BEBERAPA waktu terakhir, media ekonomi CNBC merilis survei, yang dilakukan perusahaan bursa kerja asal AS, ZipRecruiter Inc., 2022 silam, tentang jurusan kuliah yang paling disesali oleh para alumninya. Kalau di Indonesia, respons orang biasanya begini, “Makanya pilih jurusan yang prospeknya jelas.” Seolah masalahnya sederhana, yang salah adalah pilihan si mahasiswa.
Keponakan saya yang tahun ini mau lulus SMA, begitu juga, ribut mencari jurusan apa yang mau dipilih. Orientasinya satu, takut nantinya saat lulus dia tidak laku cari kerja. Jangankan dia, saya sendiri dulu juga sibuk tanya sana-sini tentang jurusan apa yang “bagus”. Bagus itu ya artinya kalau lulus cepat dapat kerja dan gajinya gede. Jadi ibaratnya, kalau salah pilih jurusan, sama dengan salah masuk jalan tol kehidupan dan jika terlanjur tersesat akan menuju akhir nun jauh di sana.
Kembali ke soal pilihan jurusan yang disesali para mahasiswa, mungkin yang sedang jadi masalah bukan pada pilihannya. Yang jadi soal sebenarnya adalah imajinasi kita tentang pendidikan. Kita hidup di zaman ketika AI bisa menulis esai, membuat desain, bahkan menganalisis data hukum. Dalam hitungan bulan, model kecerdasan buatan berkembang drastis.
Dunia kerja pun ikut berubah. Profesi yang dulu stabil, kini mulai goyah. Keahlian yang dulu langka kini bisa diotomatisasi. Wajarlah jika kini sekolah dan kampus mulai panik. Kurikulum diperbarui, mata kuliah AI ditambahkan, tak lupa workshop literasi digital digencarkan. Semua berlomba dengan waktu agar relevan dengan industri.
Nah, boleh dong, di sini kita ajukan pertanyaan yang mungkin bagi beberapa pihak terdengar bodoh. Pertanyaannya adalah, apakah benar pendidikan harus selalu mengejar pasar? Kalau pertanyaan ini memang dianggap bodoh, pertanyaan selanjutnya adalah, jika iya, apakah ia akan pernah bisa menyusul?
Kapitalisme dan Pendidikan yang Tunduk pada Produksi
Kalau kita meminjam kacamata Karl Marx, pendidikan bukanlah ruang netral. Ia berada dalam orbit struktur ekonomi. Dalam masyarakat industri, sekolah dirancang untuk menghasilkan tenaga kerja yang disiplin, patuh, dan terspesialisasi. Wajar, tidak salah dan sudah semestinya. Kita bayangkan, saja kalau kita yang punya pabrik, pasti membutuhkan ritme, keteraturan, dan efisiensi.
Masalahnya, kita sudah tidak sepenuhnya hidup di era pabrik konvensional. Era kita masih tetap kapitalisme, tapi kini adalah kapitalisme digital yang menuntut fleksibilitas, kreativitas, dan adaptasi cepat. Celakanya, struktur pendidikan masih mewarisi logika lama, semacam jurusan kaku, silabus tetap, evaluasi seragam. Sementara dunia kerja bergerak eksponensial, kurikulum masih bergerak administratif.
Yang terjadi sekarang adalah benturan antara struktur pendidikan yang cenderung lambat dan ekonomi yang terlalu cepat. Pendidikan dalam beberapa sisi memang didorong untuk mengikuti pasar. Tapi yang jadi masalah adalah bahwa pasar sendiri tidak pernah stabil. Kita dalam kondisi sedang menyuruh sekolah mengejar sesuatu yang tidak diam, dengan gerakan yang tak terduga ditambah dengan adanya percepatan.
Masalah yang dihadapi institusi pendidikan kini bukan cuma soal kecepatan. Ini juga soal cara kerja kekuasaan. Michel Foucault menunjukkan bagaimana institusi modern seperti penjara, rumah sakit, bahkan sekolah, ini semua membentuk manusia lewat disiplin dan normalisasi. Ada kurikulum yang menentukan apa yang sah dipelajari. Ada ujian yang menentukan siapa yang pintar. Ada sertifikat yang menentukan siapa yang layak dan memiliki kompetensi. Jadi memang sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan sekaligus adalah mesin klasifikasi.
Sementara itu AI berkembang di ruang terbuka, belajar dari jutaan data dari kelakuan para penggunanya yang gratis tanpa ruang kelas, di sisi lain sekolah tetap bertumpu pada struktur vertikal. Otoritas kurikulum lebih digdaya daripada rasa ingin tahu. Ironisnya, di era informasi yang melimpah dan liar ini, pendidikan kita masih sering bertahan pada model pengendalian pengetahuan. Ketika siswa bisa belajar coding dari YouTube atau AI dalam waktu lebih cepat daripada satu semester kuliah, sekolah kehilangan monopoli atas informasi. Tapi bukannya mereformasi paradigma, banyak sekolah justru menambah mata pelajaran.
