22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ogoh-ogoh: Narasi dan Akal Imitasi

Abdi Jaya Prawira by Abdi Jaya Prawira
February 17, 2026
in Esai
Ogoh-ogoh: Narasi dan Akal Imitasi

Ilustrasi diolah tatkala.co | Sumber foto: dari berbagai sumber di internet

Kira-kira sebulan lagi hari Pangrupukan akan tiba. Tidak mengherankan kita bisa mengamati mayoritas balai banjar pada malam hari menjadi lebih sibuk dari biasanya karena aktivitas para pemuda dalam mempersiapkan ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh ini menjadi “gong” dari malam Pangrupukan. Ogoh-ogoh (lebih-lebih yang dibuat untuk diperlombakan terlebih dahulu), dari yang saya lihat dibangun atas konsep bentuk (badan) dan cerita (nyawa). Konsep bentuk berupa gambaran badan fisik. Estetika dan imajinasi untuk memvisualisasikan wujud bermain di sini. Namun, di balik itu ogoh-ogoh juga punya sukma yang diwujudkan dari narasi yang menghidupi badan fisik.  

***

Sejak akhir tahun kemarin, ada sejumlah rekan yang meminta tolong untuk memeriksa narasi ogoh-ogoh banjar mereka. Memeriksa yang dimaksud terkait dengan alur, atau kesesuaian dengan sumber cerita berdasarkan teks sastra yang ada. Saya senang hati membacanya, dengan harapan saya bisa menambah inventaris cerita untuk diri sendiri, sekaligus bisa menjadi momen saya belajar lebih banyak mana kala ada yang meminta tolong menelusuri sumber cerita yang mereka garap. Ketika harus mencari sumber cerita, otomatis saya dituntut untuk membuka kembali lembaran-lembaran cerita, wiracarita maupun sumber relevan lain. Umumnya mereka banyak mendengar cerita dari sumber lisan, sehingga perlu bantuan mencari sumber tertulisnya. Saya yang merupakan lulusan Sastra dianggap mampu membantu mereka.

Hasilnya, ketika saya dikirimkan draf narasi ogoh-ogoh, belakangan saya cukup mengerutkan dahi. Saya jelas-jelas membaca cerita yang terkilir. Terkilir yang saya maksud adalah saya tidak mampu melacak urat-urat yang bisa dipakai menemukan sumber ceritanya. Cerita yang disodorkan pada saya tampak memiliki gaya tulis yang tidak asing, gaya “sesosok” kawan yang robotik, bombastis tetapi hampa. Saya pun mencoba mengklarifikasi prasangka buruk saya.

“Hasil AI ya?”

Tidak banyak mengelak dan bersilat lidah, mereka mengakuinya. Narasi yang diberikan kepada saya adalah hasil AI (Artificial Intellegent/Akal Imitasi). Kecerdasan buatan ini rupanya dimanfaatkan pula membuat cerita untuk ogoh-ogoh. Kalau permasalahan membuat ogoh-ogoh agar memiliki visual baik secara fisik, secara jujur saya harus izin balik kanan. Namun, ketika berbicara dari segi narasi sastranya, mungkin saya boleh nimbrung berpendapat. 

Saya tidak sedang dalam posisi menghakimi pencipta narasi ogoh-ogoh yang bermodalkan AI. Menggunakan sarana apapun dalam membuat narasi ini adalah sah-sah saja dalam rambu-rambu dan etik tertentu. Saya juga tidak menempatkan diri sebagai yang paling benar soal cerita. Konon tidak ada cerita yang benar-benar benar di dalam kesemestaan ide manusia. Filsuf seperti Lyotard kurang lebih juga menyampaikan hal tersebut.

Narasi Kilat, Literasi Sekarat

Narasi cerita ogoh-ogoh, kalau dipetakan secara umum ada yang mengambil dari epos/wiracarita, foklor khas daerah, sastra-tutur, gambaran ilmu hitam, makhluk halus atau bhuta kala, maupun kritik sosial terkini. Sumbernya kurang lebih disarikan dari karya sastra Bali dan Jawa Kuno. Permasalahan bagi saya adalah ketika narasi-narasi buatan AI mengutip sumber kanon kesusastraan Bali dan Jawa Kuno, namun mendistorsikannya. Jelaslah secara etik hal ini perlu kita renungkan bersama.

Saya tampilkan sebuah contoh narasi ogoh-ogoh buatan AI sebagai berikut.

