 12, 2026
in Esai
Sepiring Seafood Kedonganan dan Pelajaran Resiliensi Pariwisata Bali

Seafood Kedonganan

Jalan sore menyususi tepi pantai
Langit jingga menutup hari
Masa depan pariwisata tak hanya soal ramai
Namun keseimbangan yang terus dijaga setiap hari

SELAMA puluhan tahun, pariwisata menjadi denyut utama perekonomian Bali. Sebelum pandemi, pulau ini menerima lebih dari enam juta wisatawan mancanegara setiap tahun dan dikenal sebagai salah satu destinasi paling populer di dunia. Namun pandemi COVID-19 pada 2020 seolah menekan tombol jeda bagi pariwisata Bali.

Ketika mobilitas wisatawan global berhenti, sektor pariwisata langsung terpuruk dan dampaknya dirasakan luas oleh masyarakat yang bergantung pada industri ini. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pariwisata tidak cukup hanya bertumpu pada jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga membutuhkan resiliensi, kemampuan destinasi untuk bertahan, beradaptasi, dan tetap menjaga keberlanjutan kehidupan masyarakatnya di tengah ketidakpastian.

Bali sebenarnya memiliki modal budaya yang sangat kuat untuk membangun resiliensi pariwisata, yaitu filosofi Tri Hita Karana. Filosofi ini menekankan pentingnya harmoni antara tiga hubungan utama dalam kehidupan manusia: hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), hubungan antar manusia (pawongan), serta hubungan manusia dengan alam (palemahan).

Selama ini Tri Hita Karana sering dipahami sebagai nilai budaya atau filosofi kehidupan masyarakat Bali. Namun dalam konteks pariwisata, nilai tersebut sebenarnya dapat menjadi fondasi bagi pengelolaan destinasi yang lebih berkelanjutan dan tangguh terhadap krisis.

Salah satu contoh menarik bagaimana nilai-nilai tersebut hadir dalam praktik pariwisata dapat ditemukan di kawasan pesisir Kedonganan, Kabupaten Badung. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu pusat wisata kuliner seafood di Bali yang telah berkembang selama beberapa dekade. Setiap sore hingga malam hari, wisatawan datang ke pantai Kedonganan untuk menikmati hidangan laut segar sambil menikmati suasana pantai dan matahari terbenam.

Tri Hita Karana dalam Resiliensi Pariwisata Bali

Pesisir Kedonganan bukan sekadar kawasan kuliner yang menawarkan pengalaman gastronomi bagi wisatawan. Di balik deretan kafe seafood di tepi pantai, terdapat sistem sosial masyarakat pesisir yang menjadi fondasi bagi keberlanjutan kawasan tersebut.

Berbeda dengan banyak kawasan wisata yang berkembang melalui investasi besar dari luar daerah, usaha kuliner di Kedonganan sebagian besar dikelola oleh masyarakat lokal. Keterlibatan masyarakat tidak hanya sebagai tenaga kerja, tetapi juga sebagai bagian dari sistem pengelolaan usaha yang berbasis komunitas.

Praktik ini mencerminkan nilai pawongan dalam Tri Hita Karana. Solidaritas sosial dan kerja sama antar masyarakat menjadi fondasi penting dalam menjalankan aktivitas ekonomi pariwisata. Melalui mekanisme komunitas, masyarakat lokal memiliki ruang untuk berpartisipasi dalam pengelolaan kawasan, menjaga ketertiban usaha, serta memastikan bahwa manfaat ekonomi dari aktivitas pariwisata dapat dirasakan oleh masyarakat setempat.

Selain hubungan sosial antar masyarakat, keberadaan kawasan kuliner Kedonganan juga sangat bergantung pada kondisi lingkungan pesisir. Sebagai kawasan yang berbasis pada sumber daya laut, keberlanjutan ekosistem laut dan pesisir menjadi faktor kunci bagi kelangsungan usaha kuliner di wilayah ini. Dalam konteks tersebut, nilai palemahan dalam Tri Hita Karana menjadi sangat relevan. Aktivitas ekonomi pariwisata tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan laut dan pesisir yang menjadi sumber utama bahan baku kuliner seafood.

Di sisi lain, kehidupan masyarakat Kedonganan juga tetap terhubung dengan nilai spiritual melalui berbagai praktik keagamaan dan upacara adat yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bali. Aktivitas ekonomi pariwisata berjalan berdampingan dengan kehidupan spiritual masyarakat, mencerminkan nilai parahyangan dalam Tri Hita Karana.

