AKTUAL
preseden dan prediksi
jadi 2 sisi koin logam
mereka lemparkan itu
bukan buat ditangkap
peristiwa jadi genting
tatkala koin mendarat
memaksa kita berpikir
melulu soal modalitas
ada satu hal kita luput
bahwa ruang sampel
dari asumsi simultan
cenderung jadi politis
akibat tak lain jebakan
pas kontradiksi ∈ opsi
sebelum kita percaya
setiap koin ∈ distraksi
RESIDU
asumsikan satu huruf
adalah inisial sesuatu
yang dilarang disebut
kendati itu mendesak
selanjutnya: topologi
sedikit variasi antara
E dan F atau V dan Z
sebagai penyamaran
dengar: ini mendesis
timbul dari konsonan
yang saling berimpit
apa yang ia ungkap?
perihal remeh-temeh
terserak antara kaki
tetapi ini pun realitas
menuntut kita Bicara
MULTIPLE EXPOSURE
setuju—itu mutlak!
kalau tidak, jelaslah
ada kebencian yang
tengah ditunjukkan
tidak perlu berdalih
orang-orang seperti
kalian memang tak
kan paham soal ini
tetaplah diam serta
doa memohon agar
diperhatikan; lihat!
itulah tabiat kalian
mengira perubahan
hadir dari selembar
kulit pisang terinjak
tanpa sengaja, lalu
menara babel rubuh
dengan satu-satunya
bukti logis bahwa itu
rubuh karena rubuh
tetapi, mari luruskan
kembali: jika burung
bisa mengepak jauh
mengapa kita tidak?
ini lucu bahwa area
seluas ini tak pernah
kalian jelajah sebab
semua jelas kolektif
silakan saja masuki
tempat terlarang itu
akses terbuka lebar
tentu dengan syarat
maka mengepak &
janganlah menolak
sehingga kebebasan
setara umur unggas
INSET
saat nama ini kusebut
apakah itu: integritas
bahwa suatu gagasan
divalidasi sumbernya
saat nama ini kusebut
lalu, tiba-tiba muncul
rasa “aku di pihakmu”
apa data menjadi bias
orientasi dalam tindak
kuakui: tidak konstan
dan kontribusi sebesar
0,01 tentu tak relevan
jika pencantuman ini
melegitimasi citramu
pada perspektif yang
lebih dalam—bahkan
bingkai terluas dunia
dari sudut pandangku
akankah hal itu justru
mengaburkan literal?
jika menyebut terjadi
tanpa rasa, signifikasi
sekadar embus angin
enggan kepada spora
saat kuraba namamu
pada dimensi terbatas
itu tak cuma kerataan
tetapi satu sisi berlian
BIJEKSI
data ini diterima tanpa makna
perlu kategori untuk pemetaan
internalisasi nilai dan identitas
sehingga presisi sebagai index
menjangkarkan diri pada liyan
dan menemu “≈” dalam relasi
agaknya proximity dari gestalt
membawa unit pada himpunan
persepsi hidup dalam komune
dan kesetaraan sebagai standar
menjadikan sepuluh jemariku
segenap sepuluh jari milikmu
ambiguitas telah dinegasikan
setiap nilai kini setara—tiada
hierarki dari “<” ataupun “>”
saat tangan bertangkup tangan
lewat sepuluh menuju sepuluh
satu simbiosis dimulai; begitu
kudistribusikan seluruh adaku
tepat ke lingkup tabula rasamu
SALJU
Koch barangkali tak sependapat
lebih suka terjebak dalam iterasi
komplex, lantas bertualang, alih-
alih menyekanya dengan jemari
dan engkau, dalam mantel bulu
dengan euforia bak anak-anak
(tiada berbeda dengan mereka)
menyambut salju secara girang
putih dan literal: ia ada, terindra
halus dan tanpa beban metafora
mendarat tepat di ujung hidung
kemudian leleh oleh temperatur
hamparan putih dan kosong ini
aku pun menginjaknya sekarang
hadir di dalamnya, tanpa intensi
menjadi subjek di selembar foto
ambient bergeser—lebih intens
dari datar: beranjak sentimental
kala tampak pola semilingkaran
di tempatmu berbaring, tertawa
mengibas-ngibaskan dua tangan
seolah-olah inilah sayap Ikarus
masih saja mengepak pas jatuh
atas salju: geometri tak selesai
lupakan!—aku akan revisi satu
atau beberapa pikiran, juga niat
kembali dingin, lebih pragmatis
memandang aku sebagai diriku
meski dalam juxtaposisi warna
di tengah limpahan efek albedo
dirimulah yang pertama kuindra
: gelapmu tiada menolak cahaya
tiba-tiba terpikir kembali olehku
pada Koch mungkin kukatakan
bahwa aku tak bisa menjangkau
sebentuk ∞ dalam area terbatas
seperti sekeping salju lekas cair
sebelum detailnya bisa kuamati
dan begitu pula tawamu lenyap
bertukar efek Doppler kereta
tapi kau menyatu lanskap, kigo
sebelum sempurna hening haiku
tiada duka dalam kalimat Basho
selain siklus ada-dan-alpa salju
TERAPAN
i
dimungkinkan ukuran gaya
hingga objek berubah arah
dan berhenti via hambatan
: τ kontrol dominan subjek
ditentukan relativitas jarak
dari apa yang diperkirakan
menuju hal yang dilakukan
: χ medan vis-a-vis medan
dipertimbangkan relevansi
di antara domain-kodomain
ialah relasi antarhimpunan
R:A→B = {(mata, cahaya)}
ii
itu berarti mesin dihidupkan
roda bergulir semakin cepat
denging bertambah nyaring
sehingga lepas dari landasan
itu berarti bentang dua sayap
menentang hambatan udara
berarti berat dan daya angkat
menyatu dalam resultan gaya
iii
seperti halnya suatu lingkaran
sering dinilai wujud keutuhan
tanpa tahu tali busur, apotema
parsial, spesifik—tapi integral
seperti halnya aturan isometri
dipandang sekadar spontanitas
peralihan A ke B adalah lazim
sebelum jadi kuas de Kooning
iv
terapan ≠ menyederhanakan
kata-kata serta kerumitannya
beranjak dari teori ke tindak
puisi pun sublim sebagai Δ
.