“Detya Kala Mayasura berdasarkan Kakawin Ramayana adalah putra yang mewarisi darah api Rahwana, ia bukanlah sekadar mesin pembunuh di medan laga; ia adalah Aparajita—sang arsitek tipu muslihat yang mampu mengubah kenyataan menjadi ilusi, dan kehampaan menjadi jebakan mematikan. Dalam tubuh raksasanya yang kokoh, bersemayam kecerdasan purba yang digunakan untuk membentengi angkara murka sang ayahanda dengan dinding-dinding sihir yang tak tertembus nalar manusia biasa. Ketika barisan kera pimpinan Sugriwa mengepung gerbang emas, Mayasura tidak menyambutnya dengan teriakan kosong, melainkan dengan labirin bayangan yang menyesatkan sukma para ksatria. Ia adalah personifikasi dari sisi gelap intelegensia—sebuah peringatan bahwa kecerdasan tanpa tuntunan Dharma hanya akan melahirkan monster yang memerangkap dirinya sendiri dalam kreasi sihirnya.”

Konon menurut AI cerita ini berasal dari Kakawin Ramayana. Konon. Namun sependek saya membaca kakawin indah tersebut, segmen cerita ini tidak pernah saya temukan. Tentu saja tidak masalah menciptakan sebuah versi cerita yang merupakan interpretasi, dekonstruksi, atau spin-off dari sebuah batang pokok cerita kanon kesusastraan Bali dan Jawa Kuno*. Keduanya umum kita temukan, sering disebut nyarang atau cerita versi kawi dalang. Ketika dua versi ini digunakan, agaknya kita perlu bertanggungjawab menyebut sumbernya adalah hasil rekaan. Tidak seperti cerita di atas yang meng-generate bebas sebuah cerita seolah-olah berasal dari sumber yang valid. Beberapa narasi yang sempat masuk ke pesan pribadi saya, 11-12 dengan contoh di atas.

Sebagai pembanding dengan narasi AI, contoh lainnya adalah sejumlah cerita yang dikembangkan dalang beken dibuat ogoh-ogoh, lalu oleh pembuat ogoh-ogoh mengiranya berasal dari Kakawin Ramayana. Kenyataannya, dalangnya sendiri pun jika ditanya menyebut kisah itu adalah hasil nyarang, hasil kontemplasi kreatif dalang yang dipantik dari Kakawin Ramayana. Jadi itu bukan cerita yang benar-benar tertulis di Kakawin Ramayana. Kalau Kakawin Ramayana dibedah sampai bertahun-tahun pun kisah ala dalang itu tidak mungkin ditemukan.

Ketika AI menyatakan “berdasarkan Kakawin Ramayana…”, ia sedang menggunakan otoritasnya untuk mewujudkan fakta palsu. Bagi sebagian pihak, pernyataan mesin ini bisa dianggap sebagai kebenaran instan. Jika ini dibiarkan, kita akan mewarisi mitologi baru hasil garis kode pemrograman. Hal ini akan berbeda dengan kebiasaan nyarang. Di sana ada tanggung jawab kreatif. Seorang dalang yang mereka cerita mengakuinya sebagai pengembangan atau kreasi. AI, di sisi lain seringkali “berbohong” tanpa merasa bersalah karena ia tidak memiliki kesadaran moral atas orisinalitas itu. AI tidak nyarang, ia hanya mencampur (blending) tanpa konteks.

AI tidak seperti manusia yang jika diajak berdiskusi cerita khusus akan menyatakan tidak tahu untuk tidak tahu, atau menyatakan perlu waktu untuk belajar jika belum menemukannya. AI akan menciptakan apapun yang diminta pengetik prompt, tidak peduli salah atau benar (sudah didahului disclaimer: “AI dapat melakukan kesalahan”, entah kita peduli atau tidak). Ketika diminta membuat narasi Detya Mayasura dari sumber Kakawin Ramayana, maka terciptalah narasi itu dalam hitungan detik. Tidak perlu repot menunggu orang yang paham untuk membuka buku, atau berusaha mengingat cerita yang mungkin sedang terpendam dalam pikirannya. Kenyataannya? Narasi AI itu secara faktual tidak pernah ada dalam rujukan Kakawin Ramayana.

Narasi yang diproses oleh AI memperlihatkan adanya jurang yang menganga antara kecepatan pemrosesan data AI dengan kedalaman pengendapan batin seorang kreator. Penggunaan AI untuk menyusun narasi ogoh-ogoh memang memicu pro-kontra, terutama ketika algoritmanya mulai menyenggol ranah sastra klasik dan folklor kedaerahan. Masalah mendasar dari narasi yang dihasilkan AI adalah sifatnya yang sekadar melakukan probabilitas statistik, bukan pemahaman maknawi. AI hanya merangkai kata berdasarkan frekuensi kemunculan data di internet, sehingga perlu dibedah lagi pemahaman atas tatwa dan satua yang menjadi nyawa sebuah ogoh-ogoh itu. Seringkali terjadi kekeliruan saat AI melakukan halusinasi digital dengan menyatakan sumber-sumber dari kutipan lontar, kakawin dan sejenisnya yang tidak pernah ada.