Pengalaman Kedonganan menunjukkan bahwa kuliner dapat memainkan peran penting dalam memperkuat resiliensi pariwisata. Berbeda dengan sektor pariwisata yang sangat bergantung pada mobilitas internasional, usaha kuliner memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam beradaptasi dengan perubahan pasar. Selain itu, kuliner berbasis sumber daya lokal juga memungkinkan keterlibatan masyarakat secara langsung dalam aktivitas ekonomi pariwisata.

Belajar Ketahanan Pariwisata dari Kuliner Pesisir Kedonganan

Tekanan pembangunan pariwisata, perubahan kondisi lingkungan pesisir, serta persaingan yang semakin ketat dalam industri pariwisata global dapat memengaruhi keberlanjutan kawasan ini. Dalam situasi seperti itu, nilai-nilai Tri Hita Karana menjadi kompas penting untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian lingkungan.

Pengalaman Kedonganan menunjukkan bahwa resiliensi pariwisata tidak hanya dibangun melalui strategi pemasaran atau investasi besar dalam infrastruktur, tetapi justru tumbuh dari kekuatan komunitas lokal yang mampu merawat harmoni antara manusia, alam, dan nilai spiritual yang menjadi bagian dari identitas budaya Bali. Karena pada akhirnya, masa depan pariwisata Bali tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak wisatawan yang datang setiap tahun, melainkan oleh kemampuan destinasi ini untuk berkembang tanpa kehilangan keseimbangan sosial, budaya, dan lingkungan yang menjadi fondasi kehidupan masyarakatnya.

Di Kedonganan, sepiring seafood yang disajikan di tepi pantai bukan sekadar hidangan laut yang menggugah selera wisatawan. Di balik aroma ikan bakar dan suasana matahari terbenam, tersimpan cerita tentang kehidupan masyarakat pesisir yang menjaga keseimbangan antara ekonomi, budaya, dan alam.

Aktivitas kuliner di kawasan ini tidak hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga bagian dari praktik sosial yang berakar pada nilai-nilai lokal. Masyarakat bekerja bersama, memanfaatkan sumber daya laut secara bijak, sekaligus tetap menjaga tradisi dan kehidupan spiritual yang menjadi identitas Bali. Harmoni antara manusia, alam, dan nilai spiritual inilah yang mencerminkan semangat Tri Hita Karana, sebuah filosofi yang tidak hanya hidup dalam upacara adat, tetapi juga dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

Dari Kedonganan, kita belajar bahwa kekuatan pariwisata Bali tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, tetapi pada kemampuan masyarakatnya menjaga harmoni tersebut. Harmoni itulah yang menjadi fondasi penting bagi resiliensi pariwisata Bali di tengah berbagai ketidakpastian global. [T]

Penulis: AA Ayu Arun Suwi Arianty
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliDesa Kedonganankulinerpariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Buleleng dalam Museum Soenda Ketjil —Catatan Kecil dari Festival Wayang Bali Utara 2026

Next Post

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

AA Ayu Arun Suwi Arianty

AA Ayu Arun Suwi Arianty

A.A.Ayu Arun Suwi Arianty, SST.Par.,M.Par. Dosen. Tinggal di Denpasar. Telah menulis berbagai artikel ilmiah berkaitan dengan pariwisata

Related Posts

SARASWATI DI INDIA

by Sugi Lanus
November 6, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

Read moreDetails

Karman dan Wajah di Balik Gorden

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

Read moreDetails

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

Read moreDetails

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

Read moreDetails

LONTAR USADA KERALA

by Sugi Lanus
November 4, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 1 Nov 2026 * Kerala (sebuah negara bagian di India Selatan) memiliki kesamaan kultural yang...

Read moreDetails

Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

by Hartanto
November 4, 2026
0
Sastrawan di Seberang Lautan Tampak, Ada yang Tak Tampak di Pelupuk Mata

SILATURAHMI, sembari menghitung almanak yang tanggal demi tanggalnya bergerak seirama dengan perputaran jarum jam dan garis edar matahari, kami—saya, dr....

Read moreDetails

Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

by I Ketut Suar Adnyana
November 3, 2026
0
Mematan Yuyu: Ketika Buah Kopi Dibaca Melalui Mata Ketam

BAHASA masyarakat tradisional menyimpan cara pandang yang khas dalam memahami dunia. Alam tidak hanya menjadi ruang tempat manusia hidup dan...

