Slamat Trisila dari Penerbit Pustaka Larasan memberikan peta jalan, atau langkah-langkah utama dalam mengubah tumpukan data riset menjadi buku yang layak edar.
Langkah-langkah itu antara lain mengidentifikasi ide, mencari mutiara tersembunyi dalam laporan penelitian yang memiliki nilai jual dan manfaat sosial, lalu melakukan sistematisasi riset dengan memperkuat data dan metodologi agar argumen dalam buku tidak mudah dipatahkan
Langkah selanjutnya, kedisiplinan waktu menyusun jadwal penulisan yang ketat untuk menghindari proyek buku yang mangkrak
Selanjutnya langkah untuk melakukan konversi narasi (drafting). Ini adalah tahap paling krusial, yakni mengubah bahasa laporan penelitian yang kaku dan formal menjadi bahasa buku yang mengalir, namun tetap menjaga akurasi ilmiahnya.
Dan langkah yang tak kalah penting adalah membangun kemitraan dengan penerbit, yakni dengan melibatkan penerbit sejak awal untuk memastikan standar ISBN dan menghindari kesalahan klasifikasi seperti fenomena book chapter yang seringkali disalahartikan oleh sistem.
Langkah-langkah utama dalam penulisan data riset menjadi buku itu disampaikan Slamat trisila ketika memberi materi dalam workshop bertajuk “Dari Riset ke Buku: Workshop Penulisan Buku Monograf dan Buku Ajar Berdasarkan Hasil Riset” yang diselenggarakan di Ruang Paseban, Kampus Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali, Selasa, 3 Februari 2026.
Workshop itu diselenggarakan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UPMI Bali bekerjasama dengan Penerbit Pustaka Larasan. Workshop ini pada intinya memberi petunjuk kepada dosen dalam penulisan buku monograf dan buku ajar berdasarkan hasil riset”.

Dalam workshop itu, Slamat Trisila juga menyoroti fenomena kehadiran Artificial Intelligence (AI) dalam dunia kepenulisan memang membawa kemudahan, namun di sisi lain, ia memicu lahirnya karya-karya yang sering kehilangan kedalaman orisinalitas riset. Menurutnya, banyak pihak yang kini terjebak pada mengejar kuantitas demi memenuhi angka kredit (KUM) atau syarat administratif semata. Hal ini mengakibatkan banjirnya buku-buku “tipis” yang minim analisis.
“Untuk disiplin ilmu humaniora seperti bahasa, sastra, seni, dan budaya Bali, buku dengan ketebalan hanya 49 halaman seringkali terasa terlalu dangkal. Kami yang bergerak di jalur idealis menyuarakan bahwa narasi sejarah, agama, dan seni membutuhkan ruang lebih untuk analisis yang mendalam agar makna yang terkandung di dalamnya tidak terdistorsi,” kata Slamat.
Ia menekankan bahwa AI seharusnya menjadi alat bantu efisiensi, bukan pengganti proses berpikir kritis dan penelitian lapangan yang menjadi fondasi utama sebuah karya ilmiah berkualitas.

