DESA Singapadu, Kabupaten Gianyar, dikenal sebagai salah satu tempat kerajinan perak di Bali. Di tengah arus modernisasi dan persaingan produk yang semakin ketat, para perajin perak di desa ini tetap bertahan dengan menjaga kualitas, tradisi, dan nilai seni yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu perajin perak di Desa Singapadu, Leo Saputra, mengungkapkan bahwa dirinya telah menekuni profesi ini sejak tahun 1993. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan suara dentingan logam serta proses pembentukan perhiasan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
“Saya sudah sekitar 33 tahun menjadi pengrajin perak. Awalnya dari ibu saya tukang emas, lalu bertemu dengan Bapak saya. Dari situlah saya mencoba membuka usaha ini. Dulu hanya memiliki satu rak untuk memajang perhiasan, kemudian usaha ini terus berkembang. Banyak teman-teman yang datang membeli perhiasan, hingga akhirnya bisa menjadi seperti sekarang,” ujarnya.
Ketertarikannya dalam menekuni dunia kerajinan perak tidak hanya karena faktor keturunan, tetapi juga karena kecintaannya terhadap seni. Baginya, perhiasan perak bukan sekadar aksesori, melainkan karya seni yang memiliki nilai estetika serta makna budaya.
Leo Saputra juga menjelaskan proses pembuatan perhiasan perak, mulai dari bahan mentah hingga menjadi produk yang siap dipasarkan.

“Awalnya adalah pembelian bahan baku. Saya membeli bahan baku di luar, kemudian perak tersebut dilebur. Setelah itu, perak dicetak menjadi lembaran. Selanjutnya dilakukan pembentukan pola dasar sesuai desain yang diinginkan. Proses berikutnya adalah pengukiran atau pembentukan motif. Setelah motif selesai, dilakukan penyolderan untuk menyatukan bagian-bagian kecil menjadi satu kesatuan. Tahap akhir adalah penghalusan, pembersihan, dan pemolesan agar perhiasan tampak mengilap dan siap dipasarkan,” ujarnya.
Menurutnya, seluruh proses tersebut membutuhkan ketelitian tinggi dan kesabaran ekstra. Kesalahan kecil dalam tahap pengukiran atau penyolderan dapat merusak keseluruhan desain. Namun, ia menilai tidak ada proses yang terlalu sulit selama seseorang memiliki keterampilan di bidang tersebut.
“Kalau kita memiliki keterampilan dalam kerajinan perak, semua akan terasa mudah. Namun, jika tidak memiliki kemampuan di bidang ini, tentu akan terasa sulit,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa waktu pembuatan setiap produk berbeda-beda, tergantung pada tingkat kerumitan desain. Untuk cincin polos, misalnya, hanya memerlukan beberapa jam. Sementara itu, desain dengan motif yang rumit dapat memakan waktu satu hingga dua hari.

Dalam hal harga, Leo Saputra menjelaskan bahwa harga perhiasan perak juga menyesuaikan tingkat kesulitan motif. Untuk desain sederhana atau polos, harga biasanya dimulai dari Rp200.000. Model dengan motif ukiran khas Bali yang lebih detail dan rumit dibanderol sekitar Rp250.000 hingga Rp300.000. Sementara itu, perhiasan dengan motif eksklusif, detail penuh, atau desain khusus sesuai pesanan pelanggan dapat mencapai Rp350.000, tergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan pengerjaannya.
Leo Saputra juga mengakui adanya perbedaan selera antara wisatawan dan masyarakat lokal.
“Wisatawan biasanya lebih menyukai model yang simpel dan ringan. Sementara itu, masyarakat lokal cenderung menyukai motif Bali yang detail, seperti bros, yang masih cukup diminati. Untuk wisatawan, model seperti itu kurang diminati,” ujarnya.
Dalam hal pemasaran, Leo Saputra memanfaatkan jaringan pertemanan ayahnya serta media sosial.
“Biasanya teman-teman Bapak saya mengajak tamu untuk membeli perak ke sini. Jadi, pemasarannya banyak melalui promosi dari mulut ke mulut. Selain itu, saya juga memasarkan melalui media sosial. Ada juga teman yang mengirim contoh desain perak dan meminta dibuatkan model yang serupa,” ujarnya.
Leo Saputra berharap kerajinan perak di Desa Singapadu tetap bertahan dan diminati oleh generasi muda. Baginya, keberlangsungan kerajinan ini sangat bergantung pada minat anak-anak muda untuk belajar dan melestarikan tradisi.
“Saya berharap generasi muda tetap mau belajar dan melestarikan kerajinan perak,” ujarnya.

Kerajinan perak di Desa Singapadu bukan sekadar produk komersial, melainkan cerminan ketekunan, kreativitas, serta kekayaan budaya Bali yang terus hidup di tangan para perajin. [T]
Reporter/Penulis: Putu Ayu Ariani
Editor: Adnyana Ole



