Read moreDetails

Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

by I Gusti Made Darma Putra
November 2, 2026
0
Yang Suci Dijaga, Yang Indah Dicipta — Tentang Pagerwesi, Spiritualitas, dan Festival Seni Budaya Kabupaten Badung 2026

PADA hari ketika manusia diajak menegakkan pagar, sebuah panggung kebudayaan justru dibuka selebar-lebarnya. Rabu, 4 November 2026, menjadi sebuah momentum...

Read moreDetails

Musik, Agama dan Politik

by Agung Sudarsa
November 2, 2026
0
Musik, Agama dan Politik

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang menggelitik di tengah polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: apakah musik itu punya identitas agama...

Read moreDetails

Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

by I Ketut Suar Adnyana
November 1, 2026
0
Mahasiswa Akal-Akalan alias Mahasewa  dan Komodifikasi Identitas Akademik

ADA yang ganjil dalam kehidupan demokrasi kita ketika identitas mahasiswa dapat dipakai sebagaimana seseorang mengenakan kostum untuk memainkan sebuah peran....

Read moreDetails
Next Post
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BALI DALAM JEPITAN ---Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

SARASWATI DI INDIA

— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Oktober 2026 * SEMINGGU menjelang Hari Saraswati, Sabtu, 31 Oktober 2026, saya masih keluyuran...

by Sugi Lanus
November 6, 2026
“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti
Ulas Musik

“Kozmic Blues”: Bertahan di Tengah Hidup yang Tak Pasti

ADA masa ketika kita merasa hidup sudah berjalan terlalu jauh, tetapi kita sendiri belum sampai ke mana-mana. Waktu terus bergerak,...

by Ahmad Sihabudin
November 6, 2026
Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung
Panggung

Jembrana Creative Festival 2026 Libatkan Ratusan Kreator, Tarik Lebih dari 15.000 Pengunjung

SELAMA dua hari, Taman Pecangakan, Negara, menjelma menjadi ruang perjumpaan bagi ribuan orang dengan beragam gagasan dan karya kreatif. Musik...

by tatkala
November 6, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Karman dan Wajah di Balik Gorden

Ada orang yang berkeliaran di jalanan  dan  kita sebut “gila”, tetapi mungkin hanya terlalu lama sendirian. PAGI itu seorang ibu...

by Tri Nugroho Adi
November 6, 2026
Harmoni dan Ironi Pendidikan
Buku Tatkala

Harmoni dan Ironi Pendidikan

Judul: Harmoni dan Ironi Pendidikan Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. ISBN: Masih dalam...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India
Panggung

Dari Singapadu ke Bengaluru, Wayang dan Tari Bali Menjalin Dialog Budaya di Panggung India

DI atas panggung di Bengaluru, dua tradisi pewayangan bertemu dalam satu cerita. Wayang boneka India membuka kisah, sementara wayang kulit...

by Nyoman Budarsana
November 5, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Daftar Hadir Terakhir Reuni

GEDUNG SMP negeri di kota Cilacap itu masih belum berubah. Bangunan tua dengan pintu dan jendela kayu jati yang besar...

by Chusmeru
November 5, 2026
Dari Sadap Nira ke Sadap Data
Bahasa

Dari Sadap Nira ke Sadap Data

DALAM beberapa kali kunjungan dan penelitian kebahasaan di Desa Pedawa, Buleleng, saya kagum pada kekayaan tradisi desa Bali Aga yang unik ini. Salah...

by I Made Sudiana
November 5, 2026
Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya
Buku Tatkala

Wacana Manggala Pewayangan — Dalang dan Kegelisahannya

Judul: Wacana Manggala Pewayangan - Dalang dan Kegelisahannya Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Dr. I Gusti Made Darma Putra,...

by Buku Tatkala
November 5, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Ketika “Sebentar” Jadi Kata Paling Mahal: Kelalaian jadikan Anak sebagai Korban

LINIMASA saya di bulan Oktober dipenuhi dua kabar yang membuat dada sesak. Dua-duanya soal anak kecil yang ditinggal orang tuanya....

by Fitria Hani Aprina
November 4, 2026
Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan
Ulas Pentas

Tubuh yang Meruang dan Wajah Logam Kekuasaan

PENTAS teater tubuh berlangsung dua malam di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, 1-2 November 2026. Malam pertama...

by Silvester Petara Hurit
November 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Esai

Kuasa dalam Perjanjian Jual Beli Tanah dan Bangunan

PEMBERIAN kuasa adalah suatu perjanjian yang memberikan kekuasaan kepada seseorang untuk menerima dan melaksanakan suatu urusan atas nama pemberi kuasa...

by I Made Pria Dharsana
November 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co