Poin krusial yang dibahas dalam workshop ini adalah masalah penomoran International Standard Book Number (ISBN). Slamat memberikan edukasi keras mengenai status ISBN yang seringkali disalahgunakan oleh oknum penerbit nakal. Ia menegaskan bahwa ISBN diberikan secara gratis oleh negara melalui Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Jika ada pihak yang memungut biaya khusus hanya untuk nomor ISBN, maka integritas proses publikasinya patut dipertanyakan.
Namun, kejujuran akademik saat ini tengah diuji oleh “Krisis ISBN”. Slamat mengungkapkan fakta historis di mana Indonesia sempat mendapatkan alokasi satu juta nomor ISBN dari badan internasional di Prancis untuk durasi 10 tahun. Sayangnya, akibat penggunaan yang masif, termasuk praktik ilegal seperti penggandaan nomor ISBN untuk buku yang berbeda, stok tersebut menyusut drastis pada periode 2021–2022.
Dampaknya, Perpusnas kini menerapkan aturan yang jauh lebih ketat. Verifikasi setiap judul buku kini melalui proses kurasi yang rumit. Buku-buku yang dianggap hanya “fotokopi” dari laporan penelitian tanpa proses konversi menjadi buku yang layak baca, kini sulit untuk mendapatkan legalitas tersebut. Inilah mengapa workshop ini menjadi sangat penting sebagai panduan bagi para akademisi agar karya mereka memenuhi standar baru yang ditetapkan pemerintah.
Workshop yang dipandu moderator Dr. I Made Adnyana, S.H., M.H. itu juga memberikan pesan khusus bagi mahasiswa. Skripsi yang mereka kerjakan tidak seharusnya menjadi “sampah arsip”. Dengan bimbingan dosen dan kolaborasi bersama editor profesional, skripsi dapat dikonversi menjadi buku yang memberikan kebanggaan intelektual sekaligus manfaat praktis bagi masyarakat luas. Namun, Slamat mengingatkan bahwa proses ini bukanlah jalan pintas; revisi mendalam adalah syarat mutlak agar kualitas tetap terjaga.

Peluncuran Karya Dosen FBS UPMI
Ketua Panitia, Gede Sidi Artajaya, dalam sambutannya menekankan bahwa target utama workshop ini adalah menciptakan efek domino. “Kami tidak ingin kegiatan ini berhenti pada teori teknis penulisan. Harapannya, workshop ini menjadi ‘virus’ positif yang menularkan semangat berkarya. Dari sini harus lahir lebih banyak buku ajar, monograf, antologi, hingga karya fiksi yang terinspirasi dari riset lapangan,” ujarnya penuh semangat.
Selain itu, kegiatan workshop, tidak hanya berisi teori di atas kertas. Sebagai bentuk nyata dari produktivitas akademis, pada kesempatan tersbut juga secara resmi diluncurkan delapan karya hasil riset para dosen. Daftar buku yang diluncurkan mencerminkan keberagaman disiplin ilmu dan kedalaman riset di lingkungan UPMI.

Prof. Dr. Drs. I Made Suarta, S.H., M.Hum. menghasilkan 2 buku berjudul Pendidikan Karakter Berbasis Tri Hita Karana dan Sastra Diaspora; Prof. Dr. Drs. Nengah Arnawa, M.Hum. menghasilkan satu buku berjudul Kompetensi Linguistik Anak SD di Kelas Rendah; Prof. Dr. Drs. I Nyoman Suwija, M.Hum. menghasilkan 2 buku berjudul Terampil Menulis Sesuai Ejaan Bali Latin (Buku Ajar) dan Kasusastran Bali Miwah Basita Paribasa Bali; Drs. Nyoman Astawan, M.Hum. menghasilkan satu buku berjudul Analisis Kesalahan Berbahasa dalam Konteks Pembelajaran Bahasa Indonesia; Dr. Pande Putu Yogi Arista Pratama, S.Pd., M.Pd. menghasilkan 2 buku berjudul Paradigma Baru Evaluasi Pembelajaran, Kompas Pedagogis untuk Guru Abad 21 dan Strategi Belajar dan Pembelajaran: Merancang Pengalaman Belajar yang Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan; Gede Sidi Artajaya, S.Pd., M.Pd. menghasilkan satu buku berjudul Membaca Cerpen, Membentuk Karakter; Luh Yesi Candrika, S.S., M.Hum. menghasilkan satu buku berjudul Lontar Dharma Kahuripan: Tuah Rempah sebagai Sarana Upacara dalam Siklus Kehidupan; dan I Kadek Adhi Dwipayana, S.Pd., M.Pd. menghasilkan satu buku berjudul Model Outcome-based Hypothesis Learning (OBHL), Panduan Implementasi untuk Pengembangan Membaca Kritis Berorientasi Genre Teks. [T]
Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Adnyana Ole



























