“BELAJAR jualan dari ibu.” Kalimat itu meluncur begitu saja dari sosok perempuan yang sedang berdiri di belakang lapak dagangannya. Pagi itu ia mengenakan kerudung cokelat dan baju bergaris hitam-putih. Wajahnya lembut dengan mata yang meneduhkan. “Karena saya sering membatu ibu jualan sejak kecil.” Ia melanjutkan kalimat yang sempat tertahan tadi. Perempuan itu Suwati namanya. Usianya telah lewat setengah abad. Ia baru saja membungkus tiga porsi semanggi pesanan saya, lengkap dengan kerupuk puli-nya.
Bu Wati, begitu ia biasa dipanggil, sedari kecil tumbuh di lingkungan pedagang makanan. Ibunya penjual semanggi keliling era 70an. Dulu sekali di waktu kecil ia sering diajak ibunya ke pasar di tengah Kota Surabaya untuk membeli bahan masakan. Ia juga melihat bagaimana ibunya meramu bahan makanan itu di dapur mereka. Ia tak mengecap pendidikan yang tinggi. “Perempuan,” kata ibunya, “tak perlu sekolah tinggi-tinggi. Cukup pandai di dapur, merawat anak, sebagai pilar keluarga.” Sebuah pesan yang pada masa dulu diterima begitu saja oleh mayoritas perempuan di kampung-kampung. Sekarang, atas nama emansipasi, idiom itu menjadi lelucon bagi sebagian perempuan masa kini.


Tempat jualan Suwati terletak di bibir jalan besar di seberang ruko-ruko Bukit Palma Galeria di kawasan Citraland, Surabaya. Kawasan ini masih masuk wilayah Sememi, Kecamatan Benowo—tempat tanaman semanggi (tanaman paku air dari genus Marsilea) tumbuh liar maupun dibudidayakan. “Tapi saya tinggal di situ, lampu merah ke kanan,” ucap Wati sambil menunjuk ke arah Kendung, kelurahan yang berdempetan dengan Sememi. “Jualan di sini sejak 2017.”
Daerah tempat Suwati jualan sangat ramai. Jalan besar itu nyaris tak pernah sepi. Pagi itu, hanya ada dua-tiga pedagang semanggi saja yang buka di bibir jalan besar itu, berbeda dengan akhir pekan. Pada Minggu pagi, pedagang semanggi di kawasan ini bisa berderet dan berdempet sangat panjang, memenuhi trotoar. Selama tinggal di Surabaya, saya pernah sekali beli semanggi di kawasan ini pada Minggu pagi.
Sebagaimana makanan legendaris lainnya, saya kira semanggi bukan sekadar makanan. Ia adalah lanskap yang dimakan. Daun semanggi—tanaman air yang dulu tumbuh liar di rawa-rawa sekitar Surabaya—dipetik, dikukus, lalu disajikan dengan bumbu khas berbasis ketela rambat dan kerupuk puli (berbahan dasar nasi yang dihaluskan).
Dalam satu pincuk daun pisang, semanggi bertemu kerupuk puli dan siraman saus cokelat pekat yang manis-gurih, seperti pecel. Teksturnya sederhana, tetapi rasanya kompleks: tanah, air, dan keringat petani bertemu dalam satu suapan. Di Surabaya, semanggi sudah menjadi bagian dari “warisan kuliner tradisional” yang tidak hanya memiliki nilai gastronomi, tetapi juga identitas budaya kota. Ia lahir dari hubungan manusia dengan alam sekitar—sebuah praktik makan yang tidak terpisahkan dari ekologi lokal.

