JARAK MENCURI KAU DARIKU
Ketika cinta mulai terjelaskan
jarak telah mencuri kau dariku.
Sementara pagi tak menjanjikan
bahwa kau akan datang,
setiap detik adalah sunyi
yang pantas untuk dimusuhi.
Aku mengulang pagi itu dalam benakku
beralih dari adegan ke adegan lainnya
Rumah-rumah yang masih temaram
udara lembap dan rumput-rumput basah
dan kau tentu saja sedang berjalan
melewati pohon-pohon dan aku.
Semua yang dapat bergerak kini berpindah
dari suatu tempat ke tempat yang lebih berbahaya
sementara aku masih berada di luar dan menunggu.
Yogyakarta, 2019
SAJAK BISU
Kebisuan kita telah diterjemahkan
ke dalam bahasa bangsa-bangsa
oleh rona senyummu
yang merekahkah kelopak
wewangian surga yang nyata.
Tertimbun pula rindu
pada cekung pipimu
ketika perpisahan
adalah takdir kita.
Dan waktu
tetap saja egois
tak mau meluangkan diri
tak mau merestui.
Surakarta, 2025
PELAJARAN MERELAKAN
Yang banyak memiliki
yang akan sering kehilangan.
Milikilah. Carilah cara untuk
untuk melepaskan segala.
Dan di antara semua perasaan,
merelakan adalah pilihan.
Kau tahu: keinginan tidak mengenal
rehat dan nasihat. Hanya hasrat
yang sesaat.
Sebelum memilih dan
memutuskan apa pun
kelak yang kau miliki;
kehilangan adalah kemestian.
Ikhlaskan. Kau tidak perlu merasa
sedih atau kecewa.
Surakarta, 2025
PELAJARAN MERELAKAN 2
Hidup semata mengajarimu
cara menerima dan melepaskan.
Kau pergi, entah mencari
atau menghindari kehampaan
yang jauh lebih besar.
Kemegahan seperti buluh
yang patah terurai,
tak akan diputuskannya.
Bagai sumbu yang pudar nyala,
tak pernah akan dipadamkannya.
Yogyakarta, 2021
SESAL
Sesalku barangkali mata yang khawatir
milik seekor kucing yang membenci air
atau perasaan muak daun-daun putri malu
yang menolak disentuh jari-jari tanganmu
Sementara bahasa telah lama kehilangan makna
ketika negara gemar berpidato di tajuk berita
puisi ini hanya butuh satu kata, ‘bergeraklah’
untuk menyentuh jantung pikiran yang lelah
Aku ingin percaya pada arti kata itu
untuk melewati sepi & patah arang ini
sekali lagi- terakhir kali
Surakarta, 2025
NYALA MASA REMAJA
Kemarin, kesuksesan berhasil menemukanku padamu. Meski setelahnya meninggalkan sepi di kamu dan nyeri di dadaku.
Hari ini, kota kecil berisi beragam kecemasan: angka kemiskinan yang terus meninggi, politisi yang ketahuan korupsi, daya beli kelas menengah yang rendah, dan berita artis menjadi anggota dewan. Tidak penting!
Besok adalah perangkap lain yang cermat mengamati gerak-gerik kita. Lorong-lorong misterius yang tidak menjanjikan apa-apa. Namun ada keseluruhan kehidupan yang tak terwakilkan di sana.
Aku ingin menemuimu di masa lalu, sepuluh tahun yang lalu. Masa remaja yang nyalanya biru. Tempat kau betah tinggal di ingatanku.
Yogyakarta, 2020
.
Penulis: Pitrus Puspito
Editor: Adnyana Ole



