GLOSARIUM
≈ : hampir sama dengan, kira-kira sama dengan, mendekati
< : kurang dari
> : lebih dari
∈ : bagian dari, elemen dari, anggota dari
∞ : tak terhingga, infinity
τ (tau) : menyatakan torsi atau ukuran pengaruh gaya terhadap perubahan gerak
χ (chi) : suseptibilitas magnetik, nilai yang menunjukkan respons material terhadap magnet
Δ (delta) : perbedaan nilai, perubahan nilai antara dua titik, selisih nilai antara dua keadaan
R:A→B : relasi R memetakan himpunan A ke himpunan B
apotema : garis tegak lurus yang menghubungkan pusat lingkaran ke tali busur
bijeksi : korespondensi satu-ke-satu, fungsi yang memetakan setiap elemen di himpunan asal (domain) ke setiap elemen unik di himpunan tujuan (kodomain), sehingga setiap elemen sama-sama memiliki satu pasangan (tidak ada yang lebih atau tidak memiliki pasangan)
efek albedo : ukuran kemampuan suatu permukaan untuk memantulkan kembali radiasi matahari, dinyatakan sebagai fraksi atau persentase, di mana nilai 1 (atau 100%) berarti seluruh cahaya dipantulkan (sangat putih) dan 0 berarti tidak ada yang dipantulkan (sangat gelap)
efek Doppler : fenomena perubahan frekuensi gelombang (bunyi, cahaya, dll.) yang diterima oleh pengamat akibat adanya gerakan relatif antara sumber gelombang dan pengamat. Sederhananya, ketika sumber gelombang mendekat, frekuensi terasa lebih tinggi; saat menjauh, frekuensi terasa lebih rendah
gestalt : aliran psikologi yang menerangkan bahwa manusia memahami sesuatu secara menyeluruh dan bukan sebagai bagian-bagian terpisah, melalui prinsip kedekatan (proximity), kesamaan (similarity), kontinuitas (continuation), ketertutupan (closure), dan sosok/latar (figure/ground)
isometri : transformasi geometri yang menjaga jarak antar titik tetap sama, sehingga bentuk dan ukuran objek tidak berubah, hanya posisi atau orientasinya
iterasi : dalam kontex fraktal, adalah proses pengulangan suatu fungsi atau aturan geometris terhadap suatu kondisi awal, di mana hasil dari setiap pengulangan digunakan sebagai masukan bagi pengulangan berikutnya, sehingga menghasilkan struktur yang bersifat self-similar dan komplex pada berbagai skala
kigo : kata atau frasa dalam puisi tradisional Jepang (seperti Haiku dan Renga) yang mengacu pada musim tertentu, berfungsi sebagai penanda waktu dan memperkaya nuansa puisi. Kigo bisa berupa tanaman, hewan, fenomena alam, festival, atau bahkan makanan yang khas dari suatu musim
Koch : Helge von Koch (1870–1924) adalah seorang matematikawan Swedia yang terkenal dengan penemuannya tentang kurva fraktal, terutama Kurva Bunga Salju
liyan : atau “yang lain”, entitas yang berbeda dari “diri/aku”, berguna untuk mendefinisikan identitas melalui kontras
proximity : salah satu prinsip dalam teori gestalt, bahwa beberapa objek yang letaknya berdekatan cenderung dipersepsikan sebagai kesatuan
relasi : sebuah aturan yang menghubungkan anggota himpunan A ke anggota himpunan B
ruang sampel : himpunan semua kemungkinan hasil yang dapat terjadi dari suatu percobaan acak, misalnya pelemparan koin memiliki ruang sampel {Angka, Gambar} atau {A, G}, pelemparan dadu memiliki ruang sampel {1, 2, 3, 4, 5, 6}
tali busur : garis lurus yang menghubungkan dua titik pada keliling lingkaran
topologi : cabang matematika yang mempelajari sifat-sifat ruang yang tidak berubah meskipun objeknya diregangkan, diputar, atau dibengkokkan
.
Penulis: Karst Mawardi
Editor: Adnyana Ole



