Di masa lalu, semanggi adalah makanan rakyat. Ia dijajakan oleh perempuan-perempuan kampung yang berjalan kaki dari satu sudut kota ke sudut lain, setidaknya sampai awal 2000an. Tidak ada gerobak, tidak ada etalase. Hanya suara, bakul atau rinjing, dan kesabaran yang disunggi di kepala atau digendong di punggung.
Namun, modernitas kota mengubah segalanya. Pertumbuhan industri makanan cepat saji dan masuknya kuliner global perlahan menggeser posisi semanggi. Masyarakat kota—terutama generasi muda—lebih akrab dengan burger, ayam goreng tepung, makanan-makanan dari Korea dan Jepang, dan minuman boba-bobaan dibandingkan daun semanggi yang dikukus sederhana.
Semanggi kini “kalah bersaing di tengah perkembangan zaman” karena munculnya kuliner baru yang lebih menarik secara visual dan praktis. Perubahan selera ini bukan sekadar soal rasa, melainkan juga soal gaya hidup. Semanggi membutuhkan waktu, ruang, dan hubungan sosial—hal-hal yang makin langka di kota yang bergerak cepat seperti Surabaya.
Menariknya, semanggi tidak bisa dilepaskan dari peran perempuan. Sebagian besar penjualnya adalah perempuan lanjut usia—mereka yang mewarisi resep dari generasi sebelumnya tanpa pernah menuliskannya, sebagaimana Suwati. Semanggi adalah simbol “kemandirian” perempuan. Namun, ketika para penjual itu menua, siapa yang akan melanjutkan?


Kini, banyak perempuan yang tak pandai memasak. Salah satu sebabnya, mereka sibuk mengurusi tugas sekolah, kuliah, yang dibawa pulang. Mereka pun acap melupakan belajar memasak. Sembari menemani Bu Wati berdagang semanggi, saya sempat menanyakan siapa yang akan melanjutkan usaha ini nantinya. Beberapa saat ia tak menjawab pertanyaan saya. Lalu, dia berujar, “Sepertinya tak ada.”
Pemerintah kota pernah menggagas “Kampoeng Semanggi” sebagai pusat produksi dan promosi kuliner legendari sini. Letak perkampungan ini cukup jauh dari pusat keramaian kota. Berada di Kelurahan Bringin, Kecamatan Sambikerep, Benowo.
Namun, tantangan tetap ada. Pelestarian tidak cukup hanya dengan inovasi produk, apalagi sekadar jargon-jargon omong kosong. Ia membutuhkan regenerasi pelaku, perubahan persepsi, dan—yang paling sulit—kembalinya ruang bagi tradisi dalam kehidupan modern yang banal. Dan, berbicara soal pelestarian, saya kira juga menyangkut resep asli, inovasi rasa, serta strategi promosi yang sesuai dengan zamannya. Dengan kata lain, semanggi harus belajar berbicara dalam bahasa zaman, tanpa kehilangan suaranya sendiri.
Di tengah kota metropolitan yang terus tumbuh, suara “Semanggiii…” kini semakin jarang terdengar. Ia seperti fragmen masa lalu yang tersisa, berjalan pelan di antara gedung-gedung tinggi. Ada nostalgia yang melekat pada semanggi. Banyak orang mengingatnya sebagai bagian dari masa kecil—ketika penjual keliling masih sering lewat, ketika makanan belum menjadi komoditas visual di media sosial.
Gusti Ayu Permata Sari, istri saya, kelahiran Surabaya, pernah berkata kepada saya, “Dulu sering lewat depan rumah… sekarang sudah tidak ada lagi”—sebuah kesaksian sederhana tentang hilangnya kehadiran semanggi dalam kehidupan sehari-hari. Kesaksian seperti itu bukan sekadar nostalgia. Ia adalah tanda bahwa semanggi sedang bergerak dari ruang hidup ke ruang ingatan, tanpa banyak orang menyadarinya. Ya, semanggi hari ini berdiri di persimpangan antara bertahan sebagai tradisi atau menghilang sebagai kenangan. Di satu sisi, ia memiliki nilai budaya yang kuat. Di sisi lain, ia menghadapi realitas pasar yang keras.
Sampai di sini, sekali lagi, semanggi bukan sekadar soal tumbuhan yang mudah ditemukan di pinggir pematang sawah, bumbu kacang ketela, dan kerupuk puli; ia adalah cerita tentang hubungan manusia dengan tanah, tentang perempuan-perempuan yang berjalan membawa tradisi, tentang kota yang terus berubah tetapi masih menyimpan ingatan tentangnya.


Mungkin, suatu hari nanti, semanggi benar-benar hilang dari jalanan Surabaya. Atau justru berpindah ke ruang-ruang elit di pusat perbelanjaan modern, restoran, dan hotel-hotel berbintang. Jika demikian, apakah semanggi masih akan menjadi makanan rakyat? Makanan yang—meminjam lirik lagu keroncong ciptaan S. Padimin pada era 50an yang berjudul Semanggi Suroboyo— “harganya sangat murah… sepincuk hanya setali” itu.[T]
Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole





























