24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menunggu Liga Inggris, Menunggu Perang “Taksu” Para Aktor

Ida Bagus Pandit Parastu by Ida Bagus Pandit Parastu
February 2, 2018
in Ulasan

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan konklusi Portugal dan Chile menjuarai turnamen masing-masing teritorial. Spirit membara, hingar bingar dan sedu sedan getir yang bergejolak tentu akan selalu termuat rapi dalam benak-benak banyak orang,utamanya para pemain yang berlaga maupun pendukung tim kesayangan.

Bahkan, kalangan yang ‘buta’ bola pun tak ketinggalan turut terlibat. Mereka boleh saja tak tahu-menahu soal strategi, sejarah tim maupun formasi ideal yang harus diterapkan. Mereka hanya siap untuk menang dan kalah, dapat duit atau duit ambles. Yaa, taruhan mode on. Maka terang saja, senyum merekah para pemain dari tim nasional yang menang akan berbanding lurus dengan kerasnya gelak tawa para penjudi bola yang menang taruhan. Pun sebaliknya, kekalahan tim, apalagi dengan skor telak, pasti mengundang kegalauan.

Tidak bisa dipungkiri, ajang turnamen sepakbola tersebut di atas telah menjadi semacam daya tarik bagi banyak kalangan. Tidak hanya menjelma trending topic di berbagai jejaring sosial, namun juga dapat menghidupkan suasana dalam perbincangan-perbincangan di pergaulan sosial. Lebih jauh lagi, khususnya bagi penggemar tayangan sepakbola seperti saya, sebuah laga menarik yang disiarkan akan menjadi tontonan paling menghibur hati dan obat termujarab ketika jiwa merasa lelah. Kondisi mood yang berantakan bisa pulih dengan kilat tatkala tim kesayangan menuai kemenangan. Ia menjadi semacam hal yang selalu dinantikan kehadirannya.

Fokus ke Liga Inggris

Euro dan Copa America boleh saja berakhir. Namun, sesungguhnya kompetisi yang jauh lebih lebih panjang, yang akan menghadirkan laga-laga spesial di setiap minggunya akan segera dihelat. LIGA-LIGA ELIT SEPAKBOLA EROPA.  Sebuah awal musim kompetisi 2016-2017. Inilah yang sesungguhnya merupakan esensi terkonsisten dari proses peradaban sepakbola. Ia seperti sebuah retorika yang punya bahasa tersendiri, yang secara efektif memberikan makna kepada banyak orang, bukan hanya seputar kebugaran dan peluh semata.

Liga-liga papan atas semacam English Premier League (Liga Utama Inggris), Serie A Liga Italia, La Liga Spanyol, Bundesliga Jerman serta Ligue 1 Perancis telah bergulir sejak sekian lamanya dan selalu berhasil menjadi tontonan segar bagi penggila bola, selalu bermanfaat dalam menyumbangkan dan meregenerasi pemain-pemain yang berlaga dalam kompetisi antar negara serta sukses menjadi lahan yang luas bagi para jurnalis sepakbola. Bahkan sejujurnya liga-liga sepakbola telah menjadi lebih dari sekadar ‘masyarakat’, menilik pemain-pemain yang berlaga berasal dari multiras dan suku bangsa dari banyak negara di dunia, yang disatukan oleh satu bahasa dan tradisi, yakni sepakbola.

Nah, setelah mondar-mandir tidak karuan, mari kita fokus sekarang. Liga-liga Eropa musim 2016-2017 akan segera terhampar indah. Proses transfer pemain dan laga-laga pramusim mulai dilakukan sebagai prolog kompetisi setahun ke depan. Dan pada edisi ini, perhatian saya (barangkali juga banyak pecinta sepakbola lainnya) lebih tertuju pada satu liga; Liga Premier Inggris.

Selama ini, liga Inggris memang diklaim sebagai liga terbaik di dunia, karena dianggap menghadirkan permainan sepakbola yang cepat, dinamis dan indah, serta hegemoni stadion yang senantiasa penuh gemuruh tanpa kehilangan estetika dan etikanya. Pun juga status para pemain yang selalu berkelas. Namun jujur saja, bukan karena hal itu. Ada sesuatu yang ‘lain’ yang membuat liga Inggris kali ini sukses memancing animo kuat bahkan sebelum kompetisi dimulai.

Perang “Taksu” Pelatih

Hal lain itu adalah keberadaan para pelatih klub alias sang manajer. Pada musim kali ini, Liga Inggris akan disesaki pelatih-pelatih yang mempunyai reputasi mentereng. Memang, visualisasi laga menjadi substansi utama dalam sebuah pertandingan. Namun di balik layar, peran vital para pelatih yang meracik strategi dan formasi sebuah klub tentu sangat menentukan hasil laga, dan hal ini sudah bukan rahasia lagi.