Ilusi Relevansi
Kata yang paling sering muncul dalam diskusi pendidikan di hari kini adalah, relevan. Relevan dengan industri, relevan dengan kebutuhan pasar, relevan dengan tren teknologi, dan yang dapat kita tangkap dari sini seolah relevansi dalam pendidikan itu tunggal, yaitu ekonomi.
Padahal, jika kita jujur, pasar kerja adalah entitas yang labil. Profesi yang hari ini bisa jadi idola, bisa hilang lima tahun lagi. AI bisa menggantikan pekerjaan administratif, desain dasar, bahkan analisis hukum. Maka mengejar relevansi semata-mata ekonomi sepertinya ibarat berlari mengejar bayangan.
Karena himpitan dan tuntutan ekonomi saat ini, kita seolah lupa bahwa pendidikan bukan hanya soal menyiapkan pekerjaan tapi juga soal menyiapkan manusia menghadapi perubahan yang belum bisa diprediksi. Jika pendidikan hanya membentuk keterampilan teknis, maka ia sedang melatih manusia untuk bersaing dengan mesin. Dan dalam banyak hal, no debat, mesin akan menang.
Kita alami sendiri bagaimana di era AI ini, konten bisa dihasilkan mesin. Jawaban bisa diringkas algoritma. Analisis bisa disintesis otomatis. Namun pengalaman reflektif seperti kegagalan, dialog, pergulatan etis, semua itu tidak bisa diotomatisasi. Jika sekolah hanya sibuk menambah konten teknologi tanpa membangun ruang refleksi, ia kehilangan esensinya. Kita akan menghasilkan generasi yang terampil, tetapi miskin kebijaksanaan. Bahkan, meski terampil, akan kalah pula dengan mesin tak lama kemudian.
Pendidikan sebagai Penyeimbang Zaman
Martin Heidegger mengingatkan bahwa bahaya teknologi bukan pada mesinnya, melainkan pada cara berpikir yang menyertainya. Teknologi cenderung melihat segala sesuatu sebagai sumber daya, termasuk manusia. Istilah “human capital” terdengar modern, tetapi diam-diam mereduksi manusia menjadi aset ekonomi. Nilai seseorang diukur dari produktivitasnya. Jurusan diukur dari gaji lulusannya. Sekolah diukur dari tingkat serapan kerja.
Terus terang saja, ketika pendidikan sepenuhnya tunduk pada logika ini, kita tidak lagi membicarakan manusia, tetapi unit produksi. Di sinilah ada argumen pokok yang penting, bahwa, yang tertinggal bukan sekolah, tetapi imajinasi kita tentang manusia. Kita membayangkan manusia sebagai pekerja. Sebagai sumber daya. Sebagai instrumen ekonomi. Padahal manusia juga makhluk etis, politis, dan eksistensial.
Mungkin kita perlu berhenti sejenak dari obsesi “link and match”. Pendidikan memang harus adaptif, atau relevan itu tadi. Tetapi adaptif bukan berarti tunduk sepenuhnya. Jika pendidikan hanya mengikuti pasar, ia akan selalu terlambat. Namun jika pendidikan berani menjadi ruang refleksi atas pasar itu sendiri, ia justru menjadi penyeimbang zaman.
Sekolah seharusnya bukan sekadar pabrik tenaga kerja, melainkan ruang di mana generasi muda belajar memahami teknologi sekaligus mengkritiknya. Belajar menggunakan AI sekaligus mempertanyakan dampaknya. Belajar menjadi produktif tanpa harus kehilangan nurani.
Mengubah Imajinasi
Mungkin kita perlu berhenti menyalahkan sekolah karena lulusannya kalah bersaing dengan AI. Karena AI lahir justru dari logika yang sama yang selama ini kita tanam di institusi pendidikan tentang efisiensi, produktivitas, percepatan, optimalisasi. Lalu ketika semua upaya keras itu mewujud dalam bentuk AI yang benar-benar menjadi mesin optimasi paling efisien dalam sejarah manusia, kita panik.
Padahal ia bukan musuh yang datang dari luar. Ia adalah anak kandung dari imajinasi ekonomi yang kita pelihara sendiri. Jika pendidikan terlalu lama menghamba pada industri, maka AI adalah konsekuensi logisnya. Ia adalah puncak dari obsesi terhadap efisiensi. Dan ketika ia mulai menggantikan manusia, itu bukan kecelakaan sejarah. Itu hasil dari sistem yang memang dirancang cermat untuk mengganti manusia dengan mekanisme yang lebih murah dan cepat.
Dan mungkin, inilah “dosa” yang kini harus kita telan mentah-mentah. AI tidak sengaja mengancam. Ia hanya lulusan paling sukses dari sistem pendidikan yang kita banggakan sendiri. Karena toh, kita sendiri yang sejak awal mengerdilkan makna manusia dalam sistem pendidikan. Namun, sebelum kita menemukan jalan keluarnya, mari kita cari jurusan yang “bagus” dulu. Tabik. [T]
Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole


