Lebih jauh lagi, kegagalan AI dalam menyajikan sumber sastra yang akurat berisiko melahirkan “kebenaran semu” yang justru menyesatkan. Ketika sebuah narasi ogoh-ogoh disusun tanpa pembacaan dan penghayatan terhadap naskah asli dan hanya mengandalkan prompt instan, kita sebenarnya sedang kehilangan jejak literasi**. Satu pegangan yang sebenarnya wajib terus dipelihara dan dilestarikan. Sayang sekali setumpuk cerita sastra dan lontar (yang sekarang sudah ada banyak alih aksara bahkan terjemahannya) disingkirkan oleh ketikan prompt yang kurang dari satu menit dapat menciptakan narasi tanpa harus menimbang dan berpikir panjang. Jika narasi yang menjadi roh dari ogoh-ogoh itu sendiri lahir dari proses generatif yang instan dan tidak faktual, maka apakah ogoh-ogoh masih mampu disebut mencerminkan identitas kebudayaan Bali atau malah mencerminkan kebudayaan mesin? Mengajegkan kebudayaan itu secara tidak langsung menuntut kita untuk belajar kearifan sastra.

Narasi Ogoh-ogoh adalah Milik Manusia

Sastra adalah sebuah aliran pemikiran yang dinamis. Pemikiran dan pemaknaan satu generasi dengan generasi lain terhadap sebuah karya sastra bisa berubah. Rawana pada masa lampau selalu diwujudkan sebagai antagonis utama, belakangan mulai banyak yang membicarakan versi lain bahwa Rawana adalah seorang berjiwa kesatria dan tauladan cinta sejati. Apapun narasinya, bagaimanapun sudut pandang pemakna, semua adalah sebuah fenomena yang patut dirayakan. Dalam koridor ini, sebaiknya narasi dan sudut pandang adalah milik manusia, bukan milik AI.

Sastra klasik Bali dan Jawa Kuno ketika digunakan sebagai narasi ogoh-ogoh, memiliki struktur, fungsi, makna dan rasa yang sangat halus dan spesifik. Elemen-elemen ini yang sering kali gagal ditangkap oleh AI yang cenderung tidak memiliki gambaran khusus untuk karya Bali dan Jawa Kuno. Kadang terlalu umum, kadang juga terlalu berorientasi pada pemahaman Barat dan mengesampingkan kearifan lokal kita. Ketergantungan pada narasi buatan mesin ini perlahan bisa mengikis kemampuan kritis dan imajinatif para pemuda untuk menggali kearifan lokal dari sumber aslinya, yakni para tetua dan naskah-naskah sastra.

Akal Imitasi seyogianya adalah alat bantu (tool), bukan sumber valid kitab dan lontar, bukan juga pengganti nalar. Kita dapat menggunakan AI untuk memperhalus diksi atau mengoreksi tata bahasa dari draf yang sedang dirancang. Di belakangnya, substansi narasi harus tetap menjadi hasil endapan diskusi intelektual dan spiritual kita sendiri, maupun bersama tetua, bersama penekun sastra, atau bersama sastra itu sendiri. Bernalar dan membaca ulang merupakan tindakan yang perlu kita galakkan untuk menjaga identitas kita di tengah era disrupsi ini. Apabila narasi ogoh-ogoh nantinya berpangku tangan pada AI, pelan-pelan kita harus siap-siap berpamitan dengan warisan tekstual kita yang kaya karena kita enggan untuk mulai belajar.

Semoga kita bisa merayakan hari Pangrupukan nanti sebagai kemenangan Akal Budi atas Akal Imitasi. Semoga ogoh-ogoh yang diarak saat itu secara fisik mampu memanjakan mata sekaligus dirasuki badan tekstual yang sehat, jujur, dan berwibawa secara sastra.

Catatan.

* Untuk kepentingan lomba, sebaiknya ikuti ketentuan yang berlaku.

** Ada pula permasalahan yang timbul ketika sketsa, bahkan kerangka ogoh-ogoh sudah jadi, namun belum memiliki narasi yang sesuai. AI sering dimainkan untuk bisa segera mencocok-cocokkan narasi dengan fisik ogoh-ogoh yang sudah kadung dikerjakan. Keadaan seperti ini biasanya lebih sulit untuk diatasi. [T]

Penulis: Abdi Jaya Prawira
Editor: Adnyana Ole

Tags: AIHari Raya Nyepiogoh-ogohTawur Agung Nyepi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ramadhan: Madarasah Tazkiyatun Nafs yang Terlupa?

Next Post

Slamat Trisila: Langkah-langkah Utama Mengubah Data Riset Menjadi Buku Layak Edar

Abdi Jaya Prawira

Abdi Jaya Prawira

Pande Putu Abdi Jaya Prawira, tinggal di Tulikup, Gianyar. Alumnus Sastra Jawa Kuno Udayana.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Slamat Trisila: Langkah-langkah Utama Mengubah Data Riset Menjadi Buku Layak Edar

Slamat Trisila: Langkah-langkah Utama Mengubah Data Riset Menjadi Buku Layak Edar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co