Dimulai dari Manchester City yang berhasil mendaratkan Pep Guardiola ke Etihad Stadium. Kemudian disusul berturut-turut oleh Chelsea yang resmi mendapatkan Antonio Conte serta Manchester United yang secara sah akan digembleng oleh Jose Mourinho. Dengan nama-nama lain yang juga berada di sana macam Arsene Wenger, Jurgen Klopp, Mauricio Pochettino serta Claudio Ranieri, maka lengkap lah sudah skenarionya. Mereka adalah pelatih yang memiliki taksu tersendiri yang ditunjukkan sejak beberapa tahun belakangan. Otomatis, mereka akan perang taksu di Inggris.

Mari bicarakan satu demi satu. Dimulai dari klub juara liga Inggris musim lalu, Leicester City. Bak cerita negeri dongeng, klub dari kota kecil yang baru saja promosi musim sebelumnya ke liga premier, secara ajaib mengakhiri musim 2015-2016 sebagai juara. Pencapaian yang langka; menjadi juara pada musim kedua setelah promosi, kali pertama juara dalam sejarah klub dan dengan materi pemain yang berharga ‘murah’.

Orang-orang lantas sepakat bahwa Claudio Ranieri adalah aktor yang berperan paling besar dalam prestasi itu. Mantan pelatih Chelsea dan Juventus dianggap sukses memadukan komposisi pemain-pemain yang berlabel ‘medioker’ menjadi kumpulan prajurit berdaya juang tinggi sehingga sebuah ‘mimpi di atas mimpi’ justru menjadi kenyataan mutlak.

Chelsea menjadi klub pesakitan musim lalu. Jangankan juara, lolos ke Liga Champions Eropa saja gagal. Mereka lantas mendaratkan pelatih timnas Italia di Euro 2016, Antonio Conte. Ia diharapkan mampu membangkitkan gairah bermain para punggawa Chelsea yang porak-poranda. Melihat prestasi sebelumnya yang sukses memberi tiga Scudetto beruntun bagi Juventus di Serie A, maka bisa jadi harapan tersebut sangat logis dan rasional. Terlebih lagi, timnas Italia yang minim pemain bintang berhasil dibuatnya tampil memukau di Euro, dengan berhasil menghajar negara kuat Belgia dan Spanyol. Conte memang dinilai mempunyai karakter kuat, sama kuat seperti ketika ia menjadi seorang kapten dan gelandang bertenaga kuda di Juventus.

Jose Mourinho ; The Special One. Meski gagal dan diberhentikan Chelsea karena performa buruknya musim lalu, namun Jose tidak kehilangan daya tariknya. Manchester United rupanya masih kesengsem dengan track record Mou, yang pernah sukses bersama beberapa klub besar macam FC Porto, Chelsea, Inter Milan dan Real Madrid. Bahkan daya tariknya diklaim berperan besar dalam proses datangnya striker Zlatan Ibrahimovic serta gelandang Henrikh Mkhitaryan ke MU sejauh ini. Mourinho yang beberapa kali menyatakan bahwa dirinya adalah seorang pengidola mantan manajer MU, Sir Alex Ferguson, berargumen dirinya memang orang yang paling tepat untuk MU saat ini. Sepakbola memang bisa jadi gila, mengingat beberapa musim lalu kita melihat Mourinho dan Chelsea-nya adalah penjegal utama langkah MU dalam meraih gelar juara.

Jangan tanyakan lagi prestasi Josep ‘Pep’ Guardiola. 21 trofi bergengsi dalam 7 tahun bersama Barcelona dan Bayern Munchen serta sekiranya 18 penghargaan individu sebagai pelatih adalah bukti sahih hebatnya seorang Pep. Tangan dinginnya yang identik dengan permainan tiki-taka sukses membuka mata dunia pada dirinya. Ia akan diberikan dana melimpah di Manchester City untuk mendatangkan pemain yang diinginkannya. Ini tentu cukup membuat bergidik para pesaingnya. Menarik ditunggu petualangan perdana Pep di negeri Ratu Elizabeth.

Bisa dibilang, Arsene Wenger, Jurgen Klopp dan Mauricio Pochettino adalah para pesaing utama nama-nama di atas. Mereka juga sudah mendahului bergumul dengan kerasnya liga Inggris, setidaknya dibandingkan dengan Guardiola dan Conte. Wenger, meski telah lama tak menyumbangkan trofi juara bagi Arsenal (terakhir juara EPL pada 2003-2004), namun agaknya tetap dipercaya membesut Olivier Giroud dkk musim ini.

The Professor seolah tak tergantikan, setelah bertahun-tahun menangani The Gunners. Hal spesial yang menjadi pertimbangan atas dipertahankannya Wenger adalah kemampuannya merekrut dan memunculkan potensi pemain-pemain muda, yang mana dirasa sangat penting untuk masa depan klub. Tak kurang dari Patrick Vieira, Thiery Henry, Cesc Fabregas, Alex Chamberlain, Aaron Ramsey, Theo Walcott dan Jack Wilshere merupakan sederet pemain yang ‘ditemukan’ Wenger pada usia muda dan selanjutnya menjadi pemain-pemain penting di Arsenal.

Sementara Klopp, dianggap sukses mengembalikan kesolidan skuat Liverpool. Meski hanya finish di peringkat delapan musim lalu, namun ia tetap diberi kesempatan musim ini. Prestasinya ketika menukangi Borussia Dortmund dengan dua kali menjuarai Bundesliga serta menjadi finalis liga Champions 2013 tentu diperhitungkan dan diyakini bisa membuat Liverpool tampil lebih garang di musim keduanya.

Terakhir, ada nama Mauricio Pochettino. Pemilik 20 caps dan 2 gol semasa bermain untuk timnas Argentina ini memang tidak terlalu sukses bersama Espanyol. Namun, namanya lantas melesat pada 2013 bersama Southampton serta membuatnya menjadi salah satu klub yang diperhitungkan di liga Inggris. Ia terbilang berhasil menggapai pencapaian brilian, karena dengan materi pemain yang berkategori ‘standar’, Southampton bisa menampilkan permainan yang atraktif serta seringkali mengalahkan klub-klub yang notabene jauh lebih besar. Barulah pada musim lalu, Pochettino menangani Tottenham Hotspur. Spurs pun dibawanya nangkring di peringkat kedua klasemen akhir di bawah Leicester City serta lolos ke Liga Champions musim ini.

Aktor-aktor Protagonis

Bisa dibayangkan, betapa serunya laga-laga di Liga Inggris nanti, terutama ketika tim-tim papan atas yang dilatih oleh para formulator strategi tersebut di atas saling bentrok. Bandingkanlah dengan Serie A, La Liga ataupun Bundesliga. Serie A praktis hanya memiliki nama Roberto Mancini (pelatih Inter Milan) dan Massimiliano Allegri sang Allenatore Juventus yang bisa dikategorikan teruji prestasinya. Setali tiga uang dengan La Liga dan Bundesliga, di mana bisa dianggap hanya pelatih Barcelona Luis Enrique, Entrenador Atletico Madrid Diego Simeone dan juru taktik anyar Bayern Munich, Carlo Ancelotti yang tergolong jempolan.

Sungguh, Liga Inggris jauh lebih ‘mewah’ dalam hal ini. Tanpa mengesampingkan pelatih klub lainnya, namun pelatih-pelatih tersebut nampaknya akan menjadi aktor-aktor protagonis panasnya atmosfer liga. Tentu liga Inggris tetaplah liga Inggris, yang setiap saat bisa menghadirkan kejutan tak terduga. Klub-klub seperti Everton, Southampton atau Stoke City bisa menjegal kapan saja.

Sekali lagi, bukan melulu soal terangnya sinar bintang para pemain atau cantiknya paras sang dewi fortuna, namun peran pelatih adalah absolut dalam sepakbola. Racikan strategi, kepiawaian memadukan potensi-potensi dan kemampuan menetralisir ego para pemain selalu ditunggu. Tak hanya itu, tak jarang pula para pelatih terlibat dalam perang urat saraf.

Jika dilihat pada daftar di atas, maka sosok Jose Mourinho pantas disebut ‘Rajanya Psywar’. Selama ini, Mou memang dikenal gemar membuat kuping pihak lawan panas membara dengan komentar-komentarnya, terutama pada momen sebelum pertandingan. Tentu kita tidak lupa dengan friksi-friksi yang terjadi antara Mou dengan Wenger, ketika Mourinho menangani Chelsea. Saat itu, liga Inggris nampak seperti ring tinju yang hangat untuk mereka berdua.

Tentu saya paling menunggu duel Manchester United melawan Manchester City musim ini. Layaknya sebuah partai derby, bentrok dua klub sekota senantiasa menghadirkan nuansa panas. Beberapa musim silam, puncak gilanya seorang Mourinho hadir ketika Real Madrid yang ditanganinya bersua Barcelona dalam sebuah partai bertajuk El Clasico. Terpengaruh sengitnya laga, Mou tertangkap kamera ‘mencolok’ mata mendiang Tito Villanova, asisten pelatih Barcelona saat itu yang sekarang menukangi The Citizen, Pep Guardiola.

Pep dan Mou adalah seteru abadi di Spanyol. Rivalitas mereka berdua kini berimigrasi ke Inggris, dan pasti akan membuncah dalam sebuah pertandingan derby. Bukan tak mungkin, akan ada aksi ‘colok’ mata lagi. Yang jelas, mata para pecinta sepakbola pasti akan ‘tercolok’ musim ini. (T)

Tags: Liga Inggrisolahragasepakbola
Share66TweetSendShareSend
Previous Post

KB Bali – 1 Anak Berkualitas atawa 4 Anak Tak Karuan

Next Post

Seekor Kera Penjaga Sebuah Pura

Ida Bagus Pandit Parastu

Ida Bagus Pandit Parastu

Pelukis agak gila tapi sangat gila sepakbola. Sedang pacaran. Salah satu ilustrator tetap di tatkala.co ini tinggal di Jembrana

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Seekor Kera Penjaga Sebuah Pura

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co